Pastor Kemalingan, Karyawan Paroki Dipukul Polisi


Naas buat Felisitas Nanang Budi Prasetyo (34). Kalau saja Ia tak gugup saat diinterogasi polisi, mungkin ceritanya akan lain. Niat untuk menjalankan tugasnya sebagai petugas keamanan, malah membawanya pada masalah yang disepelekan pejabat gereja.

PADA tanggal 20 April 2008, terjadi pencurian di Paroki Bunda Hati Kudus (PBHK) – Kemakmuran. Yang dicuri adalah barang milik Pastor Theo, MSC. Pastor Theo memberi keterangan bahwa kejadiannya berlangsung ketika Ia sedang memimpin Misa pukul 8.30 pagi. Sang pencuri menyelinap lewat jendela kamarnya dan mengambil 2 buah kamera merek Olympus dan uang tunai sekitar 15 juta rupiah.

Siangnya, Wakil Dewan PBHK, Bernardus J. Achadiat (Kiki) membawa polisi dari Polsek Jatibaru untuk melakukan olah TKP (Tempat Kejadian Perkara). Setelah mengambil sidik jari, polisi juga memerintahkan anjing pelacak untuk membaui. Sampai di halaman gereja, anjing kehilangan jejak.

Dua petugas keamanan, Hasan dan Nanang dimintai keterangan oleh Polisi. Namun sial, karena sikap Nanang yang gugup saat memberi jawaban, membuat polisi curiga dan membawanya ke Polsek Jatibaru. Dari pihak Dewan Paroki tidak ada yang menemaninya, padahal statusnya ketika itu sedang bertugas, berarti di bawah tanggungjawab atasannya.

Sesampainya di Polsek, Nanang dibawa ke ruangan gelap untuk kemudian dipukuli dan dipaksa mengaku bahwa ia mencuri. “Polisinya 3 orang. Perutku dipukul 2 kali, dicekik, sama ditampar beberapa kali”, tutur Nanang. Hingga malam, tak ada dari pihak Dewan Paroki yang menjemputnya. Hingga akhirnya istri dan adik iparnyalah yang menjemput. “Sehabis saya dipukul, lampu dinyalakan, lalu saya melihat Pak Kiki dan Romo Theo melintas sekilas di luar ruangan”, kenang Nanang kala itu.

Besoknya, Senin (21/5) semua karyawan laki-laki dipanggil satu per satu untuk menghadap Kiki. Di ruangan dewan tersebut, para karyawan dipaksa untuk mengaku bahwa merekalah yang mencuri. Dengan gaya intimidatif, Kiki memberikan nomor telponnya kepada tiap karyawan, kalau-kalau ada yang mau mengaku nantinya. “Gak enak ‘kan dipukul polisi? Makanya ngaku aja”, seru Nanang menirukan Kiki.

Di tempat terpisah, Pastor Paroki, Rm. Soesilasoewarna, MSC. menuturkan kalau Ia tidak sedang berada di Paroki kala kejadian. Sepulangnya, hanya ada laporan lisan dari Pastor Theo. “Tak ada yang sifatnya resmi-resmi tuh”, terang Pastor senior ini. “Itu bukan perbuatan dewan, karena tidak melakukan koordinasi dengan saya. Itu jelas perbuatan Kiki sebagai individu”, elaknya ketika ditanya apakah dewan bertanggungjawab terhadap pemukulan Nanang.

Sampai berita ini diturunkan, nasib Nanang belum jelas.”Aku ngga tau mengenai kasus tersebut, terus apa ngga. Soalnya sampai sekarang kasus tersebut masih mengambang”, isi pesan singkat Nanang ketika ditanyai perkembangan kasus ini.

Ya, Nanang dibuat mengambang. Ia tidak sendiri, tapi bersama orang-orang lain yang bekerja di Paroki, biara, ataupun lembaga Katolik lainnya. Yang nasibnya sudah biasa diombang-ambingkan. Dibuat tak menentu. “Ya, tergantung siapa bosnya tiap periode”, ujar Nanang santai.

Satu pemikiran pada “Pastor Kemalingan, Karyawan Paroki Dipukul Polisi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s