Orang Muda Menggugat Gereja


Gereja Katolik memang sudah sepuh di Jakarta. 200 tahun menjadi angka pembuktian bagaimana Gereja Katolik di Jakarta mampu bertahan sebagai sebuah institusi. Tapi apa angka tersebut mampu menunjuk kualitas pertumbuhan iman umatnya?


Prolog

DARI Gereja Perdana di dunia berdiri, hingga sampai 200 tahun yang lalu lahir di Jakarta, tujuan untuk membaptis sebanyak mungkin orang adalah harga mati yang tak bisa ditawar. Para misionaris mendaratkan kakinya di bagian Indonesia Timur, tak lain tak bukan adalah untuk mengkristenkan penduduk. Atau dengan bahasa rohaninya, para misionaris datang untuk memberitakan Kerajaan Tuhan sudah dekat. Yesus yang baik mau menyapa semua manusia tanpa terkecuali.

Namun setelah pengikut Kristus menjadi warga mayoritas di dunia, ekspektasi untuk membaptis sebanyak mungkin manusia tidak lagi menjadi prioritas. Gereja mulai mau berperan lebih dari itu. Gereja berusaha merumuskan kerangka kebijakan untuk mengatur. Mulai dari tata peribadatan, pertumbuhan iman, aturan sosial, campur tangan politik, sampai memposisikan kekuasaan mutlak dirinya (monopoli kebenaran).

Itulah yang terjadi pada Abad Pertengahan atau Zaman Kegelapan. Gereja menjadi diktator dengan segala ‘permainan’ yang dikelolanya. Kekuasaan Gereja adalah kekuasaan kerajaan. Suara Paus adalah suara kaisar. Segala sesuatu diatur Gereja untuk kepentingannya. Penentangnya dianggap pendosa.

Lalu lahirlah Zaman Renaisans, yang berarti kelahiran kembali. Gerakan kebudayaan baru ini dimulai di Itali dengan pelopornya Niccolo Machiavelli dengan karyanya ‘Il Principle’. Isinya tentang merekonstruksi paradigma baru, yaitu mempengaruhi kerajaan terhadap dominasi Gereja. Lalu Martin Luther menjadi titik awal bagaimana Gereja mau berubah, mau berintropeksi terhadap kekhilafannya – kalau boleh dikatakan begitu.

Mengenal Teks

Tanpa bermaksud membuat tulisan tentang sejarah, biarlah pengantar di atas menjadi sekedar ‘album foto’ untuk kita kenali. Lalu apa relevansi sejarah tadi dengan konteks 200 tahun Gereja tercinta kita?

Angka dua ratus, bila dikaitkan dalam sejarah, bisa disetarakan dengan satu waktu sebuah zaman. Coba bandingkan dengan Zaman Renaisans +/- 200 tahun (1430 – 1600), Barok (1600 – 1750/1760), Klasik (1750/1730 – 1820/1830), atau Romantik (1810 – 1910/1914). Ya, angka dua ratus adalah sebuah indikator dalam menyikapi pertumbuhan budaya sebuah zaman. Dimana sebuah proses dapat dilihat sebagai sebuah hasil, dan bukan sebaliknya.

Namun kita malah berlogika terbalik. Dimana hasil menjadi lebih penting dari proses. Kita dengan serta merta menjadi ‘orgasme’ terhadap kebijakan-kebijakan Gereja. Dengan Konsili Vatikan II, kita menjadi puas dan bangga terhadap keputusan-keputusan baru Gereja yang berani menjebol tembok Gereja, tanpa melihat proses apa yang sudah dialami. Kita pun cenderung nrimo dengan nota pastoral-lah, Surat Gembala-lah, Ajaran Sosial Gereja-lah, Tata Perayaan Ekaristi Baru-lah, dan seterusnya, dan seterusnya. Tapi apa semua yang manis-manis itu, yang berwacana super dahsyat itu, sudah efektif berjalan? Efek implementatif apa yang sangat terasa? Hampir tidak ada. Banyak sistem dalam Gereja yang justru mematikan banyak potensi. Kita lihat saja dengan banyak umat Katolik yang tidak tahu apa-apa soal pengetahuan imannya, umat yang pasif politik, anak mudanya yang apatis, pastornya yang menang gaya daripada daya, katekisnya yang tidak tahu apa-apa tentang materi yang diajarnya, pribadi susternya yang tidak seputih kostumnya, ketidakterbukaan terhadap iman agama lain, pemborosan dana suatu kegiatan, eksklusifitas kelompok, atau deretan kejengkelan lain yang akan makan banyak kertas bila dituliskan di sini. Pada satu titik kejujuran, Gereja memang bertambah tua secara fisik, namun tidak (signifikan) secara mental.

