<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Saung Kata</title>
	<atom:link href="http://roythaniago.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://roythaniago.wordpress.com</link>
	<description>sebuah gubuk sederhana, tempatku memuntahkan kata demi kata</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 Jan 2012 17:21:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='roythaniago.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Saung Kata</title>
		<link>http://roythaniago.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://roythaniago.wordpress.com/osd.xml" title="Saung Kata" />
	<atom:link rel='hub' href='http://roythaniago.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Membumikan Musik yang Hampir Digagalkan</title>
		<link>http://roythaniago.wordpress.com/2011/09/04/membumikan-musik-yang-hampir-digagalkan-2/</link>
		<comments>http://roythaniago.wordpress.com/2011/09/04/membumikan-musik-yang-hampir-digagalkan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Sep 2011 08:08:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Roy Thaniago</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Arjan Tien]]></category>
		<category><![CDATA[Dutch Chamber Music Company]]></category>
		<category><![CDATA[Eko Supriyanto]]></category>
		<category><![CDATA[Gatot Sulistiyanto]]></category>
		<category><![CDATA[Gerard Mosterd]]></category>
		<category><![CDATA[Ika Sri Wahyuningsih]]></category>
		<category><![CDATA[Komponis]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Martinus Miroto]]></category>
		<category><![CDATA[Michael Asmara]]></category>
		<category><![CDATA[Modern]]></category>
		<category><![CDATA[Pasca Modern]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Pertunjukkan]]></category>
		<category><![CDATA[Slamet Abdul Sjukur]]></category>
		<category><![CDATA[Slamet Gundono]]></category>
		<category><![CDATA[Sri Qadariatin]]></category>
		<category><![CDATA[Stravinski]]></category>
		<category><![CDATA[Teater]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://roythaniago.wordpress.com/?p=982</guid>
		<description><![CDATA[DALAM hal musik, apa yang lebih penting dari padanya? Tidak ada. Peristiwa musik itu sendirilah yang terpenting. Tapi, sepotong catatan atasnya diperlukan sekadar agar ada diskusi yang sarinya bisa kita warisi kelak. Demi semangat semacam itulah tulisan ini mencoba mencatat pemikiran-perasaan saya atas Histoire du Soldat, sebuah konser musik yang mensertakan teater dan tari. Pertunjukan yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roythaniago.wordpress.com&amp;blog=1054323&amp;post=982&amp;subd=roythaniago&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_984" class="wp-caption alignleft" style="width: 235px"><a href="http://roythaniago.files.wordpress.com/2011/09/p10004931.jpg"><img class="size-medium wp-image-984" title="Slamet Gundono" src="http://roythaniago.files.wordpress.com/2011/09/p10004931.jpg?w=225&#038;h=300" alt="Slamet Gundono" width="225" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Slamet Gundono</p></div>
<p><strong>DALAM</strong> hal musik, apa yang lebih penting dari padanya? Tidak ada. Peristiwa musik itu sendirilah yang terpenting. Tapi, sepotong catatan atasnya diperlukan sekadar agar ada diskusi yang sarinya bisa kita warisi kelak. Demi semangat semacam itulah tulisan ini mencoba mencatat pemikiran-perasaan saya atas Histoire du Soldat, sebuah konser musik yang mensertakan teater dan tari.</p>
<p>Pertunjukan yang digagas oleh kelompok ensambel Dutch Chamber Music Company ini dibawa keliling dari Yogyakarta, Solo, Semarang, dan berakhir di Jakarta. Di Jakarta, ia dipentaskan di Erasmus Huis, Jakarta Selatan pada 19 dan 20 Agustus 2011.</p>
<p>Histoire du Soldat sendiri adalah sebuah karya teatrikal yang musiknya dikarang oleh Igor Stravinski dan libretonya ditulis dalam bahasa Prancis oleh Charles Ferdinand Ramuz berdasarkan cerita rakyat Rusia. Untuk kepentingan pementasan di Indonesia, naskahnya diterjemahkan oleh Jean Pascal Lebaz menjadi “Mau ketemu iblis?” Sebuah usaha pelokalan yang simpatik bila dibandingkan gaya seniman musik kita yang justru senang membuang konteks sosio-kulturalnya.</p>
<p>Karya ini diciptakan pada 1918, artinya sudah lebih dari seratus tahun lalu. Bercerita tentang seorang serdadu yang berniat menjual biolinnya kepada iblis untuk ditukar dengan sebuah buku yang meramalkan perekonomian masa depan. Dengan ironi dan kejenakaan, siapa sangka karya ini merupakan kritik atas perang dunia pertama? Sebagai sebuah hujatan atas keserakahan manusia, ia melakukan pukulan dengan cara yang elegan dan berwibawa. Hus, jangan coba bandingkan dengan sikap anggota DPR kita.<span id="more-982"></span></p>
<p>Dalam kondisi perang dunia yang kekurangan pemain, ditambah keadaan ekonomi yang serba sulit, <em>Mau ketemu iblis?</em> diciptakan dalam bentuk teater mini. Dimainkan oleh tiga aktor dan satu penari perempuan. Pemusiknya pun hanya tujuh orang, tapi karena kekuatan komposisinya, bangunan musikalnya tidak kalah rumit dan hebat dibanding format orkestra. Malah justru menuntut teknik individual pemusik yang tinggi karena masing-masing berperan sebagai solois.</p>
<p>Dengan tetap mengacu pada bentuk asalinya, pementasan kemarin menghadirkan Jamaluddin Latif sebagai narator dengan kemampuan keaktoran yang prima, dan tiga penari, Eko Supriyanto, Martinus Miroto, dan Sri Qadariatin. Upaya sang koreografer, Gerard Mosterd, dalam memakai idiom-idom gerak lokal kembali mengundang simpati.</p>
<p>Dutch Chamber Music Company (DCMC) yang beranggotakan Raymond Vievermanns (trompet dan pemimpin artistik), Arno van Houtert (klarinet), Jozsef Auer (fagot), Quirijn van de Bijlaard (trombon), Tijmen Wehlburg (biolin), Pia Pirtinaho (kontrabas), dan Han Vogel (perkusi), bermain di bawah baton Arjan Tien sebagai pengaba. Tien mengeksekusi musik dengan interpretasinya yang cermat dan hangat. Cermat, karena pada musik Stravinski yang sibuk dengan perubahan birama ini, tempo dan pulsasinya ditarik-ulur dengan sangat lembut, apalagi bila disandingkan dengan visual gerak tarinya yang seakan mempermainkan waktu. Dan hangat, karena walau vistuositas tiap instrumennya sangat tinggi, kesan yang tumbuh adalah keringanan dan kedekatan.</p>
<p>Selain karya Stravinski, dari negri sendiri diperdengarkanlah karya Slamet Abdul Sjukur, Michael Asmara, dan Gatot Sulistiyanto. Kalau karya Asmara dan Gatot masih berkutat di musik modern, Slamet yang jauh lebih senior justru memilih sikap bermusik yang lentur atau bergaya pasca modern.</p>
<p>Kelahiran musik modern abad 20 salah satunya ditandai dengan pemakaian harmoni disonan dan nuansa-nuansa atonal, di mana cita-cita dekonstruksi musik Barat mesti jadi tujuan. Cita-cita itu menjadi kebutuhan untuk membebaskan diri dari kebiasaan-kebiasaan yang terasa sudah tak memadai lagi. Musik yang fals, mengambang, tidak berakar, dan terdengar aneh, dimaksudkan sebagai umpatan sekenanya terhadap hal-hal yang tidak tertampung dalam ukuran yang lazim. Maka tidak mudah membedakan modernisme sebagai kebutuhan atau sekadar keanehan yang dicari-cari. Kesulitan ini tidak hanya bagi yang awam, para komponis sendiri pun mudah terjebak untuk bersikap oportunis dari situasi yang demikian.</p>
<p>Tidak seperti karya Gatot, <em>Kitab Batu</em>, dan Asmara, <em>Plumeria Acuminata</em>, yang berideologi modern, karya Slamet berjudul <em>Kutang</em> memiliki kelenturan untuk tidak selalu tunduk pada “kebakuan modernisme” agar dianggap sebagai karya musik baru. Penggunaan harmoni disonan dan efek musikal baru lainnya diletakkan seperlunya pada saat yang pas tanpa beban sejarah.</p>
<p><em>Kutang (2008)</em> adalah karya Slamet selain <em>Paha (2006)</em> yang keduanya lahir sebagai kritik atas Undang-Undang Pornografi yang menurutnya kekanak-kanakan. Pada buku acara, <em>Kutang</em> malah diberi penjelasan tak karuan yang justru tak jelas! Slamet menulis Hamlet, Shakespeare, dan Ophelia yang tak ada hubungannya sama sekali dengan karyanya. Katanya, <em>Kutang </em>juga merupakan ejekan bagi mereka yang masih percaya pada penjelasan. Musiknya sendiri bicara tentang kelembutan, keheningan, dan ketepatan saat dalam berbagai perubahan dan keseimbangan yang terselubung dalam kekarut-marutan.</p>
<p>Gatot Sulistiyanto, komponis muda asal Magelang yang menempuh studinya di ISI Yogyakarta adalah sosok yang menjanjikan. Karyanya, <em>Kitab Batu</em>, adalah suatu karya yang kuat, baik secara gagasan, ekspresi, struktur, maupun orkestrasi. Secara gagasan, Gatot mengambil materi lokal dengan bubuhan semangat <em>aufklarung</em>, yakni dengan berdasarkan pada bentuk dan ekspresi Mantra Tulak Bala dan Kidung Joyoboyo.</p>
<p>Lewat karyanya ini, Gatot seperti hendak mengatakan sesuatu mengenai ekspresi-ekspresi tradisional yang kerap dilanda desas-desus tak masuk akal atau irasional. Kalau tafsir ini benar, semangat itu ia titipkan pada tuntutan teknik vokal yang juga tak masuk akal: ketinggian nada mencapai E3, berbagai varian trilter dengan lidah, bibir, dan tenggorokkan, dan nuansa perubahan-perubahan yang halus dalam hal timbre. Toh Ika Sri Wahyuningsih sebagai swarawati mampu mengeksekusinya dengan kemampuan yang luar biasa dan penghayatan yang bikin bulu kuduk merinding!</p>
<p>Pun bila menyimak pemakaian beberapa teknik vokalnya yang berpijak pada tradisi Banyuwangi, misalnya, memperlihatkan pijakan Gatot yang masih berada pada konteks budayanya.</p>
<p>Secara orkestrasi, Gatot dengan lihai mencampur adonan antar instrumen dengan takaran yang pas. Ia tidak cukup puas dengan hanya memberikan saat kepada masing-masing instrumen untuk berjalan sendiri-sendiri, tapi juga mencoba mengolah beberapa instrumen secara bersamaan untuk suatu pasasi, melodi, frase, atau ritme.</p>
<p>Hal sebaliknya justru ditempuh oleh Michael Asmara. Musiknya berdiri pada kekuatan masing-masing instrumen yang berjalan sendiri-sendiri. Judulnya, <em>Plumeria Acuminata</em>, yang berarti pohon kamboja, mungkin tidak banyak yang tahu artinya tanpa bantuan penjelasan di buku program. Entah, kenapa judul itu yang dipilihnya. Apakah “pohon kamboja” tidak cukup seksi untuk dipasang sebagai judul? Tapi, ya, musik memang bisa bicara dalam bahasanya sendiri.</p>
<p>Yang mengerikan justru adalah “penjelasan” musik serialnya yang ditulis di buku program. Awam pasti tak tertolong oleh penjelasan teknis. Walau begitu, pemusik yang ahli sekalipun bisa bingung menghadapi serialisme dengan “pseudo-teorinya yang paling baru”. Pasalnya, alih-alih menganut konsep serial, Asmara malah terkesan kikuk atasnya. Ini terlihat dari keterangan Asmara yang menulis dengan C-D#-G, bukan dengan C-Eb-G. Padahal dalam paham musik serial, orang tidak peduli perbedaan antara D# dan Eb. Komponis penganut serialisme, menulis musiknya tanpa beban menurut persepsi yang paling mudah tertangkap (dalam hal ini C-Eb-G yang mengarah ke akor C minor lebih alamiah).Berbeda dengan penganut tonalitas, bahwa antara C-D#-G dengan C-Eb-G adalah dua hal yang tegas berbeda.</p>
<p>Membaca Asmara, seperti ada obsesi atas bentuk musik serial yang memang pernah menjadi primadona, atau pernah menjadi pembuktian karir pengkaryaaan seorang komponis pada zamannya. Tapi setelah era kini, di mana musik serial sudah ditinggalkan, bukankah obsesi terhadapnya seperti mengejar sesuatu yang tak lagi penting?</p>
<p>Untung ada penampilan Slamet Gundono, dalang gemuk yang auratif itu. Gundono tampil mendalang pada hari kedua dengan membawakan Si Bulbul (The Nightingale) karya Theo Loevendie yang sudah pernah dibawakannya tiga tahun lalu bersama Sitok Srengenge. Kebersahajaan dan kerendahhatiannya, ditambah kejeniusan naratif dan musikalnya, menciptakan kesan bahwa tanpa musik yang dimainkan Dutch Chamber Music Company pun ia tetap besar dan mewah. Sehingga karenanya, pagelaran Histoire du Soldat kembali membumi.</p>
<p><em>Dimuat di <a href="http://jakartabeat.net/musik/kanal-musik/ulasan/652-pementasan-histoire-du-soldat-membumikan-musik-yang-hampir-digagalkan.html">Jakartabeat.net, Minggu. 4 September 2011</a></em></p>
<div class="mceTemp"></div>
<br />Filed under: <a href='http://roythaniago.wordpress.com/category/musik/'>Musik</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/roythaniago.wordpress.com/982/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/roythaniago.wordpress.com/982/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/roythaniago.wordpress.com/982/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/roythaniago.wordpress.com/982/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/roythaniago.wordpress.com/982/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/roythaniago.wordpress.com/982/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/roythaniago.wordpress.com/982/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/roythaniago.wordpress.com/982/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/roythaniago.wordpress.com/982/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/roythaniago.wordpress.com/982/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/roythaniago.wordpress.com/982/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/roythaniago.wordpress.com/982/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/roythaniago.wordpress.com/982/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/roythaniago.wordpress.com/982/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roythaniago.wordpress.com&amp;blog=1054323&amp;post=982&amp;subd=roythaniago&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://roythaniago.wordpress.com/2011/09/04/membumikan-musik-yang-hampir-digagalkan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		<georss:point>-7.571654 110.822701</georss:point>
		<geo:lat>-7.571654</geo:lat>
		<geo:long>110.822701</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0c988d73fa2c5e4df87d6ce981726b3d?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Roy Thaniago</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://roythaniago.files.wordpress.com/2011/09/p10004931.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Slamet Gundono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menonton Hewan di Layar Kaca</title>
		<link>http://roythaniago.wordpress.com/2011/07/17/menonton-hewan-di-layar-kaca/</link>
		<comments>http://roythaniago.wordpress.com/2011/07/17/menonton-hewan-di-layar-kaca/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jul 2011 04:25:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Roy Thaniago</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Berburu]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Hewan]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan]]></category>
		<category><![CDATA[Mancing Mania]]></category>
		<category><![CDATA[Petualangan Panji]]></category>
		<category><![CDATA[Televisi]]></category>
		<category><![CDATA[Ternak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://roythaniago.wordpress.com/?p=971</guid>
		<description><![CDATA[SEBUAH OPINI oleh Tri Satya Putri Naipospos di KOMPAS edisi 13 Juni lalu, “Kekerasan pada Ternak”, menunjukkan bahwa memang ada soal tentang bagaimana hewan diperlakukan di republik ini. Naipospos menulis, dalam hal kekerasan terhadap hewan, Indonesia tak mematuhi kaidah kesejahteraan hewan internasional. Ke depan, Indonesia tetap jadi sasaran kritik dunia internasional mengenai isu penyiksaan dan perlakuan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roythaniago.wordpress.com&amp;blog=1054323&amp;post=971&amp;subd=roythaniago&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-972" title="MANCING MANIA" src="http://roythaniago.files.wordpress.com/2011/07/mancing-mania-2_thumb1.jpg?w=300&#038;h=199" alt="" width="300" height="199" /></p>
<p><strong>SEBUAH OPINI</strong> oleh Tri Satya Putri Naipospos di <em>KOMPAS</em> edisi 13 Juni lalu, “Kekerasan pada Ternak”, menunjukkan bahwa memang ada soal tentang bagaimana hewan diperlakukan di republik ini.</p>
