Yang Terlupa di Pikiranku



TELAH lama sebuah pos-el mendarat. Cukup menarik perhatianku untuk sejenak. Tapi tak kugubris berlanjut. Seorang teman, Elsye Christieyani, memberi berita kalau Griya Asih, sebuah tempat penampungan bagi anak jalanan, membutuhkan beberapa relawan baru untuk membantu di sana.

Seminggu berjalan. Dua minggu berkejaran. Harihari saling menari, saling menghajar. Terus begitu dalam hitungan bulan, tapi aku menyingkirkan mereka – anak jalanan – dalam pikiranku, untuk sementara. Masih disibukkan kegiatan keseharianku – kuliah, mengajar, menulis, membaca, bermusik -, begitu elakku.

Tapi semakin kulupakan mereka – anak jalanan – semakin susah tidur aku dibuatnya. Gemerincing receh mereka selalu mendengung di telingaku. Bau keringatnya menghunus hidungku tajam. Penyakit dan warna kulit mereka yang gosong seperti ingin berkata, “Dalam hatimu, Kau taruh Kami di mana, teman?”

Dalam beberapa hari, kuketikkan sebuah pos-el untuk Elsye. Begini isinya kurang lebih: “Elsye! Gw pengen ikut dong ke Griya Asih. Tapi lihatlihat dulu ya…!”

Gayung bersambut, Elsye pun menjawab pos-el-ku dengan antusias. Atur mengatur waktu, pada 9 Desember 2007 kami mengisi agenda dengan bertandang ke Griya Asih. Sebuah tempat yang akan jadi persinggahanku selanjutnya, mungkin.

Dengan Smash biruku, sendirian kuboyong diri ke Cempaka Putih. Setelah nyasar dan tanya sanasini, sampailah aku di depan sebuah rumah mungil dengan papan ‘Griya Asih’. Letaknya di belakang rumah susun. Di depan Griya Asih (GA) ada halaman untuk berolahraga di sebelah kiri, dan ladang mini di kanan. Aku beri salam kepada dua perempuan yang berdiri menyambutku. “Aku mencari Elsye, Mba”, sapaku kehabisan kata. Dan waktu bergulir lewat perkenalanku pada Bona (pengurus GA), dan sapuan pandangku ke seluruh sudut halaman GA yang gersang.

Tak lama menunggu, Elsye datang dengan rambutnya yang cepak. Kepalanya harus botak beberapa waktu lalu karena tuntutan operasi pada kepalanya akibat kecelakaan sepeda motor yang menimpanya. Tapi Ia tak menyiratkan kemurungan karena rambutnya, atau karena perjalanan jauh dari Bekasi. Sambil memajang senyum, Ia daratkan tangannya untuk menyalamiku.

Oleh Elsye, aku dikenalkan sebagai calon relawan baru untuk GA. Ada Mba Sisil dan Mba Mia. Mba Sisil menggendong seorang bayi empat bulan yang terlelap. “Baru sebulan diangkat anak”, bisik Elsye. Hatiku miris. Tak lama Heri, nama bayi itu, terbangun. Mengulat di atas sofa. Sesekali ia tersenyum pada seisi makhluk di ruangan. Matanya besar dan bulat sekali. Dalam. Aku jadi teringat Wulandariku. Mata seperti itu bagiku selalu berbicara tentang kehangatan.

Di sela obrolan kami, lalulintas anakanak penghuni GA seloyoran keluar masuk. Perempuan dan lelaki, anak ingusan sampai remaja, mengintip dari balik pintu. Ada beberapa yang kusalami. Salah satunya Budi, penghuni baru asal Nias. Sepuluh tahunan umurnya, tebakku.

Jam 3 tepat kami menuju ruang belajar. Sekarang jadwal mereka untuk belajar atau mengerjakan tugastugas sekolah. Bersamaku ada empat relawan baru lainnya. Semuanya perempuan. Widi, Dyah, dan…mm..aku belum hafal nama.

Di ruangan yang tidak luas itu, berjejer mejameja panjang dan bangku panjang di setiap sisinya. Walau tidak bagus, tapi tetap layak untuk dipakai. Di ruangan yang pucat itu, aku berkenalan dengan tiga anak, Eddy, Nelly, dan Dian. Sementara angin sore hilir mudik membelai kulitku. Dengan sedikit kikuk, aku berusaha memberi nyawa pada suasana di sana.

Dengan Eddy aku membantunya lewat google di ponselku mencarikan akronim dari GPRS, PDA, CDMA. Sebuah pekerjaan sekolah yang bagiku membodohi. Apa logika terasah dengan sebatas mencari tahu kepanjangan sebuah singkatan, begitu keluhku diamdiam.

Nelly dan Dian, yang duduk bersebrangan dengan Eddy, memanggilku. Nelly menanyakan sebuah maksud dari pelajarannya. Aku tidak tahu. Dian meminta bantuan dalam tugas Bahasa Inggrisnya. Aku bantu sebisaku.

Sepanjang jam belajar ini, aku mencoba masuk dalam relung jiwa mereka. Walau tersenyum dan terbahak, dalam kebenaran mereka seakan mengajarkan padaku, “keluarga kami di entah”. Aku hanyut dalam kegelapan.

Jam 16.30 aku berpamitan. Kubonceng Elsye sampai jalan besar yang dilalui bis untuk mengantarkan pulang ke Bekasi. Di jalan kukatakan pada Elsye, “Sye, gue menemukan agama baru. Sesuatu yang menjawab kebutuhan spiritual gue”. Elsye terawa kecil, tak tahu kalau aku menangis untuk sebuah kemenangan. Sebuah kemenangan untuk menepati janjiku pada Nelly dan Dian untuk datang tiap pekan.

“Aku sudah menaruh kalian dalam hatiku, kawan…”

Dan jalanan terus menjerit tentang penderitaan…

Satu pemikiran pada “Yang Terlupa di Pikiranku

  1. Makasih ya Roy dah mau datang en memberi nyawa di Griya Asih (he..he..nyontek kalimatmu)Semoga ini jadi awal yang baik utk kelanjutannya ya, Mereka butuh kamu !!!Elsyewww.mengalirsaja.blogspot.com

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s