Merayakan Pusi Jenaka


Langit gelap. Tidak pekat amat. Karena ada warna merah menyembul malu-malu dari balik awan. Pertanda nasib langit belum tegas. Antara hujan atau tidak. Entah. Tapi di suatu tempat di Timur Jakarta, 3 penyair gaek tidak malu-malu berdeklamasi. Menyuarakan puisi.

BUKAN saja menyuarakan puisi, tapi malah membuat perut penonton serasa dikocok tanpa henti. Sambung menyambung, kata-kata bermuatan parodi tersebut membungkam mendungnya langit, dan menghadirkan suasana gerrr dalam ruangan yang tidak besar tersebut.

Kalau ada yang marah dan terganggu dengan kegaduhan, alamatkan saja amarah itu kepada F. Rahardi, Remy Sylado, dan Mustofa W. Hasyim, kalau berani. Sebab merekalah para tersangka yang memprovokasi penonton untuk terbahak-bahak dalam acara ‘Pusi dan Gelak Tawa’ yang diadakan pada 22 Februari 2008 di Teater Utan Kayu.

Namun siapa yang berani menegur para tertuduh tersebut. Karena lewat merekalah, wajah penonton yang kuyu dibuat ngakak sampai meringis. Inilah usaha mereka dalam menertawakan keadaan, menertawakan diri sendiri. Karena marah pun tidak diperlukan dalam bangsa yang carutmarut seperti Indonesia. Dengan kelucuan, justru kekonyolan masyarakat kita bisa dimaknai dengan tersenyum.

Tentunya usaha ketiga sastrawan ini tidak berhenti pada tingkat main-main. Justru mereka mengajak penonton yang hanya segelintir itu untuk berefleksi dalam parodi. Menafsir ulang keadaan negeri kaya ini dengan sederhana lewat puisi. Tidak melulu memikirkan negeri ini dengan dahi berkeriut dan berhadapan dengan buku-buku teks yang tebal dan melelahkan. Dan justru, dengan keluguan tersebut, pesan dalam puisi lebih mudah diterima. Pintu masuk pada penjelajahan ruang nalar juga rasa menjadi lebih ramah dan terbuka.

Di dalam ruangan yang kecil dan nyeni itulah Rahardi yang pertama-tama mengoceh di atas podium kecil, yang hanya diterangi satu lampu sorot di atasnya. Pendingin ruangan yang menyapa kulit dengan bringasnya, saling bersaing dengan Rahardi yang berusaha melucu dengan kekuatan larik-larik sajak. Dimulai dengan puisinya yang berjudul ‘Kamus’, penyair yang dikenal sebagai manusia singkong ini langsung membuat gerrr seisi ruangan.

Bayangkan saja, kata-kata pertama yang muncul justru ‘kontol’. Kontan saja beberapa penonton wanitalah yang memulai tawa, meski malu-malu. Lalu bermunculanlah karya-karya lain seperti ‘Silsilah Kangkung’ dan ‘In Memoriam Tuhan’. Penyair bertubuh mungil ini, yang sudah kenyang makan pengalaman di dunia kata-kata, membaca dengan datar. Nyaris tanpa ekspresi. Kata-katanya sendirilah yang memberi nyawa. Mengusulkan pilihan ekspresi kepada para hadirin. Dan memberi kebebasan untuk tertawa atau tidak. Namun tidak tertawa malah serasa menyangkal kebenaran.

Penyair berikut yang mengudarakan sajak-sajaknya adalah Mustofa W. Hasyim. Mungkin dia, yang mengenakan rompi dan bercelana bahan, sedikit tenggelam di antara dua nama raksasa lain yang menjadi penampil. Walau sedikit sekali informasi mengenai penyair Jogja ini, tapi penonton tak bisa berbohong untuk tetap tertawa menyaksikannya melucu, menyaingi Rahardi. Hanya belakangan, penonton mulai jenuh karena puisinya yang monoton. Belum lagi ditambah dengan artikulasinya yang tidak lancar. Sehingga mengaburkan kata apa yang dilempar dari mulutnya. Dia menutup lucuannya dengan sebuah sajak bau yang sangat panjang berjudul ‘Kentut’.

Kelucuan malam itu mungkin tidak lengkap bila Remy absen ikut melucu. Seniman serbabisa ini benar-benar menjadi klimaks kelucuan malam itu. Dengan gaya khasnya berpakaian serba putih, berikut rambutnya, ia bukan saja membacakan puisi, tapi melakonkan puisi. Ia memberi nyawa pada puisinya dengan gaya treatrikal. Karakter tiap pusi yang dibawakan lain-lain. Seberang-menyebrang nuansa. Ada Jawa Timuran, ada Sunda, Cina juga Batak.

Di mimbarnya, ia memulai puisi dengan nyinden. Lalu berkomat-kamit seperti dalang dalam pementasan wayang. Memancing perhatian penonton dengan penampilan yang berbeda dari dua penampil pendahulunya.

Remy, yang juga pemain teater dan sinetron, memang pas ditaruh sebagai penampil terakhir. Karena lewat penampilannyalah, puisi-puisi mbeling seperti ‘Bupati Tigor’ dan ‘Encek Peng Kun’ menutup malam itu dengan gerrr yang menggelegar hebat. Memadamkan kedinginan malam itu dengan hangatnya puisi jenaka. Hanya ruangan itu yang semakin sepi, semakin dingin, dan suara pendingin ruangan gantian berdeklamasi, berusaha melucu pula. Lalu yang tertawa nihil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s