Gerejaku Bukan Gerejaku (lagi)


Sore yang cerah. Awan tergantung dan tersenyum di biru langit. Matahari pun tampaknya enggan memaksa diri untuk tetap terik. Tapi, hati ini tetap kubuat terik dan panas.Karena keadaan yang membuatku menggelisahkan itu semua.

HARI ini memang sudah kujadwalkan dalam agendaku jauh-jauh hari untuk mengikuti perayaan Ekaristi di gereja. Maklum sudah hampir 4 bulan gak ikut Misa. Alasannya sih sangat hafalan, sok sibuk. Bergegas aku mandi dan bersiap diri. Misa dimulai pukul 17.00, namun sudah kebiasaanku untuk tiba 30 menit lebih awal. Niatnya sih untuk mempersiapkan batin dengan menenangkan diri.

Seperti biasa, setelah meminjam puji syukur dari dalam sakristi, aku masuk ke dalam gereja. Di dekat pintu masuk, aku disapa beberapa teman yang tampaknya mau mengikuti misa pula. Tapi sepertinya belum mau masuk dulu. Setelah kusapa kembali, mereka tersenyum dan kembali melanjutkan obrolannya.

Dari pintu samping belakang, aku melangkah. Kubuat tanda salib serindunya dengan air suci sampai seorang anak berlari-larian dan menabrakku. Aku berusaha untuk tidak marah. Aku melangkah lagi melalui lorong tengah, kulihat sepasang anak muda sedang asik bermesraan. Yang laki memakai kemeja necis, celana gombrong yang lebih cocok disebut sarung cap tikus, dan berbagai pernik logam yang menghiasi sekujur badannya. Yang perempuan malah jauh lebih ‘menghibur’. Roknya sangat imut, bahkan terlalu imut untuk disebut lap piring. Belum lagi punggungnya yang mulus bak jalanan baru diaspal dibiarkan telanjang untuk konsumsi setiap pasang mata. Mungkin pakaian layaknya sudah disumbangkan ke daerah bencana dalam rangka solidaritas kemanusiaan, begitu pikirku. Ah, dasar aku saja yang sok alim, wong aku juga suka kok.

Beberapa jenak ke depan. Aku mencari tempat duduk kesukaanku, tidak terlalu depan, tidak di belakang. Kuletakkan tas kecilku, mulai berlutut, menghela napas, dan berdoa. Selesai berdoa aku berniat menandai bacaan dari Alkitab yang akan dipakai nanti. Belum sempat ketemu, jeritan seorang anak memindahkan pandanganku ke samping. Astaga, anak itu lagi, yang tadi menabrakku di pintu masuk. Bocah yang kutaksir umurnya kira-kira 5 tahun itu menjerit-jerit sambil berlarian di gereja. Mana sih ibunya, geramku.

Sebuah jam, dekat pintu sakristi, digantung di dinding tepat di atas gong, memperlihatkan jarumnya pendeknya hampir mendekati angka 5 dan jarum panjangnya berdiam di angka 11, menunjukkan sebentar lagi misa mau mulai. Seluruh tempat duduk mulai terisi dengan orang-orang yang sedang berdoa, ada juga sepasang kakek nenek yang duduk tenang, ada lagi seorang ibu yang tengah sibuk membaca Alkitab, ada juga petugas yang dengan tidak ramahnya mencarikan tempat duduk bagi umat yang baru tiba, dan pasangan ‘saltum’ (salah kostum) tersebut tetap beku dengan dunianya. Malah makin parah dan makin lupa bahwa mereka tidak sedang di bioskop.

Lagu pembukaan mulai dinyanyikan oleh hanya seorang dirigen. Lho mana koornya? Ya sudah, aku tak mau terganggu karena hanya mempersoalkan koor, aku alihkan saja pandanganku ke perarakan Imam dan petugas liturgi lainnya menuju Altar. Seketika itu, banyak orang yang mulai memasuki gereja dengan tergesa. Di antara mereka, aku melihat 2 orang teman yang tadi kusapa di halaman gereja. Aku heran, mengapa temanku itu harus menunggu terlambat untuk masuk ke gereja. Sambil senyam-senyum kayak anjing kurang minum, mereka mencari bangku zona anak gaul di pojok gereja. Ya, konon bangku tersebut adalah daerah jajahan anak muda yang aktif di Paroki.

