Teater Koma, sebagai salah satu kelompok teater di Indonesia yang punya umur panjang ini, berulah lagi. Kali ini ulahnya dikasih judul ‘Sie Jin Kwie’. Pentas yang digelar di Graha Bhakti Budaya pada 5-21 Februari 2010 ini menjadi produksi ke-119 dalam usia 33 tahun Teater Koma. LAKON Sie Jien Kwie, yang mengambil latar di Cina ketika… [Read more…]
Apakah cinta masih diperlukan di sebuah negeri yang karutmarut? PERTANYAAN di atas rupanya menggerayang di benak sekelompok muda yang berguyub dalam kelompok teater. Mereka sadar akan kekarutan negeri, dan karenanya merenung. Muara dari perenungan itu, mereka wujudkan dalam kesenian yang bersandarkan gerak, suara, dan teks. Biasa dinamakan teater. Judul lakonnya Negeri Boneka. Di Sanggar Baru,… [Read more…]
Ia berdiri, bersikeras menyampaikan sesuatu lewat gerak dan mimiknya. Kalau ia tidak bersuara, bukan berarti ia seorang bisu. WAJAHNYA nyaris ditutup putih kalau bibirnya tidak diwarnai merah. Posturnya tinggi dengan rambut ombak beruban yang tampaknya tidak pernah disisir. Ia, lelaki itu, bicara banyak hal mengenai kehidupan. Tapi bukan Bizot namanya kalau ia menggunakan suara untuk… [Read more…]
Semut yang diinjak tidak selamanya diam dan pasrah meladeni nasib. Ada kalanya semut-semut itu meluapkan amarah dan berbalik menuntut nasibnya. Mereka tidak selamanya ingin diinjak. ILUSTRASI di atas mungkin tidak sepenuhnya sesuai untuk menggambarkan bagaimana semangat feminisme yang sedang bergejolak. Perempuan memang tidak seremehtemeh semut. Namun sikap ‘tidak selamanya ingin diinjak’ itulah yang kiranya tepat… [Read more…]
Langit gelap. Tidak pekat amat. Karena ada warna merah menyembul malu-malu dari balik awan. Pertanda nasib langit belum tegas. Antara hujan atau tidak. Entah. Tapi di suatu tempat di Timur Jakarta, 3 penyair gaek tidak malu-malu berdeklamasi. Menyuarakan puisi. BUKAN saja menyuarakan puisi, tapi malah membuat perut penonton serasa dikocok tanpa henti. Sambung menyambung, kata-kata… [Read more…]
Pertunjukkan pembacaan puisi Sapardi Djoko Damono dengan tajuk Puisi-Puisi Cinta pada Jumat, 15 Februari 2007 lalu menyisakan sedikit rasa kecewa. Harapan akan sebuah pagelaran yang diakrabi dengan tiket masuk 30 ribu tidak terbayarkan dengan sempurna. AKU terpaksa menanggalkan kacamata penilaianku akan sebuah pertunjukkan seni serius. Karena kalau tidak, gerutuanku sepanjang pertunjukkan akan berkolaborasi, bersaing dengan… [Read more…]
“Kalau mereka sembuh, kita jadi kehilangan hak untuk disebut waras!”, bela N. Riantiarno ketika dihujani pertanyaan oleh lawan bicaranya, Cornelia Agatha. Dalam dialog tersebut, Nano memerankan Dr. Hopman, sedangkan Dr. Dasilva adalah peran milik Cornelia. MEREKA berdua bersitegang, adu argumen, mengenai keyakinan mereka masing-masing terhadap masalah kejiwaan pasien-pasien sebuah lembaga syaraf. Dr. Dasilva yang cantik… [Read more…]
April 22, 2010
4