Membaca Tionghoa


Judul buku : Cau Bau Kan

Penulis : Remy Sylado

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia, 1999

Cetakan : III

Tebal : 414 halaman

SOSOK Tan Peng Liang beberapa hari ini amat lekat menggelantung di pikiran. Kadang kutemukan dia, dengan baju longgarnya, duduk di mejamakan rumahku, angkat kaki sambil membersihkan sisa makanan di sela-sela gigi dengan tusuk gigi, kemudian bersendawa.

Atau pada satu waktu aku saksikan dia selonjor di ruangtamu, menaikkan kacamatanya ke jidat (padahal dia tak berkacamata), dan memelototi koran Harian Indonesia. Dibolak-balik dengan ngasal lembar demi lembarnya. Aksara Mandarin di dalamnya lenyap dikunyahnya dengan rakus. Tak ketinggalan, sebagai properti, kaos oblong putih yang tipis, berduet dengan celana superpendek, membungkus badan yang dipangku oleh kursimalas dari plastik yang dililiti tali bergulung-gulung. Di kolong kursi itu, sebuah cuntang nongkrong. Di balik tutup warna merah itu ada teh melati.

Belum pensiun imajinasiku. Karena pada waktu yang lain aku lihat banyak Tan Peng Liang dalam satu ruangan. Mereka saling mengoper-oper kata, menenun kalimat, merancang sebuah gelak yang segera menguap di plafon. Atau gelak itu ikut menghilang bersama kawanan asap yang dihasilkan sebuah piringpanas yang ditiduri tumisan kangkung. Mereka tertawa sampai merah muka. Bir hitam dan kerang hijau rebus biasanya jadi kawan setia. Menemani berbelas-belas Tan Peng Liang.

Tan Peng Liang adalah salah satu karakter dalam novel yang digarap oleh Remy Sylado. Novel itu berjubah Ca Bau Kan. Baru-baru ini aku selesaikan membacanya. Namun latarnya, masalahnya, para tokohnya, seakan hadir di kehidupan nyata. Serasa aku pernah akrab dengan kisah di dalamnya. Seakan, Tan Peng Liang yang hanya sebuah teks, hidup dan bernafas pada hari-hariku. Ca Bau Kan amat sukses menyeretku pada kisahnya. Cau Bau Kan membaui pikiranku dengan nama penulisnya, Remy Sylado.

Dengan mengangkat kehidupan warga Tionghoa di Batavia pada masa prakemerdekaan Indonesia, Remy dengan asiknya meramu kisah cinta antara Tinung dan Tan Peng Liang dengan bumbu sejarah yang medok. Dengan terangbenderang, Remy berhasil menyajikan sebuah kisah yang memikat sekaligus mendidik pembacanya untuk mahfum akan sejarah Batavia prakemerdekaan.

Kisah ini dibuka dengan amat cerdas dan apik. Kalimat pembukanya pun amat provokatif: “Saya ke Jakarta mencari jejak pendosa”. Dikisahkan bagaimana kedatangan seorang Nyonya G. P. A. Dijkhoff bersama cucunya, Anneke dari Belanda. Dari bibir Oma Belanda inilah segulung tirai yang membungkus panggung Ca Bau Kan disingkap.

Selidikpunyaselidik, Nyonya Dijkhoff ini adalah putri dari seorang ibu yang bernama Siti Nurhayati, seorang Ca Bau Kan yang lebih dikenal sebagai Tinung. Tinung remaja umur empatbelas telah diperbinikan oleh Bang Obar, yang mati tak lama setelah meresmikan Tinung sebagai istri kelimanya. Dan karena permainan politik antara keluarga Bang Odar dan keempat istri tuanya, Tinung disingkirkan dengan paksa, berikut dipaksa melepaskan hak-haknya atas warisan dan harta Bang Odar.

Menganggurlah Tinung setelah itu. Tak jelas juntrungannya. Ayah-Ibunya, Uking dan Mpok Jene, menyuruhnya untuk ikut Saodah menjadi cabo di Kalijodo. Dan di Kalijodo pula, kisahnya sebagai Ca Bau Kan menjadi gerbang menuju sebuah dunia kehidupan yang mengharukan, menegangkan, sekaligus menghibur pembaca.

