Sepotong Catatan: Memandang Jambore


Secara umum, saya melihat Jambore di Kemakmuran adalah sebuah tradisi orang muda yang menjadi nafas utama (untuk tidak menyebut satu-satunya) kehidupan orang muda Katolik menggereja. Tanpa disengaja, gaya hidup beralam bebas yang digiati sekelompok anak muda di tahun 1960-an di Indonesia, menjadi sebuah ‘mainan baru’ yang digilai orang muda ketika itu. Persis seperti situasi orang muda sekarang yang menggandrungi warnet, fesyen, diskotek, dan ‘nongkrong mahal’ (starbucks, breadtalk). Banyak orang muda yang ketika itu menyuarakan deklarasi anti kemapanan. Pengaruh budaya punk dan rock n’ roll menjadi pelatuk yang tak bisa diabaikan keberadaannya ketika itu. Mereka selalu gelisah terhadap zaman, dan memberontak dalam banyak hal. Salah satunya mereka tuangkan dalam kegiatan alam bebas seperti mendaki dan berkemah. Keinginan untuk mereduksi kungkungan situasi sosial pada waktu itu, menghindari kesibukan kota metropolitan yang tak pernah tidur, mereka salurkan dengan kegiatan berpetualang satu ini. Setelah itu, lahirlah banyaknya kelompok-kelompok pecinta alam milik orang muda, salah satunya dipelopori oleh Mapala UI.

Di Kemakmuran, angka 17 tidaklah sesederhana ketika menulisnya, apabila itu digandengkan dengan terminologi Jambore. Tidak mudah menjaga ritme kerja sedemikian konsisten. Tujuh belas kali Jambore diselenggarakan oleh Mudika Kemakmuran bukan tanpa arti. Keringat, persahabatan, komitmen, dan menguras waktu sudah menjadi karib yang mau tak mau digeluti. Walau tak dipungkiri, rasa malas, amarah, atau duka pun berjalan beriringan dengan setia. Tapi itulah menariknya, itulah seninya. Namun setelah belajar melatih tanggung jawab dan melatih komitmen diri, apa tak ada ruang lain yang bisa diolah untuk tak hanya ditempati diri sendiri, tak hanya dinikmati kelompok sendiri?

Memandang Jambore Kemakmuran yang sedemikian melegendanya, bukan tanpa celah untuk tidak saya kritisi. Dalam rentang kuantitas sebanyak itu, hampir tidak saya temukan sesuatu yang baru (secara konsep) dari Jambore I hingga terakhir. Melulu yang dikerjakan itu dan itu lagi. Melulu acara yang digauli sebatas Cross Country, Hiking, King & Queen, Api Unggun, dan lain-lain. Walau ada beberapa hal yang baru, tapi itu tak mengubah cita rasa Jambore konvensional yang ada. Yang berganti hanya baju, tapi ruh yang diusung tetap sama, persis. Dan saya takut peserta maupun panitia mengalami erosi minat. Itu terbukti, dilihat dari penurunan jumlah perserta dari tahun ke tahun. Dan itu akan semakin berkurang bila yang disajikan dalam menu utama Jambore: (hanya) alam itu sendiri.

Penurunan jumlah peserta bukan hanya diakibatkan menu acara yang monoton, tapi juga pemeliharaan komunitas. Singkat kata, komunikasi pasca Jambore antara sesama panitia, sesama peserta, maupun antar panitia peserta terputus di tengah jalan. Hubungan komunitas seperti itulah yang harus diidekan kemudian diimplementasikan. Kita bisa belajar dari industri musik yang berhasil membentuk groupies bagi bandnya. Dan itu sarana yang cukup ampuh yang dapat kita kembangkan. Misal memakai sarana teknologi mailing list (milis) untuk membentuk sebuah jaringan yang komunal. Terus pelihara komunitas ini, pra maupun pasca Jambore, agar siapapun yang pernah terlibat di dalamnya, merasa memiliki Jambore. Dan nantinya kita punya sebuah keluarga besar yang terkomunal.

Kekhawatiran lain dalam melihat Jambore adalah kepuasan orang muda dalam memandang Jambore, yang bagi saya hanya sebatas seremonial atau selebrasi semata. Gereja sering sekali larut dalam orgasme selebrasi tadi, tanpa melihat pemaknaan yang lebih jauh. Itulah sisi lain yang juga saya lihat dalam kehidupan menggereja orang muda Katolik. Namun tanpa bermaksud menggenalisir, karena ada sebagian orang muda yang berkutat kuat pada idealisme, biarlah kita terima kelemahan kita dalam ber-Jambore.

Seperti yang saya singgung diatas mengenai acara (konsep) Jambore yang melulu soal senang-senang, pemberdayaan kaum muda, mengajak mencintai alam secara wacana, hingga tak ada hal lain yang ingin lebih jauh dihidupkan setelah pencapaian tersebut diperoleh. Saya secara terbuka ingin melatih kepekaan lain dari sekedar menjalani tradisi tersebut. Lebih dari sekedar terbaring layu, atau malah pekik suka cita akan rutinitas acara Jambore. Mari kita lihat pemikiran yang saya tawarkan.

Jambore, sebagai sebuah kekuatan menarik massa paling efektif, seharusnya membawa misi tertentu dari sekedar selebrasi atau kegiatan tradisi tadi. Dengan pengumpulan 200-an orang (termasuk panitia) pada satu tempat dan waktu yang bersamaan, justru menjadi sarana paling ampuh untuk mewacanakan berbagai hal. Misalnya menularkan nafas melek politik, budaya membaca, atau pun kepedulian lingkungan. Nah, yang terakhir dieja ini mungkin yang paling kontekstual dalam kegiatan ber-Jambore Mudika. (baca: hubungan Kristianitas dengan alam). Sesekali bolehlah acara King & Queen diganti menjadi presentasi keadaan lingkungan dan usaha melindunginya. Saya pikir banyak LSM yang mau diajak bekerjasama atas masalah ini. Atau meniadakan acara bakar kembang api. Sebagai gantinya, sesi mengenali macam-macam ekosistem biotik pada alam atau sesi inspiratif dari seorang nara sumber yang meniupkan semangat humanis atau nasionalis atau bahkan toleratif dengan kepercayaan agama lain.

Ya…mengapa tidak?

Roy Thaniago

“Hidupkan inderamu yang terdalam,

untuk mendengar angin berbisik, tanah berbicara, air berteriak

dan alam merintih kesakitan…”

ujung april’07

Satu pemikiran pada “Sepotong Catatan: Memandang Jambore

  1. yah……ada jambore diwilayah loe masa kite2 anak rimba kaga diajak…laen kali ajak gw orang dongzzzz…trus kalo ada parodi lage gw pengen request yg jadi pemain utamanya loe ama ahin yah…hehehe…yah site nya dah keren, tapi masa isinya cuma dua doang?tambahin lage donk isinya… biar lebih seru n banyak yg baca, oke?hehe…dah ah capek ketik banyak2…Peace…Anak Rimba

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s