Pengamen dan Wajah Sosial Jakarta



Rasarasanya, kehidupan di Jakarta, juga kotakota lainnya di Indonesia, tak pernah lepas dari kejaran untuk bertahan hidup. Tiap warga, terlebih mereka yang kecil, serasa dipaksa untuk melakukan apapun untuk menyambung hidup.

KOTA boleh menjadi besar dengan menaramenara yang tingi, gedung pencakar yang langit yang megah, mobil mewah yang surat izinnya diragukan, atau uang kopi untuk rapat berikut biaya baju dinas gubernur yang nominalnya melangit, tapi lupa menciptakan kesempatan hidup yang sama nyamannya bagi tiap warganya. Mau tidak mau, pahitnya perjuangan hidup di Jakarta harus dikunyah dalam keseharian warga yang dimarjinalkan. (Untuk tidak menyebut warga marjinal).

Situasi sulit seperti inilah yang melahirkan manusiamanusia Jakarta yang kalah, yang serba pesimis, dan kehilangan semangat hidup. Namun di samping itu, situasi seperti ini jugalah yang justru melahirkan manusiamanusia lain yang kuat, memiliki daya kreatifitas tinggi, dan semangat hidupnya amat menggigit.

Jakarta: Potret Perwajahan Sosial

Kota Jakarta, sebuah kota angkuh yang katanya tak pernah tidur, menampilkan dirinya dalam berbagai wajah. Salah satu wajahnya adalah kehidupan jalanannya yang sesekali hingarbingar, sesekali sunyisenyap. Wajah yang penuh gejolak. Wajah yang penuh ketegangan. Juga wajah sendu penuh romansa.

Pada wajah ini, sesekali kita menyaksikan kehidupan jalanan yang diperankan para sopir dan kenek angkot; premanpreman di rel kereta, terminal, atau perempatan jalan; pengasong rokok, tahu, roti, minuman, sampai sarung ponsel; pemulung dan pekerja serabutan; hingga pengemis dan pengamen. Dan yang terakhir disebut ini amat fenomenal. Kehadirannya yang sesekali mengganggu, meresahkan, sekaligus menghibur dan dibutuhkan.

Pengamen sudah menghiasi sudutsudut jalanan ibukota sejak lama. Mereka bak cendawan yang tumbuh subur musim penghujan. Tanpa dirawat pun mereka bertumbuh dan berdiri sendiri. Kalau cendawan ada karena kondisi yang lembab, pengamen ada karena kondisi masyarakat yang sembab. Kehadiran mereka seakan mewakili para warga yang dimarjinalkan tadi. Mereka memerankan lakon kegetiran anak manusia yang berjuang hidup di Jakarta.

Ringkasnya, pengamen menjadi wajah sosial kota Jakarta. Dan pengamen, dengan kesendiriannya, mewakili sistem sosial bangsa yang karutmarut ini.

Jalan Hidup Pengamen

Sebelum berjelajah lebih jauh, di sini perlu kita samakan dulu pengertian akan pengamen. Pengamen, yang hadir dalam berbagai bentuk, hanya dimengerti sebagai seorang / sekelompok orang yang menjual jasa lewat olah suaranya atau ketrampilan bermain musik. Dengan produk jasanya ini, mereka mengais rejeki dari pendengar yang tergerak.

Padahal, jauh sebelum dikenal pengamen musik, istilah pengamen sudah melekat pada bidangbidang lainnya. Kita ambil contoh para pemain ketoprak atau kuda lumping, misalnya. Para seniman tersebut pada awalnya hanya berpentas pada medium yang terbatas dan khusus seperti acara pernikahan atau pengisi acara sebuah acara peresmian gedung. Mereka bekerja bila mendapat panggilan.

Namun, dikarenakan panggilan untuk manggung berkurang seiring berkembangnya jaman, (jaman sekarang pernikahan lebih memilih untuk mengundang organ tunggal beserta penyanyi dangdut yang seksi) mereka terpaksa menjual jasa mereka dengan cara ‘jemput bola’. Mereka tak bisa lagi menunggu panggilan untuk membiayai hidup kesenian mereka. Alhasil mereka turun ke jalan untuk mempertontonkan kebolehan mereka menjual jasa kesenian, dan tentunya dengan mengharap receh dari para penonton sebagai bentuk apresiasi.

