Alunan Gitar di Tengah Jakarta yang Basah



Seorang komposer besar asal Jerman pernah berujar, gitar adalah miniatur orkestra. Pujian ini tidaklah berlebihan. Pasalnya, nilai eksotik yang diemban instrumen bertubuh sintal ini bukan main-main. Dengan segala keterbatasannya (jangkauan nada, kekuatan bunyi, panjang gema) gitar dituntut untuk tetap tampil mempesona di atas panggung.

KATA-KATA di atas tadi milik Ludwig van Beethoven. Walau ia tidak pernah menulis karya untuk gitar, tapi pujian di atas tadi mengantar kita pada satu keyakinan, bahwa gitar bukan instrumen sepele. Karena itu ia tak bisa diremehkan.

Adalah Alessio Nebiolo, seorang gitaris Itali yang menjajal kemagisan gitar tersebut dalam rangkaian acara ‘The Guitar Maestros’, sebuah perhelatan dunia gitar, yang rajin mengundang berbagai seniman gitar dunia. Disajikan dalam bentuk resital tunggal, dan dibayangi malam yang basah sehabis hujan, tak mengurangi minat penggila gitar klasik untuk menyambangi resital yang diadakan di Erasmus Huis, Kuningan, pada tanggal 26 April 2007 itu. Seluruh kursi yang setengahnya diduduki warga asing, hampir tidak tersisa. Ini membuktikan posisi gitar klasik yang mulai diakui di kancah pertunjukkan musik klasik di Jakarta.

Tampil dengan setelan jas hitam dengan dasi kupu-kupu, Nebiolo membuka resitalnya dengan sebuah karya apik milik seorang komposer Spanyol, Gaspar Sanz berjudul Suite Espanola. Karya jaman Renaisans ini dibawakan ketujuh bagiannya dengan lengkap. Harmoni dalam karya Renaisans, didominasi oleh 2 suara, melodi dan bass. Hampir tanpa kesalahan yang berarti, Nebiolo menampilkan kekhasan karya ini. Karakter yang riang dan lincah, serta alur suara bass yang mantap setia mengiringi melodi hingga akhir lagu. Semua ornamen juga dimainkan dengan amat sempurna. Memang, terkesan bawa Nebiolo masih berusaha beradaptasi dengan aroma panggung. Itu terlihat dari permainannya yang terkesan terburu-buru. Perpindahan antara bagian dimainkan hampir tidak terasa. Not-not pendek sering diterjangnya begitu saja tanpa mengambil nafas.

Nebiolo yang tampil 2 hari sebelumnya di Bandung, tidak membawakan karya seharusnya yang ditulis di buku acara. Karya Benjamin Britten diganti dengan karya Grand Sonata dari Paganini.. Tampak sedikit lebih tenang, karya ini seperti mewakili rasa Itali yang khas. Dibuka dengan melodi yang liris dan manis, berkembang menjadi paduan musik yang ramai dan ceria. Tapi sayang, produksi suara yang dihasilkan Nebiolo terlalu tipis. Hingga penonton mesti sigap menangkap not-not tinggi, untuk mendapat efek mendayu yang terdengar samar. Karya ini terdengar lebih biolistik daripada gitaristik. Tak heran, karena sang empunya lagu, Paganini, adalah seorang biolis terkemuka di jamannya. Walau dikenal sebagai pemain biola, Paganini yang dikategorikan sebagai komposer jaman Romantik Awal, juga menciptakan karya untuk gitar, karena ia pun bermain gitar.

Gantian, Heitor Villalobos, seorang komposer Brazil yang lama menetap di Prancis ini dipilih untuk dibawakan karyanya oleh Nebiolo. Villalobos adalah seorang komposer yang cerdas dan revolusioner. Dalam kumpulan karya 12 Etudes-nya, Nebiolo membawakan Etude No.7 dan 11. Dalam menulis karya Etude, Villalobos lebih terobsesi untuk melihatnya sebagai sebuah pergerakan tangan atau jari. Ia tidak menulis secara konvensional yang hanya memikirkan musik saja. Sering terlihat bahwa karyanya hanya pergerakkan jari atau tangan yang hanya bergeser-geser tanpa mempedulikan prinsip harmoni. Tapi itu tak membuat karyanya terdengar asal-asalan. Justru menarik untuk disimak karena punya warna lain dalam pencapaian bermusik.

Pada karya Villalobos ini, Nebiolo bermain dengan amat baik dan mendekati sempurna. Etude No. 7 diterjemahkannya dalam nuansa ketegangan dan kegugupan yang amat sangat. Sedang Etude No. 11, terasa mengalir dan berjatuh-jatuh dengan alami. Persis seperti apa yang diucapkan sendiri oleh Lobos, “Musikku seperti air terjun”.

Sehabis jeda, karya dari J.J. Froberger berjudul Tombeau sur le most de mousicus dan karya Dusan Bogdanovic berjudul Jazz Sonata, menuyusul menjadi karya yang layak diperhatikan. Tidak terlalu familiar memang karya keduanya, tapi tetap membuat mimik serius terpasang di wajah masing-masing penonton.

Karya dari Dusan adalah sebuah karya modern yang menyimpan banyak kejutan di dalamnya. Seperti bunyi senar yang terdapat di kepala gitar tak luput dari jarahan musiknya. Hentakan kaki dan penjalahan nada tinggi yang melampaui wilayah nada gitar juga menjadi kejutan karya yang tercipta di tahun 1982 ini, yang sayang bila dilewatkan. Dusan Bogdanovic sendiri adalah seorang komposer Yugoslavia. Dia juga dikenal sebagai gitaris jazz dan etnik, selain klasik.

Karya Isaac Albeniz yang sangat populer berjudul Asturias didaulat Nebiolo menjadi Encore pada malam itu. Karya yang aslinya bermain dalam tangga nada G minor ini dibuat untuk piano pada mulanya. Namun kemudian, Francisco Tarrega mentranskipnya dalam tangga E minor untuk gitar. Nebiolo memulainya dengan dinamik yang amat lembut dan tempo yang tidak terlalu cepat. Kelembutan dinamiknya menanjak dengan amat perlahan. Penonton seperti tertahan untuk mendengar ekspresi musiknya yang biasanya dimainkan galak dan ceplas-ceplos oleh para banyak gitaris. Tapi itu tak mengurangi tepukkan panjang dari para penonton untuk mengapresiasi penampilan Alessio Nebiolo pada malam itu. Dan mereka pulang dengan menyimpan sebuah malam penuh arti yang ditransfer oleh kecantikkan permainan gitar klasik. Sebuah instrumen yang kata Beethoven adalah miniatur orkestra.

Versi bahasa Inggrisnya dimuat di Jakarta Post, 5 Mei 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s