Korupsikah Gereja?


Belakangan ini, tema APP 2006 menjadi begitu akrab di telinga kita. Begitupun juga, slogan ini sering menyelinap masuk di sela-sela pertemuan lingkungan, di rapat-rapat kelompok kategorial, sampai obrolan sehari-hari yang ringan.

Saya sempat tertegun dan terkagum-kagum dengan ide tema ini. Tertegun karena dipaksa meneliti jauh ke dalam pola pikir, hati, dan jiwa saya selama ini. Sangat sederhana, tapi mendalam dan mempunyai semangat reflektif yang kental. Terkagum-kagum karena begitu luar biasanya Gereja mencoba ikut ambil bagian dalam peradaban bangsa dan negara kita ini. Gereja tidak lagi melulu mengurusi kepentingan ’dalam negeri’-nya saja. Tapi Gereja juga merasa terpanggil untuk turut aktif memberantas budaya bangsa ini yang semakin terpuruk. Kekaguman saya yang lain tak lain karena begitu kreatifnya dan menyentilnya tema yang diangkat tersebut. Atau dalam bahasa anak muda gaul, gue banget!

”Korupsikah Aku?” sebenarnya ingin merujuk pada dua hal, yakni mengajak lingkungan untuk mematikan budaya langganan kita ini (baca:korupsi) dan mencoba membangun habitus yang baru. Hal yang kedua, menurut saya, sebenarnya jauh lebih sarat makna. Tema ini yang kemudian selalu dimengerti sebagai sebuah pertanyaan penting buat saya pribadi, dan saya yakin ini juga menjadi pertanyaan yang mendalam bagi banyak orang.

Dari ide dasar sebuah pertanyaan inilah saya berangkat untuk beropini dalam tulisan ini. Ketika Gereja menunjuk suatu pribadi, suatu badan, atau institusi apapun itu, tema ini menjadi sangat provokatif. Kemudian pertanyaan nakal saya, ”Korupsikah Gereja?”. Apa Gereja yang melulu menunjuk yang bukan dirinya, selalu bersih dari budaya korupsi ini? Siapa tahu? Apa Paroki benar-benar bersih dari praktek korupsi? Apa Pastor-Pastornya memakai uang dengan bijak dan wajar? Apa Dewan Paroki mengumumkan pengelolaan Paroki dengan rinci dan transparan? Apa sekretariat bertindak efisien dan efektif dalam pengeluaran-pengeluarannya tiap bulan? Lalu dimana posisi Gereja seharusnya menanggapi tema yang disusunnya ini?

Gereja yang melulu menjadi sumber segala kebenaran bagi banyak individu maupun badan, haruslah kita sebagai umat patut untuk mengkritisinya. Gereja adalah kita sendiri. Maka, kita mempunyai peran pada apa yang menjadi arah Gereja. Dulu, ketika masa-masa kelam Gereja Katolik, Gereja selalu menjadi hukum dan kebenaran. Yang menentang harus menyerah pada nasib: dikucilkan, dimusuhi, atau paling parah, mati! Akhirnya Gereja tidak lagi menjadi sesuatu yang memiliki semangat kasih. Gereja menjadi arogan dan egoistis. Hal ini pula yang membuat seorang Marthin Luther melahirkan Kristen Protestan.

Hal itulah yang perlu kita cermati, lalu kita kritisi, kemudian kita tindak sesuai bidang-bidang kemampuan kita. Kiranya, ini menjadi ajakan untuk sadar terhadap tanggungjawab dan kewajiban kita sebagai Gereja. Tanggung jawab terhadap diri, yang tak lain yakni, tetap berpikir kritis terhadap Gereja yang dalam hal ini dimengerti sebagai sebuah badan atau lembaga atau institusi.

Kembali pada pertanyaan nakal saya, bagaimana Dewan Paroki memakai uang umat? Apa seksi-seksi dan kelompok-kelompok kategorial di Paroki tidak menghambur-hamburkan uang dari subsidi umat dan dewan yang pada dasarnya adalah uang gratis? Apa Suster hanya mau pergi melayani kalau diantar mobil biara? Apa para Pastor hanya mau mengadakan Misa di rumah orang kaya dan terpandang saja? Apa Keuskupan tetap bermewah ria di ruang kerjanya ketika lima ratus meter dari sana, dua orang kakak adik kegerahan dan mengharap segepok logam dari balik kaca mobil?

Maaf bila tidak berkenan.

4 pemikiran pada “Korupsikah Gereja?

  1. Gereja sekarang sudah tidak mengenal korupsi, begeto….untuk si roy alias komeng…gambarnya banyakin dikit, bete kalo liat tulisan doang… gak semua orang ngerti kata2 u, jadi mohon kata2nya di permudah sedikit biar orang laen juga ngerti apa yang pengen loe sampein ke kite2 ini… oke?

    Suka

  2. Wah… Kata siapa Gerja sekarang tidak korupsi? Korupsi jgn diartikan secara harafiah saja. Anda sepertinya harus ngobrol ama gw nih..Ngom2 ini siapa ya? Kok anonim?Tp makasih buat kunjungan ke blog kumuh ini.. hehehe

    Suka

  3. Pedas sepedas sambelTajam se tajam GolokDalam sedalam lautanwahai sahabat walau badai menerpamu jangan biarkan kau dan pedangmu berhenti diterjang sang badai…..pedang = pena

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s