<p>Naipospos menulis, dalam hal kekerasan terhadap hewan, Indonesia tak mematuhi kaidah kesejahteraan hewan internasional. Ke depan, Indonesia tetap jadi sasaran kritik dunia internasional mengenai isu penyiksaan dan perlakuan semena-mena terhadap hewan.</p>
<p>Televisi sebagai media yang berdaya jangkau luas dan berdaya bujuk jitu, termasuk pihak yang perlu dilibatkan dalam membangun pandangan masyarakat, terutama anak-anak, dalam perlakuannya terhadap hewan.<span id="more-971"></span></p>
<p>Beberapa tayangan yang melibatkan hewan dalam materi siarnya adalah <em>Petualangan Panji</em>, <em>Gadis Petualang</em>, <em>Deny Manusia Ikan</em> (ketiganya disiarkan Global TV); <em>Dunia Air</em>, <em>Mancing Mania</em>, <em>Asal Usul Fauna</em> (ketiganya disiarkan Trans 7), <em>Berburu</em> (Trans TV), dan <em>Mata Pancing</em> (MNC TV). Dari judul-judul tersebut, terciri dua pendekatan yang dipakai: (1) tayangan yang melibatkan hewan untuk tujuan pendidikan dan (2) tayangan yang melibatkan hewan sebagai ajang pemuas nafsu sesaat.</p>
<p>Pendekatan pertama jelas, bahwa dengan lebih mengenal makhluk hidup lain, penonton akan mengalami proses pembelajaran, mulai dari aspek ilmiah sampai religiositas. Pendekatan kedua pun sama jelasnya lewat aktivitas mempermainkan nyawa hewan demi kesenangan. Tayangan semacam ini seperti ingin memberikan pernyataan bahwa manusia pusat kehidupan ini.</p>
<p><em>Mancing Mania</em>, <em>Berburu</em>, dan <em>Petualangan Panji</em> adalah jenis tayangan yang menganut pendekatan kedua. Judul pertama adalah tayangan yang menampilkan pengalaman orang memancing ikan lengkap dengan ritualnya: pemancing “bertarung” dengan ikan buruannya, mengangkat buruan ke atas kapal (kadang dengan ditombak), berpose gagah dengan buruannya untuk difoto, kemudian melempar kembali buruan ke air. Soal kelangsungan hidup selanjutnya ikan buruan tersebut? Itu tampaknya urusan yang tak terlalu penting.</p>
<p>Senada dengan itu, <em>Berburu</em> adalah tayangan yang memperlihatkan kegagahan—juga keangkuhan—manusia atas kuasanya terhadap makhluk hidup. Muatannya berupa aksi perburuan sekelompok orang terhadap hewan-hewan yang dianggap “eksotis”.</p>
<p>Salah satu episodenya, misalnya, mengusung misi berburu satu spesies babi hutan tertentu di suatu daerah. Tim menyusuri hutan dalam gelapnya malam. Seketika melihat seekor babi, mereka mengejarnya kemudian menembaknya. Babi itu terkapar. Dan salah seorang berkabar kepada penonton: “Pemirsa, ternyata ini bukan jenis babi yang kami cari. Perburuan akan kami lanjutkan.”</p>
<p>Anda ingin melihat aksi seseorang yang dengan sengaja mengusik habitat reptil? Maka tengoklah <em>Petualangan Panji</em>. Pemuda ini menyusuri hutan, gunung, sungai, bukit, dan lembah dengan tujuan mencari ular atau buaya, meringkusnya, dan melepaskannya kembali. Dalam tayangan ini kita “diajari”: ternyata alam bebas itu mengancam manusia dan hewan bernaluri untuk mendekati manusia, bukan menjauhi.</p>
<p>Lalu, apakah tayangan semacam ini berpotensi memberikan pemahaman yang keliru tentang alam? Anda bisa menjawabnya. Dan apakah hewan yang ada itu bagian dari properti atau bukan, pihak Global TV yang bisa menjawabnya.</p>
<p><strong>Medium Televisi Sebagai Konteks</strong></p>
<p>Perlakuan kekerasan terhadap hewan memang bukan sesuatu yang asing dan tabu di negara ini. Kita mengenal banyak kebudayaan di Nusantara yang melibatkan hewan dalam aktivitasnya. Adu domba di Garut, karapan sapi di Madura, adu ayam di Bali, dan di banyak tempat lain ada adu anjing dengan babi hutan, pacuan kuda, adu jangkrik, adu cupang, dan lain-lain.</p>
<p>Memang harus diakui, beberapa di antaranya menjadi arena kebringasan manusia, seperti judi dan sadisme. Tapi beberapa di antaranya, berpraktik di dalam konteks sosio-kultural masyarakat pendukungnya. Ada alasan substansif beraspek spiritual di dalam praktiknya. Dalam konteks ini, hewan bukan obyek dengan status sebagai benda kepemilikan. Bahkan, beberapa hewan punya posisi sosial tertentu sehingga mendapat perlakuan istimewa.</p>
<p>Namun sangat berbeda praktik demikian di dalam televisi, sebuah medium tanpa bingkai yang dengan wajah “ramahnya” hadir sampai ke ruang paling pribadi sekalipun. Tayangan hewan seperti ketiga contoh di atas, selain karena hanya berujung pada wujud naluri kemanusiaan yang dangkal, juga gagal memahami televisi sebagai medium penyampai pesannya.</p>
<p>Pertama, berbeda dengan kebudayaan tradisi yang khalayaknya terbatas, televisi justru bersiar dengan batasan yang tidak terukur siapa khalayaknya. Apakah anak-anak dan orang dengan kepekaan kekerasan tertentu berpotensi jadi penonton tayangan semacam itu? Tentu hak kelompok penonton macam ini harus dilindungi.</p>
<p>Kedua, televisi adalah media yang dalam siarannya meminjam frekuensi publik. Frekuensi ini dipinjamkan sementara oleh negara dengan asumsi lembaga penyiaran menggunakan haknya ini untuk tujuan kemaslahatan masyarakat sebesar-besarnya.</p>
<p>Dalam stasiun televisi swasta yang bersiaran nasional, yang melangkahi batas wilayah geokultural yang beragam, perspektif mana yang dipakai? Bukankah tingkat kepekaan terhadap kekerasan hewan di suatu budaya akan berbeda di lain budaya? Apakah perspektif di lain budaya boleh dibaikan, padahal frekuensi ini turut dimiliki oleh publik selain Jakarta?</p>
<p>Maka, sesekali mari ajukan pertanyaan berikut kepada tayangan semacam ini: Mentalitas masyarakat (terutama anak-anak) macam apa yang hendak dibentuk? Seberapa jauh anak-anak cukup mampu untuk tak menirunya? Apakah pembiasaan terhadap kekerasan, sadisme, dan darah berkontribusi terhadap maraknya aksi kekerasan manusia secara horizontal ataupun vertikal? Dan, bagaimana dengan pemenuhan kaidah internasional tentang kesejahteraan hewan?</p>
<p>Ah, untuk pertanyaan terakhir lebih baik dibatalkan saja.</p>
<p><em>Dimuat di <a href="http://nasional.kompas.com/read/2011/07/16/02531699/menonton-hewan-di-layar-kaca">Kompas. 16 Juli 2011</a></em></p>
<br />Filed under: <a href='http://roythaniago.wordpress.com/category/opini/'>Opini</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/roythaniago.wordpress.com/971/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/roythaniago.wordpress.com/971/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/roythaniago.wordpress.com/971/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/roythaniago.wordpress.com/971/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/roythaniago.wordpress.com/971/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/roythaniago.wordpress.com/971/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/roythaniago.wordpress.com/971/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/roythaniago.wordpress.com/971/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/roythaniago.wordpress.com/971/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/roythaniago.wordpress.com/971/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/roythaniago.wordpress.com/971/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/roythaniago.wordpress.com/971/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/roythaniago.wordpress.com/971/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/roythaniago.wordpress.com/971/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roythaniago.wordpress.com&amp;blog=1054323&amp;post=971&amp;subd=roythaniago&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://roythaniago.wordpress.com/2011/07/17/menonton-hewan-di-layar-kaca/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		<georss:point>-7.571654 110.822701</georss:point>
		<geo:lat>-7.571654</geo:lat>
		<geo:long>110.822701</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0c988d73fa2c5e4df87d6ce981726b3d?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Roy Thaniago</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://roythaniago.files.wordpress.com/2011/07/mancing-mania-2_thumb1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">MANCING MANIA</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Satu Ketika di Bulan Mei dan Masa-masa Sesudahnya</title>
		<link>http://roythaniago.wordpress.com/2011/05/12/satu-ketika-di-bulan-mei-dan-masa-masa-sesudahnya/</link>
		<comments>http://roythaniago.wordpress.com/2011/05/12/satu-ketika-di-bulan-mei-dan-masa-masa-sesudahnya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 May 2011 07:25:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Roy Thaniago</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>
		<category><![CDATA[1998]]></category>
		<category><![CDATA[Cina]]></category>
		<category><![CDATA[Ketidakadilan]]></category>
		<category><![CDATA[Mei]]></category>
		<category><![CDATA[Orde Baru]]></category>
		<category><![CDATA[Rasial]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://roythaniago.wordpress.com/?p=961</guid>
		<description><![CDATA[HARI ini dan tiga belas tahun yang lampau. Keduanya sama: sejarah yang menggantungkan dirinya pada entah. Hari itu, mata saya – harusnya Anda termasuk – merekam momentum sebuah bangsa yang penuh marah. Langit terbakar, bukan oleh matahari, tapi oleh bengis dan benci. Kota menjadi penuh gempita karena gairah ingin menghabisi orang lain. Saya, kita, merekam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roythaniago.wordpress.com&amp;blog=1054323&amp;post=961&amp;subd=roythaniago&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>HARI</strong> ini dan tiga belas tahun yang lampau. Keduanya sama: sejarah yang menggantungkan dirinya pada entah.</p>
<p>Hari itu, mata saya – harusnya Anda termasuk – merekam momentum sebuah bangsa yang penuh marah. Langit terbakar, bukan oleh matahari, tapi oleh bengis dan benci. Kota menjadi penuh gempita karena gairah ingin menghabisi orang lain. Saya, kita, merekam itu semua, mengenangnya, kemudian menyimpannya rapat-rapat. Takut. Rikuh. Enggan. Entahlah.</p>
<p>Saya, hari itu, memang cukup muda untuk memahami kenapa saya harus menanggung salah atas sesuatu yang tak pernah bisa saya pilih: Tionghoa. Pun terlalu dini untuk memahami kenapa hari mendadak murung dan orang-orang turun ke jalan untuk memburu kelompok warga macam saya dan keluarga.</p>
<p>Tapi, kemudaan itu, rasanya tidak menghalangi saya untuk sadar bahwa kebencian bisa lahir hanya karena Anda berbeda. Saya, tiga belas tahun di belakang, adalah bocah yang dipaksa menyimpan marah karena kepemilikan identitas etnis. Dan hari itu, sekali lagi, memaksa saya belajar bersahabat dengan ketakutan lebih awal.<span id="more-961"></span></p>
<p>Maka, setelah hari di mana banyak orang terbunuh dan terperkosa, adakah pembenci tubuh ini yang lebih besar dari pada saya sendiri? Suatu ketika di bulan Mei 1998 telah membentuk saya, dan mungkin jutaan warga (kebetulan) Tionghoa segenerasi, menjadi pembenci paling besar terhadap dirinya sendiri.</p>
<p>Keheranan meliputi benak ini. Bagaimana generasi terdahulu menghayati posisinya sebagai pribadi dan sebagai warga, setelah mengalami beragam peristiwa: pembunuhan massal 1946-1948, kerusuhan rasial 10 Mei 1963 di Cirebon, Malari 1974, kerusuhan 1980 di seputaran Jawa Tengah, atau yang sangat lampau: Oktober 1740 , Perang Jawa 1825 -1830, dan kerusuhan di Kudus 1918?</p>
<p>Bagaimana keadaan hari sesudah peristiwa penjarahan beberapa rumah yang tinggal satu kilometer dari rumah kita, misalnya? Apakah kita masih bicara tentang iuran sampah yang belum dibayar bulan lalu, atau masih dengan nyaman menerima pengantar air minum galon di rumah? Apakah dengan tidak membicarakannya, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu, semua itu usai?</p>
<p>Rasa-rasanya begitu: kita memilih aman dengan cara diam dan mendiamkan. Bukankah sakit untuk bicara tentang sebuah hari di mana suami Anda dibakar atau abang Anda memperkosa beberapa orang perempuan?</p>
<p>Film “?” garapan Hanung Bramantyo, misalnya, terlepas dari banyaknya cacat artistik, adalah salah satu bentuk korek mengorek luka itu. Dan sebagai masyarakat yang gemar lupa, yang menggantungkan hari esok pada rumput yang bergoyang, kita mengirim kecam kepada Hanung ketimbang mengakui ingatan tentang kebencian dan kecurigaan kita atas mereka. Kita memlih menyangkal sejarah hanya karena ia memulai pembicaraan tentang luka.</p>
<p>Tidak banyak orang di sekitar kita yang mengambil resiko mengulang sakit. Selain Hanung, Sigit Kurniawan, seorang karib suku Jawa, misalnya, mengutarakan kejujurannya kepada saya pada suatu ketika: “Kalau aku mukul kamu, orang bilang aku rasis. Tapi kalau kamu pukul aku, orang teriaki aku kriminal.”</p>
<p>Kalau di hari depan ada generasi baru yang bertanya, “Kenapa kalian tidak bicara sehingga kami masih seperti ini?”, itu akibat orde ini – termasuk kita karena mendiam dan mengiyakan – yang menuntut kita menjadi bangsa yang pelupa dan pendiam. Termasuk pemaaf, atas peristiwa yang tidak terganti dengan sepotong kata.</p>
<p>Saya dan keluarga bukan beruntung, kalau hari ini nyawa masih melekat di badan. Apakah benar mereka yang mati terpanggang, kena bacok, dan diperkosa pada Mei 1998 hanya karena persoalan kurang beruntung? Semudah itukah kita mensejajarkan pembunuhan massal dengan undian mie instan: kurang beruntung.</p>
<p>Kebencian, apa kabarmu? Masihkah kau dikabarkan oleh mereka yang tolol? Seperti tulis Es Ito dalam ‘Surat Untuk Firman’: “Kita adalah anak-anak muda yang dipaksa tua oleh televisi yang tiada henti mengabarkan kebencian.”</p>
<p>Sudah cukup kebodohan bercokol di pejabat publik kita, kepandiran bersemayam pada televisi kita, kesewenang-wenangan pada militer kita, dan kegagalan pada sistem pendidikan kita. Sedang kita, semoga tidak bangga dan membisu atas berbagai peristiwa yang mengawal ingatan kita sebagai suatu bangsa. Kita bukan masyarakat yang mau tunduk terhadap logika yang tidak turut kita bangun, pikir saya.</p>
<p>Hari ini adalah hari di mana kita dipaksa memperingati sesuatu yang tidak ingin kita ingat. Hari di mana kita sekadar mengingatnya, tanpa perlu mengoreknya. Karena membicarakan masa lalu yang gelap memang bikin muram. Mengobati luka memang bikin perih. Dan kita mengindari itu, walau suatu hari nanti terpaksa menjalani operasi besar (kembali).</p>
<p align="right"><strong><em>Petojo, 12 Mei 2011</em></strong></p>
<p style="text-align:left;" align="right"><em>Turut dimuat di <a href="http://sejarah.kompasiana.com/2011/05/12/satu-ketika-di-bulan-mei-dan-masa-masa-sesudahnya/">Kompasiana.com</a></em></p>
<br />Filed under: <a href='http://roythaniago.wordpress.com/category/curhat/'>Curhat</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/roythaniago.wordpress.com/961/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/roythaniago.wordpress.com/961/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/roythaniago.wordpress.com/961/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/roythaniago.wordpress.com/961/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/roythaniago.wordpress.com/961/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/roythaniago.wordpress.com/961/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/roythaniago.wordpress.com/961/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/roythaniago.wordpress.com/961/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/roythaniago.wordpress.com/961/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/roythaniago.wordpress.com/961/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/roythaniago.wordpress.com/961/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/roythaniago.wordpress.com/961/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/roythaniago.wordpress.com/961/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/roythaniago.wordpress.com/961/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roythaniago.wordpress.com&amp;blog=1054323&amp;post=961&amp;subd=roythaniago&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://roythaniago.wordpress.com/2011/05/12/satu-ketika-di-bulan-mei-dan-masa-masa-sesudahnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		<georss:point>-7.571654 110.822701</georss:point>
