Arsip Tag: Michael Asmara

Membumikan Musik yang Hampir Digagalkan


Slamet Gundono

Slamet Gundono

DALAM hal musik, apa yang lebih penting dari padanya? Tidak ada. Peristiwa musik itu sendirilah yang terpenting. Tapi, sepotong catatan atasnya diperlukan sekadar agar ada diskusi yang sarinya bisa kita warisi kelak. Demi semangat semacam itulah tulisan ini mencoba mencatat pemikiran-perasaan saya atas Histoire du Soldat, sebuah konser musik yang mensertakan teater dan tari.

Pertunjukan yang digagas oleh kelompok ensambel Dutch Chamber Music Company ini dibawa keliling dari Yogyakarta, Solo, Semarang, dan berakhir di Jakarta. Di Jakarta, ia dipentaskan di Erasmus Huis, Jakarta Selatan pada 19 dan 20 Agustus 2011.

Histoire du Soldat sendiri adalah sebuah karya teatrikal yang musiknya dikarang oleh Igor Stravinski dan libretonya ditulis dalam bahasa Prancis oleh Charles Ferdinand Ramuz berdasarkan cerita rakyat Rusia. Untuk kepentingan pementasan di Indonesia, naskahnya diterjemahkan oleh Jean Pascal Lebaz menjadi “Mau ketemu iblis?” Sebuah usaha pelokalan yang simpatik bila dibandingkan gaya seniman musik kita yang justru senang membuang konteks sosio-kulturalnya.

Karya ini diciptakan pada 1918, artinya sudah lebih dari seratus tahun lalu. Bercerita tentang seorang serdadu yang berniat menjual biolinnya kepada iblis untuk ditukar dengan sebuah buku yang meramalkan perekonomian masa depan. Dengan ironi dan kejenakaan, siapa sangka karya ini merupakan kritik atas perang dunia pertama? Sebagai sebuah hujatan atas keserakahan manusia, ia melakukan pukulan dengan cara yang elegan dan berwibawa. Hus, jangan coba bandingkan dengan sikap anggota DPR kita. …baca lebih lanjut