Bertanyalah pada Media yang Bergoyang


Whoever controls the media, controls the mind
- Jim Morrison -

APAKAH arti dari fakta ini: ratusan jumlah media massa yang beredar di Indonesia, tapi dimiliki hanya oleh 12 kelompok bisnis? Berlebihankah jika ini diartikan bahwa hanya 12 orang pengusaha yang mengatur arus informasi kita hari-hari ini? Hanya 12 orang, yang tidak bisa ditebak motif ekonomi dan politiknya, yang mengarahkan jenis informasi apa saja yang dianggap perlu bagi 250-an juta jiwa penduduk Indonesia.

Tren kepemilikan media yang terpusat ke beberapa orang memang menjadi tren global yang turut dianut di Indonesia. Regulasi yang lemah, alpanya negara, mesranya hubungan kepentingan politik dan bisnis, dan melemah-dilemahkannya publik menjadi faktor yang mengizinkan semua ini terjadi. Alhasil, oligarki media tengah terjadi di Indonesia. Sekelompok kecil elit menguasai dan mengarahkan opini dan pengaruhnya. …baca lebih lanjut

Kita, yang Tak Ada di Layar Televisi


Ada berita apa hari ini, Den Sastro?
 Suara itu sejak lama tidak lagi terasa mengganggu,
 tidak lagi menimbang-nimbang apa yang seharusnya terjadi,
tidak lagi meragukan apa yang telah menjadi berita.
– Sapardi Djoko Damono, dalam “Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?”
Dok. Remotivi

Dok. Remotivi

KABAR apa yang datang dari daerah di luar Jakarta? Dari televisi Jakarta kita tahu, kalau bukan kepedihan dan kemurungan, kabar tentang “mereka” adalah kedunguan, keberingasan, dan keterbelakangan.

Bukankah keberingasan, kalau kabar dari Makassar melulu adalah tawuran atau kriminalitas? Bukankah keterbelakangan, kalau yang dianggap sebagai sebuah diskursus publik lokal adalah berita dari Sumatera mengenai seorang ibu yang menghukum anak dengan menjemurnya? Bukankah oleh televisi kita diharuskan menjadi murung, ketika menyimak berita tentang seorang ibu di Sulawesi yang memelihara buaya sungai sebagai anaknya; dibaringkan di kasur, diberi makan, dan dimandikan?

Potongan cerita di atas cumalah sederet kecil potret mengenai daerah di luar Jakarta yang dibingkai oleh perusahaan televisi Jakarta. Berita mengenai “mereka”, dibuat semenarik mungkin—kalau perlu yang mampu bikin geleng-geleng kepala—khususnya bagi orang Jakarta. Karena tentu yang menarik mengenai “mereka” bukanlah persoalan politik, sosial, atau budayanya yang substantif, yang menyangkut kehidupan “mereka” yang terdalam. Sesuatu yang aneh, sensasional, dan bombastis, justru adalah rumusan yang cihui untuk merampas perhatian “pemirsa yang dibayangkan” oleh para pekerja televisi Jakarta. Apakah kemudian berita-berita itu relevan dan penting bagi daerah tempat sumber berita, itu tidaklah penting bagi perusahaan televisi Jakarta. …baca lebih lanjut

Bunyi Pada Teks Kita


IMG_20130128_164348

Simaklah kalimat ini: “Ajaklah dia membicarakan kasus yang mengacak-acak sektor keuangan negara. Maka suasana akan beralih lebih ‘panas dan meriah’, mirip musik berirama staccato yang mengentak-entak”.

Kalimat itu terdapat  pada salah satu tulisan majalah ini halaman 124, edisi 27 Mei 2012, yang menampilkan wawancara dengan Menteri Keuangan Agus Martowardojo. Mungkin sang penulis berupaya bersolek bahasa. Menggunakan metafor bebunyian untuk melukiskan suatu keadaan tentu sah saja. Penggunaan yang pas dan kreatif malah akan menambah daya imajinatif suatu tulisan. Tapi bila penggunaannya tidak pas, apalagi keliru, tentu akan mengaburkan realitas suasana yang sesungguhnya. Bukan hanya itu, praktek tersebut malah akan mencemari istilah atau bahasa teknis suatu disiplin ilmu tertentu.

Pada kalimat di atas, “suasana yang panas dan meriah” sedang disejajarkan dengan keadaan yang lain melalui istilah musik, yakni “musik berirama staccato yang mengentak-entak”. Pertama, pembaca yang sebelumnya tak mengenal lema “staccato” tentu tak akan mendapatkan gambaran mengenai suasana yang dimaksud di dalam teks. Benar, bahwa keterangan “yang mengentak-entak” mungkin akan segera menggugurkan pendapat tadi. Tapi “staccato” menjadi mubazir karena ia tak mampu menjelaskan dirinya. …baca lebih lanjut

Berbahasa Satu, Bahasa Televisi: Hiburan


Para pedagang buku bekas itu tertawa. Mereka menertawakan saya yang keluar-masuk kios mencari buku Menghibur Diri Sampai Mati. Ditulis oleh Neil Postman, buku itu diterjemahkan ke bahasa Indonesia pada 1995 dari judul aslinya Amusing Ourselves to Death, yang terbit pada 1985. Buku yang tergolong lawas memang. Tapi pasti bukan itu alasan mereka menertawai saya.

