Sesal Di Satu Siang


Terik sekali siang itu. Dan sialnya, aku lupa tanggalnya. Matahari agaknya mulai marah dan meneriakkan kata panas ke atas tanah pertiwi yang semakin egois. Berjalan agak lambat ia ke arah Barat sembari mengepalkan tinjunya yang sebenarnya bijak. Tapi, tampaknya ia mulai berjalan agak cepat atau mungkin ia sepertinya akan bergerak cepat dan berlari. Bahkan ia tidak memperdulikan 2 orang kakak beradik kegerahan yang mengelap kaca mobil dan mengadahkan tangan di ujung lampu merah. Ya benar, ia berlari. Mungkin mengejar setoran pikirku.

Seperti biasa, dengan seragam putih abu-abuku aku berjalan tertunduk lesu sepanjang jalan menuju terminal bis. Tanpa menunggu lagi aku melihat bis yang biasa tiap hari aku tumpangi. Tampaknya bis itu menungguiku lagi. Aku langsung bergegas mencari tempat favoritku di pojok belakang, tapi nampaknya sudah ditempati orang. Ya sudah aku tempati saja kursi tengah bersebelahan dengan seseorang. Hari itu mungkin bis cukup ramai karena semua kursi sudah ditempati.

Di tengah perjalanan naik seseorang kakek. Kurasa ia kesulitan waktu menaiki tangga bis yang cukup tinggi untuknya. Ia berjalan ke belakang mencari kursi tapi tak satupun kosong. Tak pelak lagi tulang terbungkusnya itu menggelantung begitu saja. Yang kuingat hanya uratnya yang melingkari tiap jengkal daging alotnya.

Tak kusadari aku menatapnya dan mulai ku menatap tiap penumpang yang santai saja duduk di kursinya. Mungkin sudah bayar pikir mereka. Bahkan seorang muda yang berdandan borjuis itu tetap asyik dengan kursinya sambil mendekap tas kuliahnya, mungkin. Tak satupun yang memberinya tempat duduk untuk kakek tua itu. Kemana mereka semua berpikir. Tak ada satu orangpun kah yang masih mau berbaik hati. Mungkin aku satu bis bukan dengan manusia. Aku mulai menatap diriku sendiri. Ingin kuberanjak dan memberikan tempat dudukku padanya. Tapi rasanya sulit saling menggerakkan bibirku terlebih tubuhku.

Dan, pikiran ini terus berkecamuk antara ya dan tidak. Nampaknya aku mulai gelisah dan bulir-bulir keringatku semakin deras megguyur tengkuk dan punggungku. Aku mengakhiri pertarungan bathinku dengan sebuah kata, ya. Dan ketika aku menoleh, kakek itu sudah tidak ada. Ia sudah turun tadi. Entah memang sudah sampai tujuannya atau tak kuat lagi bergelatungan.

Aku lega, tapi sambil terus memaki diri ini. Dan pikiran itu menjadi sering menggema akhir-akhir ini dari kolong tempat tidurku. Teruslah bertarung bathin, maafkan aku menulis ini: ‘Sesal di Satu Siang’

@Dimuat di [berita/spekan]_17/II/maret/04 edisi khusus

3 pemikiran pada “Sesal Di Satu Siang

  1. Tema yang menarik,sederhana tapi mengajak kita untuk berpikir mengenai fenomena luar biasa yang kini menjadi biasa karena ketidakpedulian atau “matirasa” sosial

    Suka

  2. halo roy! tulisanmu bagus. tapi, aku sulit membedakannya itu terjadi secara benar atau hanya imajinasi yang kamu buat? aku belum paham. terima kasih.

    Suka

  3. Roy, saya baca beberapa naskah disini. Buku harian anak muda yang gelisah. Selamat berkarya!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s