Kloning: Manusia Mulai Menantang Tuhan


AKHIR-AKHIR INI dunia teknologi dan kedokteran dikejutkan oleh kelahiran manusia kloning pertama. Sebenarnya bukan dunia teknologi dan kedokteran saja yang terkejut, tapi seluruh dunia geger, terlebih kepada kehidupan aspek beragama.

26 Desember 2002, Eve–nama bayi klon–lahir dari seorang ibu Amerika yang tidak subur. Eve yang lahir dibawah badan usaha CEO Clonaid adalah milik kelompok keagamaan Raelian di Kanada. Raelian adalah kelompok keagamaan yang mempercayai bahwa manusia adalah ciptaan makhluk di luar bumi(extraterrestrial).

Teknologi kloning pada dasarnya merupakan kelanjutan logis dari teknologi bayi tabung yang sudah lama diterapkan tapi masih terus ada kontroversi. Kloning pada dasarnya membuat salinan manusia dengan cara mengambil informasi genetik seseorang lewat inti sel bagian tubuhnya kemudian disisipkan ke sel telur yang telah dibuang intinya. Lalu sel telur yang yang intinya diganti itu diberi perlakuan agar menjadi aktif, membelah, tumbuh, dan berkembang menjadi embrio. Embrio ditanam ke rahim perempuan untuk berkembang menjadi janin. Setelah beberapa bulan akan lahir bayi yang informasi genetiknya sama dengan pendonor inti sel.

Memang belum ada hukum yang melarang pengklonaan manusia, tapi sampai dimana manusia boleh menggunakan teknologi ilmiah yang pada hakikatnya berasal dari Tuhan. Bahkan ada reaksi yang muncul ketika anestesi pertama kali digunakan untuk mengurangi rasa sakit bagi perempuan yang hendak melahirkan bahwa itu menentang kodrat. Bukankah perempuan harus sakit pada saat melahirkan?

Menurut Prof Dr Franz Magnis Suseno, menciptakan manusia oleh manusia bisa diartikan memperalat orang. Dilihat dari sisi etika, hal itu sangat merendahkan martabat seseorang. Beliau juga mengatakan bahwa manusia memperalat manusia hanya sekedar menjadi objek cita-cita manusia itu sendiri.

Sangat jelas di sini manusia sudah mulai memposisikan dirinya sama dengan Tuhan. Manusia mencampuri kuasa yang seharusnya menjadi wewenang sang pencipta. Jika ditilik dari aspek agama, memang belum ada peraturan yang memuat pengklonaan manusia. Tapi Paus Johanes Paulus II pernah melarang upaya kloningisasi pada makhluk hidup. Katanya, kloning menghancurkan embrio makhluk hidup. “Secara moral kloning tak bisa diterima, meski itu bertujuan untuk kebaikan”, katanya.

Apakah ini usaha manusia untuk hidup abadi???

Dimuat di [berita/spekan], 2003

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s