Pemilu Di Mata Orang Pinggiran



Akhirnya pada bulan April dan Juli nanti kita warga negara Indonesia yang memenuhi syarat untuk menggunakan hak pilihnya dapat mengikuti Pemilu. Pemilu yang katanya menggunakan asas LUBER JURDIL ini beda dari biasanya. Karena langsung memilih Presiden dan Wakil Presiden.

Tanpa bermaksud membuat tulisan tentang politik, saya memandang semuanya ini dari kacamata sosial. Saya ingin berbicara tentang nasib orang kecil di Pemilu kali ini.
Bagaimana pandangan mereka, mengapa mereka memilih parpol tertentu, mengertikah mereka, akankah nasib mereka berubah???

Jauh dari keramaian kota hiduplah sekelompok orang yang menamakan diri mereka Suku Laut. Mereka bermukim di pinggir perairan Pulau Arang, Pulau Belakang Padang, Kota Batam. Mereka hidup tidak menetap di atas sampan mereka yang lusuh dan kumuh. Sampan inilah alat mereka untuk mencari nafkah dan bertempat tinggal.
Hanya beberapa puluh keluarga Suku Laut yang tinggal di sini karena beberapa ada yang pergi merantau atau kawin dengan penduduk setempat. Mereka hidup dari pekerjaan mereka sebagai nelayan. Setiap hari mereka berlayar untuk mencari kepiting ataupun ikan.

Di daerah-daerah seperti inilah banyak parpol-parpol yang mencoba mendapat simpati. Mulai dari pembagian kalender parpol-parpol tertentu sampai KTA (kartu tanda anggota). Bahkan satu orang bisa mempunyai 3-4 buah KTA.

Sebenarnya pengetahuan mereka tentang Pemilu belumlah cukup untuk mengikuti Pemilu. Lambang partai atau Amien Rais sekalipun belum tentu mereka tahu. Jadi tak heran jika nama-nama seperti Megawati Soekarno Putri, Akbar Tandjung, ataupun Gus Dur tidak dapat menopang hidup mereka dan tentunya merekapun tidak berharap banyak kepada mereka.

Pada Pemilu sebelumnya mereka dijanjikan oleh banyak parpol bahwa kehidupan mereka akan diperhatikan. Tapi janji tinggal janji, sampan mereka yang sudah lapuk saja tak pernah diperbaiki. Ataupun atap mereka yang mulai goyah bila angin kencang bertiup. Apalagi janji mengenai uang sebesar 1000 dollar Singapura yang pernah dijanjikan kepada setiap keluarga dari parpol tertentu.

Mereka hanya berharap bahwa pada Pemilu kali ini nasib mereka lebih diperhatikan oleh pemerintah. Atau lebih baik meninggalkan mereka dengan kesederhanaan yang bagi saya mereka sudah cukup bahagia. Tapi yang pasti, mencari 1 kilogram kepiting jauh lebih penting daripada menjadi salah satu anggota parpol yang ada.

Ini hanya segelintir kecil dari kisah kaum pinggiran yang terbelakang dan terlupakan
oleh pemerintah dan juga kita. Kita??

Inspirasi dari Harian Kompas

Dimuat di [berita/spekan]_16/II/januari/04 edisi khusus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s