Menyimak Kuartet Gesek


SATU per satu empat perempuan muda yang berbalutkan pakaian hitam keluar dari belakang panggung. Dengan menggendong “senjata” masing-masing, mereka berempat berdiri berjajar sambil tersenyum. Tanpa basa-basi mereka membungkuk memberi hormat, duduk, lalu meniupkan sepotong komposisi indah ke langit-langit gedung.

Buah karya Joseph Haydn (1732-1809) berjudul Quartet opus 74 no. 1 in C. Lewat komposisi inilah mereka memperkenalkan diri ke hadapan penonton yang berharap dijamu dengan sebuah sajian pertunjukan musik yang berkualitas. Empat perempuan asal Inggris tersebut mensinergikan jiwa musik mereka dalam sebuah kelompok gesek, Iuventus String Quartet.


Pada 28 Januari 2008 malam di Goethe Haus, Jakarta Pusat, kuartet gesek yang terdiri dari Victoria Sayles, Rose Redgrave, Ruth Rogers, dan Katherine Jenkinson ini, memamerkan kepiawaian mereka dalam menyulam not demi not demi menghidupkan kembali nyawa musik yang tercipta berabad-abad lalu. Kuartet yang dibentuk pada
tahun 2003 ini memulai resital dengan meninggalkan kesan yang mendalam. Tentunya lewat karya Haydn tersebut.


Bagaimana tidak? Karya Haydn, komposer di zaman Klasik ini, dilantunkan dengan porsi yang sesuai, yaitu musik berstruktur monofonik yang simpel, tidak berlebihan. Intonasi yang ringan dan timbre cerah membungkus olah rasa mereka dalam menafsirkan karya tersebut. Kejelasan dialog tanya jawab antarinstrumen pun turut menyumbang nilai estetik pada
permainan.

Haydn, yang dikenal sebagai “Bapak Simfoni”, juga menciptakan banyak komposisi khusus untuk kuartet gesek. Ada ratusan karya jenis ini yang ia rampungkan selama hidupnya. Untuk karya simfoni saja, Haydn mencipta 104 buah. Musiknya sangat orisinal karena dalam sebagian hidupnya, ia hanya menjadi musisi istana, sehingga pengalaman musikalnya terisolasi dari gaya komposer lain yang sedang berkembang di zamannya.

Kuartet yang tersusun atas dua biola, satu biola alto, dan cello itu bermain dengan amat menyenangkan dan lincah. Dengan amat rileks, Iuventus menutup karya yang terdiri dari lima bagian ini – Allegro, Andantino grazioso, Menuet, Finale – dengan tempo yang amat cepat, namun tanpa memberi kesan karya tersebut memiliki teknik permainan yang amat tinggi dan kompleks.

Di sajian kedua, karya komposer besar Jerman, Ludwig van Beethoven (1770-1827) menjadi pilihan. Karya tersebut bertajuk Quartet opus 18 no. 1 in F. Karya ini mempunyai karakter yang berbeda jauh dengan sebelumnya. Nuansa klasik pun mendadak berganti dengan nuansa romantik yang ekspresif dan penuh elegi. Apalagi karya ini milik seorang komposer yang menjadi ikon penting yang menjembatani perubahan zaman Klasik ke zaman Romantik.

Beethoven sendiri adalah seorang yang amat penggelisah, pemarah, urakan, tapi sering kesepian, penyayang, dan jenius luar biasa. Walau ia pernah berguru pada Haydn, musiknya sungguh berbeda. Ia mandiri. Tidak mengekor siapa pun.

Keempat perempuan ini mengedepankan sentuhan-sentuhan liris pada melodi. Dengan amat melodius, tiap instrumen yang kebagian jatah melodi membuat miris perasaan yang mendengarkan. Kadang terdengar elegan dan jenius, karakter Beethoven. Atau pada bagian lain, justru terdengar tenggelam dalam amarah atau tangis yang tersedu-sedu.

Dengar saja pada bagian ketiga, Scherzo & Trio. Sebuah babak yang dramatik dan dengan intensitas volume suara yang fluktuatif. Ada gemuruh suara rendah dari cello yang galak yang selalu mengawal dengan setia, atau kadang sebagai solis. Sungguh ramai dan bernyawa.

Sempat Menurun

Namun, pada karya empat bagian ini – Adagio con brio, Adagio affettuoso ed appassionato, Scherzo & Trio, Allegro – stamina mereka terlihat menurun. Tidak serapi karya pertama. Kedodoran banyak terlihat pada melodi-melodi cepat yang dibawakan biola 1 (Ruth Rogers) dan biola 2 (Katherine Jenkinson).
Artikulasi yang sedikit kabur seakan mendengar sebuah gumaman, bukan ucapan. Tapi itu pun tak mengurangi rasa puasnya penonton pada penampilan mereka yang diselenggarakan oleh Chamber Music Series ini.

Berikutnya adalah karya yang berjudul Piano Quintet opus 81 yang dibawakan usai istirahat. Karya dari zaman Romantik ini adalah milik Antonin Dvorak (1841-1904), komposer asal Kroasia yang terkenal dengan komposisinya untuk simfoni dan concerto.

Penampilan pada karya yang ketiga ini agak berbeda. Kali ini, dengan formasi kuintet, mereka ditemani oleh pianis, Martin Cousin. Juga dalam empat bagian – Allegro ma non tanto, Andante con moto, Scherzo Furiant, Finale – karya ini dibuka dengan solo melodi pada cello sebagai tema lagu yang diiringi piano. Kemudian, suasana yang awalnya kalem mendadak dikejutkan oleh masuknya ketiga instrumen lain yang bertempo cepat dan garang. Lalu berlanjut pada pengembangan dari tema di awal lagu oleh cello.

Lewat karya Dvorak ini, permainan kuintet mereka mencapai klimaks dengan memuaskan. Virtuositas kelimanya terlihat begitu menakjubkan. Karakter lagu yang dibawakan dengan rubato semakin mengentalkan semangat Romantik yang diemban. Sungguh sebuah sajian yang memaksa penonton untuk memberi tepuk tangan panjang meminta encore. Namun encore yang dinanti tak kunjung jua. Dan membiarkan penonton pulang dengan beban ingin membayar utang untuk menyaksikan pengalaman musik sejenis. Sekaliber malam itu. Akankah musisi Indonesia?

Dimuat di Sinar Harapan 2 Februari 2008

3 pemikiran pada “Menyimak Kuartet Gesek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s