Bukan saja pemain ketoprak atau kuda lumping. Ada berbagai jenis bentuk mengamen. Ada topeng monyet, pengrawit, debus, sampai barongsai. Bahkan, Didik Ninik Thowok, seorang penari dari Jawa Tengah, sering menampilkan tariannya bersama kelompoknya di jalanjalan. Ada juga kelompok teater yang melakukan ngamen dari kota ke kota. Biasanya ketika mengamen, mereka mendirikan panggung berikut tempat tinggal. Dan di kolong panggung yang berdiri saja susah itu, mereka tinggal, menghindar dari panas dan hujan. Kemudian, selesai pentas beberapa hari, bangunan itu dibongkar, dan mereka memboyong diri ke kota lain.

Terminologi ‘pengamen’ yang ingin dibahas dalam tulisan ini, bukan pengamen dalam artian generalisasi tersebut. Tapi pengamen musik yang kebanyakan nongol di biskota dan rumahmakan. Mereka yang senjatanya tak lebih dari gitar atau perkusi sederhana yang dibuat sendiri. Atau pada tingkat paling serius, mereka membawa kibor, perkusi, biola, kontrabas, bahkan gitar elektrik, layaknya sebuah band combo.

Pengamen: Sebuah citra yang tak menyenangkan

Pengamen, yang selalu dapat kita jumpai tiap hari di jalanan, di bis kota, di rumah makan, di terminal, di peron, maupun di rumahrumah warga, menempati posisi yang tak menguntungkan pada kelas sosial masyarakat. Dengan segala perjuangannya mereka dengan tegas menolak label yang diberikan masyarakat pada mereka. Bagi mereka, pekerjaan mereka sama mulianya dengan profesi lainnya. Dan oknumlah yang melahirkan konotasi negatif dari pengamen. Sama seperti konotasi negatif bagi polisi, pejabat, pengusaha, seniman, dokter, guru yang diimbaskan oknum.

Namun bagi masyarakat yang tak mau tahu dengan pembelaan tersebut, profesi pengamen tetaplah bernada miring, fals. Masyarakat tak mau tahu dengan pencitraan pengamen yang diciptakan oknum. Yang mereka tahu, pengamen adalah kumpulan manusia kalah yang malas, pemaksa, dan amat mengganggu.

Memang, banyak pengamen yang hanya menjual jasa dengan amat ala kadarnya. Ada yang hanya bertepuk tangan sambil mengeluarkan suara yang sumbang, ada yang membawa imitasi tamborin yang terbuat dari botol plastik bekas yang diisi pasir atau beras, atau pengamen yang membawa gitar yang senarnya tak pernah lengkap dan penalaannya tidak tertata.

Belum lagi ada sekelompok pengamen yang membawakan lagu yang tak selesai kemudian disusul dengan tindakan memaksa yang setengah mengancam untuk diberikan uang. Dengan modal tampang seram dan tato di tubuh, mereka dengan mudah menimbun rezeki dari pendengarnya yang kalah nyali.

Halhal macam di ataslah yang membuat citra pengamen tak lebih dari semacam pengemis atau penodong. Cuma wajah dan caranya yang beda, lebih halus, lebih kreatif. Akhirnya, para pengamen menjadi bagian dari warga kota yang termarjinalkan. Bagian dari masyarakat bawah tanah yang diciptakan oleh sistem sosial bangsa yang karutmarut ini. Mereka ada, tapi sengaja dikeluarkan dari lingkaran sosial masyarakat umum. Sebuah pertaruhan akan kebudayaan!

Melawan persepsi

Para pengamen yang sadar akan persepsi masyarakat yang keliru menggeneralisir citra mereka, berusaha melawannya. Mereka dengan idealismenya sendirisendiri menantang persepsi tersebut dengan menampilkan citra diri mereka sesungguhnya. Dengan susah payah mereka mendobrak konotasi negatif tentang mereka. Sebagian dari mereka bahkan mengumpulkan diri dalam macammacam komunitas pengamen. Salah satunya adalah Kelompok Pengamen Jakarta (KPJ). Dalam komunitas ini mereka berusaha menyatukan suara dan sikap terhadap keberadaan mereka. Katakanlah semacam deklarasi pendek atau proklamasi singkat mengenai kemerdekaan para pengamen sesungguhnya.

Di komunitas inilah rupanya mereka melakukan perlawanan persepsi masyarakat dengan menyeragamkan sikap. Dari menyeragamkan prilaku ketika membawakan lagu, ketika meminta biaya jasa, sampai mengarang lagu yang mewakili keberadaan mereka. Tak jarang lirik yang dinyanyikan berisi sindiran kepada penumpang bis atau pejabat pemerintahan.