		<geo:lat>-7.571654</geo:lat>
		<geo:long>110.822701</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0c988d73fa2c5e4df87d6ce981726b3d?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Roy Thaniago</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>satu pagi di kamarmandi</title>
		<link>http://roythaniago.wordpress.com/2011/04/07/satu-pagi-di-kamarmandi/</link>
		<comments>http://roythaniago.wordpress.com/2011/04/07/satu-pagi-di-kamarmandi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Apr 2011 04:10:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Roy Thaniago</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://roythaniago.wordpress.com/?p=958</guid>
		<description><![CDATA[aku bunuh sebuah pagi dalam kamarmandi yang menyanyi setelah sebelumnya dikejutkan oleh sisa doa yang tak habis dimakan tikus tadi malam bersama pagi kubunuh seikat waktu yang dibeli di supermarket seminggu lalu bau kulkas, ujarmu dari atas ranjang yang juga bau mani maka tandaslah angkaangka alamatalamat deringdering maka mampuslah tanyajawab hirukpikuk basabasi tinggal kamarmandi menangis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roythaniago.wordpress.com&amp;blog=1054323&amp;post=958&amp;subd=roythaniago&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>aku bunuh sebuah pagi dalam kamarmandi yang menyanyi<br /> setelah sebelumnya dikejutkan<br /> oleh sisa doa<br /> yang<br /> tak<br /> habis<br /> dimakan tikus tadi malam</p>
<p>bersama pagi kubunuh seikat waktu yang dibeli di supermarket seminggu lalu<br /> bau kulkas, ujarmu<br /> dari atas ranjang yang juga bau<br /> mani</p>
<p>maka tandaslah<br /> angkaangka<br /> alamatalamat<br /> deringdering<br /> maka mampuslah<br /> tanyajawab<br /> hirukpikuk<br /> basabasi<br /> tinggal kamarmandi menangis</p>
<p>O, kamarmandi yang merah karena pagi yang berdarah<br /> karena waktu yang bernanah<br /> karena bau yang payah<br /> karena bulan yang patah<br /> karena buku yang terkunyah<br /> karena televisi yang marah<br /> karena weker hamil tua</p>
<p><strong><em>petojo, 140110</em></strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://roythaniago.wordpress.com/category/puisi/'>Puisi</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/roythaniago.wordpress.com/958/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/roythaniago.wordpress.com/958/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/roythaniago.wordpress.com/958/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/roythaniago.wordpress.com/958/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/roythaniago.wordpress.com/958/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/roythaniago.wordpress.com/958/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/roythaniago.wordpress.com/958/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/roythaniago.wordpress.com/958/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/roythaniago.wordpress.com/958/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/roythaniago.wordpress.com/958/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/roythaniago.wordpress.com/958/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/roythaniago.wordpress.com/958/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/roythaniago.wordpress.com/958/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/roythaniago.wordpress.com/958/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roythaniago.wordpress.com&amp;blog=1054323&amp;post=958&amp;subd=roythaniago&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://roythaniago.wordpress.com/2011/04/07/satu-pagi-di-kamarmandi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		<georss:point>-7.571654 110.822701</georss:point>
		<geo:lat>-7.571654</geo:lat>
		<geo:long>110.822701</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0c988d73fa2c5e4df87d6ce981726b3d?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Roy Thaniago</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kawin Mawin Kita: Bandeng, Siraman, dan Doa</title>
		<link>http://roythaniago.wordpress.com/2011/02/17/kawin-mawin-kita-bandeng-siraman-dan-doa/</link>
		<comments>http://roythaniago.wordpress.com/2011/02/17/kawin-mawin-kita-bandeng-siraman-dan-doa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Feb 2011 05:14:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Roy Thaniago</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>
		<category><![CDATA[Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Antropologi]]></category>
		<category><![CDATA[Bandeng]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Dayak]]></category>
		<category><![CDATA[Kanayatn]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Perkawinan]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[Ritual]]></category>
		<category><![CDATA[Tengger]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://roythaniago.wordpress.com/?p=947</guid>
		<description><![CDATA[Terik matahari di Kampokng Raba, Kecamatan Menjalin, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat siang itu sangat menyengat. Tapi Bangkulu memilih berjalan kaki ke pangkalatn (rumah) keluarga Otoh yang terletak di Kampokng Konyo. Jaraknya kurang lebih dua kilometer. KEPALA BANGKULU dilingkari bangkung (ikat kepala). Bersama dengannya, ada suami-istri Baruk dan Dayakng Tarigas yang turut serta. Hari itu ia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roythaniago.wordpress.com&amp;blog=1054323&amp;post=947&amp;subd=roythaniago&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Terik matahari di Kampokng Raba, Kecamatan Menjalin, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat siang itu sangat menyengat. Tapi Bangkulu memilih berjalan kaki ke </em>pangkalatn<em> (rumah) keluarga Otoh yang terletak di Kampokng Konyo. Jaraknya kurang lebih dua kilometer.</em></p>
<div id="attachment_949" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://roythaniago.files.wordpress.com/2011/02/upcr-nyangahatn-manta31.jpg"><img class="size-medium wp-image-949" title="Perkawinan Dayak Kanayatn (Foto Ferry T. Wanning)" src="http://roythaniago.files.wordpress.com/2011/02/upcr-nyangahatn-manta31.jpg?w=300&#038;h=200" alt="Perkawinan Dayak Kanayatn (Foto Ferry T. Wanning)" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Perkawinan Dayak Kanayatn (Foto Ferry T. Wanning)</p></div>
<p><strong>KEPALA BANGKULU</strong> dilingkari <em>bangkung</em> (ikat kepala). Bersama dengannya, ada suami-istri Baruk dan Dayakng Tarigas yang turut serta. Hari itu ia datang ke <em>pangkalatn</em> Otoh sebagai <em>patone’</em>. Dalam masyarakat Dayak Kanayatn, <em>patone’</em> adalah orang yang dipercaya oleh pihak keluarga laki-laki atau perempuan untuk meminang. Seorang <em>patone’</em> haruslah orang yang sudah menikah, mengerti tata cara perkawinan, dan mengetahui garis keturunan orang yang hendak dinikahkan. Soal itu, Bangkulu-lah orangnya. Ia datang ke keluarga Otoh sebagai <em>patone’</em> atas permintaan Baruk dan Dayakng yang ingin meminang putri keluarga Otoh untuk putranya.</p>
<p>Orang Kanayatn hanyalah salah satu sub-suku di antara ratusan suku lainnya di Indonesia. Kalimantan Barat adalah tempat bermukim Orang Kanayatn, khususnya di Landak, Pontianak, dan Kuburaya. Selain Dayak Kanayatn, di Borneo ada ratusan sub-suku Dayak lainnya: Punan, Iban, Kenyah, Kayan, Taman, Kelabit, Kutais, Bidayuh, Bakumpai, Ngajus, Baritos, dan banyak lagi. Mereka adalah kita.<span id="more-947"></span></p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>ADA FENOMENA di media kita yang baru-baru ini saya sadari: meliyankan yang kita, dan mengkitakan yang liyan. Mereka yang (sebenarnya) liyan (the others), mendadak diperlakukan sebagai bagian dari kita. Melihat bagaimana televisi menampilkan pemusik jazz, penari hip-hop, dan gaya hidup Barat, serasa tiada jarak antara yang menonton dan yang ditonton. Pun tak ada kegagapan dan kecanggungan. Seakan-akan, mereka memang kita.</p>
<p>Namun ini semua terbalik ketika media menampilkan mereka yang (sebenarnya) kita. Orang Nias dengan pakaiannya, Masyarakat Osing dengan Gandrungnya, Masyarakat To Kaili dengan Laluvenya, misalnya, seperti mengalami situasi teralienasi dari pandangan kolektif yang berkembang di masyarakat Indonesia kebanyakan. Bersama kita canggung dan gagap membaca mereka. Ada perasaan asing dan aneh melingkupi. Dan media malah membuat keberjarakan ini semakin menjadi untuk kemudian dijual, didagangkan.</p>
<p>Sekali lagi: meliyankan yang kita, dan mengkitakan yang liyan. Si asing kemudian diterima sebagai suatu kenyataan hidup sehari-hari. Sedangkan si “kita” dilirik sebagai sesuatu yang kebetulan ada.</p>
<p>Tulisan ini tidak berangkat dari pandangan yang anti-barat, Justru sebaliknya, belajar banyak dari barat yang turut memberikan ruang aksentuasi bagi nilai lokal yang ada. Karena itu, mari bicara sedikit mengenai perkawinan yang ada di Nusantara. Kita bicara kawin mawin kita.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>PERKAWINAN ATAU PERNIKAHAN adalah fase kehidupan seorang manusia yang dianggap penting menurut pandangan bangsa-bangsa di timur. Bagi kebanyakan masyarakat di Nusantara, perkawinan bukan saja bicara mengenai pasangan yang bersangkutan, tapi juga turut melibatkan orangtua, saudara, dan kerabat. Maka seringkali kita dengar, sebenarnya yang menikah adalah keluarga dengan keluarga (Trianto dan Tutik, 2008:10-11).</p>
<p>Hal itu menunjukkan bahwa perkawinan memiliki implikasi sosio-kultural bagi masyarakat yang mengalaminya. Perkawinan kemudian dihayati sebagai peristiwa bersatunya banyak hal; manusia dan alam, yang profan dan yang sakral, yang hidup dan yang sudah mati.</p>
<p>Selain Dayak Kanayatn, Orang Tengger di sekitar Gunung Bromo, Jawa Timur dan Orang Betawi di Jabodetabek juga punya cerita mengenai adat perkawinan mereka. Masing-masing tidak saja memiliki ciri dan cara tersendiri yang berbeda satu sama lain karena pandangan yang dianut, namun sekaligus memiliki kemiripan dalam beberapa hal. Dan sudah selayaknya kemasing-masingan itu kita lihat dari kacamata budaya mereka, bukan melalui kacamata budaya di luarnya. Tidak perlu kita mengukur kadar nilai keadaban suatu masyarakat, seperti yang selama ini diperankan lembaga keagamaan, negara, maupun media massa umumnya.</p>
<p>Dalam ilustrasi di awal tulisan, kita lihat bagaimana Bangkulu sebagai <em>patone’</em> punya peran penting dalam terjadinya sebuah peristiwa perkawinan Orang Kanayatn. Tanpa seorang <em>patone’</em>, tak ada perkawinan terjadi. Pada adat perkawinan Orang Tengger dan Betawi, ada juga orang yang bertugas seperti <em>patone’</em>: meminang.</p>
<p>Budaya ketiganya mempertontonkan kearifan mengenai relasi antarsesama. Perlunya perantara tersebut, memperlihatkan adanya kesantunan komunal. Maka mengherankan ketika timbul banyak cerita – lebih tepatnya mitos, mitos yang diciptakan – mengenai masyarakat adat yang katanya kerap mengambil jalan pintas dengan menggunakan kekuatan magis untuk membuat lawan jenis jatuh cinta. Ya, ini cerita seorang teman yang termakan mitos demikian ketika ia berkunjung ke komunitas Urang Kanekes di Lebak sana.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>DI BEBERAPA DAERAH di Betawi – seperti yang tertulis di <em>Upacara Daur Hidup Adat Betawi</em> karya Yahya Andi Saputra – jika ada sepasang ikan bandeng digantungkan di depan rumah seorang gadis, itu artinya sedang ada pemuda yang menaksir atau siap meminang. Ini menjadi pertanda yang membuat orangtua gadis akan memingit dan membatasi pergaulan gadis tersebut. Sang gadis akan diberi pendidikan mengenai akidah, sopan santun, dan memasak. Orangtua si gadis baru lega ketika proses ini sudah dilalui.</p>
<p>Buat pemuda Betawi, <em>ngedelengin</em> adalah tahap yang penting dalam mencari pasangan hidup. <em>Ngintip</em> dan <em>mak comblang</em> adalah dua cara <em>ngedelengin</em>. <em>Ngintip</em> adalah proses <em>ngedelengin</em> yang dilakukan sendiri oleh si pemuda, dan perbuatan menggantung ikan bandeng adalah salah satu caranya. Sedang <em>mak comblang</em> adalah cara lain dalam proses <em>ngedelengin </em>yang membutuhkan bantuan orang lain.</p>
<p><em>Mak comblang</em> yang dimaksud adalah orang – biasanya perempuan berumur – yang dianggap <em>pinter</em>, baik<em> ngomong</em> maupun menilai, demi mendapatkan seorang gadis bagi seorang pemuda. Seorang <em>mak comblang</em> biasanya ditugaskan pihak orangtua lelaki untuk mencari gadis yang sesuai atau menyelidiki gadis bidikan sang pemuda.</p>
<p>Seperti <em>patone’</em>, <em>mak comblang</em> punya peran teramat penting. Namun seorang <em>mak comblang</em> bukan saja penting atas terjadinya sebuah perkawinan, tapi juga berperan penting mengenai siapa yang akan kawin dan bagaimana sebuah perkawinan terjadi. Ini dikarenakan <em>mak comblang</em> punya peran untuk menilai sang gadis, cocok tidaknya, yang kemudian dilaporkannya ke pihak orangtua lelaki.</p>
<p>Maka tak heran kalau mak comblang ini laiknya profesi. Ia harus memiliki kemampuan dan kelihaian, juga punya akses luas dan data mengenai keluarga mana saja yang memiliki anak gadis. Kalau seorang <em>mak comblang</em> mampir ke rumah, orangtua gadis biasanya sudah tahu dan berusaha mematut-matutkan keadaan dan menceritakan kelebihan si anak agar mendapat poin bagus. Namun suka atau tidak dengan si gadis, sebelum pulang <em>mak comblang</em> wajib memberi <em>uang sembe</em> kepadanya yang dimasukkan ke dalam <em>angpau</em> (amplop merah tradisi orang Tionghoa).</p>
<p><em>Mak comblang</em> berbeda dengan <em>patone’</em>. <em>Patone’</em> pada Orang Kanayatn bisa datang dari pihak mana saja, laki-laki maupun perempuan. Kalau <em>patone’</em> datang dari pihak perempuan, maka bila jadi menikah nanti, pihak lelaki harus tinggal di rumah keluarga perempuan. Begitu pun sebaliknya.</p>
<p>Penugasan <em>patone’</em> ini hanyalah tahap awal untuk sekadar memberitahu adanya tawaran menikah dari pihak seberang. Buat Orang Tengger, tahap awal macam ini dinamakan <em>Nakoake</em>. Secara prinsip keduanya sama. Hanya kalau buat Orang Tengger jawabannya didapat pada saat kunjungan pertama itu, sedang buat Orang Kanayatn, <em>patone’</em> harus datang kali kedua untuk mendapat jawaban.</p>
<p>A.B. Dacing T dalam <em>Adat Istiadat Perkawinan Dayak Kanayatn</em> menggambarkan bagaimana kunjungan kali kedua Patone’ yang disambut oleh pihak keluarga yang dipinang tersebut dengan berpantun: <em>Babingke bakah bubu/Katangakng baur pate/Kamile-mile diri batamu/Sidi jarakng diri batele//Bide dah baampar katangah sami/Gulita dah batukutn ma’an/Buke’nya kami bai’ disarohi karamigi/Ahe ga’ kabar kamaru’ nian? </em>(Menyatakan kegembiraan atas kedatangan tamunya dan menanyakan kabar berita atas kedatangan tamunya)</p>
<p>Balas <em>patone’</em>: <em>Baketo matok nasi’ kapingatn/Barinang tumuh kasaka maraga/Dah repo diri’ repetn badudukatn/Mao’ bacurita muka’ kata// Batang padi akar bingke/Batang ansabi ka babah manggule/Atakng kami atakng Patone’s/Minta’ bagi nasi’ ka pene </em>(Menjelaskan maksud kedatangannya sebagai Patone’, dan bertujuan meminang anak dara si tuan rumah).</p>
<p>Setelah itu kedua pihak bertutur tentang silsilah keluarga masing-masing. Proses akan berlanjut apabila kedua calon mempelai tidak berasal dari satu nenek, atau setidaknya sudah lewat 4 generasi apabila berasal dari garis keturunan yang sama. Peristiwa terjadinya perkawinan dari satu nenek pada generasi keempat ini disebut <em>merahu titi</em>.</p>
