Mengapa Saya Suka Menulis?



Sebagai persyaratan pelatihan jurnalistik Agenda 18

Entah. Tulisan semacam apa yang harus saya tuangkan di sini. Pasalnya, saya tidak tahu tulisan seperti apa yang menjadi ekspektasi para penyeleksi pelatihan jurnalistik ini. Dari segi teknik menulisnyakah? Dilihat kejujuran dalam menulisnyakah? Atau minat dalam penulisan kisah seputar dunia tulis menulis yang saya gelutikah?

Ya, saya tetap buta akan jawaban atas pertanyaan yang saya karang sendiri ini. Semakin jauh saya mencari pertanyaannya, semakin kabur saja jawaban yang saya dapatkan. Lebih baik saya tulis saja semau saya.

Menulis. Satu kata yang sangat erat dengan kebudayaan bangsa manusia. Setelah jaman prasejarah, tulisan menjadi alat perekam kejadian atau peristiwa, menjadi wadah untuk berekspresi, menjadi tempat untuk mengeluarkan begitu banyak gagasan dalam pikiran, dan seterusnya, dan seterusnya.

Dan bagi saya pribadi, menulis adalah suatu aktivitas yang sudah saya akrabi sejak sekolah di Taman Kanak-Kanak. Lalu, mau tidak mau, suka tidak suka, saya diwajibkan untuk bisa dan mau menulis. Menulis yang awalnya mengasikkan, perlahan menjadi monster yang siap menakuti saya kapanpun. Saya, dan mungkin seluruh siswa sekolahan, benci menulis. Menulis sangat membosankan dan tentunya membikin tangan pegal.

Kemudian saya bertumbuh. Dan saya mulai menyadari, bahwa apa yang saya benci dulu bukan menulis, melainkan kegiatan mencatat semata. Ya, sistem pendidikan di Indonesia lebih mengarahkan siswa-siswanya menjadi mental pencatat, bukan penulis.

Lantas, saya tetap diharuskan menjawab pertanyaan ‘Mengapa Saya Suka Menulis?’ yang membingungkan ini. Bagi saya menulis adalah hidup. Rasa-rasanya, hampir tidak pernah saya dengar pertanyaan bernada, ‘Mengapa Saya Suka Hidup?’. Lucu kedengarannya bukan? Tapi toh tampaknya, saya tetap serasa dipaksa untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Tanpa basa-basi lagi, menulis buat saya adalah sebuah keharusan. Atau sering saya gambarkan, menulis adalah kentut. Bila tak dikeluarkan sakit. Jadi saya memaksakan untuk mengeluarkannya untuk menghindarkan sakit itu. Dan kendaraan yang saya gunakan untuk mengeluarkannya adalah dengan menulis.

Saya kira tiap manusia punya kebutuhan untuk merespon banyak hal dalam hidup. Dan mengeluarkannya dalam bentuk tulisan adalah media berekspresi yang paling sehat. Saya merasakan dalam menulis, saya menjadi jujur dengan diri sendiri dan keadaan sekitar. Menulis menjadi terapi yang berarti buat saya. Di kala hati penuh penat yang siap menjadi umpatan, menulis menjadi satu cara yang asik untuk mengolahnya menjadi positif. Di saat pikiran dirundung gelisah yang amat, menulis menjadi satu-satunya karib yang dengan setia mendengarkan.

Di balik alasan bernada puitik tadi, sebenarnya saya ingin mengisahkan bagaimana menulis menjadi agen perubahan dalam hidup ini. Sering kali saya serasa menonjok diri sendiri ketika menulis analisa tentang suatu keadaan.. Taruhlah contoh menulis ‘potret beribadah umat Katolik’. Di sisi kacamata saya, saya mampu melihat hal-hal kurang baik terjadi. Dan saya dengan bersungguh hati menjawab kegelisahan itu dengan tulisan yang harapannya membuat perubahan yang berarti bagi aktivitas peribadatan umat Katolik. Di sisi lain, justru dengan kesadaran untuk melakukan perubahan lewat tulisan itulah, saya mencapai titik yang mengkritisi saya secara pribadi. Saya menjadi sangat berhati-hati dengan apa yang saya gelisahkan. Ternyata saya berkesimpulan bahwa perubahan ke arah positif menjadi milik pembaca maupun penulis.

Lain hal, dengan menulis saya menjadi sadar dengan apa yang saya lakukan. Misal, bila saya seorang direktur bank, dengan saya menuliskan semua konsep, tujuan, dan cara meraih keuntungan, saya menjadi sadar dengan apa yang saya cita-citakan. Saya menjadi punya arah yang menuntun saya untuk tetap berjalan rel.

Lagi, menulis menjadi alat untuk menawarkan suatu pemikiran kepada pembacanya. Saya pikir, hampir tidak ada satupun pemimpin besar di dunia yang tidak menuliskan gagasannya dalam sepotong tulisan.

Ya, lagi-lagi, dalam menulis hanya semua yang baik yang akan saya dapatkan. Saya menjadi jujur terhadap diri sendiri, mampu mengelola potensi negatif dalam diri dan mengolahnya menjadi suatu yang positif, menjadi sadar dengan kehidupan, serta memposisikan diri untuk menjadi agen perubahan dalam kehidupan yang karut marut ini.

Saya berharap, kegiatan menulis bukan milik para penulis saja. Namun semua profesi harus merasakan memiliki kegiatan menulis. Karena dengan menulis, kita mampu melihat dunia. Dan dengan itu, kita mampu menjadi lebih hidup. Percayalah, saya sudah membuktikannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s