Sebagai sebuah contoh, mari kita cermati tema APP tahun lalu, ‘Korupsikah Aku?’. Tema ini memang menjadi akrab di kalangan umat Katolik ketika itu. Menyelinap di rapat-rapat dewan paroki, menyembul di banyak homili – yang lebih sering tidak jelas dan juga tidak penting, di sela-sela pertemuan lingkungan sampai obrolan ringan para karyawan paroki.

Tema ini membuat orang terkagum-kagum. Sangat sederhana tapi punya semangat reflektif yang kental. Gereja tak melulu mengurusi ‘dapur’ sendiri, tapi juga ‘rumah’-nya, dalam hal ini bangsa dan negara. Tema bernada provokatif ini, memang buah dari Konsili Vatikan II yang mengkonsepkan bahwa Gereja harus berziarah ke luar Gereja itu sendiri. Tapi kedekatan umat dengan tema itu tak bertahan lama. Belum lagi umat menjadi kurang mahfum terhadap apa yang dipersoalkan. Itulah yang mengkategorikan Gereja masih setengah-setengah dalam bertumbuh. Gereja menjadi sebatas wacana yang tak pernah kering ide untuk berfantasi.


Pemetaan Orang Muda

Jika kita sama-sama mengamini bila kejengkelan-kejengkelan di atas adalah bagian dari sebuah budaya yang dibiarkan berlarut-larut, maka sepakatlah juga untuk melawan itu dengan budaya baru. Katakanlah budaya tandingan.

Orang Indonesia tak bisa teratur berlalulintas. Ini bukan saja berbicara soal peraturan, tapi terlebih menyangkut budaya. Masalah menepati waktu adalah bagian dari budaya. Mencintai sinetron-sinetron tolol, konsumtif terhadap apa yang berbau gaya hidup, main hakim sendiri, suap menyuap, juga sebagian dari apa yang disebut budaya.

Semua ketidakberesan adalah hasil dari habitus yang berpuncak pada tingkat kedablegan. Adalah penting menyitir sebuah pemikiran yang mengatakan bahwa perubahan hanya dapat dibangun dari kebudayaan. Karena masalah kedablegan adalah hasil berbudaya yang dibiarkan salah berlarut-larut. Dan keyakinan bahwa budaya tidak bisa dimatikan, tapi disusupi pelan-pelan, dalam hal ini peran kaum muda sangat berarti.

Orang muda mengandung sifat dinamis. Banyak dari mereka yang punya semangat untuk mengibiri kepentingan pribadi demi memperjuangkan idealismenya. Keinginan untuk terus memberontak terhadap suatu keadaan, tak pernah puas melihat suatu zaman, dan mampu melihat kekeliruan yang dilakukan para pendahulunya. Sifat mereka yang cair inilah yang harus dimanfaatkan, bukan malah dihindari, atau malah ditakuti sebagai momok.

Hal pertama yang harus dilakukan adalah membiarkan orang muda untuk tetap seperti itu. Membiarkan mereka untuk terus mengalami kegelisahannya. Menyediakan ruang untuk mereka tumpahkan segala penat dan sembabnya. Dan merelakan mereka untuk terdistorsi oleh banyak hal, salah satunya dengan mengatakan bahwa agama tak punya kebenaran absolut, bahwa Gereja perlu untuk dikritisi. Karena persepsi bahwa agama selalu benar, malah meninabobokan kita dalam kenyamanan kekeliruan.

