Surat Yang Tak Pernah Sampai


…buat DK

Kawan,

Ketika aku melihat foto ini, aku ingat kamu. Seketika itu juga aku iri. Aku bermimpi kita bisa seintim anak kucing dan bebek itu. Melupakan tentang siapa diri kita masingmasing. Dan hanya menikmati kedekatan kita. Menikmati perbedaan di antara kita. Sama seperti dulu.

Mimpimimpi untuk kembali dekat denganmu, kuakui, memang mengganguku setiap malam. Kadang mimpi itu mampir pada turunnya hujan, yang mengingatkanku pada satu masa di mana kita pernah menikmati bunyi hujan dari balik tenda di Ciapus. Atau pada bunyi misting yang beradu dengan sendok, yang membawaku pada ingatan tentang canda tawa kita di Kandang Badak. Tapi semua itu tetap mimpi yang tak pernah terbangun. Senyap.

Kawan,

Mungkin kamu menganggapku terlalu cengeng dan membuat diri melankolik. Atau kamu menganggapku berlagak puitis dan romantis. Semua yang kau pikirkan mungkin benar. Karena aku tak tahu lagi bagaimana caranya mengungkapkan kasihku padamu. Ketika kita tidak pernah lagi melahirkan sapa. Ketika ‘kunci’ yang menggembok bibir ini tak pernah aku atau kamu temukan.

Semakin kita cari ‘kunci’ itu di luar, semakin sering kita bertemu kegelapan. Semakin kita ngotot akan menemukan ‘kunci’ itu di luar pagar, semakin jauh kita tenggelam dalam keengganan.

Mungkin kau dan aku sebenarnya sudah samasama mahfum. Kita tahu di mana ‘kunci’ itu jatuh. Bukan di depan pintu atau di luar pagar. Bukan juga di dalam sakumu atau tas mungilku. Apalagi dalam kegelapan. ‘Kunci’ itu ada di dalam hati kita. Dan kita purapura tidak tahu dan berlagak rabun. Atau sudah melihat, tapi tak sudi memungutnya kembali. ‘Kunci’ itu ada dalam hati kita.

Kamu pernah marah untukku. Aku pun demikian untukmu. Tapi aku tak mendengarkan amarah itu padamu. Aku pernah memaki untukmu. Kamu pun demikian untukku. Tapi kamu tak memperlihatkan makianmu untukku. Sebuah kelucuan bukan? Tapi bagimu itu semua mungkin tak penting. Kamu hanya mau tahu APA yang kulakukan. Dan kelakuanku membuatmu kesal. Kamu tidak mau tahu, MENGAPA aku melakukan itu. Dan prasangkamu membuatku geram. Tinggal kamu yang membicarakan keburukanku pada temanteman barumu. Dan aku membicarakan keburukanmu pada satu dua orang kawan. Namun aku lebih sering sendiri. Sepi.

Kini aku memilih untuk bersembunyi. Menyaksikanmu yang semakin bahagia dengan temanteman barumu. Kamu mungkin tak bisa bisa turut bahagia melihat perkembangan (atau malah kemunduran) hidupku, karena kamu tak pernah bisa melihatku. Tapi aku melihatmu, kawan. Meski dari kejauhan.

Sekarang menjadi saat untuk mengambil persimpangan masingmasing. Mungkin kita tidak digariskan menghabiskan hidup bersama. Dan aku bahagia pernah mengenal seorang sahabat sepertimu. Aku berdoa untuk itu. Karena hidupku memang untuk merayakan halhal macam itu.

Andai foto di atas kita berdua. Aku bebek dan kamu sang kucing. Atau sebaliknya. Ah…itu tak penting. Semua cuma andai…

Petojo, awal 2008 yang lembab…

Satu pemikiran pada “Surat Yang Tak Pernah Sampai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s