Bernadette Yuni Mardiyah:Ingin Menjadi Suster Yang Betulbetul Suster



Angin yang berhembus di halaman Biara Canossa menampar sekawanan pohon-pohon yang ada. Daun-daun pun rela dipindahkan tempatnya oleh angin yang mengalun kuat.

SIANG itu, di bilangan Bintaro, Jakarta Selatan, seorang wanita muda keluar dari mobil di depan halaman Biara. Dengan postur tubuhnya yang kecil, ia melambaikan tangan pada orang di mobil yang mengantarkannya. Ia baru pulang dari mengajar Bina Iman di lingkungan St. Timotius, salah satu lingkungan di Paroki Matius Penginjil, Bintaro. Setelah melewati pintu masuk, ia menyalami kami dan sambil tersenyum ia berkata’ “Kita ngobrol di Novisiat saja ya!”. Dengan gaya ramah dan kalem khas masyarakat Jawa Timur, Bernadette bertutur soal keinginan kuatnya untuk menjadi seorang Suster.

Wanita berkacamata minus yang punya nama lengkap Bernadette Yuni Mardiyah ini, menceritakan bagaimana keikutsertaannya mengikuti Retret Pribadi membuat ia merasa terpanggil untuk menjadi seorang biarawati. Dengan bermodalkan ‘iseng-iseng’ dan rasa ingin tahu karena diajak temannya, Bernadette akhirnya merasa mantap untuk memilih kongegrasi Canossa sebagai ladang berkaryanya. Waktu itu ia terkagum-kagum melihat foto-foto pelayanan kepada kaum-kaum kecil tertindas yang dilakukan Suster-Suster Canossa di Timor Leste. “Karena mereka tak ada yang memperhatikan”’ jawab seorang Suster waktu itu ketika Bernadette menanyakan kenapa mereka mau melayani.

Berawal di bulan Juni 2004, Bernadette yang waktu itu baru dibaptis beberapa tahun, mendaftarkan diri secara mantap sebagai Aspiran (tahap terawal sebagai suster) di Biara Canossa, Bintaro. Selama di Cannosa, wanita kelahiran Malang 4 Juni 1975 ini dikenal sebagai orang yang cepat beradaptasi. “Padahal yang dari Jawa sedikit, kebanyakan dari Timur (Indonesia Timur – red). Tapi dia mampu membiasakan”, aku Suster pembimbing para Novisiat ini, Suster Nata. Suster Lia, seniornya Bernadette, mengatakan bahwa ia mempunyai tekad yang mantap ketika masuk biara.

Bukan tanpa pemikiran Bernadette memutuskan untuk menjadi seorang Canossian. Sebelumnya ia juga tertarik dengan Suster-Suster Karmel yang ada di Malang. Sifat Biara Karmel yang kontemplatif-lah (hanya berdoa di biara) yang membuatnya memilih Canossa yang lebih bersifat aktif-kontemplatif. (selain berdoa, juga melakukan pelayanan di luar Biara). Setelah mengalami tahun pertama sebagai Aspiran di Canossa Bintaro, kemudian ia dikirim ke Biara Canossa di Samirono Baru, Yogyakarta. Dan sekarang dikirim balik ke Bintaro untuk menjalani tahun Novisiatnya selama 2 tahun sampai Kaul Kekal.

Selama di Cannosa, Bernadette yang punya hobi membaca dan memasak ini, kebagian tugas untuk membersihkan ruang belajar selama dua bulan. Bernadette berkisah tentang bagaimana dia dan teman-temannya menjalani rutinitas sehari-hari. Pk. 04. 45 setiap harinya ia bangun. Kemudian dilanjutkan dengan berdoa, Misa Harian, dan meditasi sampai pukul tujuh. Setelah makan pagi, ia langsung melakukan pekerjaan rumah sehari-hari dan disusul dengan hadir di kelas untuk mengikuti pelajaran.

