Arsip Kategori: Curhat

Satu Ketika di Bulan Mei dan Masa-masa Sesudahnya


HARI ini dan tiga belas tahun yang lampau. Keduanya sama: sejarah yang menggantungkan dirinya pada entah.

Hari itu, mata saya – harusnya Anda termasuk – merekam momentum sebuah bangsa yang penuh marah. Langit terbakar, bukan oleh matahari, tapi oleh bengis dan benci. Kota menjadi penuh gempita karena gairah ingin menghabisi orang lain. Saya, kita, merekam itu semua, mengenangnya, kemudian menyimpannya rapat-rapat. Takut. Rikuh. Enggan. Entahlah.

Saya, hari itu, memang cukup muda untuk memahami kenapa saya harus menanggung salah atas sesuatu yang tak pernah bisa saya pilih: Tionghoa. Pun terlalu dini untuk memahami kenapa hari mendadak murung dan orang-orang turun ke jalan untuk memburu kelompok warga macam saya dan keluarga.

Tapi, kemudaan itu, rasanya tidak menghalangi saya untuk sadar bahwa kebencian bisa lahir hanya karena Anda berbeda. Saya, tiga belas tahun di belakang, adalah bocah yang dipaksa menyimpan marah karena kepemilikan identitas etnis. Dan hari itu, sekali lagi, memaksa saya belajar bersahabat dengan ketakutan lebih awal. …baca lebih lanjut

Ia Pergi Terlalu Cepat


Catatan mengenang yang pergi

Andrean Jimmy (5 Agustus 1994-27 September 2010)

Andre kecil bernyanyi di Misa Reuni Putera Altar, 15 Agustus 2004

Andre kecil bernyanyi di Misa Reuni Putera Altar, 15 Agustus 2004

Pesan itu hanya sepotong: Andre sudah jalan. Petronella Kusumah, sang pengirim pesan, menjawab saya di ujung telepon, yang mencipta gigil, “Andre sudah gakpapa, Andre sudah gak sakit.” Pukul 00.31, malam sudah larut, dan akan semakin larut.

SENIN, 27 September 2010. Saya masih berharap datang untuk melihatnya terbaring gelisah di atas ranjang rumah sakit, seperti dua hari lalu. Meyaksikannya membuang cairan lambungnya lewat hidung. Mendengarkan keluhan mualnya. Menatap matanya yang bundar. Mata yang seakan menyimpan sesuatu yang saya tidak pernah tahu.

Namun itu semua tidak saya temukan hari ini. Ia tidak lagi mengeluh pegal karena terlalu lama berbaring. Ia tidak lagi menyuruh saya makan donat atau minum. Ia hanya tidur. Tidur yang tidak kita tahu sampai kapan. Sepikah di sana, Ndre? …baca lebih lanjut>

Rizaldi Siagian, Sang Provokator


“Maaf ya, saya pakai sepatu”, ujarnya meminta izin di rumahnya sendiri. “Lah kok gitu, Bang?”, tanya saya keheranan.

BEGITULAH pembicaraan kami dibuka ketika saya main ke rumah Rizaldi Siagian di Cinere, Jakarta Selatan, 19 Maret 2010. Ini kali ketiga saya bertamu ke rumahnya, setelah pertemuan pertama dibukakan jalan oleh Ignatius Haryanto, guru dan karib menulis saya, ketika lebaran dua tahun lalu.

Rizaldi Siagian. Ia sosok yang sama. Sosok yang berbaring ketika saya membesuknya di RS Puri Cinere kira-kira dua bulan lalu, dua hari sebelum operasi besar terhadap jantungnya dilakukan. Ia selalu bersemangat dan lantang. Seakan tidak pernah menyimpan kata ‘istirahat’ di dalam matanya.

“Awalnya di Yogya”, ceritanya tentang serangan jantungnya berawal, “…tapi saya coba lawan dengan meditasi dan zikir”.

Tapi toh, ia harus mengalah: pulang ke Jakarta dan langsung menuju rumah sakit setelah mencoba bertahan di rumah. Di rumah sakit, jantungya dibikin bekerja kembali dengan mengambil urat syaraf dari kakinya. Urat itu dipakai untuk memompa kerja jantung seperti sediakala. Entah bagaimana persisnya. Saya bodoh dalam biologi. Sialnya, saya pun pelupa. Lupa dengan penjelasannya. …baca lebih lanjut

Solo Pun Punya ‘Malam’


Tiga buah gelas itu menjadi satu-satunya sumber kehangatan di tengah terpaan angin malam. Isinya wedang jahe. Buat kami, tiga pemuda perantau yang jauh dari kehangatan kampung halaman, keluarga, dan pasangan, tiap reguk minuman hangat tersebut cukup membunuh rindu yang mendingin di dada, atau setidaknya menundanya. Bukankah kenikmatan tertinggi ketika berhasil menuntaskan suatu ketertundaan?