<p>Lalu pada pertemuan ketiga, lamaran akan dikukuhkan  lewat upacara adat yang disebut jalan <em>bakomo’</em>, yang ditandai dengan pemotongan 3 ekor ayam sebagai tanda kedua belah pihak telah mengikat kata. Pada kesempatan ini pula kedua keluarga akan menentukan waktu untuk mengadakan perkawinan.</p>
<p>Dalam budaya Wong Tengger, fase memutuskan keberlanjutan suatu pinangan disebut <em>pitung</em>. Seorang <em>sulingsih</em> (dukun) melakukan perhitungan berdasarkan nama kedua calon dan <em>neptu</em>-nya (hari kelahiran). Kalau cocok, maka proses peminangan berlanjut, dan diteruskan dengan pencarian hari baik untuk <em>anteng-antengi</em> (melamar).</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>SIRIH LAMARAN, PISANG RAJA, roti tawar, sirop, dan hadiah (bahan kebaya, selop, kain, kosmetik)adalah barang bawaan wajib yang ada pada prosesi lamaran Orang Betawi. Barang bawaan ini dibawa dari pihak keluarga lelaki. Semuanya menyimbolkan kegembiraan akan peristiwa yang berlangsung, serta penghormatan terhadap keluarga perempuan.</p>
<p>Seminggu setelah ini diadakanlah acara <em>bawe tanda putus</em> (<em>tundangan</em>), yang membicarakan mas kawin, biaya resepsi,<em> kekudang</em> (makanan atau barang yang disukai), <em>pelangke</em> (kalau ada saudara sekandung yang lebih tua yang belum nikah), waktu pernikahan, dan perangkat pakaian upacara perkawinan.</p>
<p>Orang Betawi kerap menggunakan metafor-metafor seperti <em>mate bandeng</em> (perhiasan emas bermata berlian) dan <em>mate kembung</em> (perhiasan emas bermata intan) untuk membicarakan mas kawin atau mahar yang diminta,. Kemampuan membuat metafor atau kalimat-kalimat bersayap ini menjadi penting adanya sebagai bagian dari kesopanan.</p>
<p>Beda tempat, beda bawaan. Dalam <em>anteng-antengi </em>(lamaran) Wong Tengger, bawaannya adalah seperangkat pakaian, alat rias, dan cincin yang kesemuanya itu disebut <em>peningset</em>. Prosesi ini kemudian dibalas pihak perempuan dengan <em>mbalekake gunem</em>, sebagai tanggapan dalam membalas lamaran. Tak ketinggalan, sebelum pengukuhan perkawinan, tahapannya didahului dengan prosesi <em>siraman</em> (memandikan pengantin perempuan), <em>selamatan </em>(doa dengan sesaji kepada leluhur), dan <em>midodareni</em> (acara pamitan pengantin perempuan kepada teman sebaya – untuk pengantin lelaki disebut <em>tirakatan</em>).</p>
<p>Hampir serupa dengan tahapan-tahapan di atas, Orang Betawi juga mempunyai acara <em>piare calon none pengaten</em>, yang dimaksudkan untuk mengontrol kegiatan, kesehatan, dan kecantikan pengantin perempuan menjelang akad nikah. Selama <em>dipiare</em>, ia harus memakai baju terbalik sebagai lambang tolak bala, mengatur pola makan, luluran, dilarang bercermin, berzikir, dan membaca salawat. Lalu diakhiri dengan <em>mandi kembang</em> dan <em>malem pacar</em>.</p>
<p>Saat acara <em>malem pacar</em> ini, ia dicukur bulu-bulu halusnya di sekitar kening, pelipis, tengkuk, dan leher. Ia juga wajib memakai pakaian <em>none Betawi</em> untuk terakhir kalinya, karena esoknya sudah menjadi nyonya. Dan pada malam yang sama, si laki mempersiapkan semua kebutuhan saserahan yang dinamakan <em>malem nyerondeng</em> atau <em>malem mangkat</em>. Di rumahnya, tua muda, laki perempuan, berjibaku dalam malam untuk memebuat pesalin, menghias nampan kue, menghias peti <em>sie</em>, membuat dan menghias miniatur masjid, dan sebagainya.</p>
<p>Pada malam sehari sebelum pernikahan, semua sibuk, semua berkumpul. Begitulah tradisi suasana perkawinan yang ada. Ada kerja tim yang tergambar, jauh sebelum para motivator berisik di layar kaca atau seminar. Ada kesalehan yang diperlihatkan, tanpa perlu menyertakan pentungan dan pedang. Ada semangat menolong yang tulus, tanpa perlu membawa wartawan untuk meliput. Pun ada kecerdasan sosial, sebelum televisi merebut segalanya.</p>
<p>Kearifan-kearifan itu masih hidup dan terus terjadi di tengah-tengah masyarakat pemilik dan pendukungnya. Kekayaan dan kemewahan itu tentu tidak bisa dialami dengan hanya membaca tulisan ini, terlebih yang karena keterbatasan waktu, hanya disusun berdasarkan studi pustaka dan bertanya. Kawin-mawin-kita ini, karena kompleks dan rumitnya masalah, adalah sebuah topik yang tidak bisa selesai dan lengkap terangkum hanya dalam satu artikel. Ia harus berhenti sebelum sama-sama kita dipuaskan dengan cerita-cerita lainnya.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>TIBALAH MEREKA pada tahap <em>panganten turutn barasi</em>. Bangkulu, sebagai <em>picara</em> (<em>patone’</em>) memimpin rombongan keluarga Baruk dengan berdiri paling depan dalam arak-arakan. Langir binyak, beras banyu, beras sasah, ayam hidup, ayam rebus, beras palawakng, beras pulut, cucur, lamakng, sirih sekapur, dan nasi setungkus dijadikan bawaan tangan. Wajah mereka senang, sekaligus kerepotan.</p>
<p>Mulut Bangkulu komat-kamit. Rupanya ia sedang <em>babamang</em> (berdoa). Tangannya tidak diam. Ia menghamburkan beras kuning, ke sana dan ke sini, ke udara dan ke tanah. Si penganten laki akhirnya keluar dari <em>pangkalatn</em> dan menuruni tangga  dengan dipimpin oleh Bangkulu. Lalu perlahan rombongan bergerak menuju <em>pangkalatn</em> Otoh di Kampokng Konyo, di mana pengantin perempuan dan rombongan sudah menunggu.</p>
<p>Biasanya rombongan akan <em>badokokng</em> (berhenti sejenak) ketika mendengar bunyi rasi yang kurang baik: suara elang, kijang, dahan yang patah, atau ular yang melintas. Kalau begitu keadaannya, <em>picara</em> akan kembali menghamburkan beras kuning dan kemudian <em>babamang</em>. Tapi kali ini tiada rasi satu pun dijumpai. Alam memberikan pertanda, pikir mereka. Dan mereka mengharapkan diberikan jalan yang baik oleh alam.</p>
<p>Rombongan yang besar, hari yang meriah, perasaan yang cerah. Dari jauh, arak-arakan ini terlihat amat panjang menyerupai seekor ular raksasa. Kemudian mereka susuri jalanan <em>kampokng</em>, terus dan terus, sampai ekor rombongan tidak terlihat lagi. (ROY THANIAGO)</p>
<p><em>Dimuat di Majalah Esquire edisi Februari 2011</em></p>
<br />Filed under: <a href='http://roythaniago.wordpress.com/category/artikel-lepas/'>Artikel Lepas</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/roythaniago.wordpress.com/947/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/roythaniago.wordpress.com/947/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/roythaniago.wordpress.com/947/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/roythaniago.wordpress.com/947/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/roythaniago.wordpress.com/947/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/roythaniago.wordpress.com/947/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/roythaniago.wordpress.com/947/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/roythaniago.wordpress.com/947/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/roythaniago.wordpress.com/947/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/roythaniago.wordpress.com/947/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/roythaniago.wordpress.com/947/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/roythaniago.wordpress.com/947/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/roythaniago.wordpress.com/947/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/roythaniago.wordpress.com/947/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roythaniago.wordpress.com&amp;blog=1054323&amp;post=947&amp;subd=roythaniago&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://roythaniago.wordpress.com/2011/02/17/kawin-mawin-kita-bandeng-siraman-dan-doa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		<georss:point>-6.164777 106.811756</georss:point>
		<geo:lat>-6.164777</geo:lat>
		<geo:long>106.811756</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0c988d73fa2c5e4df87d6ce981726b3d?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Roy Thaniago</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://roythaniago.files.wordpress.com/2011/02/upcr-nyangahatn-manta31.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Perkawinan Dayak Kanayatn (Foto Ferry T. Wanning)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dan Malam Pun Retak</title>
		<link>http://roythaniago.wordpress.com/2011/01/20/dan-malam-pun-retak/</link>
		<comments>http://roythaniago.wordpress.com/2011/01/20/dan-malam-pun-retak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Jan 2011 01:56:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Roy Thaniago</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Kemukus]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Prostitusi]]></category>
		<category><![CDATA[Ritual Seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://roythaniago.wordpress.com/?p=936</guid>
		<description><![CDATA[Malam Jumat Pon. Bulan bundar. Kau ada di hadapanku. Di warungku. Dan kita sama-sama diam tak bersuara. Hanya mata kita yang saling bicara. Persis saat pertama kali kita bertemu di Sendang Ontrowulan, dua puluh dua tahun yang lalu. AKHIRNYA kau yang duluan membuka mulut dengan pelitnya, “Kopi hitam”. Aku bergeming sebentar, lalu bangkit dari duduk, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roythaniago.wordpress.com&amp;blog=1054323&amp;post=936&amp;subd=roythaniago&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://fujimystar.multiply.com/journal/item/23/MALAM_RETAK"><img class="alignleft size-full wp-image-941" title="the-color-of-loney-by-saiaii" src="http://roythaniago.files.wordpress.com/2011/01/the-color-of-loney-by-saiaii1.jpg?w=594" alt=""   /></a><em>Malam Jumat Pon. Bulan bundar. Kau ada di hadapanku. Di warungku. Dan kita sama-sama diam tak bersuara. Hanya mata kita yang saling bicara. Persis saat pertama kali kita bertemu di Sendang Ontrowulan, dua puluh </em><em>dua tahun yang lalu.</em></p>
<p><strong>AKHIRNYA</strong> kau yang duluan membuka mulut dengan pelitnya, “Kopi hitam”. Aku bergeming sebentar, lalu bangkit dari duduk, meraih gelas dan toples yang berisi bubuk kopi. Aku hapal maumu: kopi dua sendok penuh, air panas setengah gelas, tanpa gula, dan diamkan sebentar sebelum diaduk.</p>
<p>Aku sadar matamu menguasaiku walau kau berpura-pura mengeluarkan sebatang rokok kretek dari saku kemejamu. Matamu masih sama ketika kuletakkan segelas kopi di depanmu. Hingga aku bersuara kemudian.</p>
<p>“Mengapa kau di sini?”<br />
“Seperti kebanyakan orang yang datang ke Kemukus”<br />
“…”<br />
“Dan kau, mengapa tetap di sini?”<br />
“Seperti kebanyakan lonte tua yang harus pensiun”</p>
<p>Lalu terjadi geming panjang antar kita. Panjang sekali. Entah di mana ekornya.<span id="more-936"></span></p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Gelap hampir turun. Aku sedang merias diri di teras rumah tempatku bekerja ketika kau lewat berjalan kaki. Kau tidak melihatku, tapi aku melihatmu yang kikuk dengan jelas. Langkahmu berat, dengan pandangan celingukan ke sembarang arah. Tangan kirimu memegang erat tali ransel coklat lusuh yang diselempangkan sebelah di bahu kirimu. Gelagatmu itulah yang memberitahuku bahwa ini kali pertama kau ke sini, sehingga aku buru-buru memoles bedak untuk mengikutimu sampai ke Sendang Ontrowulan.</p>
<p>Papan kayu bertuliskan Sendang Ontrowulan mengarah ke kanan. Ke arah sebuah jalan kecil dan gelap yang disesaki pedagang kembang dan botol-botol bekas untuk mengambil air di sendang. Rimbunan pohon yang menghalangi sinar purnama semakin meremangi lokasi sekitar sendang. Sumber cahaya satu-satunya hanya datang dari lampu minyak para pedagang.</p>
<p>Di sana, selain pedagang, banyak orang yang kebanyakan para peziarah sedang mandi atau mengambil air di sendang. Di depan sendang beberapa orang mengantri sambil ngobrol, menawar harga kembang, atau duduk-duduk di bawah pohon. Di antara yang duduk itulah kau berada dengan tetap kikuk.</p>
<p>Kau sendiri. Aku yakin kau sendiri, tanpa pasangan, tidak seperti peziarah lain yang sudah berpasangan, yang datang sambil membawa permohonan atau sekedar mengalap berkah. Tentu kau tahu, bahwa kau perlu pasangan sebagai syarat berziarah di Gunung Kemukus. Pasangan yang tidak boleh kau kenal sebelumnya itu, harus kau tiduri selama tujuh kali berturut-turut, persis di malam Jumat Pon.</p>
<p>“Sudah ada pasangan, Mas?”, tanyaku yang tiba-tiba muncul di depanmu.</p>
<p>Kau terkejut. Lalu diam. Hanya diam. Matamu yang curiga dan asing perlahan tenggelam dan berganti menjadi mata yang hangat, mata yang sendu, mata yang tiba-tiba merebut dingin di mataku. Dan meluncurlah satu potong kata darimu, “Sudah”.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Entah angin apa yang menggiringmu kembali ke tempat ini, ke hadapanku. Ya, kuakui, memang selama ini aku menanti kau kembali ke Kemukus untuk menemuiku. Tapi sungguh, itu hanyalah angan-angan percuma bagi seorang perempuan tua pemilik warung sepertiku. Hanya mimpi-mimpi kosong seorang bekas lonte yang sudah tak laku, yang dua puluh dua tahun lalu pernah amat dekat denganmu. Dan kini, kau ada di depanku sebagai sebuah kenyataan.</p>
<p>“Warungmu sepi”, katamu pelan sambil menyemburkan asap rokok, seperti mengusir kejengahan yang ada.</p>
<p>“Memang apa yang biasa dilakukan banyak orang yang datang ke Kemukus?”, sengaja kujawab dengan pertanyaan yang memang belum kudapatkan jawabannya.</p>
<p>“Ziarah. Minta berkah. Apalagi? Memang hanya itu kok”.</p>
<p>“Hanya itu setelah dua puluh tahun lebih kau tidak ke sini lagi?”.</p>
<p>“Ya. Apalagi?”.</p>
<p>Ingin sekali kujawab,”Untuk menemuiku”, tapi nyaliku tak cukup hebat untuk mengatakannya. Aku memilih diam saja, sambil mencuri-curi membaca dirimu.</p>
<p>Wajahmu tampak tua dan amat lelah. Kau tampak amat dimakan usia. Amat berbeda dengan dua puluh dua tahun yang lalu, ketika kita masih sama-sama muda dan liar bicara tentang masa depan. Ketika kau adalah seorang bapak muda yang menyimpan ambisi di dalam mata, dan aku adalah perempuan penuh mimpi yang sudah kalah dalam hidup. Ketika kau adalah suami dan ayah buat keluargamu, dan aku adalah pelacur murahan buat lelaki miskin yang menginginkan seks. Hanya kesulitan hidup dan kebutuhan cinta-mencintai yang membuat kita tidak tampak berbeda.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Kutiti berundak dari tanah yang merupakan salah satu akses jalan ke bangunan makam. Tiba-tiba saja sebuah tangan meraih lenganku dari belakang. Ternyata kau. “Saya belum dapat pasangan”, ujarmu.</p>
<p>Ternyata kau mengikutiku. Tanganmu belum juga lepas dari lenganku, sedang tanganmu yang lain menggengam bungkusan daun pisang yang berisi kembang dan kemenyan. Kulangkahkan lagi kakiku sampai ke depan makam Pangeran Samodro, dan berjalan memutar sampai ke sisi kiri bangunan, sekedar menghindari keramaian. Di bawah beringin aku berhenti dan membalikkan badan ke arahmu.</p>
<p>Tadinya ingin kubiarkan kau meniduriku dahulu, baru kuberitahu bahwa aku lonte, lantas kutagih imbalannya, seperti apa yang selama ini aku lakukan pada banyak peziarah pemula. Tapi entah mengapa, matamu membuatku menjelaskan dari awal.</p>
<p>“Saya lonte, Mas. Saya cari uang”.</p>
<p>“Saya tahu, saya tak peduli. Saya kehabisan ide untuk mencari pasangan. Biarlah malam pertama ini ritual saya diselesaikan denganmu. Pangeran Somodro dan Nyai Ontrowulan pasti tahu kesusahan saya mencari pasangan baru, dan berkenan menerima laku ziarah saya”.</p>
<p>“Tapi, Mas…”</p>
<p>“Berapa?”</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Malam ini warungku memang sepi. Hanya kau seorang tamunya. Sebenarnya, memang warungku tergolong sepi dibanding warung-warung lainnya. Sengaja dulu aku buka warung di tempat ini, yang agak menjauh dari pusat keramaian yang berada di sekitar sendang atau makam. Toh aku merasa cukup bisa membiayai hidupku dan Narni dari penghasilan selama ini.</p>
<p>Kopimu sudah dingin. Tapi tak kau sentuh sedikit pun. Aku tak tahu apa yang kau pikirkan setelah kita saling bercerita tentang hidup kita masing-masing akhir-akhir ini. Aku menjadi iba setelah kau cerita tentang putramu yang tewas dalam kecelakaan sepeda motor sebulan menjelang ujian kelulusan dari STM. Tentu aku turut bersedih karenanya.</p>
