HARI ini dan tiga belas tahun yang lampau. Keduanya sama: sejarah yang menggantungkan dirinya pada entah. Hari itu, mata saya – harusnya Anda termasuk – merekam momentum sebuah bangsa yang penuh marah. Langit terbakar, bukan oleh matahari, tapi oleh bengis dan benci. Kota menjadi penuh gempita karena gairah ingin menghabisi orang lain. Saya, kita, merekam… [Read more…]
Catatan mengenang yang pergi Andrean Jimmy (5 Agustus 1994-27 September 2010) Pesan itu hanya sepotong: Andre sudah jalan. Petronella Kusumah, sang pengirim pesan, menjawab saya di ujung telepon, yang mencipta gigil, “Andre sudah gakpapa, Andre sudah gak sakit.” Pukul 00.31, malam sudah larut, dan akan semakin larut. SENIN, 27 September 2010. Saya masih berharap datang… [Read more…]
“Maaf ya, saya pakai sepatu”, ujarnya meminta izin di rumahnya sendiri. “Lah kok gitu, Bang?”, tanya saya keheranan. BEGITULAH pembicaraan kami dibuka ketika saya main ke rumah Rizaldi Siagian di Cinere, Jakarta Selatan, 19 Maret 2010. Ini kali ketiga saya bertamu ke rumahnya, setelah pertemuan pertama dibukakan jalan oleh Ignatius Haryanto, guru dan karib menulis… [Read more…]
Tiga buah gelas itu menjadi satu-satunya sumber kehangatan di tengah terpaan angin malam. Isinya wedang jahe. Buat kami, tiga pemuda perantau yang jauh dari kehangatan kampung halaman, keluarga, dan pasangan, tiap reguk minuman hangat tersebut cukup membunuh rindu yang mendingin di dada, atau setidaknya menundanya. Bukankah kenikmatan tertinggi ketika berhasil menuntaskan suatu ketertundaan? KAMI –… [Read more…]
Hari ini ia lain. Suara sengaunya menyenggol gendang telinga, ”Ke mane luh, ge?”. Begitu rentet suaranya cepat ketika saya melintas di halaman matanya. SEPOTONG senyum biasanya cukup untuk menanggapi sapaannya. Benar saja. Seperti sudah dijawab, ia kembali berujar meramahi, ”Ati-ati ye luh!”. Dan mata kami beradu beberapa saat. Beradu mata bak dua orang karib-kental-veteran-perang yang… [Read more…]
Ujung hidung saya menangkap bau yang sudah dihapalnya belasan tahun. Dialah yang membujuk kaki saya untuk turun ke lantai bawah. BENAR saja! Apa yang diindra si hidung, ternyata sama persis dengan apa yang ditangkap mata saya: pempek. Bau dari penganan khas Palembang ini selalu mengganggu konsentrasi saya. Tak terkecuali hari ini. Ibu saya yang Palembang… [Read more…]
Ketika di satu pagi yang biasa mendarat pesan pendek dari seorang teman di Bandung, Syarief Maulana, saya dilanda canggung. Bukan apa-apa, isi pesannya memang pendek dan sederhana, tapi permintaannya tidak sependek dan sesederhana isinya. “MAU nulis untuk merayakan ultah KlabKlassik?”, begitu kira-kira isi pesannya. Saya senang sekali diberi kesempatan untuk menulis yang kedua kali bagi… [Read more…]
3 Mei 2007 bukan sebuah hari yang saya anggap penting pada awalnya. Tapi belakangan saya sadar, bahwa hari itu menjadi awal bagaimana proses pekerjaan menulis dalam halaman maya ini terjadi. Dan karenanya, perlu menjadikannya penting. TIDAK tanggung-tanggung! Tercatat ada 5 buah potong tulisan yang saya baringkan sekaligus pada hari itu: Tuhan Bukan Maha Penulis Skenario,… [Read more…]
Mei 12, 2011
5