Panggilan: Bukan Sebatas Wacana


Dewasa ini, sesuatu yang tidak menjadi kebiasaan selalu menjadi momok bagi tiap orang. Sebagian yang dianggap ‘berbeda’ atau tidak biasanya oleh masyarakat kebanyakan dianggap kurang normal atau aneh.

DALAM kamus hidup kebanyakan orang, bekerja di kantor menjadi manajer, punya mobil dan rumah pribadi, hidup berkeluarga, menjalani hidup yang dilakukan kebanyakan orang adalah sesuatu yang selalu dipikirkan dan didamba. Dan dalam kamus hidup itu pula, kehidupan sebagai relawan di daerah-daerah konflik, mengurus pendidikan anak-anak jalanan dengan resiko hidup miskin, menjadi selibat, dan menempuh kehidupan membiara adalah sesuatu yang patut dihindari dan ditakuti.

Dalam kehidupan yang beriman Kristiani, tentunya kata ‘panggilan’ bukanlah sesuatu yang asing buat kita. Setiap dari kita punya kewajiban untuk mau dan mampu menjawab panggilan kita masing-masing sebaik-baiknya. Panggilan hidup tiap individu adalah berbeda-beda. Ada yang terpanggil menjadi ayah yang baik di keluarga, ada pula yang terpanggil menjadi pengurus sebuah organisasi sosial, ada yang menjadi seorang pelaku seni, pelajar yang berprestasi, pejabat di pemerintahan, ataupun seorang dokter di Rumah Sakit. Tapi berapa banyak yang mau menjawab panggilan sebagai biarawan/ti?

Ketika ditanya, apa yang terlintas secara spontan mengenai panggilan, Rachmat Karwan, seorang umat Paroki luar yang sering mengikuti Misa di Kemakmuran mengatakan, kesempatan dari Tuhan untuk melayani sesama. Menurutnya, panggilan bisa kita jawab melalui pelayanan kepada sesama yang belum seiman dengan kita. Bapak dari dua orang anak ini juga mengungkapkan bahwa semasa mudanya tak pernah terpikir untuk menjadi seorang Pastor.

Lain halnya dengan Kurniawan. Salah satu aktivis di Kemakmuran ini, pernah terpikirkan untuk menjadi seorang Pastor. “Tapi gua merasa unsur keduniawian gua terlalu kuat”, begitu lanjutnya. Saat-saat merasa ‘terpanggil’ itu menurut pengakuan karyawan muda yang tinggal di wilayah I ini adalah ketika mengikuti misa panggilan. Tapi seringkali perasaan itu hanya sesaat saja, kemudian timbul, tenggelam, timbul lagi, tenggelam lagi, dan seterusnya.

Yunita, umat Paroki Kampung Duri yang lebih aktif sebagai Mudika di Kemakmuran, pun sama seperti yang dialami Kurniawan. Dia pernah terpikir untuk menjadi seorang suster, melayani Yesus melalui sesama. Perasaan itu pernah hidup ketika ia sudah menjadi Katolik. Tapi sayang, sama seperti orang kebanyakan, perasaan seperti itu hanya sesaat dan hilang dengan cepat.

Di lain sisi, tampaknya hal di atas tak berlaku bagi Abraham, wilayah III dan Yogi Saputra Wanamarta, wilayah II. Pasalnya, baik Abraham maupun Yogi merasa mereka mempunyai keinginan yang kuat untuk menjadi seorang Imam . Bram, panggilan akrab Abraham, ketika diwawancara lewat telepon, mengaku mengalami masa-masa itu waktu remaja. Berawal ketika ia pindah keyakinan dari Kristen Protestan ke Katolik. Kala itu ia prihatin dengan kekayaan spiritual umat Katolik. Banyak umat Katolik yang minim pengetahuan akan Alkitab. Motivasi awalnya itulah yang membuat ia ingin membantu umat yang lain untuk mengerti Tuhan dengan menjadi Pastor. “Yah…waktu itu masih aktif di PA deh!(Putera Altar – red)”, kenang Bram dengan gaya bicaranya yang santai dan ramah. Bram juga mengkisahkan bagaimana ia sempat berangkat ke Seminari Mertoyudan ketika berumur 24 tahun. Sayangnya, proses pembinaan yang ia tempuh di Seminari membuatnya mundur dan pulang. Sapaan dari Tuhan, dan dalam panggilan tidak semuanya terpilih, begitu ia menanggapi sebuah kata ‘panggilan’.

Yogi pun memiliki perasaan yang kuat untuk menjadi Pastor. Di usianya yang masih remaja ini, Yogi merasakan perasaan itu ketika masih duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar. Waktu itu, siswa kelas 2 SMP Regina Pacis ini, suka sekali membaca rubrik tentang orang kudus di majalah HIDUP yang ada di rumahnya. Karena keasikkannya dalam menghayati kisah-kisah orang kudus itulah yang menumbuhkam perasaan terpanggil dalam hidupnya. “Saya kaget ketika dulu ketika Yogi masih SD mengatakan ingin menjadi Pastor”, ujar ibu Yogi, Susanna Solihin. “…saya kira bercanda, tapi karena ia sering mengatakannya, saya percaya”, lanjutnya.