Mungkin ini: menghibur diri sampai mati. Terasa konyol, memang. Untuk apa kita menghibur diri sampai mati, begitu mungkin pikir mereka. Bukankah kita memang suka dihibur? Bukankah kita menantikan hiburan tiap detiknya? Justru, hidup ini akan lebih baik jika semua hal yang dialami dan dikerjakan bermakna sebagai hiburan. Tapi, adakah hiburan yang bisa membikin kita mati? Adakah kita bisa dimatikan oleh sesuatu yang kita cintai? Ada. Postman mendakwakan sangkaannya ini pada televisi.

Namun isi dakwaannya ini lain dari apa yang kebanyakan orang pikirkan hari-hari ini tentang televisi. Ketika banyak dari kita memikirkan bagaimana televisi bisa digunakan untuk kepentingan pendidikan, Postman justru berpikir bagaimana pendidikan bisa digunakan untuk mengatasi televisi. Ketika kita sibuk menuntut televisi untuk menyajikan hal yang penting dan serius, ia malah menyarankan agar jangan sampai hal-hal penting dan serius itu dibicarakan oleh televisi. Ketika kita meminta televisi untuk tak menyajikan sampah, Postman malah seakan berkata sebaliknya: buanglah sampah pada televisi. Karena baginya, masalahnya bukan mengenai apa yang kita tonton, melainkan bahwa kita menonton televisi. …baca lebih lanjut

Membumikan Musik yang Hampir Digagalkan


Slamet Gundono

Slamet Gundono

DALAM hal musik, apa yang lebih penting dari padanya? Tidak ada. Peristiwa musik itu sendirilah yang terpenting. Tapi, sepotong catatan atasnya diperlukan sekadar agar ada diskusi yang sarinya bisa kita warisi kelak. Demi semangat semacam itulah tulisan ini mencoba mencatat pemikiran-perasaan saya atas Histoire du Soldat, sebuah konser musik yang mensertakan teater dan tari.

Pertunjukan yang digagas oleh kelompok ensambel Dutch Chamber Music Company ini dibawa keliling dari Yogyakarta, Solo, Semarang, dan berakhir di Jakarta. Di Jakarta, ia dipentaskan di Erasmus Huis, Jakarta Selatan pada 19 dan 20 Agustus 2011.

Histoire du Soldat sendiri adalah sebuah karya teatrikal yang musiknya dikarang oleh Igor Stravinski dan libretonya ditulis dalam bahasa Prancis oleh Charles Ferdinand Ramuz berdasarkan cerita rakyat Rusia. Untuk kepentingan pementasan di Indonesia, naskahnya diterjemahkan oleh Jean Pascal Lebaz menjadi “Mau ketemu iblis?” Sebuah usaha pelokalan yang simpatik bila dibandingkan gaya seniman musik kita yang justru senang membuang konteks sosio-kulturalnya.

Karya ini diciptakan pada 1918, artinya sudah lebih dari seratus tahun lalu. Bercerita tentang seorang serdadu yang berniat menjual biolinnya kepada iblis untuk ditukar dengan sebuah buku yang meramalkan perekonomian masa depan. Dengan ironi dan kejenakaan, siapa sangka karya ini merupakan kritik atas perang dunia pertama? Sebagai sebuah hujatan atas keserakahan manusia, ia melakukan pukulan dengan cara yang elegan dan berwibawa. Hus, jangan coba bandingkan dengan sikap anggota DPR kita. …baca lebih lanjut

Menonton Hewan di Layar Kaca


SEBUAH OPINI oleh Tri Satya Putri Naipospos di KOMPAS edisi 13 Juni lalu, “Kekerasan pada Ternak”, menunjukkan bahwa memang ada soal tentang bagaimana hewan diperlakukan di republik ini.

Naipospos menulis, dalam hal kekerasan terhadap hewan, Indonesia tak mematuhi kaidah kesejahteraan hewan internasional. Ke depan, Indonesia tetap jadi sasaran kritik dunia internasional mengenai isu penyiksaan dan perlakuan semena-mena terhadap hewan.

Televisi sebagai media yang berdaya jangkau luas dan berdaya bujuk jitu, termasuk pihak yang perlu dilibatkan dalam membangun pandangan masyarakat, terutama anak-anak, dalam perlakuannya terhadap hewan. …baca lebih lanjut

Satu Ketika di Bulan Mei dan Masa-masa Sesudahnya


HARI ini dan tiga belas tahun yang lampau. Keduanya sama: sejarah yang menggantungkan dirinya pada entah.

Hari itu, mata saya – harusnya Anda termasuk – merekam momentum sebuah bangsa yang penuh marah. Langit terbakar, bukan oleh matahari, tapi oleh bengis dan benci. Kota menjadi penuh gempita karena gairah ingin menghabisi orang lain. Saya, kita, merekam itu semua, mengenangnya, kemudian menyimpannya rapat-rapat. Takut. Rikuh. Enggan. Entahlah.

Saya, hari itu, memang cukup muda untuk memahami kenapa saya harus menanggung salah atas sesuatu yang tak pernah bisa saya pilih: Tionghoa. Pun terlalu dini untuk memahami kenapa hari mendadak murung dan orang-orang turun ke jalan untuk memburu kelompok warga macam saya dan keluarga.

Tapi, kemudaan itu, rasanya tidak menghalangi saya untuk sadar bahwa kebencian bisa lahir hanya karena Anda berbeda. Saya, tiga belas tahun di belakang, adalah bocah yang dipaksa menyimpan marah karena kepemilikan identitas etnis. Dan hari itu, sekali lagi, memaksa saya belajar bersahabat dengan ketakutan lebih awal. …baca lebih lanjut