Bolos Ngaji

Semasa kecil, Bernadette yang lahir, dibesarkan, dan dididik secara Islam, mengaku bahwa dia termasuk anak yang badung. Ia mengenang lucu ketika orangtuanya sering dimarahi tetangganya karena anak-anak mereka sering dipukul Bernadette. Ia pun diam-diam sering bolos mengaji. Semasa di Malang, Bernadette merasakan bahwa didikan orangtuanya dalam agama Islam berperan penting terhadap hidup dan pribadi dia kelak. Ia ingat persis bagaimana persepsi orangtuanya mengenai kefanatikan agama. “Fanatik adalah hubungan kita dengan Tuhan saja. Kita tak perlu mencampuri agama lain”, kenangnya mengulang perkataan orangtuanya.

Sejak kecil ia selalu dihantui oleh pertanyaan-pertanyaan eksistensial seperti, ‘kenapa saya dilahirkan?’, ‘habis ini saya mau kemana?’, ‘apa tujuan hidup saya?’. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang kemudian mengantarkannya kepada satu pertanyaan yang selalu mengganggunya’ “Saya Muslim karena keturunan atau keyakinan?”

Tuhan Bekerja

Selepas SMA, di tahun 1995 Bernadette merantau ke Jakarta dengan maksud mencari pekerjaan. Alhasil, putri pasangan Sumardi dan Tuti ini diterima kerja di perusahaan swasta yang bergerak di bidang pensuplai barang. Hari-harinya di Jakarta ia lalui dengan tetap beribadah secara Islam. Dia takut bila tak mempunyai pegangan di kota Jakarta, kota yang mempunyai sejuta tawaran. Tapi hatinya kosong. Jiwanya kering. Pertanyaan ‘saya muslim karena keturunan atau keyakinan’ kembali mengusiknya. Ia mulai ingin mencari ‘nafas baru’ dalam kehidupan spiritualnya.

Di tahun 1996, wanita berambut pendek ini rajin keluar masuk gereja sana-sini atas ajakan teman-teman kantornya. Tapi hatinya tetap kering. Bahkan ia sempat terkaget-kaget dengan sebuah kebaktian yang seluruh umatnya mengangkat-angkat tangan, teriak-teriak, heboh sekali. Di tahun ini ia beberapa kali keluar masuk gereja.

Sambil membenarkan gagang kacamatanya, ia bercerita ketika di tahun 1998 ia diajak teman kosnya untuk ikut Misa di Gereja Katederal, Jakarta Pusat. Entah kenapa ketika melihat salib dan mendengar suara lonceng, ia menangis sejadi-jadinya. Seketika itu, ia memutuskan untuk hidup secara Katolik.

“Lucu sekali! Dulu saya Ramadhan, sholat di seberang. Sekarang malah berdoa di sini.”, kenang Bernadette geli. Dengan mengenakan baju…………………… ia memaparkan bagaimana ia merasa Tuhan sendirilah yang membukakan jalan untuknya. Paroki Mangga Besar-lah yang akhirnya menerima dia untuk belajar Katekumen. Tapi pada tahun 1999, ketika akan dibaptis, ia mengundurkan diri dengan alasan ragu-ragu. Tapi jiwanya tak tenang. Ia terus merasa kering dalam kehidupan spiritualnya. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengikuti Kristus dengan membiarkan dirinya dibaptis di Paroki yang sama pada bukan April 2001.

Warga BHK

Selidik punya selidik, ternyata Bernadette pernah terdaftar sebagai warga Paroki Kemakmuran ketika kos di daerah Keselamatan (Wilayah III). Malah, ia belajar persiapan Sakramen Krisma di Kemakmuran pula. “Waktu itu dengan Bu Evelyn dan satu orang Bapak saya lupa (Br. Will – red)”, ujarnya coba mengingat. Ia pun sering mengikuti misa di Kemakmuran. Ia bertanya iseng, “Apa Pastor yang cakep itu masih ada? (Ps. Adrianus Budhi – red).”

