Lidah!


Rasa-rasanya bukan barang baru bila kita menyaksikan kebiasaan (baca:budaya) kita yang sering menunjukkan sikap penuh hormat kepada orang yang dianggap berpengaruh dalam suatu kelompok atau mempunyai status sosial yang dianggap tinggi.

RASA-RASANYA pula, dalam kehidupan sosial kita, tidak pernah terlepas dari anutan pemahaman hierarki yang strukturalis dan kadang terkesan kejam. Padahal, di satu sisi, pemahaman sistem hierarkis mempunyai metode implementatif yang sangat baik. Pemahaman ini bila dijalankan dengan disiplin, dapat menjadi alat kontrol yang efektif dan mengena. Di sisi lain, buruknya, seringkali kita menahan diri untuk berbuat sesuatu karena alasan birokrasi, meski dalam keadaan mendesak. Karena belum ada perintah dari atas, begitu penyangkalan pertama yang dipakai oleh para penganut sistem ini. Hal buruk yang lain adalah, manusia-manusia yang berada pada tingkat bawah hierarki, cenderung bersikap difensif dan ABS-an (Asal Bapak Senang).

Dan, rasa-rasanya pula (lagi), masih segar dalam ingatan kita bagaimana ‘prosesi kerepotan’ Paroki kita bila ada acara kunjungan Uskup atau pejabat-pejabat Gereja penting lainnya. Seperti yang terekam dalam kepala saya mengenai Misa penerimaan Sakramen Krisma pada tanggal 4 Juni 2006 yang lalu yang dipimpin langsung oleh Uskup Agung Jakarta, Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ.

Ketika hari itu, panik hebat melanda semua elemen di Paroki. Seakan lupa, bahwa kepanikan bencana alam di Jawa Tengah juga butuh perhatian yang serius. Terlihat bagaimana persiapan gila-gilaan yang dilakukan oleh para aktivis Paroki demi menyambut Uskup. Mulai dari koor yang tampil dengan baju berseragam dan latihan yang padu. Pemilihan petugas liturgi (Putera Altar, Lektor, Pemazmur, dll.) yang dianggap baik. Bahkan sampai keseriusan berpakaian batik para pengurus Gereja.

Memang, patut dihargai bila seorang yang dekat dengan kita, terlebih orang tersebut adalah Gembala Umat, dijamu dengan keadaan yang mengenakkan dan nyaman. Sudah sepatutnyalah kita menyambut dengan rasa hormat setiap tamu yang berkunjung ke rumah kita, telepas dari orang penting atau tidak penting, Memang.

Namun yang patut disayangkan, kenapa keadaan sebaik itu tidak pernah dilakukan pada minggu-minggu biasa. Kenapa harus menunggu Uskup datang, baru koor dapat bernyanyi dengan merdu? Kenapa harus menunggu Uskup, baru kita berpakain rapih ketika Misa? Sudah serendah itukah wibawa Ekaristi dibanding kehadiran seorang Uskup? Lalu, siapa yang selama ini kita sembah, bersekutu dengan siapakah kita selama Misa, Uskup atau Tuhan?

Yah, rasa-rasanya bila mau kita cermati pola pikir hierarkis inilah yang kemudian membuat kta mendewakan struktural. Padahal maksudnya bukan ini.

Yah, rasa-rasanyalah selama ini kita selalu manusia yang hanya me-’rasa’, dan tidak (jarang) menggunakan satu alat lagi yang diberikan Tuhan, yakni akal.

Yah, rasa-rasanya saya sebagai penulis selalu me-‘rasa’ saja. Bukan berpikir. Karena bunyi dari tiap paragaraf akan berbeda dan berbunyi, “Dipikir-pikir melayani Uskup ada baiknya juga untuk memberi ‘keamanan’ bagi Paroki kita”.

Yah, rasa-rasanya (dipikir-pikir), baru kemarin Gereja mengajak untuk menjalankan hidup dengan habitus baru. Kalau sudah begini, habitus baru apa lagi ini?

Dan, rasa-rasanya (dipikir-pikir), habitus macam apa pula bila kita tidak tahan kritik dan menerima kritik dengan dewasa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s