Uang Untuk Hidup, Namun Hidup Bukan Untuk Uang


BANYAK hal menggiurkan di dunia ini. Kita dihadapkan pada begitu banyak tawaran yang amat menjanjikan. Namun, kebanyakan dari tawaran tersebut tak jarang membuat kita tersesat dan membuat kita merasa bodoh.

Salah satu hal sesat itu adalah tawaran mendapatkan uang secara cepat dan mudah. Budaya instan sudah menjangkit pikiran manusia modern abad ini. Tanpa mau bersusah payah, tapi mengharapkan hasil yang besar. Kebahagiaan itu dibeli dengan keringat!

Belakangan ini, saya pun diserang penyakit serupa di atas: instan! Saya disetir oleh keinginan sesaat yang sesat, yakni bisnis via internet. Mulai dari iklan berbayar yang dipasang di blog, sampai ketololan untuk mendapatkan uang dengan cara mengklik iklan. Yang pertama mungkin cukup oke untuk memotivasi saya untuk terus menerus menulis, demi mencapai lalulintas yang sibuk pada blog saya, dan tentunya menghasilkan pemasang iklan. Tapi saya kira tidak pada yang kedua.

Ada-ada saja cara para manusia instan mencari uang. Hanya dengan mengklik iklan, minimal 2 jam sehari, kita akan mendapat uang sekitar 600 ribu per bulan. Atau dengan mengisi survei, setiap darinya kita diganjar dengan sejumlah uang. Atau melakukan usaha pertemanan mirip Friendster, bedanya ini pertemanan yang tidak tulus, itupun diganjar sejumlah uang. Intinya, ada usaha yang dilakukan hanya berujung pada uang. Pada egoisitas pribadi. Sehingga menihilkan kesempatan untuk mengembangkan diri, menggunakan talenta dengan akal dan hati.

Sering kali, dunia kita dipenuhi dengan manusia-manusia pekerja. Mereka bekerja gila-gilaan demi mempertahankan hidup. Dan uang menjadi ‘tuhan’ demi melangsungkan harapan. Tak heran bila paradigma orang muda (juga orangtua) yang mengatakan bersekolah untuk mencari kerja, belajar demi mendapat uang. Padahal bukan begitu. Sekolah adalah tempat untuk belajar bersosialisasi, belajar mengembangkan diri, belajar ilmu pengetahuan, dan melatih nalar demi persiapan menghadapi realita dunia yang tidak selalu bersahabat. Intinya dengan ketekunan kita dalam belajar, dengan sendirinya kita diimbali dengan tawaran pekerjaan yang baik. Hal ini kemudian berlanjut pada pendapatan uang yang baik pula, kualitas hidup yang nyaman pula, keluarga yang harmonis pula, dan seterusnya, dan seterusnya.

Bila paradigma manusia sekarang berhenti hanya pada usaha mempertahankan hidup (dengan hanya mencari uang), berarti apa bedanya dengan hewan yang melakukan hal serupa? Hewan pun juga bertekun dengan pekerjaannya. Tapi apa yang ada di kepala mereka adalah hanya untuk bertahan hidup. Segala apa yang mereka lakukan dengan giat adalah usaha agar tidak punah. Kita, manusia, bekerja bukan untuk bertahan hidup, tapi untuk mengembangkan diri sendiri, orang lain, dan dunia untuk mencari bentuk kehidupan yang jauh lebih baik.

Jutaan semut, layaknya pebisnis, juga tekun bekerja mengangkat makanan ke sarang mereka tiap hari. Soal pengetahuan, seekor anjing juga tahu mana makanan yang bisa mereka makan, dan mana yang tidak. Intinya, binatang hanya belajar hal-hal yang menyangkut kelangsungan hidupnya. (Filsafat Ilmu, Jujun Suriasumantri)

Lebih lanjut, menurut Jujun, manusia mengembangkan pengetahuannya mengatasi kebutuhan kelangsungan hidup ini. Manusia memikirkan hal-hal baru, menjelajah ufuk baru, karena dia hidup bukan sekedar untuk kelangsungan hidup, namun lebih dari itu. Manusia mengembangkan kebudayaan, manusia memberi makna pada kehidupan, manusia memanusiakan diri dalam hidupnya, semuanya itu ingin menunjukkan bahwa pada hakikatnya manusia mempunyai tujuan hidup yang lebih tinggi dari sekedar mempertahankan kelangsungan hidupnya. Dan itulah yang membuat manusia menjadi khas.

Kembali ke usaha mencari uang via internet. Ada seseorang teman yang mengatakan bahwa dengan berbisnis ini, kita menjadi berkarya. Baik dengan membagi ilmu seputar bisnis, dan bersama-sama menjadi sukses dalam bisnis. Intinya, ia menolak pikiran saya mengenai motivasi hidup yang saya anggap keliru ini. Memang, dengan membagi informasi itu juga berkarya. Tapi kembali ke analogi hewan tadi. Bukankah ini hanya sekedar usaha bertahan hidup? Tidak lebih. Karena tidak ada yang berkembang karena itu selain pertambahan uang. Pribadi tetap miskin. Karakter tetap tak terlatih.

Bersandar dari pemikiran macam inilah, saya hentikan semua usaha tolol saya dalam mencari uang secara instan yang dengan sendirinya menafikan diri dari hakikat sebagai manusia. Saya rasa (juga pikir) uang bukanlah tujuan. Tetap hidup bukanlah tujuan. Namun dengan bertekun dengan karya kita, terhadap pekerjaan kita, dengan memaknai hidup dengan sungguh, dan berusaha mengembangkan diri dan dunia, kita layak mendapat bonus berupa uang dan kehidupan yang nyaman.

“Yah..saatnya kembali pada latihan gitar dan saksofon, mengajar, dan menulis…”, gumamku seseorang di dalamku yang bukan aku.

3 pemikiran pada “Uang Untuk Hidup, Namun Hidup Bukan Untuk Uang

  1. tulisan yang sangat menarik. tapi rasanya akan sangat sulit untuk terjadi di indonesia. menurut teori kebutuhan maslow, kebutuhan terendah manusia adalah kebutuhan phisiologis. kebutuhan ini saja masih sangat sulit untuk dipenuhi di indonesia. ini membuat orang tidak sempat memikirkan kebutuhan yang lebih tinggi hirarkinya seperti pengembangan diri dll. maka dari itu, orientasi orang akan tetap pada uang.

    Suka

  2. Ketekunan yang ikhlas merubah seorang gembel menjadi malaikat. Integritas yang riya menjadikan hewan lebih tinggi daripadanya.Ketekunan yang ikhlas itu akan memberikan imbas kebaikan yang memajukan orang lain diatas sekedar meneriakkan talenta yang dianggap tinggi dan tertutup akan gapaian tangan saudaranya yang sesak nafasnya meminta pertolongan.Terimakasih atas tulisannya meskipun seorang tak bisa merubah pikiran orang lain telebih dunia namun setidaknya anda mengajarkan bagaimana menghadapi hidup.You might be interest.

    Suka

  3. Gue seneng lu ud ga “ngorbanin idealisme untuk membayar idealisme” kayak yg dulu gue pernah bilang miris, tapi gue ga mo komen lebih lanjut hehehehe,abis kan gue ga enak ati.Bahan pemikiran buat gue juga tapinya tuh, tapi gue juga ga kerja “gila2an” kok, iya kaaaan? (minta persetujuan mode: ON) (^__^)Tetep semangat Roy.I still believe that there is no free lunch nowadays, except we ourselves who provide it.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s