Senjataku Menulis!


Sepotong pertanyaan, “Mengapa aku menulis?”, menggiringku pada satu masa ketika masih duduk di bangku sekolah. Aku ingat betul bagaimana aku berkenalan dengan kegiatan satu ini.

Lalu, di sekolah, mau tidak mau, suka tidak suka, aku diwajibkan untuk bisa dan mau menulis. Menulis yang awalnya mengasikkan, perlahan menjadi monster yang siap menakutiku kapanpun. Aku, dan mungkin seluruh siswa sekolahan, benci menulis. Menulis sangat membosankan dan tentunya membikin tangan pegal.

Dalam bertumbuh, aku mulai menyadari, bahwa apa yang kubenci dulu bukan menulis, melainkan kegiatan mencatat semata. Ya, sistem pendidikan di Indonesia lebih mengarahkan siswasiswanya menjadi mental pencatat, bukan penulis.

Sampai hari ini, dengan ratusan tulisan yang sudah kulahirkan – baik berbentuk opini, puisi, cerpen, artikel ilmiah, repostase, features – aku belum berani menjawab dengan jelas, mengapa aku menulis. Aku merasa terlalu hijau untuk menjawab pertanyaan sederhana dengan muatan raksasa ini. Dan lagi, aku takut menjadi terbiasa dengan keadaan menulis. Bukankah pengalaman magis tidak akan ditemui lagi bila kita terlalu terbiasa dengan keadaan. Tapi kebanyakan orang merasa terlalu terbiasa dengan keadaan yang sering mereka alami, sehingga dalam tiap karya, mereka hanya menjadi pengrajin, bukan seniman.

Mengangkat secangkir ide, meniupkannya dengan kontemplan sampai hangat suam kuku, lalu mengendus aroma pikiran yang bermuara pada titik klimaks, lantas kutumpahkan isi cagkirnya dalam selembar putih kertas, begitulah ritualku dalam menulis, menyiram gagasan. Ritual macam ini selalu kupahami sebagai pengalaman yang baru tiap kali mengulangnya. Dengan demikian, aku merasakan gairah dalam tiap tulisan.

Dan dalam semangat macam itu pula, aku memahami diriku sebagai sebuah simbol perlawanan. Dan menulis adalah salah satu alat yang kumaknai sebagai senjataku untuk melawan. Dengan menulis aku mampu melawan kebodohan. Setidaknya kebodohanku sendiri dengan membunuh rasa malas berpikir. Dengan menulis aku mampu melawan kemiskinan. Setidaknyanya melawan kemiskinan diri dengan tidak menutup mata terhadap realita penderitaan dunia.Lewat menulis pula aku berhadapan dengan berbagai wajah kemanusiaan, yang menyapa lembut, sesekali garang, dalam mimpimimpi liarku.

Dengan begitu, perlawanan dengan menulis bisa diartikan dalam konteks transfer ilmu, menawarkan ide, bersosialisasi, membagi kisah suka dan duka, atau membicarakan hal yang remeh temeh sekalipun. Dunia Menulis adalah laiknya sebuah samudera, tempat bertemunya kapalkapal besar maupun sekoci. Secarik Tulisan itulah kapal dan sekocinya. Dan aku bangga menjadi salah satu di tengah samudera itu.

Seorang teman pernah membelokkan katakata dari Rene Descartes, seorang filsuf Prancis, “Aku berpikir, maka aku ada”. Teman tadi dengan usilnya membelokkan kata tersebut menjadi, “Aku menulis, maka aku baru ada”. Sederhana kedengarannya. Tapi aku mencium perasaan yang begitu dalam terhadap kegiatan menulis. Baginya menulis sudah menjadi sahabat dalam memanai kehidupan. Tiap jengkal langkah nafasnya ditingkahi dengan menulis. Dan dengan menulis ia menjadi ada.

Aku jadi teringat bagaimana Pramoedya mengartikan semangat menulis lewat novelnya. Menulis adalah pekerjaan untuk mengabadikan kita dalam sejarah umat manusia, begitu kirakira Pram menuliskannya. Aku jadi terpikir, mungkin di suatu hari, di mana aku tinggal nama, anakcucuku dan orangorang, boleh tahu, pernah ada seorang anak manusia yang berjuang mengukir hidup lewat katakata.

Angin masih berkeliaran dingin menghunus tulang. Di luar jendela ada banyak kisah yang bisa diawetkan dalam sepotong kertas. Dan aku, sepisepi begini, habiskan malam terakhir di tahun ini dengan menulis. Sendiri.

Entah. Apa aku sudah menjawab pertanyaan, “Mengapa aku menulis?”.

Petojo, ujung Desember 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s