Manusia Abadi


Sore itu sebuah sore di hari Senin. Sebuah sore yang basah karena titik air dari langit. Jalanan macet semrawut di sanasini. Sejak jalur khusus bis Transjakarta dibangun serempak di banyak titik, kemacetan di Jakarta makin menjadijadi. Dan pemerintah hanya meminta masyarakan memaklumi saja. Aneh! Masa hal seperti ini pantas dimaklumi!

Dengan Suzuki Smashku yang makin butut, karena duit oli kubelikan buku, karena duit servisnya kujajani tiket konser, atau kubelikan senar gitar, aku melaju ke rumah sahabatku. Kujemput dia lebih awal atas permintaannya. “Gue mau duduk depan!”, begitu kilahnya.

Sudah sejak Agustus aku dan Jefri terdaftar sebagai mahasiswa program Extension Course Filsafat di STF Driyarkara. Sebuah tempat di mana amat aku citacitakan sebagai kelanjutan proses pendidikan nantinya setelah menjadi Sarjana Seni dari UPH. Aku amat menikmati mingguminggu menyelami berbagai topik perkuliahan yang tersaji. Dari menyelami pemikiran David Hume, merasakan aroma yang mirip denganku dari Imanuel Kant, sampai hari itu menyaksikan sebuah simbol bersahaja yang ditampilkan oleh seorang Pastor bertitel Guru Besar Filsafat.

YA! Hari itu aku merasa berbeda. Jefri pun demikian. Musababnya, dosen yang memberikan kuliah adalah seorang Franz Magnis Suseno. Seorang yang bagiku hidup sebagai sebuah simbol dalam kehidupanku, dan mungkin bagi banyak orang. Dia simbol dari sebuah dunia yang berlari menjadi dewasa, sebuah pergerakan manusia yang melawan dunia!

Aku jadi teringat masamasa aku mulai akrab dengan bau namanya. Aku mulai membacanya lewat berbagai artikel dan pendapat yang ada di suratkabar. Kalau tidak salah sekitar tahun 2002 namanya sudah hadir dalam petualangan intelektualku. Kala itu aku sedang menulis sebuah artikel mengenai kloning. Berbagai artikel mengenai kloning aku jarah. Hingga kubertemu dengan Romo Magnis.

Setelah itu, aku selalu ‘bertemu’ dengannya dalam berbagai dimensi. Lewat artikelnya, aku membacanya. Lewat rubrik profil atau tokoh yang ditulis wartawan mengenai dirinya, aku merasakan sebuah diskusi hangat dengannya. Lewat penyelaman bukubukunya, walau masih sebatas meraba kaver, aku mengerti mengapa ia tetap merasa merdeka.

Namun hari itu, bukan dunia virtual lagi yang kuhadapi. Aku berada dalam kebenaran bahwa aku sedang bertemu nyata dengannya. Aku memuaskan diri dengan menyaksikan gaya berjalannya yang tegap nan lunglai bagai burung Lama. Kadang kutemukan diriku yang termesem melihat dia dalam gurauan. Rambut boleh memutih seluruhnya, tapi dalam matanya, aku selalu diajarkan sesuatu tentang kemerdekaan diri. Bagiku, matanya seperti berteriak padaku, mengatakan, “Aku tak bakal mati!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s