KAMI – aku, Akbar dari Padang, dan Sumantri dari Palembang – ada dalam situasi tersebut pada suatu malam di hari Sabtu. Waktu itu malam belum di puncaknya, tapi aku dikerubuti gelisah tak berkesudahan. Dari dalam kamar kos yang terlalu sempit untuk main futsal ini, kularikan sepeda untuk menembus gelap malam kota Solo. Dua teman tadi ikut kuseret pada pelarian kebosananku. …baca lebih lanjut

Hasyim


Hari ini ia lain. Suara sengaunya menyenggol gendang telinga, ”Ke mane luh, ge?”. Begitu rentet suaranya cepat ketika saya melintas di halaman matanya.

SEPOTONG senyum biasanya cukup untuk menanggapi sapaannya. Benar saja. Seperti sudah dijawab, ia kembali berujar meramahi, ”Ati-ati ye luh!”. Dan mata kami beradu beberapa saat. Beradu mata bak dua orang karib-kental-veteran-perang yang jarang bertemu. Bak veteran pula, matanya seakan bicara, ”Masa mudaku liar”.

Setelah berjalan menjauhi dan membelakanginya, tanpa menoleh saya tahu apa yang dia kerjakan selanjutnya: tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Kalau ada orang lain di sebelahnya, tak ketinggalan dia kata begini, ”Udah gede Si Toge”. Sering ia ucap itu, bahkan di tiap tahun umur saya. …baca lebih lanjut

Pempek


Ujung hidung saya menangkap bau yang sudah dihapalnya belasan tahun. Dialah yang membujuk kaki saya untuk turun ke lantai bawah.

BENAR saja! Apa yang diindra si hidung, ternyata sama persis dengan apa yang ditangkap mata saya: pempek. Bau dari penganan khas Palembang ini selalu mengganggu konsentrasi saya. Tak terkecuali hari ini. Ibu saya yang Palembang memang pandai menggoda lidah siapa saja dengan pempeknya.

Suara gemericik dari letupan-letupan kecil minyak goreng selalu melengkapi perziarahan kuliner saya dengan pempek. Artinya, hanya pempek panas, yang baru diangkat dari kualilah, yang menjadi mangsa saya. Sehingga saya berusaha duduk tak jauh dari dapur, tempat di mana dengan ajaibnya makanan perangsang lidah ini diolah. …baca lebih lanjut

Surat Seorang Sahabat


Ketika di satu pagi yang biasa mendarat pesan pendek dari seorang teman di Bandung, Syarief Maulana, saya dilanda canggung. Bukan apa-apa, isi pesannya memang pendek dan sederhana, tapi permintaannya tidak sependek dan sesederhana isinya.

“MAU nulis untuk merayakan ultah KlabKlassik?”, begitu kira-kira isi pesannya. Saya senang sekali diberi kesempatan untuk menulis yang kedua kali bagi sebuah komunitas yang selalu membuat saya iri dengan semangatnya. Dengan masih mengantuk saya iyakan saja permintaannya. Namun kegirangan saya tak berlangsung lama setelah disergap tanya: dalam kapasitas apa saya menulis? …baca lebih lanjut

Memaknai Ke-100-an Saung Kata


3 Mei 2007 bukan sebuah hari yang saya anggap penting pada awalnya. Tapi belakangan saya sadar, bahwa hari itu menjadi awal bagaimana proses pekerjaan menulis dalam halaman maya ini terjadi. Dan karenanya, perlu menjadikannya penting.

TIDAK tanggung-tanggung! Tercatat ada 5 buah potong tulisan yang saya baringkan sekaligus pada hari itu: Tuhan Bukan Maha Penulis Skenario, Air Dalam Air, Ujung Pertemuan, Bocah Pemimpi, dan Perihal Aku ke Kamu. Tulisan pertama adalah refleksi saya mengenai Tuhan yang dimuat di majalah Islam moderat, Syir’ah, dan sisanya adalah puisi-puisi cengeng yang lama hanya nongkrong di folder laptop. …baca lebih lanjut