<p>Namun tidak seperti kau yang bercerita banyak dan terbuka, aku tetap menyimpan cerita-ceritaku sendiri. Kau mungkin tak tahu, hidupku jadi tidak mudah setelah kau menghilang tanpa kabar. Aku jadi enggan melacur. Sesekali memang kupaksakan kerja karena kebutuhan bayar kos dan hutang di warung, tapi aku selalu tersiksa tiap kali melayani lelaki selainmu. Tanpa kusadari, aku telah jatuh hati padamu. Setiap menjelang malam Jumat Pon, sengaja aku tak bekerja demi untuk membersihkan diriku untukmu. Tak soal hutangku makin menumpuk. Baru setelah kita bercinta dan kau langsung pulang tanpa bermalam, aku bekerja kembali mencari laki-laki yang butuh tubuhku.<br />
Tapi setelah kau menghilang, hanya sesekali aku melacur. Seingatku dua kali. Itu pun karena desakan untuk mengirim uang buat adikku yang mendaftar menjadi TKI. Katanya untuk uang jaminan. Baru ketika aku tahu bahwa aku hamil, aku sepenuhnya berhenti melacur. Warung inilah gantinya sumber nafkahku. Dan Narni.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Langit belum terang amat, tapi kau sudah mandi dan selesai mengemas barang-barangmu. Aku pun terpaksa berpakaian dan merapikan diri walau sisa kantuk masih kuat menguasaiku. Dan dengan langkah gontai, kita sama-sama keluar dari losmen yang lebih menyerupai gubuk ini.</p>
<p>Baru kali ini aku mengantar tamuku sampai ke seberang waduk. Aku tak tahu mengapa aku ingin sekali lebih lama lagi denganmu sehingga rela merogoh kocek tiga ribu untuk ongkos perahu menyebrangi waduk. Dari empat puluh ribu pemberianmu, masih tersisa delapan belas ribu, setelah dipotong sepuluh ribu untuk kamar, sembilan ribu untuk sebungkus rokok, dan tiga ribu untuk ongkos perahu tadi.</p>
<p>Jumat Pon berikut, kita bertemu lagi, dan melakukannya lagi. Aku pun heran, mengapa kau malah mencariku ketimbang mencari pasangan peziarah lain demi meluluskan permohonanmu. Bukankah itu alasanmu, juga para peziarah lain, datang ke Kemukus, memohon berkah agar usaha lancar? Lalu bagaimana kau menjelaskan pada istri yang merestuimu ke sini untuk berziarah?</p>
<p>Kau tak pernah menjawab kebingungan-kebingunganku itu. Toh kita sudah bersama dalam enam kali Jumat Pon ini. Dan terang, aku pun amat menikmati kebersamaan denganmu, bertukar keluh kesah denganmu, tidur denganmu. Hingga aku sadar, bahwa aku selalu menunggu-nunggu tibanya malam Jumat Pon. Karena hanya pada hari itulah kau ke sini, menemuiku. Dan kita tidak lagi seperti seorang pelacur dengan pelanggannya, melainkan sepasang kekasih.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>“Mas tak lapar? Tak mau makan?”, tanyaku dalam pembicaraan yang sudah cair dan hangat.</p>
<p>“Tidak terlalu. Tapi bolehlah, masakkan aku supermi. Pakai telur ya. Jangan lupa lomboknya.”</p>
<p>“Niii….supermi telur satu ya, pakai lombok…”, teriakku ke dapur pada Narni yang sedang terkantuk-kantuk. “Jadi benar katamu, kau ke sini untuk ziarah, tak ada yang lain?”</p>
<p>Kau menatap dalam mataku, seakan menyelidik kesungguhan pertanyaanku. Kau bakar rokok sebatang lagi sebelum akhirnya bersuara.</p>
<p>“Aku berbohong soal ziarah. Aku sengaja ke sini mencarimu. Kebetulan aku bertemu Mas Yanto yang sedang jaga loket. Mas Yanto yang tunjukkan warungmu ini”</p>
<p>“Mencariku? Untuk apa? Toh kita sudah punya kehidupan masing-masing semenjak kau pergi tanpa kabar dua puluh dua tahun lalu. Dan kau tak pernah tahu, aku di sini menunggumu”</p>
<p>“Tak mudah kujelaskan mengapa aku menghilang tanpa pesan. Aku pun sama dengamu, selama ini aku menunggu saat yang tepat untuk kembali ke sini menemuimu. Aku..aku mencintaimu, Lin… Tapi sungguh, bukan mauku menghilang darimu begitu saja”</p>
<p>Air mataku jatuh. Deras sekali. Tanpa suara aku menangis. Aku tak mau ada yang dengar tangisku. Tapi aku menangis sejadi-jadinya. Aku sendiri masih heran apa yang membuatku menangis: karena emosiku dalam menunggu kau kembali, atau karena kau mengatakan kau cinta aku. Kuhapus air mataku dengan lengan kanan bajuku. Namun mataku basah kembali.</p>
<p>Kita menghadapi geming yang kembali panjang. Kau pun tak menatapku seberani sebelumnya. Hanya menunduk sambil mencuri-curi pandang kepadaku. Namun sering kali kau lempar pandangan ke luar warung yang dikepung udara dingin dan siraman cahaya dari rembulan.</p>
<p>Asap rebusan mie tercium olehku. Narni keluar dari dapur membawa semangkuk mie yang diberi tatakan piring kecil, dan disodorkannyalah semuanya itu di hadapanmu. Narni langsung kembali ke dapur begitu kusuruh, sehingga ia tak tahu aku sedang menangis.</p>
<p>Kepulan asap menari-nari di atas mangkok mie menutupi sebagian wajahmu. Kau pun diam tak bergerak, bersuara pun tidak. Namun matamu kembali mencari-cari mataku, seakan menunggu suara dariku.</p>
<p>“Ia Narni…anak kita…anakmu, Mas…”.</p>
<p>Dan malam menjadi retak. Langit patah, terbelah sampai menjadi potongan-potongan kecil. Bulan pecah dan jatuh terguling ke tanah dengan suara berdebum yang amat hebat. Dari jauh, suara knalpot sepeda motor mengeret berat dalam tanjakan. Dan geming kembali panjang. Panjang sekali.</p>
<p style="text-align:right;"><strong><em>Kentingan, 050510</em></strong></p>
<p><em>Dalam penulisan cerpen ini saya berhutang kepada F. Rahardi atas bukunya, Ritual Gunung Kemukus, dan kebaikannya memperlihatkan Kemukus kepada saya.</em></p>
<p><em>Dimuat di Majalah Esquire edisi Januari 2011</em></p>
<br />Filed under: <a href='http://roythaniago.wordpress.com/category/cerpen/'>Cerpen</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/roythaniago.wordpress.com/936/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/roythaniago.wordpress.com/936/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/roythaniago.wordpress.com/936/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/roythaniago.wordpress.com/936/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/roythaniago.wordpress.com/936/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/roythaniago.wordpress.com/936/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/roythaniago.wordpress.com/936/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/roythaniago.wordpress.com/936/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/roythaniago.wordpress.com/936/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/roythaniago.wordpress.com/936/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/roythaniago.wordpress.com/936/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/roythaniago.wordpress.com/936/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/roythaniago.wordpress.com/936/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/roythaniago.wordpress.com/936/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roythaniago.wordpress.com&amp;blog=1054323&amp;post=936&amp;subd=roythaniago&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://roythaniago.wordpress.com/2011/01/20/dan-malam-pun-retak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		<georss:point>-7.571654 110.822701</georss:point>
		<geo:lat>-7.571654</geo:lat>
		<geo:long>110.822701</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0c988d73fa2c5e4df87d6ce981726b3d?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Roy Thaniago</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://roythaniago.files.wordpress.com/2011/01/the-color-of-loney-by-saiaii1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">the-color-of-loney-by-saiaii</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Televisi “Nasional”: Setahun dalam Catatan</title>
		<link>http://roythaniago.wordpress.com/2010/12/31/929/</link>
		<comments>http://roythaniago.wordpress.com/2010/12/31/929/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Dec 2010 04:04:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Roy Thaniago</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://roythaniago.wordpress.com/?p=929</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Remotivi.blogspot.com Catatan Akhir Tahun Remotivi Mengenai Televisi “Nasional” Sepanjang 2010 Kita berdiri di ambang peralihan dari tahun 2010 yang segera ditinggalkan menuju 2011 dalam satu hari mendatang. Sepanjang satu tahun ke belakang, media televisi kita telah memberikan warna dan pengaruh dalam berbagai perlintasan peristiwa. Dengan penetrasinya yang sedemikian kuat, kita turut menjadi manusia-manusia Indonesia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roythaniago.wordpress.com&amp;blog=1054323&amp;post=929&amp;subd=roythaniago&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber: <a href="http://remotivi.blogspot.com/2010/12/televisi-nasional-setahun-dalam-catatan.html">Remotivi.blogspot.com</a></p>
<p style="text-align:center;"><strong><em>Catatan Akhir Tahun Remotivi</em></strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><em>Mengenai Televisi “Nasional” Sepanjang 2010</em></strong></p>
<p>Kita berdiri di ambang peralihan dari tahun 2010 yang segera ditinggalkan menuju 2011 dalam satu hari mendatang. Sepanjang satu tahun ke belakang, media televisi kita telah memberikan warna dan pengaruh dalam berbagai perlintasan peristiwa. Dengan penetrasinya yang sedemikian kuat, kita turut menjadi manusia-manusia Indonesia yang disibukkan, dibela, dikejutkan, diadili, diganggu, maupun diuntungkan dalam terciptanya warna dan pengaruh yang ada dalam siaran televisi tersebut. Namun, apakah warna dan pengaruh itu baik adanya—atau malah buruk adanya, itulah yang ingin disasar dalam catatan akhir tahun ini.</p>
<p>Catatan ini mewujud dari keinginan untuk menyuarakan kepentingan masyarakat akan kebutuhan tayangan televisi yang mendidik dan bermanfaat. Menyehatkan, sekaligus mencerdaskan. Beberapa hal yang tercatat di sini, tentu, tidak mungkin mengakomodasi semua perihal. Maka, selain menyadari bahwa banyak hal yang mungkin luput dicatat di sini, catatan ini pun membidik persoalannya hanya pada stasiun televisi “nasional”.<span id="more-929"></span></p>
<p>Remotivi sejauh ini telah melakukan observasi terbatas terhadap sejumlah tayangan televisi yang hasilnya terangkum dalam catatan-catatan berikut ini.</p>
<p style="padding-left:30px;">1. Klaim sejumlah stasiun televisi sebagai televisi nasional tidak diimbangi dengan perspektif keindonesiaan yang menghimpun kemajemukan. Ada begitu banyak stasiun televisi yang menyebut dirinya nasional namun gagal memberi ruang aksentuasi bagi lokalitas dan partikularitas. Nyaris semua tayangan yang muncul, dengan congkak, sekadar menghadirkan hiruk pikuk persoalan Jakarta seraya menihilkan suara-suara lain yang datang dari berbagai tempat di Indonesia. Indonesia direduksi menjadi sekadar Jakarta yang pada ujungnya berakhir dengan terbentangnya jarak antara apa yang ditayangkan dengan kenyataan sehari-hari yang dihadapi, justru, oleh sebagian besar masyarakat.</p>
<p style="padding-left:30px;">Pada sinetron-sinetron yang membanjiri layar kaca, misalnya, masyarakat Indonesia yang terdiri dari keberbagaian ini justru disempitkan dan dimiskinkan maknanya menjadi sebongkah tatanan nilai yang seragam, monolit, dan terpusat. Masyarakat di pesisir Enggano mesti tahan dicekoki dengan tema-tema sinetron yang tidak ada relevansinya dengan kenyataan hidup mereka sehari-hari. Atau masyarakat di Sidoarjo yang dicekoki dengan citra <em>bling-bling</em> dan kemewahan warga Jakarta melalui sinetron, di tengah ketidaktahuan kapan mereka akan mendapatkan kembali hak atas rumah setelah ditelan oleh lumpur yang ganas.</p>
<p style="padding-left:30px;">Kejakartasentrisan ini pun ditemukan sangat mencolok pada tayangan-tayangan bercorak perjalanan yang memotret wajah lain dari Indonesia. Segala sesuatu dipandang lain dan aneh, karena kacamata Jakartalah yang dipakai. Dan karena kejakartaan, setiap “tamu” yang hadir harus bertingkah menjadi juru selamat dan ratu adil bagi warga yang dianggap “kampung”. Maka, tak heran fenomena seperti ini menjadi marak: meliyankan yang kita, dan mengkitakan yang liyan. Ada situasi anomik, sejenis keterasingan yang berangsur-angsur tumbuh antara apa yang masyarakat saksikan dengan kenyataan yang mesti ditempuh sepanjang hari.</p>
<p style="padding-left:30px;">Selain <em>Jika Aku Menjadi</em>, <em>Tukar Nasib</em> dan berbagai tayangan sinetron yang terserak nyaris di semua stasiun televisi, hal paling ekstrem dari paradigma ini, terwujud dalam tayangan <em>Primitive Runaway</em> yang bernada melecehkan dan berbau rasis terhadap suatu kelompok masyarakat.</p>
<p style="padding-left:30px;">2. Dalam banyak kesempatan, tayangan berita nyaris selalu kehilangan independensi dan netralitasnya. Apa yang disebut sebagai media massa tidak merepresentasikan sikap dan kebutuhan khalayak lantaran kerapnya campur tangan pemilik modal dalam isi pemberitaan. Karut marut ini semakin menjadi bila pemberitaan mengangkat konflik politik dan tema seputar anak perusahaan lain yang dimiliki para pemilik modal stasiun televisi yang bersangkutan. Layar televisi dijadikan gelanggang pertikaian antarkekuatan politik besar yang, nahasnya, mendaulat pemirsa sebagai korban. Kompetisi beranjak menjadi sejenis pertarungan opini yang tak lagi jelas apa relevansinya bagi kepentingan publik. Gaya pewartaan TV One dan Metro TV adalah dua di antara contoh-contoh lain yang dapat diungkapkan.</p>
<p style="padding-left:30px;">3. Ketidakmampuan membedakan arena “privat” dan “publik” adalah perkara lain yang patut dicatat. Gagapnya stasiun televisi dalam membedakan kedua ranah ini, kerap melahirkan produk-produk tayangan yang sekadar mengandalkan sensasi, bukan substansi. Dramatisasi, bukan edukasi. Wilayah paling pribadi dari seorang individu dirampas atas nama kebebasan pers, keterbukaan berbagi informasi, dan hiburan. Apakah kebanalan semacam itu melanggar kepatutan dan hak yang dimiliki manusia sebagai warga negara—tidak sekalipun menjadi pertimbangan. Yang jelas, media televisi sekonyong-konyong beranjak menjadi polisi moral yang menentukan soal baik dan buruk sebuah perilaku sambil membongkar perihal-perihal yang tak ada urusannya dengan kemaslahatan publik. Infotainmen, <em>Termehek-mehek</em>, dan <em>Uya Emang Kuya</em> adalah contoh dari seunggun tayangan sejenis lainnya yang kami pandang ikut bertanggung jawab merusak keadaban publik.</p>
<p style="padding-left:30px;">4. Perbincangan tentang paras masa depan Indonesia adalah perbincangan tentang bagaimana anak-anak belajar dan mendulang pengalaman mereka di hari ini. Tayangan yang sarat dengan kekerasan—verbal maupun nonverbal—telanjur dianggap sebagai perihal lumrah dan menciptakan sejenis habituasi (pembiasaan) baru dalam hubungan antarmanusia. Hal itu dapat dengan mudah disimak dalam berbagai tayangan berita yang sejak di menit-menit pertama lazim menyuguhkan adegan-adegan kekerasan secara telanjang. Yang tak kalah mengenaskan dapat ditemukan dalam berbagai tayangan fiksi seperti sinetron, film kartun yang mengilustrasikan kekerasan, dan berbagai film laga yang ditayangkan pada jam ketika anak-anak masih menyaksikan tayangan televisi. Tayangan yang sehat dan mencerdaskan bagi anak-anak adalah kemestian yang wajib dipenuhi oleh semua stasiun televisi. Sebagai tanggung jawab dan tekad yang membatu untuk memastikan paras Indonesia yang bersemi tumbuh di masa depan tanpa benih-benih kekerasan.</p>
<p style="padding-left:30px;">5. Di tengah kebutuhan atas tayangan-tayangan yang sehat, TVRI sebagai lembaga penyiaran publik sebenarnya sangat diharapkan menjadi alternatif, atau katakanlah oase yang bisa menghilangkan kedahagaan publik akan keringnya tayangan televisi yang bermutu, sehat, mendidik, dan beretika. Namun dalam arena pertelevisian ini, TVRI terlihat seolah kehilangan gairah untuk melahirkan siaran-siaran yang diharapkan. Pun tidak tampak semangat TVRI untuk berkompetisi dalam percaturan pertelevisian, sekadar untuk merebut, atau setidaknya berbagi ruang publik yang selama ini dikuasi pelaku swasta. Sebagai lembaga penyiaran publik yang didanai oleh pajak masyarakat, sudah selayaknya TVRI berperan lebih untuk membuat masyarakat sadar, bahwa mereka masih diperhatikan.</p>
