Bach, Ave Maria, dan Gonoud


Ada sebuah karya musik yang melegenda dan menjadi musik yang sangat akrab dengan telinga banyak pecinta musik, bahkan awam sekali pun.

PRELUDE I from Book I of the Well-Tempered Clavier 1 (BWV 346) atau biasa dikenal dengan nama Ave Maria, nama karya tersebut. Karya ini pada awalnya ditulis oleh komposer besar dari Jerman, dan tak lain adalah Johann Sebastian Bach. Nama asli yang diberikan sang empunya lagu ternyata malah kalah terkenal dengan nama populernya, Ave Maria. Tapi tahukah, bahwa Ave Maria bukanlah nama yang disematkan oleh J. S. Bach pada karyanya ini.

Ave Maria, nama yang dipakai pada zaman Romantik ini, justru adalah sebuah ungkapan doa kuno milik kepercayaan orang Katolik kepada Bunda Maria, Ibu dari Yesus Kristus. Nama tersebut disematkan oleh seseorang komposer asal Prancis yang bernama Charles Gonoud (1818 – 1893). Gonoud adalah seorang komposer kelahiran Paris yang terkenal dengan 2 karya operanya, Faust dan Romeo and Juliette.

Pada awalnya, karya ini ditulis Bach untuk instrumen Cembalo. Cembalo adalah instrumen yang lazim digunakan pada zaman Barok. Bentuknya hampir menyerupai instrumen piano di zaman modern. Bedanya dengan piano, senarnya (dawai) dipetik dengan bulu angsa. Produksi suara yang dihasilkan berbeda dengan piano modern. Suaranya terkesan kering dan efek sustain-nya tidak ada sama sekali. Karena itu, produksi suaranya mirip dengan instrumen lute (sejenis gitar di zaman Barok). Sistem tuning juga berbeda dengan piano. Bila piano bermain di tonalitas C, maka Cembalo bermain di tonalitas B.

Karya dari Bach ini semula tidak begitu populer. Namun nasib karya ini menjadi berubah ketika di zaman Romantik, Gonoud memakai Prelude ini sebagai iringan (rhythm) untuk melodi yang dikarangnya. Tak hanya itu, bahkan Gonoud juga menuliskan lirik untuk melodinya. Gounod yang memperoleh ilmu piano pertama dari ibunya ini, menciptakan melodinya justru di masa-masa terakhir hidupnya. Pada masa-masa terakhir dalam hidupnya juga itulah, ia banyak menciptakan musik dengan nuansa religius.

Semasa hidupnya, Gounod yang pernah belajar di Paris Conservatoire ini pernah memenangkan karya Kantata-nya pada kompetisi Prix de Rome tahun 1839. Kekayaan karya-karyanya, membuat Gonoud menjadi salah satu komposer besar dan dapat berbaring dengan tenang di Pemakaman Madelaine atas permintaannya sendiri.

Dimuat di Legato, 2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s