***

MISA dimulai dengan tanda salib dari seruan Pastor. Setelah menyapa umat, Pastor mengajak untuk mengikuti seruan tobat. Setelah selesai, kebanyakan umat membuat tanda salib. Aku bingung, lho kok buat tanda salib lagi?

Sesekali, mataku usil. Lirik kanan kiri, siapa tahu ada yang kukenal. Tapi, tampaknya semua asing bagiku. Yang tertangkap olehku hanya segerombol cewe-cewe lengkap dengan pakaian diskonya datang terlambat. Mata mereka terawang jauh ke setiap pelosok gereja, coba mencari barisan tempat duduk yang kosong. Mata salah seorang dari mereka membelalakkan ke satu sudut. Di baris ketiga dari belakang, sisi kiri gereja. Lalu seorang dari mereka berlutut. Tapi gumamku, “Kok tidak berlutut kearah tarbanakel?” Belum sempat kumengerti tingkah itu, temannya yang lain malah menariknya dan menunjuk barisan bangku lain yang juga kosong dua deret di depannya. Sebelum duduk, mereka berlutut. Juga ke arah yang salah. Dan yang lebih konyol lagi, seorang yang tadi sudah berlutut, malah berlutut lagi. Aku mahfum sekarang, ternyata pengertian berlutut yang mereka mengerti adalah sebuah ritual yang harus dilakukan sebelum duduk dan terserah kepada siapa mereka mau berlutut. Sudahlah, aku ngapain juga sok mikir!

Di tengah bacaan pertama, anak badung yang tadi menabrakku berulah lagi. Kali ini dia naik-naik ke atas bangku sambil memeluk tiang lampu.

“Oh, itu ibunya toh!,” sinisku.

Tapi Ibunya malah asik mengikuti misa tanpa mempedulikan kelakuan anaknya, tanpa mempedulikan kenyamanan umat lain, tanpa mau peduli untuk mengajarkan tata krama berekaristi kepada anaknya yang cepak itu. Aku terus ngedumel sampai tidak sadar bahwa umat-umat lain sudah berdiri untuk mendengarkan bacaan Injil.

“Wah, homili yang bagus!”, tukasku cepat. Tapi, loh, loh, kok orang-orang membuat tanda salib lagi setelah homili? Loh, loh, kok Pastornya juga? Aneh! Setahuku, kan tanda salib cuma dua kali. Di depan dan di akhir misa. Akh, daripada tambah ngejelimet, aku konsentrasi saja ke jalannya misa.

Pintu gereja berbunyi seret, krek, buak! Oh, ada yang telat lagi toh. Tak satupun yang peduli. Sudah biasa, pikir kita semua. Misa tetap berjalan, walau suasana di altar dan di bawah altar berbeda. Kulihat para petugas ketertiban di Gereja memandang orang itu sinis sambil menunjukkannya ke arah bangku yang kosong. Setelah itu, ia lanjutkan kembali ke cekakak-cekikikannya di belakang.

***

Fiuh….

Akhirnya sudah sampai pengumuman. Setelah menerima berkat dan menyanyikan lagu penutup, aku berdoa. Aku minta maaf kepada Tuhan atas ketidakperhatianku mengikuti misa tadi. Terlalu sibuk menilai dan mengkomentari orang. Juga kelalaianku. Ternyata setelah 4 bulan tak ke gereja, banyak hal-hal ‘baru’ dalam berekaristi yang tak sempat kupelajari. Sepertinya, aku ketinggalan pembaharuan.

Terimakasih pada mereka – yang sering telat, yang pulang setelah komuni, sekelompok koor yang cengengesan dan sibuk ber-SMS, ‘pemilik gereja’ yang suka sok sibuk ketika misa (padahal sedang tidak bertugas), cowok pemakai celana pendek dan segala macam peragawati yang menganggap gereja adalah panggung peragaan busana – atas inspirasinya.


Dimuat di JENDELA Kemakmuran vol. 2/I edisi 02/06

Satu pemikiran pada “Gerejaku Bukan Gerejaku (lagi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s