Orang Muda Menggugat

Dalam kacamata orang tua, orang muda selalu dipersepsikan sebagai makluk yang lebih banyak salahnya daripada benarnya. Orang muda identik dengan kemalasan, perusak, hura-hura, pembangkang, tak berguna, dan seterusnya, dan seterusnya. Di tingkat Paroki pun, orang muda hanya menjadi pesuruh atau tukang (periksa: Kerangka Strategi Pastoral 2006-2010, K3AJ). Mereka tidak terbiasa dididik sebagai pemikir, sebagai agen perubahan, sebagai mata angin Gereja. Lingkunganlah yang menyebabkan orang muda menjadi seperti yang dituduhkan.

Tidak semua orang muda berunsur negatif sepenuhnya, sebagian dari mereka berani untuk menjadi jujur terhadap panggilannya sebagai penanda zaman. Namun, ketika orang muda mau menanggapi panggilannya, justru hanya kekecewaan yang didapati. Lalu orang muda menjadi pasif, dan sedikit sekali yang menempuh jalan untuk menjadi dewasa. Sebenarnya Gerejalah yang menciptakan suatu atmosfer yang tidak kondusif untuk mereka bergerak. Tak ada suatu sistem atau fasilitas yang menunjang mereka untuk mengolah kegelisahannya. Kalaupun ada, biasanya tak bertahan lama karena tak ada pemeliharaan di dalamnya.

Dulu Gereja pernah menawarkan sebuah ide yang cemerlang, dimana pemusatan komunitas basis menjadi sorotan. Awalnya-awalnya terasa berjalan dan punya efek. Tapi kemudian pemusatan itu berjalan tidak karuan. Tak jelas yang menjadi objektivitasnya. Dan orang muda tak tertampung juga apa yang mereka gelisahkan. Maka dari itu, komunitas basis harus diterbitkan kembali, namun dengan semangat yang berbeda. Semangat yang lain. Yang berani mengalami perubahan. Rela mematikan konsep ketuhanan dan keagamaan yang selama ini diterima mentah-mentah.

Umat Katolik banyak yang menjadi ‘besar’ di luar. Ada yang menjadi penulis, politisi, olahragawan, musisi, seniman, budayawan, tapi berapa banyak yang berangkat atas nama Gereja. Kebanyakan dari mereka tumbuh bukan dari lingkungan hidup menggereja. Mereka ‘bernama’ karena kemampuan masing-masing individu. Semua karena Gereja tak mampu mengakomodir kegelisahan-kegelisahan yang mereka hadapi. Mereka berusaha mendobrak kemapanan Gereja lewat jalan mereka.

Komunitas Basis

Belajarlah menjadi Gereja yang mau digugat. Digugat bukan berarti dijatuhkan. Tapi diserang kelemahannya untuk meningkatkan kebaikkan. Apa Gereja, yang katanya menggalakkan habitus baru, mampu mengelola kritik dengan bijak? Apa Pastor berani menerima kritik dengan lapang dada?

Di sinilah konsep komunitas basis (dalam konteks orang muda) yang baru perlu dimunculkan. Komunitas basis ini tidak harus dalam struktur Paroki (namun lebih baik dalam Paroki). Komunitas basis ini bisa dimulai dari kelompok-kelompok terkecil di lingkungan, di tingkat Paroki, Dekenat, Kelompok Kategorial, Sekolah, maupun Universitas.

Lalu berangkatlah dari sebuah konsep mengusung kebudayaan baru untuk ditunggangi. Konsep yang berani ‘menyerang’ Gereja dengan tersenyum, menalar konsep ketuhanan dengan dasar iman, mendobrak kenyamanan kekeliruan dengan ramah, dan menularkan kebudayaan ini pada masyarakat. Banyak hal yang bisa mengimplementasikan konsep di atas. Salah satunya dengan membentuk kelompok-kelompok diskusi. Tema yang diangkat bisa beragam. Dari yang bernuansa kekatolikkan hingga tidak berbau kegerejaan sama sekali, misalnya bedah buku tentang pemahaman Islam. Topik-topik lain yang tersedia, misalnya, ‘Mengapa Maria menjadi menor di goa Paroki?’, ‘Homili seperti apa yang tidak mengantuk?’, ‘Mengapa orang muda pasif politik?’, ‘Apa ada keselamatan di semua agama?’, ‘Tuhankah pengirim bencana?’, dan sebagainya.