<p>Televisi—mengingat kekuatan daya raih dan bujuknya, harusnya dijadikan kendaraan strategis dalam membangun keadaban masyarakat Indonesia ke depan. Bahwa televisi janganlah melulu digunakan untuk membujuk penonton menjadi konsumtif, membiasakan kekerasan, mempromosikan pemaknaan religius yang dangkal, atau bahkan sekadar arena kepentingan politik banal. Kami percaya, kesadaran pelaku media—terlebih negara—yang baik terhadap peran positif yang bisa dimainkan televisi, akan membuat cerita lain dari kepengapan yang membekap kita di hari-hari ini.</p>
<p>Televisi adalah benda yang netral. Di tangan yang salah, ia bisa jahat sejahat-jahatnya. Pun bisa baik sebaik-baiknya, di tangan yang benar. Catatan akhir tahun Remotivi ini lebih dari sekadar ingin mengingatkan, bahwa kesempatan untuk membuat tayangan televisi menjadi semakin baik masih tersedia. Catatan ini menegaskan hadirnya suara lain yang tidak akan pernah lelah untuk selalu mencatat apa-apa yang dibuat pelaku media televisi seraya mendorongnya untuk terus berpihak kepada akal sehat dan nurani yang waras. Catatan ini ingin meyentuh kesadaran industri pertelevisian sambil mengingatkan, bahwa mereka hanya meminjam frekuensi negara, yang artinya adalah milik publik. Dan sudah selayaknya hanya melayani kepentingan publik. Dan bukan menghamba pada yang lain.</p>
<p>Salam hangat,</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Roy Thaniago</span></strong></p>
<p>Koordinator Remotivi</p>
<p>Ponsel: 08-999-826-221</p>
<p>E-mail: roythaniago@gmail.com</p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Remotivi</em></strong><em> adalah lembaga literasi media yang prihatin terhadap mutu tayangan televisi di Indonesia. Remotivi bertujuan untuk mengembangkan kemampuan masyarakat dalam bidang melek media, khususnya televisi. Remotivi adalah kelanjutan dari Masyarakat Anti Program Televisi Buruk (MAPTB).</em><em> E-mail: </em><em><a href="mailto:remotivi@ymail.com">remotivi@ymail.com</a></em><em> </em></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Pengurus Harian Remotivi: </span></p>
<p>Roy Thaniago (Koordinator), Ambar Arum (Divisi Edukasi), Jefri Gabriel (Divisi Advokasi), Rumondang Riur (Keuangan), Indah Wulandari (Redaktur remotivi.or.id), dan Ricky Irawan (Redaksi remotivi.or.id).</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Dewan Penasehat: </span></p>
<p>Igantius Haryanto, Mariana Amirudin, dan Agus Haryadi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/roythaniago.wordpress.com/929/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/roythaniago.wordpress.com/929/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/roythaniago.wordpress.com/929/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/roythaniago.wordpress.com/929/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/roythaniago.wordpress.com/929/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/roythaniago.wordpress.com/929/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/roythaniago.wordpress.com/929/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/roythaniago.wordpress.com/929/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/roythaniago.wordpress.com/929/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/roythaniago.wordpress.com/929/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/roythaniago.wordpress.com/929/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/roythaniago.wordpress.com/929/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/roythaniago.wordpress.com/929/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/roythaniago.wordpress.com/929/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roythaniago.wordpress.com&amp;blog=1054323&amp;post=929&amp;subd=roythaniago&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://roythaniago.wordpress.com/2010/12/31/929/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		<georss:point>-7.571654 110.822701</georss:point>
		<geo:lat>-7.571654</geo:lat>
		<geo:long>110.822701</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0c988d73fa2c5e4df87d6ce981726b3d?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Roy Thaniago</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mereka Bukan Primitif!</title>
		<link>http://roythaniago.wordpress.com/2010/11/24/mereka-bukan-primitif/</link>
		<comments>http://roythaniago.wordpress.com/2010/11/24/mereka-bukan-primitif/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Nov 2010 06:18:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Roy Thaniago</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://roythaniago.wordpress.com/?p=919</guid>
		<description><![CDATA[Kalau kita merasa tidak ada masalah dengan kata “primitif” yang berkeliaran bebas, maka tulisan ini akan membuatnya tampak sangat bermasalah. Dan kalau tetap merasa tidak ada masalah, mungkin masalahnya ada pada diri Anda. Saran saya:segera temui psikiater terdekat. PRIMITIVE RUNAWAY, sebuah tayangan televisi, yang mungkin merupakan titik kulminasi hasil pemahaman kolektif masyarakat Indonesia tentang masyarakat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roythaniago.wordpress.com&amp;blog=1054323&amp;post=919&amp;subd=roythaniago&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://roythaniago.files.wordpress.com/2010/11/24_11_2010_012_013_0071.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-924" title="24_11_2010_012_013_007" src="http://roythaniago.files.wordpress.com/2010/11/24_11_2010_012_013_0071.jpg?w=300&#038;h=238" alt="" width="300" height="238" /></a>Kalau kita merasa tidak ada masalah dengan kata “primitif” yang berkeliaran bebas, maka tulisan ini akan membuatnya tampak sangat bermasalah. Dan kalau tetap merasa tidak ada masalah, mungkin masalahnya ada pada diri Anda. Saran saya:segera temui psikiater terdekat.</em></p>
<p><strong>PRIMITIVE RUNAWAY</strong>, sebuah tayangan televisi, yang mungkin merupakan titik kulminasi hasil pemahaman kolektif masyarakat Indonesia tentang masyarakat adat, adalah salah satu sumber masalah itu. Tayangan ini bukan saja mengandung satu, tapi tiga masalah sekaligus: (1) mendiskriminasikan masyarakat adat dengan menyematkan predikat “primitif”, (2) merekayasa realitas kehidupan masyarakat adat, dan (3) mereproduksi dan menyebarkan kesesatan berpikir mengenai masyarakat adat.</p>
<p>Program baru Trans TV yang diputar seminggu sekali ini menayangkan kisah perjalanan dan aktivitas pasangan selebritas di suatu komunitas masyarakat adat. Jualan kecapnya sudah seksi sejak awal, yakni memperolok eksotisme dan membenturkan modernitas dengan tradisionalitas. Ramuan ini melahirkan cerita dan konflik. Pengusaha memang selalu tahu resep tokcer.<span id="more-919"></span></p>
<p>Lantas apa masalahnya? Mari simak edisi 31 Juli 2010 dengan bintang tamu Ramon dan Ladya Cheryl yang berkunjung ke suku Sakkudai, Mentawai. Lewat sudut pandang yang diambil, pemirsa disuguhi kesesatan dan kebohongan mengenai orang Sakkudai yang ditampilkan bodoh, terbelakang, dan jauh dari santun. Ada adegan orang Sakkudai yang menjilati bingkisan yang diberikan. Ada adegan di mana kedua bintang tamu oleh orang Sakkudai dipaksa mengenakan pakaian adat, bahkan seorang perempuan tua bertelanjang dada “beraksi” dengan berusaha melepaskan paksa busana “kota” Ladya. Tak kalah seru, ditampilkan pula adegan pemaksaan melakukan tradisi kikir gigi dan tato tubuh kepada para artis.</p>
<p>Benarkah apa yang terlihat di layar kaca dibandingkan dengan situasi sebenarnya? Mungkinkah suatu komunitas yang selama ini dikenal arif dalam tradisinya, terlebih hanyalah kelompok minoritas, berani memaksakan tradisinya kepada mereka yang datang dengan busana berbeda sambil menenteng Blackberry dan menggotong kamera besar? Apakah saya ingin mengatakan itu semua bagian dari rekayasa yang selama ini memang menjadi mainan para pekerja industri televisi kita? Simpan dulu jawabannya.</p>
<p>Edisi lain pada 28 Agustus dan 4 September 2010, yang masing-masing bertempat di masyarakat adat Sasak Bayan (Lombok) dan Tuatunu (Pangkal Pinang), pun menampilkan hal yang sama, bahwa masyarakat adat adalah bodoh, terbelakang, dan tidak santun. Bahwa masyarakat adat selalu memaksa tamu dari luar untuk turut menjalankan tradisi mereka. Bahwa masyarakat adat adalah makhluk aneh yang perlu disorot handycam (dipegang oleh bintang tamu) sepanjang waktu, sekalipun telanjang.</p>
<p>Dan rupanya tayangan ini “berhasil” mereproduksi dan menyebarkan kesesatan berpikir mengenai masyarakat adat, karena beginilah bunyi dari para <em>follower</em> yang ada pada laman Twitter @primitiverunaway: <em>(1) lo boleh komentar, episode kali ini kurang primitif nih.. but, it&#8217;s okay.. bs nambah pngtahuan adat di bali.. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> , (2) yep, episode ini kurang primitive! klo blh ksh msukan, ak prnah liat org luar k derah klimantan. ad tradisi ngeludah d rmah, (3) Di suku pedalaman papua aja.. Yg msh kanibal.., (4) You&#8217;re great! I love. Tapi edisi kali ini, kurang primitif &amp; terlalu setting. Sorry. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Maju terus ya!</em></p>
<p><strong>Warisan kolonial</strong></p>
<p>“Itu ucapan yang sangat kasar. Orang akan marah sekali,” dengan bahasa Indonesia cadel seorang kawan Australia menanggapi pertanyaan saya tentang “primitif”. Di negaranya, istilah “primitif” haram untuk digunakan, baik dalam komunikasi verbal maupun media massa. Bahkan pemerintah Australia sampai perlu mendirikan lembaga bernama Equal Opportunity Commission agar masyarakat dapat mengadukan perlakuan diskiminatif yang terjadi.</p>
<p>Istilah “primitif” datang dari bahasa Latin, primitivus, artinya “yang pertama atau terawal dalam jenisnya”. Istilah ini pertama kali dipakai oleh para penulis dan penjelajah barat dalam mendeskripsikan masyarakat di luar budayanya. Mereka melukiskan masyarakat primitif sebagai tidak beradab, biadab, ganas, dan kejam. Tujuannya jelas, dengan merendahkan, mereka bisa menjajah dengan lebih leluasa.</p>
<p>Pada 27 Februari 2009 di harian The Independent, direktur Survival International Stephen Corry berpendapat bahwa pemerintah mengambil keuntungan dari kekeliruan pemahaman masyarakat dalam memprimitifkan masyarakat adat. “Kebodohan” dan “keterbelakangan” menjadi alasan pemerintah untuk “mendidik” dan “memodernkan” masyarakat adat. Dan atas nama pembangunan, “keprimitifan” menjadi alat pembenar untuk merampas tanah masyarakat adat.</p>
<p>Memprimitifkan adalah mental penjajah. Ia adalah warisan kolonial yang kemudian malah diadopsi negara-negara yang baru merdeka pasca Perang Dunia II (Domman, 2008:4-5 dalam Rizaldi Siagian, Kompas 13 Desember 2009). Menggelikan, memprimitifkan orang lain dipakai para terjajah untuk menjajah!</p>
<p>Adalah sebuah kepandiran ketika kita menghakimi suatu kebudayaan dengan memakai kacamata budaya sendiri. Adalah ketidakadilan kalau kita mengukur seseorang melalui ukuran kita. Itu adalah sikap etnosentris yang sangat bertentangan dengan pendekatan kebudayaan yang relativis (Nakagawa, 2000:8-9). Karena itu John Simpsons, editor BBC, berkata, “Tidak ada yang primitif dalam masyarakat adat kecuali pandangan kita terhadap mereka.”</p>
<p>Masyarakat adat hanya memiliki cara hidup yang berbeda dengan kebanyakan orang, tapi mereka bukan primitif – tidakkah keteguhan cara hidup mereka yang khas itu suatu keindahan? Mereka tidak tinggal di masa lalu, karena kelompok masyarakat manapun selalu berubah dan beradaptasi seturut tuntutan jaman – dan konteks sosial-kultural mereka memang tidak membutuhkan Bvlgari dan Senayan City. Pun mereka tidak terbelakang, mengingat cara mereka dalam mengatasi hidup – seperti kembali mengutip Simpsons, “Kerumitan masyarakatnya, kemampuan yang luar biasa dalam melangsungkan eksistensi mereka dan memanfaatkan alam sekitar, membuat kita bertanya-tanya.”</p>
<p>Memprimitifkan suatu kelompok masyarakat adalah bentuk diskriminasi. Ini merupakan sebuah pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia. Harian terkemuka di Inggris seperti The Guardian dan The Observer, sejak 2009 sudah melarang penggunaan terminologi “primitif” untuk mendeskripsikan masyarakat adat.</p>
<p>Primitif adalah pelabelan yang menyakitkan. Ia oleh masyarakat kebanyakan dimaknai biadab, bodoh, terbelakang, dan “belum manusia”. Melihat situasi sekarang – seorang ibu membakar anaknya hidup-hidup, pekerja LSM memperkaya diri lewat proposal fiktif, bupati mengorupsi uang rakyat, media “membunuh” Luna-Ariel-Tari, agama menjadi pembenar untuk melakukan kekerasan, dokter menolak pasien miskin, televisi menebar kekerasan dan kebodohan – siapakah yang biadab? Siapakah yang primitif? Anda boleh jawab sekarang. (ROY THANIAGO)</p>
<p><em>Dimuat di <a href="http://epaper.korantempo.com/KT/KT/2010/11/24/ArticleHtmls/24_11_2010_012_013.shtml?Mode=1">Koran Tempo edisi 24 November 2010</a></em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/roythaniago.wordpress.com/919/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/roythaniago.wordpress.com/919/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/roythaniago.wordpress.com/919/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/roythaniago.wordpress.com/919/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/roythaniago.wordpress.com/919/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/roythaniago.wordpress.com/919/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/roythaniago.wordpress.com/919/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/roythaniago.wordpress.com/919/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/roythaniago.wordpress.com/919/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/roythaniago.wordpress.com/919/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/roythaniago.wordpress.com/919/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/roythaniago.wordpress.com/919/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/roythaniago.wordpress.com/919/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/roythaniago.wordpress.com/919/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roythaniago.wordpress.com&amp;blog=1054323&amp;post=919&amp;subd=roythaniago&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://roythaniago.wordpress.com/2010/11/24/mereka-bukan-primitif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>51</slash:comments>
		<georss:point>-7.571654 110.822701</georss:point>
		<geo:lat>-7.571654</geo:lat>
		<geo:long>110.822701</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0c988d73fa2c5e4df87d6ce981726b3d?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Roy Thaniago</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://roythaniago.files.wordpress.com/2010/11/24_11_2010_012_013_0071.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">24_11_2010_012_013_007</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Musik dan Perang</title>
		<link>http://roythaniago.wordpress.com/2010/11/11/musik-dan-perang/</link>
		<comments>http://roythaniago.wordpress.com/2010/11/11/musik-dan-perang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Nov 2010 04:37:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Roy Thaniago</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Amerika Serikat]]></category>
		<category><![CDATA[Brigade Band]]></category>
		<category><![CDATA[Home Sweet Home]]></category>
		<category><![CDATA[Konfederasi]]></category>
		<category><![CDATA[Militer]]></category>
		<category><![CDATA[Musik Militer]]></category>
		<category><![CDATA[Perang]]></category>
		<category><![CDATA[Regimental Band]]></category>
		<category><![CDATA[Union]]></category>