Metropolitan: Kota sejuta tawaran

Memang banyak sekali kisah-kisah yang menyangkut panggilan hidup seseorang. Ada yang menanggapinya biasa saja, ada yang ngotot, ada yang lucu, dan banyak kisah lainnya. Tentunya banyak juga cerita mengenai hambatan-hambatan yang dialami. Bram menerangkan, sedikitnya hambatan-hambatan itu adalah, orangtua melarang, kurang kejelian dari Pastor atau badan lain yang bersinggungan, dan kurang seringnya diadakan momen-momen khusus tentang panggilan seperti retret panggilan, seminar, dan lainnya. Sedangkan Kurniawan mengatakan karena faktor lingkungan juga berpengaruh terhadap sepinya benih panggilan. Di kota asalnya dulu, Lampung, cerita mengenai seorang teman yang ingin menjadi biarawan adalah sesuatu yang tidak pernah ia dengar. Menjadi seorang biarawan/ti sangat tidak populer dan tidak diminati kebanyakan anak muda.

Keadaan kota Jakarta, kota metropolitan, kota penuh beragam tawaran duniawi yang mengenakkan juga menjadi faktor sepinya panggilan dari kota-kota besar. “Di sini (Jakarta – red) tidak terbiasa dengan hal-hal yang berbau agamis”, terang Rachmat. Ya, pilihan untuk hidup mapan, berkeluarga, sudah sangat lekat dengan pola pikir masyarakat hedonisme.

Orangtua yang sebenarnya berperan sebagai pendidik iman awal dari anak-anaknya, kadangkala malah sering mematikan potensi-potensi panggilan yang hidup pada anak-anaknya. Kebanyakan orangtua mempunyai persepsi yang keliru mengenai panggilan. Sebagian dari mereka mengharapkan anaknya menjadi orang sukses dan mampu membahagiakan keluarganya dengan harta. Ada juga orangtua yang takut bila anaknya menjadi Pastor nanti, siapa yang akan mengurusnya di hari tua mereka. Ketika disodorkan pada sebuah pertanyaan tentang izin anaknya untuk menjadi seoramg biarawan/ti, mayoritas dari mereka menjawab ya. Tapi entah bila dihadapkan pada sebuah realita. Hal itu dapat kita tangkap pada jawaban-jawaban yang diberikan Bram dan Rachmat. Mereka mengatakan bahwa mereka memberikan kebebasan sepenuhnya kepada anak-anak mereka. Begitupun dengan pengakuan Susanna, ibunda Yogi. Walau pada awalnya ia sangat terkejut dan takut mendengar ungkapan anaknya untuk menjadi Pastor, pada akhirnya ia pun merasa ia tak akan mampu melawan kehendak Tuhan pada nantinya. Sekarang, setelah bertahun-tahun melihat tekad kuat yang tumbuh dari anaknya dan mendengar masukan dari orang-orang terdekatnya, ia merasa harus berpasarah pada Tuhan dan membiarkan anaknya yang memilih.

Sebagai seorang Imam, Rm. Soesilasoewarna, MSC., merasakan hal-hal yang sudah disebutkan di ataslah yang membuat sepinya panggilan dari kota-kota besar. Dia pun dulu mengkisahkan bagaimana pergulatannya untuk menjadi Imam. Dia sempat mengalami ‘naik turun’. Tapi semua hal itu tak pernah membuatnya ragu-ragu besar. Imam senior ini juga memberi tips-tips untuk menjaga perasaan itu, yaitu perlunya aktivitas doa dan jangan kebanyakan menganggur. “Harus asyik dengan hidupnya!”, begitu lanjutnya semangat.

Romo Soes, sebagai Pastor Paroki, menerangkan bahwa Paroki belum mempunyai program secara serius mengenai ‘panggilan hidup’ di Paroki. Ini adalah bagian daripada program pembinaan umat, serunya lugas. Terakhir ia berkesimpulan bahwa, sedikitnya benih panggilan di Paroki, berarti menunjukkan kehidupan beriman umat Paroki. “Kalau belum ada bukti benih panggilan, berarti perlu dipertanyakan iman umat”, ujarnya serius.

Ternyata, realita yang ada di Paroki menunjukkan betapa sepinya benih panggilan yang ada. Minimnya panggilan menunjukkan kepedulian iman umat terhadap Gereja. Mungkin diperlukan penanganan yang lebih terfokus dari badan-badan yang bersinggunagan.

Ya, proses ini butuh waktu. Butuh pemahaman dan penyeragaman persepsi umat Katolik yang lebih mendalam mengenai hal ini. Karena, kebanyakan dari kita hanya berhenti pada keraguan saja. Kita takut berpikir, takut menghadapi pertanyaan-pertanyaan diri yang pada akhirnya jawaban yang lebih sering didapatinya adalah kesakitan dan kekecewaan.

Dimuat di JENDELA Kemakmuran vol. 3, edisi 05/06

2 pemikiran pada “Panggilan: Bukan Sebatas Wacana

  1. Dengan adanya ketidaktahuan akan ragam pilihan hidup sebagai seorang umat Katolik, sangat mungkin mindset kita sebagai generasi mudanya terpaku pada pilihan hidup berkeluarga. Bahkan mungkin kita hanya tahu : selibat jadi imam atau menikah. Kalau gak salah, ada 4 macam panggilan hidup yang dikenal dalam iman Katolik.. Nice post, by the way.. Selamat Paskah! :’)

    Suka

  2. ada kesan bahwa tipisnya peminat pastor/suster adalah tragedi.IMHO, ini erat dengan model gereja gembala vs domba.Jika modelnya adalah mitra : satu tubuh banyak anggota dan sama2 penting – maka kenyataan ini diterima saja sebagai suatu hal yang lumrah Tapi karena ekaristi perlu romo ya gereja katolik jadi repot sendiri.Salam

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s