Di sisi lain, pengamen yang tergabung atau tidak dalam sebuah komunitas, melakukan perlawanan persepsi dengan caranya masingmasing. Ada yang mengedepankan kualitas performa, ada yang berusaha menghibur, dan lainlain. Pada sisi ini, dengan jalannya sendiri, pengamen ingin menolak anggapan bahwa mereka hanyalah pengganggu. Karena dengan kemampuan bermusiknya yang serius, mereka dapat menghibur, menciptakan suasana, bahkan membantu penumpang kereta atau bis untuk mencari tempat duduk atau mengingatkan akan tangantangan jahil para pencopet.

Motif Pengamen

Dari sekian banyak pengamen di Ibukota, yang tentu dengan beragam bentuk mengamen, ada 3 kategori yang dapat mengelompokkan mereka berdasarkan motif:

  1. Pengamen ‘Profesi’
  2. Pengamen ‘Kecelakaan’
  3. Pengamen ‘Dadakan’

Pengamen Profesi adalah mereka yang seutuhnya menggantungkan hidup dari kegiatan mengamen. Motif mengamen timbul sebagai jalan hidup atau bahkan ‘citacita’ (dalam tanda kutip). Pembawaan mereka tampak dalam keseharian mereka yang tergabung dalam komunitas, yang entah komunitas bernama atau tak bernama. Mereka berlatih bersama, saling bertukar ilmu, saling membagi pengalaman, juga berdiskusi. Hal lain tampak dalam penampilan mereka saat ‘mentas’. Mereka selalu mengedepankan kualitas dan mengikuti perkembangan tren musik. Tujuan mereka satu, menghibur orang untuk mendapatkan receh. Maka tak jarang banyak ditemui ‘pengamen legendaris’ yang sudah berusia lanjut.

Pengamen Kecelakaan adalah mereka yang bertahan hidup dari mengamen tapi tidak sepenuhnya. Motif mengamen timbul sebagai bentuk ketidaksengajaan. Mengamen timbul akibat tuntutan. Tuntutan itu bisa datang dari kondisi ekonomi, menunggu mendapatkan pekerjaan, ataupun paksaan dari pihak lain (misalnya anak kecil yang dipelihara ‘bos gembel’ [istilah untuk pemimpin/bos kaum jalanan] untuk mengamen, dan menyetor hasil ngamennya). Pembawaan mereka tampak dalam penampilan yang ala kadarnya dan serba tertekan. Tujuan mereka mengamen hanya untuk bertahan hidup, dan demi melayani ‘bos’ mereka.

Sedang Pengamen Dadakan adalah mereka yang melaukan aktivitas mengamen bukan sebagai sandaran hidup untuk mencari makan. Motif mengamen timbul sebagai bentuk kreatif, iseng, atau desakan kebutuhan akan uang yang mendadak. Mereka biasanya hadir secara kelompok atau teman sepermainan. Tujuan mereka ada yang sedang mencari dana untuk membiayai kegiatan/proyek mereka, ada yang iseng mengisi waktu luang, ada yang sekedar uji nyali, atau untuk patungan beli ‘obat’. (baca: narkoba). Pembawaan mereka agak sulit dikenali. Ada yang mengamen dengan kualitas baik, ataupun sebaliknya.

Pengamen, Sebuah Dilema

Kehadiran pengamen yang berjalan seiring dengan kehidupan kota Jakarta memang sangat fenomal. Kehadiran mereka yang terus bertambah seakan ingin menyadarkan masyarakat bahwa kelahiran mereka dibidani oleh sikap skeptis masyarakat pula. Seperti ingin menunjukkan ketidakmampuan masyarakat dalam mengakomodir warga yang termarjinalkan macam mereka.

Desakan mengamen hanya dua, motif ekonomi dan budaya. Dalam hal ekonomi sudah jelas posisi pemerintah dan pemegang sektor modal yang dipertanyakan. Dalam hal kebudayaan, kalau profesi mengamen dapat dipelihara dengan baik oleh kelembagaaan, dapat memperkaya kazanah budaya bangsa Indonesia. Bahkan di negara maju sekalipun seperti Jerman dan Austria, pengamen selalu hadir dalam kehidupan masyarakatnya sebagai bagian dari budaya.

Pengamen sebuah dilema. Dibutuhkan namun berusaha untuk disingkirkan. Dijauhi tapi berusaha untuk diapresiasi keberadaannya. Pengamen dan wajah sosial kota Jakarta, menjadi sebuah narasi yang bertautan dan tak selesai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s