Tujuannya adalah menciptakan keadaan yang nyaman bagi orang muda yang gelisah terhadap zaman. Keadaan yang kondusif untuk tetap membiarkan pikiran mereka liar. Suatu keadaan yang memiliki pola pikir dalam menjawab kegelisahan hidup. Semacam kondisi yang tidak membutuhkan banyak jawaban aplikatif, karena ditopang oleh pemikiran konseptual. Keadaan yang sama seperti tempat bertumbuhnya para filsuf Yunani seperti Plato, Socrates, Aristoteles, dan lain-lain. Dan tercetaklah orang-orang muda masa depan Gereja yang mampu merusak budaya yang lama.

Selain diskusi, perbanyaklah kegiatan bercorak lintas agama. Berikan ruangan untuk bersuara bagi kelompok lain di luar Gereja. Dengan begitu kita mampu memperkecil kemungkinan untuk terjadi konflik antar kelompok. Selain itu kita juga bisa mendengar apa pandangan orang di luar tembok Gereja, yang pastinya jauh lebih bisa melihat semuanya dengan lebih jernih, objektif, dan menyeluruh.

Penguasaan media juga menjadi catatan penting bagi Gereja yang mau bertumbuh. Menguasai media massa adalah mutlak sebagai alat kontrol budaya. Pergerakan massa dapat dipantau, dikendalikan, dan diukur dari media yang ada. Sebuah bangsa atau negara yang maju diukur dari seberapa merdekanya orang persnya. Maka penguasaan media-media sentral perlu untuk disentuh Gereja, sebagai kekuatan tersendiri untuk mewacanakan konsep. Atau menjadi kekuatan yang mendorong mental umat untuk lebih pelik terhadap masalah sosial dan budaya. Sejauh ini belum ada usaha yang berarti dari Gereja untuk mengutus orang-orangnya untuk duduk di perwajahan media massa. Karena sekali lagi, bahwa mereka yang bermain tidak berangkat atas nama Gereja, tapi atas nama pribadi atau kelompok lain di luar Gereja.

Menjadi Gereja Dewasa

Komunitas basis orang muda seperti itulah yang perlu diidekan, kemudian memakai ‘kendaraan’ seperti kelompok diskusi dan penguasaan media massa tadi dalam mencapai tujuan Gereja yang mengembara. Inilah konsep Gereja yang dewasa. Gereja yang terima digugat. Bukan Gereja yang memasang kuping tebal dan membiarkan kritik tetap menjadi kata-kata yang melayang. Tapi Gereja yang arif, memposisikan dirinya hanya sebuah institusi, bukan memposisikan diri sebagai Tuhan atas dunia.

Semoga Gereja menjadi oase yang tak pernah kering dan terus membasahi jiwa kegelisahan orang muda yang mencari dan terus mencari dirinya. Bukan menjadi suatu institusi yang impoten. Yang hanya tampil untuk menjawab pertanyaan kehidupan ketika bencana datang atau kematian merenggut. Ya Gereja bukan juga ladang memakmurkan golongannya, karena Gereja bukan koperasi. Dan yang terpenting, Gereja bukan Tuhan, yang memonopoli kebenaran, arena kebenaran hanya milik Sang Satu.

Orang muda harus tetap terus gelisah dan dapat menumpahkannya di dalam lingkup Gereja. Gereja mau untuk membiarkan orang mudanya terus menggugatnya. Sebagai tanda mereka dinamis dan mencintai Gereja. Ketakutan bahwa orang muda akan lari Gereja adalah tidak benar. Mereka yang dengan liar memaknai penyimpangan Gereja malah bertambah dekat dengan Gereja, asal Gereja mau menjadi sesuatu yang tidak mau menang sendiri. Orang muda selalu punya keinginan untuk dekat dengan Gerejanya, masyarakatnya, bangsanya, tanpa harus membohongi diri sendiri. Camkan!

Mari yang muda, gugat Gereja!

Satu pemikiran pada “Orang Muda Menggugat Gereja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s