Cau Bau Kan adalah kata dari bahasa Hok-Kian, yang artinya ‘perempuan’. Namun dalam pengertian dulu, Ca Bau Kan – yang akhirnya dilafaz ‘cabo’ – maksudnya adalah perempuan pribumi yang diperbini Tionghoa. Dan Tinung adalah Ca Bau Kan yang akhirnya dipelihara oleh dua orang Tionghoa kaya yang sama-sama bernama Tan Peng Liang. Adalah maksud Nyonya G. P. A. Dijkhoff datang ke Jakarta untuk mencari tahu siapa bapaknya. Tan Peng Liang yang manakah yang menanam benih dalam rahim Tinung yang menjadikan dirinya ada. Karena waktu kecil, Giok Lan – Nyonya G. P. A. Dijkhoff – diadopsi oleh pasangan suami-istri Belanda yang dibawa ke negri Belanda.

Tang Peng Liang yang menjadi lelaki yang amat dicintai Tinung – bukan lagi hubungan antara juragan dengan Ca Bau Kan – adalah seorang yang amat cerdas, berani, nakal, dan penuh perhitungan. Mendadak kedatangannya ke Batavia dari Semarang sebagai pedagang tembakau yang kayaraya, ‘mengganggu’ stabilitas sosial-politik-ekonomi kelompok Kong Koan, sebuah kelompok Tionghoa yang mengurusi kalangannya dalam pemerintahan Hindia Belanda.

Dia – Tan Peng Liang – adalah macan yang keras dan mandiri, yang tak segan-segan membunuh lawan-lawannya dengan berbagai cara. Kontan saja Kong Koan yang merasa diperdaya oleh sepakterjangnya Tan Peng Liang, berulang kali mencari cara untuk menjegal Tan Peng Liang. Namun seekor macan tak bisa dibunuh dengan satudua kali tembak.

Novel ini memuat begitu banyak budaya-budaya Tionghoa pada kurun waktu 1918 – 1951. Bahkan bukan saja budaya Tionghoa, dengan amat jelas dan rinci, Remy berhasil mempertontonkan berbagai budaya lain. Seperti pada satudua bagian di mana dengan amat lincah, Remy seperti ‘memamerkan’ imajinasi dan pengetahuannya akan bahasa Belanda, Betawi, Thailand, Jepang, dan Tionghoa-Semarang. Tiap tokohnya mendapat peran yang amat detil dan khas.

Remy Sylado, yang punya nama pseudonim Alif Danya Munsyi dan nama lahir Japi Tambayong, lewat karyanya ini, juga membedah habis-habisan akan sejarah kota Jakarta, lengkap dengan latar lanskap kota ketika itu. Dengan amat konsisten, semua nama jalan ditulis dengan nama lahirnya. Misalkan Molenvliet sebagai nama tua dari Jl. Hayam Wuruk dan Gajah Mada atau Gang Chaulan untuk Jl. Hasyim Ashari. Ejaan-ejaan kalimat dalam koran Betawi Baroe, koran tempo dulu dalam cerita, juga ditulis dengan ejaan lama. Sebuah ketekunan luarbiasa untuk merampungkan novel berkomposisi tigapuluhlima bab ini.

Membaca habis kisah dalam novel ini, kita akan terus menerus merasa belajar tentang banyak hal. Bahkan judul lagu dan penciptanya tak luput dari detil yang disuguhkan Remy sebagai properti cerita. Tak heran, dari awal hingga selesai, pembaca akan bertemu dengan banyak catatan kaki hingga 141 entri. Mirip dengan buku pengetahuan umum, tapi tidak mengganggu keasikkan pembaca dalam menekuni tiap kata darinya.

Akhirkata, novel yang memperlihatkan andil warga Tionghoa dalam proses menjadi Republik Indinesia yang merdeka, harus dibaca dan dirasakan sendiri. Karena ulasan yang mungkin lebih cocok disebut catatan kekaguman ini tidaklah cukup untuk melukiskan betapa galaknya Remy Sylado sebagai salah satu maestro sastra Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s