		<category><![CDATA[Yerikho]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://roythaniago.wordpress.com/?p=908</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;I don&#8217;t think we could have an army without music.&#8221; - Robert E. Lee - Marah. Tidak melulu hanya itu yang bisa dikenang dalam perang. Karena perang pun merekam keindahan. Dan musik adalah salah satu keindahan itu. KIRA-KIRA 3400 tahun yang lampau, bangsa Israel berjalan kaki menyeberangi sungai Yordan. Misinya satu: merebut tanah di Kanaan. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roythaniago.wordpress.com&amp;blog=1054323&amp;post=908&amp;subd=roythaniago&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><em>&#8220;I don&#8217;t think we could have an army without music.&#8221;</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>- Robert E. Lee -</em></p>
<p><a href="http://www.myspace.com/anti_masonic_party"><img class="alignleft size-full wp-image-909" title="index" src="http://roythaniago.files.wordpress.com/2010/11/index.jpg?w=594" alt=""   /></a><em> </em></p>
<p><em>Marah. Tidak melulu hanya itu yang bisa dikenang dalam perang. Karena perang pun merekam keindahan. Dan musik adalah sala</em><em>h satu keindahan itu.</em></p>
<p><strong>KIRA-KIRA</strong> 3400 tahun yang lampau, bangsa Israel berjalan kaki menyeberangi sungai Yordan. Misinya satu: merebut tanah di Kanaan.</p>
<p>Yerikho adalah salah satu kota di Kanaan. Ia merupakan kota benteng, karena, ya, kota seluas 4 hektar ini dikelilingi tembok setinggi 14 meter dengan ketebalan 6 meter. Karenanya, Yerikho adalah kota tak terkalahkan. Kota ini dilindungi dewa-dewa Kanaan. Sebuah petaka bagi bala tentara Israel.<span id="more-908"></span></p>
<p>Tembok Yerikho pada akhirnya memang runtuh, dan bala tentara Israel berhasil menguasai kota tersebut. Tapi musiklah yang melakukannya, bukan pedang atau batu. Caranya? Pasukan Israel berjalan kaki mengelilingi tembok Yerikho sebanyak sekali dalam sehari dan dilakukan selama enam hari berturut-turut sambil meniup sangkakala. Di hari ketujuh, sangkakala ditiupkan selama tujuh putaran, dan di putaran yang terakhir, seluruh bangsa bersorak kencang bersama lengkingan sangkakala. Dan runtuhlah Yerikho.</p>
<p>Cerita lain. Niccolo Machiavelli dalam risalahnya di tahun 1521, <em>The Art of War</em>, menyebut trompet sebagai salah satu alat penting dalam perang. Alasannya, trompet memiliki suara yang tajam dan bertenaga, tidak tenggelam dalam gaduhnya perang. Sedang drum dan flute, dalam risalah tersebut, disebutkan sangat bagus untuk melatih kedisiplinan dalam baris berbaris atau memerintahkan pergerakan dalam peperangan.</p>
<p>Perang dan musik hadir berdampingan sebagai sebuah kenyataan sejarah. Kurang lebih pesan inilah yang mengemuka dalam dua fakta di atas. Perang Saudara yang terjadi di Amerika Serikat (AS) antara tahun 1881-1865 pun menyatakan pesan yang sama.</p>
<p>Perang ini membagi AS menjadi dua, utara dan selatan, Union dan Konfederasi. Dipicu oleh keinginan memerdekakan diri para penduduk di selatan yang kebanyakan para budak, perang ini tidak terhindarkan lagi. Lebih dari 600 ribu orang tewas dalam perang ini. Apakah musik turut membunuh?</p>
<p>Mungkin saja. Karena, selain difungsikan sebagai sarana rekreasi selama perang oleh para tentara – entah karena bosan, tegang, stres, atau rindu rumah – musik punya fungsi lain: komunikasi dan senjata psikologis.</p>
<p>Sebagai fungsi komunikasi, musik dipakai dalam memandu baris berbaris, memberi komando di medan perang, atau sinyal panggilan di perkemahan. Sedang sebagai senjata psikologis, musik berkontribusi untuk membangkitkan patriotisme, moral, kekuatan, semangat, dan perasaan senasib. Maka tak heran, dengan berbagai fungsi itu, baik tentara pemusik maupun bukan, kudu hapal puluhan kode komando lewat musik.</p>
<p>Untuk kedua fungsi tersebut, Yunani dan Romawi pun sejak lama menggunakan musik dalam urusan kemiliteran mereka. Lewat alat tiup logam (<em>brass</em>)<em> </em>dan perkusi, mereka menyampaikan informasi kepada pasukan, baik di lapangan maupun di perkemahan. Bahkan tentara Yunani menyewa pemusik untuk mengiringi puisi atau memainkan lagu patriotik yang menceritakan keberanian pahlawan-pahlawan tempo dulu. Pun Cina memanfaatkan musik ketika perang melawan Korea pada 1950-1953. Kala itu, Cina kekurangan alat komunikasi modern seperti radio.</p>
<p>Pada Perang Saudara di AS, tentara pemusik atau <em>Regimental Band</em> adalah elemen terpenting dalam kemiliteran, sehingga berada dalam stuktur organisasi kemiliteran. Baik kubu Union maupun Konfederasi, sama-sama memiliki Regimental Band untuk bermain dalam parade, baris berbaris, atau pagelaran konser. Pada kubu Union, setiap pasukan artileri maupun infantri memiliki Regimental Band yang beranggotakan 24 orang dan 16 orang untuk pasukan kavaleri.</p>
<p>Sedemikian pentingnya tentara pemusik, didirikanlah sebuah tempat pelatihan musik bagi para tentara di Governor’s Island, New York, bernama School of Practice for U.S.A. Field Musicians. Namun perhatian yang banyak terhadap musik, membuat pembiayaannya mengalami kesulitan. Dilaporkan bahwa 26 dari 30 regu tentara dan 213 dari 465 relawan tentara, mempunyai Regimental Band. Ini berarti, ada 1 orang pemusik dalam 41 orang tentara. Karena memakan biaya besar, pada 17 Juli 1862, di kubu Union, Kongres menghapus Regimental Band. Kongres hanya mengizinkan band pada tentara relawan, bukan pada tentara reguler. Sebagai gantinya, dibentuklah <em>Brigade Band</em> menggantikan Regimental Band. Aturannya, satu band untuk empat regu tentara.</p>
<p>Di selatan, kubu Konfederasi tidak memiliki jumlah pemusik dan kualitas instrumen sebanyak dan sebaik kubu Union yang berada di utara. Ketika itu, instrumen dengan kualitas baik harganya mahal dan sulit didapat di daerah selatan, disebabkan bahan baku untuk membuat instrumen dan pembuatnya kebanyakan berada di daerah utara.</p>
<p>Ada tiga alat musik yang paling dominan dalam Regimental maupun Brigade Band, yakni <em>bugle</em>, <em>fife</em>, dan <em>drum</em>. Bugle adalah alat tiup logam tanpa katup, cikal bakal trompet dan french horn. Sedang fife merupakan alat musik tiup kayu, yang pada perkembangannya menjadi <em>piccolo</em> (flute sopran). Dan drum, masih seperti yang ada pada hari ini.</p>
<p>Pemain drum memiliki fungsi mendasar pada regu tentara karena diperlukan untuk memangil prajurit dalam membentuk formasi, atau untuk tujuan lain seperti untuk tanda bangun di pagi hari, sebagai panggilan untuk memberi laporan, berkumpul, sampai penugasan tentara yang giliran berjaga. Pada tentara Union, drum yang dipakai bergambar elang bersayap dengan bintang dan garis yang mengelilinginya. Sedang drum milik tentara Konfederasi hanya polos saja tanpa ornamen apapun. Di lapangan, fife adalah teman setia drum.</p>
<p>Bukan sekedar bermusik yang menjadi tugas para tentara pemusik. Pada waktu dan situasi yang lain, mereka harus siap membantu sebagai tenaga medis dan juga turut bertempur. Memang berlapis tugas mereka. Maka tak heran, Abraham Lincoln, presiden AS ke-16, kepada George F. Root yang menulis “The First Gun Is Fired” sebagai lagu pertama yang diciptakan untuk perang, berkata begini, “Anda telah melakukan lebih daripada seratus jenderal dan seribu orator.”</p>
<p>Sejarah umat manusia mencatat, bahwa musik dan perang hadir berdampingan sebagai sebuah kenyataan. Sebuah kenyataan yang kadang pahit, marah, dan melukai, tapi sekaligus manis, gembira, dan intim. Ia hadir dalam dua wajah paradoksal: sebagai sebuah kekacauan sekaligus keindahan yang masing-masing menyediakan ruang kontradiktif di dalamnya. Sebuah peristiwa berikut akan menjelaskannya.</p>
<p>Musim salju 1862-1863 di Fredericksburg, Virginia. Pasukan Union dan Konfederasi berkemah di lokasi yang berdekatan dengan Rappahannock River sebagai pemisah. Di suatu siang yang dingin, untuk menyemangati pasukannya, kubu Union memainkan musik yang kemudian direspon oleh kubu Konfederasi hingga terjadi balas membalas. Dan terjadilah sebuah duel yang indah. Duel ini diakhiri oleh sebuah lagu yang dimainkan bersama oleh kedua kubu yang sama-sama merindukan kampung halamannya, yang sama-sama berhadapan pada kenyataan kemanusiaannya yang paling dasar, <em>Home, Sweet Home:</em></p>
<p><em> </em></p>
<p style="padding-left:60px;"><em>&#8216;Mid pleasures and Palaces though we may roam,<br />
Be it ever so humble, there&#8217;s no place like home!<br />
A charm from the skies seems to hallow us there,<br />
Which seek through the world, is ne&#8217;er met with elsewhere.</em></p>
<p style="padding-left:90px;"><em>Home! Home! sweet sweet Home!</em></p>
<p style="padding-left:60px;"><em>There&#8217;s no place like Home! There&#8217;s no place like Home</em></p>
<p style="text-align:right;"><em>Dimuat di majalah <strong>Dada</strong> edisi Seni dan Perang</em></p>
<p><span style="text-decoration:underline;"> </span></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Referensi</span></strong></p>
<p>Alkitab</p>
<p><a href="http://www.nps.gov/archive/gett/gettkidz/music.htm">http://www.nps.gov/archive/gett/gettkidz/music.htm</a></p>
<p><a href="http://americanrevwar.homestead.com/files/civwar/bands.html">http://americanrevwar.homestead.com/files/civwar/bands.html</a></p>
<p><a href="http://hubpages.com/hub/Music-Of-The-Civil-War">http://hubpages.com/hub/Music-Of-The-Civil-War</a></p>
<p><a href="http://www.historynet.com/the-music-of-war.htm">http://www.historynet.com/the-music-of-war.htm</a></p>
<p><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Music_of_the_American_Civil_War">http://en.wikipedia.org/wiki/Music_of_the_American_Civil_War</a></p>
<p><a href="http://parlorsongs.com/issues/2004-4/thismonth/feature.php">http://parlorsongs.com/issues/2004-4/thismonth/feature.php</a></p>
<p><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/American_Civil_War">http://en.wikipedia.org/wiki/American_Civil_War</a></p>
<p><a href="http://memory.loc.gov/ammem/cwmhtml/cwmpres01.html">http://memory.loc.gov/ammem/cwmhtml/cwmpres01.html</a></p>
<p><a href="http://memory.loc.gov/ammem/cwmhtml/cwmpres07.html">http://memory.loc.gov/ammem/cwmhtml/cwmpres07.html</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://roythaniago.wordpress.com/category/musik/'>Musik</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/roythaniago.wordpress.com/908/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/roythaniago.wordpress.com/908/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/roythaniago.wordpress.com/908/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/roythaniago.wordpress.com/908/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/roythaniago.wordpress.com/908/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/roythaniago.wordpress.com/908/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/roythaniago.wordpress.com/908/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/roythaniago.wordpress.com/908/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/roythaniago.wordpress.com/908/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/roythaniago.wordpress.com/908/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/roythaniago.wordpress.com/908/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/roythaniago.wordpress.com/908/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/roythaniago.wordpress.com/908/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/roythaniago.wordpress.com/908/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roythaniago.wordpress.com&amp;blog=1054323&amp;post=908&amp;subd=roythaniago&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://roythaniago.wordpress.com/2010/11/11/musik-dan-perang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		<georss:point>-7.571654 110.822701</georss:point>
		<geo:lat>-7.571654</geo:lat>
		<geo:long>110.822701</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0c988d73fa2c5e4df87d6ce981726b3d?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Roy Thaniago</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://roythaniago.files.wordpress.com/2010/11/index.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">index</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kepu(si)ngan Klakson di Pham Ngu Lao</title>
		<link>http://roythaniago.wordpress.com/2010/10/03/kepusingan-klakson-di-pham-ngu-lao/</link>
		<comments>http://roythaniago.wordpress.com/2010/10/03/kepusingan-klakson-di-pham-ngu-lao/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Oct 2010 08:43:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Roy Thaniago</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Bui Vien]]></category>
		<category><![CDATA[Pariwisata]]></category>
		<category><![CDATA[Petualangan]]></category>
		<category><![CDATA[Pham Ngu Lao]]></category>
		<category><![CDATA[Turisme]]></category>
		<category><![CDATA[Vietnam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://roythaniago.wordpress.com/?p=889</guid>
		<description><![CDATA[Malam itu di segala sudut dipadati manusia. Lampu kelap-kelip. Suara dari panggung musik di 23/9 Park sangat bertenaga sampai di telinga. Sisa-sisa perayaan malam tahun baru masih terlihat dengan meriah. Wajar, sekarang tanggal 1 Januari 2010. DALAM suasana seperti itulah saya sedang berdiri hendak menyeberang di jalan Pham Ngu Lao, Ho Chi Minh, Vietnam. Tapi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roythaniago.wordpress.com&amp;blog=1054323&amp;post=889&amp;subd=roythaniago&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://roythaniago.files.wordpress.com/2010/10/img_6089.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-891" title="Plang jalan di Pham Ngu Lao" src="http://roythaniago.files.wordpress.com/2010/10/img_6089.jpg?w=199&#038;h=300" alt="" width="199" height="300" /></a><em>Malam itu di segala sudut dipadati manusia. Lampu kelap-kelip. Suara dari panggung musik di 23/9 Park sangat bertenaga sampai di telinga. Sisa-sisa perayaan malam tahun baru masih terlihat dengan meriah. Wajar, sekarang tanggal 1 Januari 2010.</em></p>
<p><strong>DALAM</strong> suasana seperti itulah saya sedang berdiri hendak menyeberang di jalan Pham Ngu Lao, Ho Chi Minh, Vietnam. Tapi baru selangkah kaki turun dari trotoar, mendadak ada perasaan sesal mengepung. Pasalnya, saya terlalu sering mengumpat kala berjalanraya di Jakarta, mengira hanya di Jakarta saya temui prilaku ganjil pengendaranya.</p>
<p>Di Ho Chi Minh, lebih baik simpan energi untuk mengumpat. Karena selain tidak ada yang mengerti umpatan Nusantara, jalanan di sini tampaknya sudah kebal umpatan. Mobil, bis, taksi, dan sepeda motor berlarian tanpa kasihan pada pejalan kaki. Mereka banting setir kanan-kiri dan menyemprot klakson dengan mimik tanpa dosa. Namun ada yang berbeda antara klakson di Jakarta dengan di Ho Chi Minh. Di Jakarta, klakson bernada angkuh, marah, dan stres. Sedang di Ho Chi Minh, klakson lebih dimaknai sebagai pemberitahuan, “Hei awas, saya di sini!” Satu lagi, usia bunyi klakson di Ho Chi Minh lebih panjang, dari subuh hingga tengah malam. Begitulah Ho Chi Minh sebagai sebuah kota mengemukakan dirinya.<span id="more-889"></span><a href="http://roythaniago.files.wordpress.com/2010/10/penjaja-juhi-bakar-bersepeda.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-892" title="Penjaja Juhi Bakar Bersepeda" src="http://roythaniago.files.wordpress.com/2010/10/penjaja-juhi-bakar-bersepeda.jpg?w=200&#038;h=300" alt="" width="200" height="300" /></a><!--more--></p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>SAYA tidak sendiri. Ada dua teman dari Jakarta yang turut serta dalam perjalanan ini. Kami bermalam di Pham Ngu Lao, sebuah daerah yang berada di Distrik 1. Kawasan ini banyak dijejali turis beransel dengan dana minim, persis jalan Jaksa di Jakarta Pusat. Hanya saja, Pham Ngu Lao jauh lebih besar, hidup, dan ramai.</p>