Kala itu, kepindahan agamanya belum diketahui keluarga di Malang. Ia belum berani mengatakannya. Pernah waktu Idul Fitri pulang ke Malang, keluarganya bertanya, kenapa tidak sholat Ied, kenapa tidak puasa. Tapi akhirnya, Tuhan jugalah yang membiarkan orangtuanya mengetahuinya. Berawal ketika Bernadette dengan mantap untuk menjadi seorang biarawati. Waktu itu, tahun 2003, orangtuanya sampai datang ke Jakarta untuk mengajaknya pulang. Suasana ketika itu menjadi begitu tegang. Ibunya menolak keinginannya dengan tegas. Kakaknya malah sampai emosi besar. Sedang ayahnya hanya bisa menangis tersedu-sedu menghadapi kenyataan. Akte yang waktu itu digunakan sebgai syarat masuk biara, sengaja disimpan oleh adiknya. Akhirnya, ia memutuskan untuk menunda dulu rencananya atas saran dari pimpinan biara.

Selama itu, ia selalu menjaga hubungan baiknya dengan keluarga. Setiap ada waktu, ia pasti pulang ke Malang. Pokoknya tahun itu hampir sepenuhnya untuk keluarga. Tapi keinginan itu semakin menggebu. Akhirnya, Juni 2004, pimpinan biara memutuskan menerimanya karena dilihat dari umurnya yang kala itu sudah matang.Tapi konflik belumlah reda begitu saja. Berulang kali, keluarganya mengajaknya pulang ke Malang. Tapi ia selalu menolaknya. Hingga pernah suatu kali, keluarga besarnya mengadakan rapat besar di ruang tamu biara. Dan hingga kini, keluarganya belum bisa menerima jalan panggilan yang diembannya.

“Saya yakin mereka mencintai saya”, begitu tanggapannya terhadap kedua orangtuanya. “Tapi ini hidup saya, saya bertanggung jawab terhadapnya”, dengan segera ia menimpali.

Jatuh Cinta

Ketika disinggung mengenai perasaan cinta, Bernadette menanggapinya dengan malu-malu. Menurutnya, perasaan cinta itu bagus sekali sebagai afeksi untuk perkembangan, apalagi terhadap seorang biarawan/ti. Ia tak menampik masa remajanya yang pernah beberapa kali pacaran. Malah pacarnya yang terakhir ditinggal begitu saja sejak dia ke Jakarta, kenangnya enteng.

Ketika diminta memberikan pesan ia berkata, “Saya mengetuk hati kaum muda. Masa depan Gereja ada di atas pundak kita, kalau ada benih panggilan sedikit saja, tolong jawab! Kita (biarawan/ti – red) sama seperti orang normal juga kok…dan untuk yang tidak terpanggil, jangan ganggu yang terpanggil”, ajaknya penuh semangat. Ya, semangat seperti cita-cita sederhananya, ingin menjadi suster yang betul-betul suster. Tidak hanya suster dari pakaiannya saja. Tapi betul-betul pelayanan untuk Tuhan dan sesama. Ya, juga sesemangat mottonya, “Sekali jatuh, dua kali kita bangkit!”. Setuju?

Dimuat di JENDELA Kemakmuran vol. 3/I edisi 05/06

3 pemikiran pada “Bernadette Yuni Mardiyah:Ingin Menjadi Suster Yang Betulbetul Suster

  1. setuju!

    sayapun juga tengah jatuh cinta lebih dalam Roy.

    dari mulai bertanya, ” saya ini memeluk agama krn keturunan atau keyakinan,”
    merasa kering dan gusar,
    dipertanyakan oleh teman2 yang lain,
    sampai kemantapan yang kurasakan sekarang,
    yang masih jatuh bangun pastinya🙂

    Suka

  2. Saya jg mempunyai perasaan yg sm ketika saya pertama sekali ibadah di greja St.Fidelis dikampung saya.
    Sampai saat ini prasaan itu masih kuat dalam hati saya. Yg mmbuat saya bingung,,siapa yg dapat menuntun saya..smentara usia saya terus berjalan.
    Tolong beri jln kluar atas masalah yg saya hadapi. trima kasih

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s