Maaf Bang…



Meminta maaf adalah pekerjaan milik mereka yang berjiwa besar. Lantas, pekerjaan menuntut permintaan maaf milik yang berjiwa bagaimana?

30 Mei 2007
sama-sama kita tonton bagaimana seseorang pemimpin sebuah Ibukota yang amburadul ’ngambek’ karena merasa dilecehkan. Masgyulnya, insiden itu terjadi dalam kunjungannya sebagai tamu kehormatan. Di negeri orang pula, lagi. Pasalnya polisi negeri kangguru tersebut bersikap kurang ajar dengan seenaknya menerobos kamar hotel tempat Bang Yos menginap. Sebagai balasannya, Si Abang ngacir pulang kampung, mengadu.

Memang prilaku polisi federal New South Wales tersebut sudah melanggar wilayah privasi seseorang. Seseorang warga biasa sekali pun tak dihalalkan untuk diperlakukan seperti itu. Apalagi yang dibikin tidak enak ini adalah seseorang gubernur, seorang pejabat tinggi negara, dan parahnya, dalam kunjungannya sebagai tamu negara Australia. Kontan dalam hitungan jam setelah menghirup udara Jakarta yang kotor, sesaat setelah kepulangannya ke Jakarta, Sutiyoso memajang kejengkelannya di Balaikota, menuntut permintaan maaf pemerintah Australia.

Jualan ’maaf’

Kasus jual-beli maaf memang jadi produk yang laris manis di negeri serba irasional ini. Satu per satu orang senang mendengar kata maaf dari lawannya. Seperti ada yang kurang bila kata maaf belum diluncurkan. Akhirnya ’maaf’ menjadi komoditi yang diperjualbelikan, didagangkan, dirupiahkan, kalau tidak laku diloakkan. Coba kita pelototi acara infotainment sebagai contoh. Dari peristiwa Anjasmara yang dituntut oleh para wartawan yang memotret bayi Anjas yang baru lahir atas perusakan kamera. Atau kasus FPI yang ingin mendengar kata maaf dari mulut pentolan Dewa, Ahmad Dhani, atas kasus pemakaian tulisan kaligrafi sebagai logo albumnya. Sampai kasus Roma Irama yang meminta Inul untuk memohon maaf atas goyang ngebornya. Semuanya hanya berkutat pada urusan pewacanaan harga diri.

Hampir bisa kita temui macam-macam kasus perselisihan antar selebritis itu ujung-ujungnya hanya menuntut permintaan maaf. Jalur hukum ditempuh. Kalau perlu sewa pengacara ngetop yang sangar dan culas agar lawannya rela menjual ’maaf’-nya. Tak peduli kocek yang mesti dikorek. Yang penting saya menang, saya senang, begitu bunyi pembelaannya. Sensasi seperti itulah yang dicari. Dan infotaiment berlomba-lomba menyajikan fitnah, cemar, dan duka orang (Perceraian kok jadi hiburan?).

Lalu, apa relevansinya itu semua dengan Insiden Sutiyoso di Sydney? Nah, macam-macam kasus permintaan maaf tadi menjadi ’pintu masuk’ untuk memahami lalu menyikapi peristiwa yang tiba-tiba menjadi lebih penting dari kasus lumpur Lapindo yang belum tuntas itu. Pada kasus perselisihan selebritis, siapa saja yang dirugikan selain kedua belah pihak? Dan efek apa yang ditimbulkan dari sensasi buah ketidakdewasaan mereka? Paling banter hanya umpatan para ibu-ibu konsumen infotainment, atau menghasilkan cerita-cerita bersambung di layar televisi keesokkan harinya.