<p>Di kawasan ini, berjejer begitu banyak penginapan, kafe, restoran, pedagang buku, kios penyewaan sepeda motor, biro perjalanan, kios buah, salon, toko sovenir, hingga pedagang kaki lima dengan segala macam varian dagangan. Pilihan kelasnya pun beragam, dari kelas atas sampai kaki lima. Ada penginapan cukup mewah dan berpendingin ruangan, namun ada juga penginapan berkipasangin berupa rumah tinggal yang berada di gang kecil.</p>
<p>Kami bermalam di dua tempat yang berbeda. Pertama di Me, Them, House, Bed, and Breakfast Guest House yang berada persis di jalan Pham Ngu Lao yang bersebrangan dengan 23/9 Park – sebuah taman besar yang indah dan terawat, yang berfungsi benar sebagai ruang publik bagi warganya untuk rekreasi, jalan santai, berolahraga, pelaksanaan pentas seni, sampai pacaran.</p>
<p>Di penginapan ini, per kepala dikenakan tarif $7 per malam. Kamarnya (<em>dormitory</em>) berpenyejuk udara berisi tiga ranjang dua tingkat. Kami berbagi ruang dengan seorang perempuan muda dari California, pemuda Korea, dan karyawan muda asal Prancis. Selain fasilitas seperti kulkas, kamar mandi, lemari, dan televisi, di pengiapan ini tiap pagi ada jatah sarapan dengan beberapa menu yang bisa dipilih.</p>
<p><a href="http://roythaniago.files.wordpress.com/2010/10/salah-satu-sudut-jalan-di-ho-chi-minh2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-890" title="salah satu sudut jalan di Ho Chi Minh" src="http://roythaniago.files.wordpress.com/2010/10/salah-satu-sudut-jalan-di-ho-chi-minh2.jpg?w=300&#038;h=196" alt="" width="300" height="196" /></a></p>
<p>Bui Vien adalah jalan tempat kami menginap pada malam yang lain. Tarifnya lebih murah, US$4 per orang per malam. Kamarnya untuk tiga orang, sehingga kami tidak perlu berbagi lagi dengan orang lain. Hanya saja, interior dan fasilitasnya tidak sebaik penginapan sebelumnya. Kami juga tidak mendapat sarapan di penginapan yang pintu pagar gesernya sudah dikunci pada tengah malam ini – penjaganya tidur di ruangan resepsionis. Kalau rasa lapar menyerang, dengan sedikit ketegaan kami terpaksa membangunkan si penjaga.</p>
<p><a href="http://roythaniago.files.wordpress.com/2010/10/img_4297.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-893" title="Pedagang Kaki Lima di Pham Ngu Lao" src="http://roythaniago.files.wordpress.com/2010/10/img_4297.jpg?w=300&#038;h=199" alt="" width="300" height="199" /></a>Di kawasan Pham Ngu Lao, bukan saja bangunan, jenis manusianya pun beragam. Ada lelaki tukang pijat keliling yang bersepeda sambil membunyikan “<em>crek, crek, crek</em>”. Ada penjaja juhi bakar bersepeda. Ada germo yang rajin menyapa menawarkan perempuan. Kalau ditolak, ia beralih menawarkan ganja. Ada penjaja keliling lain seperti tukang koran, tukang baju, tukang makanan kecil, sampai tukang cindera mata. Ada tukang becak yang mangkal di beberapa titik. Ada tukang tambal ban, pengemis, sampai penyandang cacat atau para jompo penjual lotere. Ada juga wanita dan waria penjaja seks yang jemput bola menggunakan sepeda motor.</p>
<p>Ada yang berbeda dan menarik dari tukang ojek di sini. Selain aktif menyapa menawarkan jasa, mereka turut membawa perangkat promosi, seperti album foto berisi lokasi-lokasi wisata, foto para pelanggannya yang kebanyakan bule, sampai testimoni tulisan tangan dari pelanggannya untuk meyakinkan calon pemakai jasanya. Semua perangkat itu mereka bawa di dalam tas atau di bagasi bawah jok sepeda motor.</p>
<p>Karena bertiga, kami memakai strategi lain: satu orang ikut si tukang ojek, sedang dua orang lainnya menyewa sepeda motor. Untuk penyewaan sepeda motor sehari penuh, kami dikenai biaya 120 ribu Dong (sekitar Rp 70 ribu). Dan untuk jasa ojek mengantar ke beberapa lokasi, tiap-tiap kami dikutip $5.<a href="http://roythaniago.files.wordpress.com/2010/10/katedral-notre-dame.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-894" title="Katedral Saigon Notre Dame" src="http://roythaniago.files.wordpress.com/2010/10/katedral-notre-dame.jpg?w=206&#038;h=300" alt="" width="206" height="300" /></a></p>
<p>Katedral Saigon Notre-Dame Basilica, sebuah gereja Katolik peninggalan Prancis, adalah lokasi kedua yang diantar Cuong, si tukang ojek, setelah kami mampir sebentar melihat Sungai Saigon, yang airnya keruh dan dijadikan sarana transportasi air.</p>
<p>Notre-Dame merupakan bangunan bergaya neo-Romanesque yang didirikan pada akhir abad ke-19. Temboknya yang tersusun dari batu bata merah, langsung berhadapan dengan jalan raya, persis seperti bangunan-bangunan tua di Kota Tua, Jakarta Barat. Di depannya, berdiri sebuah patung Bunda Maria yang dikelilingi taman kecil yang asri dan diramaikan burung-burung merpati yang sesekali bertengger di atas kepala Sang Bunda. Sayang, ketika kami berkunjung, gereja yang juga memiliki layanan misa berbahasa Inggris ini sedang tidak beroperasi, sehingga kami hanya cukup puas mengaguminya dari luar.</p>
<p><a href="http://roythaniago.files.wordpress.com/2010/10/kantor-pos.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-895" title="Kantor Pos" src="http://roythaniago.files.wordpress.com/2010/10/kantor-pos.jpg?w=209&#038;h=300" alt="" width="209" height="300" /></a>Namun tak jauh dari Notre-Dame, hanya sepelemparan batu, berdiri dengan gagah sebuah Kantor Pos (Bưu điện thành phố<em>)</em> dengan bergaya <em>gothic</em>. Arsiteknya adalah Gustave Eiffel, yang juga mengarsiteki menara Eiffel di Paris. Pemerintah setempat tampaknya fasih betul menghargai sejarah, sambil memaksimalkan fungsi kantor pos sebagai salah satu tujuan wisata yang menarik dan berkesan. Karena selain bebas diseliweri para wisatawan – padahal aktivitas kantor pos sedang berlangsung – terdapat toko cindera mata dan foto Ho Chi Minh, Bapak Republik Vietnam, berukuran besar.</p>
<p>Perjanjian dengan Cuong, bahwa kami akan diantar sampai jam lima atau enam sore hari. Maka, masih tersisa waktu untuknya mengantar kami ke beberapa lokasi lain seperti War Remnant Museum (Museum Perang), Pasar Cho Binh Tay di daerah pecinan Cholon, dan Klenteng Tuệ Thành.</p>
<p>War Remnant  Museum padat sekali ketika kami kunjungi. Di halamannya dijejer <a href="http://roythaniago.files.wordpress.com/2010/10/pasar-ben-thanh.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-897" title="Pasar Ben Thanh" src="http://roythaniago.files.wordpress.com/2010/10/pasar-ben-thanh.jpg?w=200&#038;h=300" alt="" width="200" height="300" /></a>kendaraan-kendaraan perang, dari tank, helikopter, pesawat tempur, sampai yang berfungsi sebagai senjata pembunuh massal. Ini adalah museum yang mengambil sudut pandang Vietnam Utara dalam mengisahkan perang Vietnam melawan Amerika. Pengunjung mana pun pasti menaruh simpati kepada Vietnam. Bahkan saya sempat melihat seorang pengunjung bule yang geleng-geleng dan mengutuk Amerika.</p>
<p>Bagaimana tidak, di dalamnya dihadirkan foto-foto dan gambar mengenai kekejaman serdadu Amerika. Segala bentuk penyiksaan berikut peralatannya hadir sebagai koleksi museum. Yang paling mengerikan, di salah satu tembok, dijejerkan foto wajah korban perang. Ada yang mukanya rusak, organ tubuhnya hancur, dan segala kondisi mengerikan lainnya. Dan kalau Anda ada bersama kami di Tiger Cages, bangunan bekas penjara yang terpisah dari bangunan utama, kita pasti sama-sama meyakini kalau perang bukanlah sebuah ide yang baik. “<em>An eye for an eye will make us all blind</em>,” kata Mahatma Gandhi.</p>
<p><a href="http://roythaniago.files.wordpress.com/2010/10/tiger-cages-di-war-remnant-museum.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-896" title="Tiger Cages di War Remnant Museum" src="http://roythaniago.files.wordpress.com/2010/10/tiger-cages-di-war-remnant-museum.jpg?w=300&#038;h=200" alt="" width="300" height="200" /></a>Akhirnya Cuong mengakhiri jasanya dengan meninggalkan kami di sebuah kedai makan nasi Hainam yang menjadi favorit warga di sana. Perut terisi, tapi kaki sudah kempis. Peduli setan! Kami lanjutkan berjalan kaki sekitar 3 kilometer untuk sengaja menyambangi Golden Dragon Water Puppet Theatre di Labour Cultural House di Jalan Nguyen Thi Minh Khai, Distrik 1. Ada pertunjukan tradisional wayang air digelar tiap malam di sana dengan harga tiket 70 ribu Dong per kepala (sekitar Rp. 50 ribu).</p>
<p>Pertunjukan ini dimainkan di panggung yang berupa sebuah kolam. Latarnya berupa bangunan kerajaan dengan diiringi ansambel musik tradisional Vietnam di sisi panggung. Boneka-boneka yang dikendalikan oleh beberapa orang dalang di balik panggung ini mengolah air menjadi medium pentas yang punya nilai artistik tersendiri. Air membentuk bagaimana wayang tersebut ditampilkan dalam gestur dan profil yang khas. Walau menggunakan bahasa Vietnam, pertunjukan ini cukup merepresentasikan potret kehidupan budaya dan sejarah Vietnam.<a href="http://roythaniago.files.wordpress.com/2010/10/aktivitas-asongan-di-bui-vien1.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-900" title="Aktivitas asongan di Bui Vien" src="http://roythaniago.files.wordpress.com/2010/10/aktivitas-asongan-di-bui-vien1.jpg?w=184&#038;h=300" alt="" width="184" height="300" /></a></p>
<p>Ada banyak yang didapat dari perjalanan hari ini, bahwa kesemua lokasi wisata di Ho Chi Minh menyajikan data sejarah dan budaya yang membentuk Vietnam sebagai sebuah bangsa. Juga kemegahan, keterawatan, dan profesionalisme yang ada seperti menyentakkan saya bahwa negara ini baru saja porak poranda akibat perang dengan Amerika di tahun 1975. Dan hanya dalam 35 tahun, mereka membangun negaranya kembali dengan menakjubkan. Maka tak heran, negara sosialis ini masuk dalam grup ekonomi Next Eleven dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Asia Tenggara.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>KAKI dan mata saya terasa sangat akrab dengan kota ini pada kedatangan kedua saya di awal Juni tahun ini, tepatsetengah tahun setelah kedatangan pertama kali. Bau kota ini masih sama. Pham Ngu Lao pun masih sama, masih ramai dengan wisatawan yang kebanyakan para bule. Tapi entah mengapa, keramaian dan kegempitaan wisata di sini malah membuat saya merenung.</p>
<p>Dalam setengah tahun saja, begitu banyak perubahan di wilayah ini. Usaha baru bermunculan. Kedai makan bercitra eksklusif menjadi semakin ramai, meminggirkan mereka yang selama ini hidup di tepian. Pub dan diskotik juga bertambah. Begitupun lokasi mangkal para pekerja seks. Sedang warganya mengorbankan keluarganya dengan menghilangkan ruang privat dalam rumah demi dijadikan penginapan. Inikah ekses negatif yang dihasilkan turisme?<a href="http://roythaniago.files.wordpress.com/2010/10/pemandangan-malam-hari-di-daerah-pham-ngu-lao.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-898" title="Pemandangan malam hari di daerah Pham Ngu Lao" src="http://roythaniago.files.wordpress.com/2010/10/pemandangan-malam-hari-di-daerah-pham-ngu-lao.jpg?w=300&#038;h=202" alt="" width="300" height="202" /></a></p>
<p>Negara mengeruk keuntungan besar dengan mengorbankan suatu kelompok masyarakat. Dan masyarakat di kawasan turisme, bak ayam potong yang hidupnya hanya dipersembahkan bagi keriangan manusia lain, khususnya manusia dari barat sana, yang bersikap serasa memiliki seluruh dunia dengan tidak mengindahkan hal-hal etis yang berlaku di suatu budaya.</p>
<p>“Tinnnnnnnnnnnnnn&#8230;! Donnnnnnnnnn…!” semprotan klakson dari jalanan membuyarkan lamunan saya. Dari trotoar tempat saya duduk ini, sayup-sayup terdengar kembali dentuman musik disko antarpub yang seakan saling meledek. (ROY THANIAGO)</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Kata “kepu(si)ngan” pertama kali dibaca di buku Erie Setiawan, </em>Short Music Service<em> </em></p>
<p><em>Dimuat di <a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/perjalanan/2010/10/04/brk,20101004-282325,id.html" target="_blank">Koran Tempo, 3 Oktober 2010</a>, dengan judul &#8220;Kepungan Klakson di Pham Ngu Lao&#8221;</em></p>
<br />Filed under: <a href='http://roythaniago.wordpress.com/category/catatan-perjalanan/'>Catatan Perjalanan</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/roythaniago.wordpress.com/889/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/roythaniago.wordpress.com/889/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/roythaniago.wordpress.com/889/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/roythaniago.wordpress.com/889/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/roythaniago.wordpress.com/889/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/roythaniago.wordpress.com/889/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/roythaniago.wordpress.com/889/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/roythaniago.wordpress.com/889/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/roythaniago.wordpress.com/889/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/roythaniago.wordpress.com/889/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/roythaniago.wordpress.com/889/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/roythaniago.wordpress.com/889/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/roythaniago.wordpress.com/889/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/roythaniago.wordpress.com/889/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roythaniago.wordpress.com&amp;blog=1054323&amp;post=889&amp;subd=roythaniago&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://roythaniago.wordpress.com/2010/10/03/kepusingan-klakson-di-pham-ngu-lao/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		<georss:point>-7.571654 110.822701</georss:point>
		<geo:lat>-7.571654</geo:lat>
		<geo:long>110.822701</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0c988d73fa2c5e4df87d6ce981726b3d?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Roy Thaniago</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://roythaniago.files.wordpress.com/2010/10/img_6089.jpg?w=199" medium="image">
			<media:title type="html">Plang jalan di Pham Ngu Lao</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://roythaniago.files.wordpress.com/2010/10/penjaja-juhi-bakar-bersepeda.jpg?w=200" medium="image">
			<media:title type="html">Penjaja Juhi Bakar Bersepeda</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://roythaniago.files.wordpress.com/2010/10/salah-satu-sudut-jalan-di-ho-chi-minh2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">salah satu sudut jalan di Ho Chi Minh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://roythaniago.files.wordpress.com/2010/10/img_4297.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Pedagang Kaki Lima di Pham Ngu Lao</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://roythaniago.files.wordpress.com/2010/10/katedral-notre-dame.jpg?w=206" medium="image">
			<media:title type="html">Katedral Saigon Notre Dame</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://roythaniago.files.wordpress.com/2010/10/kantor-pos.jpg?w=209" medium="image">
			<media:title type="html">Kantor Pos</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://roythaniago.files.wordpress.com/2010/10/pasar-ben-thanh.jpg?w=200" medium="image">
			<media:title type="html">Pasar Ben Thanh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://roythaniago.files.wordpress.com/2010/10/tiger-cages-di-war-remnant-museum.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Tiger Cages di War Remnant Museum</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://roythaniago.files.wordpress.com/2010/10/aktivitas-asongan-di-bui-vien1.jpg?w=184" medium="image">
			<media:title type="html">Aktivitas asongan di Bui Vien</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://roythaniago.files.wordpress.com/2010/10/pemandangan-malam-hari-di-daerah-pham-ngu-lao.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Pemandangan malam hari di daerah Pham Ngu Lao</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