Sedang pada kasus Sutiyoso ini, yang gusar bukan hanya ibu-ibu, tapi juga kelompok-kelompok masyarakat, bahkan pemerintahan tak luput dibuat ribet. Pemerintah seakan punya ’mainan’ baru sehingga lupa melirik ’mainan’ lama seperti kasus sengketa tanah Meruya, misalnya. Masyarakat pun mendadak lupa akan kecaman mereka terhadap pemerintahan Sutiyoso atas musibah banjir beberapa waktu lalu. Di satu sisi ini menandakan bahwa Bang Yos masih mendapat simpati dari warganya. Namun di sisi lain, kegusaran artifisial yang dibuat beberapa kelompok masyarakat menandakan belum dewasanya masyarakat kita dalam menyikapi sebuah konflik. Atau ada faktor sentimen terhadap Australia sebagai stimulannya?

Keprihatinan seremonial

Peristiwa yang mencuat ke permukaan dengan nama Insiden Sydney ini melahirkan buntut yang tidak kontekstual dalam usaha menuju Indonesia yang dewasa. Di mana para petinggi negara malah menjadi penyulut api emosi karena sikap diplomatiknya yang juga emosional. Dengan merengek menuntut pemerintah Australia untuk meminta maaf. Dengan memelas meminta Menlu Wirajuda untuk mengurusi kejengkelan.

Walau seperti yang kita ketahui, polisi Australia tersebut melanggar wilayah privasi seseorang sehingga melukai harga diri bangsa, tapi sepantasnyalah Bang Yos bersikap preventif terhadap masyarakat guna mereduksi kegusaran mereka. Bang Yos harusnya lebih membuka ruang diskusi untuk menampung rasa simpati masyarakat. Bukan malah terkesan mengompori sehingga membuat jalanan macet karena aksi demo, petugas keamanan jadi repot padahal usaha penertiban three in one saja masih kacau balau, para karyawan dan mahasiswa membolos karena ikut berdemo atau terjebak kemacetan, yang secara tidak langsung menahan laju perekonomian beberapa sektor di Ibukota pada hari itu.

Belum lagi masalah budaya bangsa kita yang doyan berdemo tanpa argumen yang kuat, atau malah sekedar melahirkan budaya keprihatinan seremonial. Maksudnya adalah, budaya berdemo hanya sebuah upacara keprihatinan tanpa mengerti pemaknaan / kesadaran dalam sebuah gerakan lebih mengakar. Singkatnya, setelah pulang berdemo, ambil jatah ’uang lelah’, besok tetap tidak mengerti apa-apa.

Hidup sudah keras, untuk apa dibekukan? Jalanan sudah macet, untuk apa dibikin tambah macet? Jakarta sudah panas karena tidak ada yang mau mengerti soal pemanasan global, mengapa masyarakat masih dibuat gerah? Maaf sudah didapat, mengapa Jakarta tidak bisa seperti Sydney? Lalu seberapa penting mendengar maaf?

Tidak usah heran, toh Presiden kita juga doyan mengharap kata maaf dari oposisinya. Jadi, milik siapa penuntutan permintaan maaf?

Satu pemikiran pada “Maaf Bang…

  1. Roy, membaca tulisanmu, aku koq menjadi semakin pesimis yah hidup di Indonesia. Apakah masih ada tempat bagi orang2 yang mau -terus- berpikir, berprilaku, dan berelasi dengan kaidah-kaidah logika, di dalam sebuah negeri yang kamu sebut sebagai negeri serba irasional…. Menang-kalah sudah menjadi ideologi baru masyarakat. Di sana terjadi pertempuran tanpa tapal batas antara sains, irasionalisme agama, dan budaya. Saat ini, orang sudah tidak mengenal lagi apa itu mono-theism, yang mereka tahu, hanyalah money-theism.Roy, aku sendiri adalah saksi hidup dari kasus-kasus yang kamu paparkan dalam tulisanmu. Terima kasih Roy, kamu sudah mau merangkai kasus-kasus yang seolah-olah berdiri sendiri-sendiri, menjadi sebuah mozaik-mozaik kehidupan yang walau samar, tetap akan berguna. Kemampuan analisismu adalah modal sosial bagi siapa saja yang mau menyelami problema kehidupan dalam palung yang tak berdasar.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s