Menggauli Orkes


Dalam sepakbola, mungkin hanya Real Madrid, sebuah kesebelasan yang paling terobsesi untuk menyatukan pemain-pemain sepakbola terbaik dunia dalam satu klub.

SENADA dengan itu, rasa-rasanya Nusantara Symphony Orchestra (NSO) sebagai sebuah orkes musik klasik, memiliki obsesi yang sama bernafsunya dengan Real Madrid. Bedanya, NSO tampaknya sudah menunaikan obsesinya tersebut. Ya, musisi-musisi terbaik di tanah air berguyub di sana.

Setidaknya hal itu yang bisa terlihat dari pertunjukkan NSO pada 24 Mei 2008 lalu. Bertempat di Balai Sarbini, Semanggi, dan dengan mengenakan tajuk konser ‘Heart and Passion’, puluhan musisi di dalamnya menyuguhkan sebuah pertunjukkan musik yang jarang dipentaskan di Indonesia, pertunjukkan orkestra. Dan tentu saja, berbekal kemampuan tiap individu yang sudah matang, NSO berhasil memperdengarkan sajian musik yang bermutu malam itu. Dengan begitu, pantaslah kalau NSO mendeklarasikan diri sebagai salah satu kelompok orkes terbaik yang dimiliki negeri ini.

Meluncurlah sebuah karya simfoni sebagai hidangan pembuka. Tak tanggung-tanggung, karya Ludwig van Beetoven (1770 – 1827) yang amat populer dibawakan sebagai ‘pemanasan’. Symphony No. 5 nama karya itu. Di bawah arahan konduktor berkebangsaan Jepang, Hikotaro Yazaki, tanpa basa-basi lagu tersebut langsung memukau penonton.

Karya yang terdiri dari 4 bagian ini – Allegro con brio, Andante con moto, Scherzo, Allegro-Presto – dibuka dengan lugas dengan temanya yang hanya terdiri dari motif empat not. Empat not yang pendek-pendek-pendek-panjang inilah yang kemudian menjadi ide dasar karya yang ditulis antara tahun 1804 – 08 ini. Beethoven sangat tahu mengolah ide musikalnya menjadi begitu besar (banyak) dengan bahan yang sedikit saja. Karena hanya dari tema utama empat not itulah – yang berfungsi sebagai melodi juga sebagai pola ritmik – karya ini dikembangkan.

Karya yang bertonalitas C minor ini, mempunyai banyak pilihan interpretasi. Ada yang mengolahnya menjadi karya yang mengalun berat. Ada juga yang menjadikannya sedikit ringan. Penampilan NSO malam itu, dalam komando Yazaki, sang konduktor, tampaknya memilih tafsir yang kedua. Maka sejak awal penonton serasa diajak melayang bersama padu-padan bunyi orkes lewat alunan yang lembut ringan itu, tanpa mengurangi porsi karakter Bethoven yang emosional.

Lewat nuansa karya ini, kita bisa mengenal perangai Beethoven. Karya ini tidak memperlihatkan sisi lembut Beethoven, namun justru mewakilkan sisi ekstrovert dan emosionalnya. Pilihan tonalitas C minor pastinya bukan tanpa maksud, tapi untuk mengentalkan karakter Beethoven itu. Dan NSO, cukup tahu bagaimana menghidupkan ruh komponis Jerman ini kembali. Dinamika yang dibangun sedemikian mulus dan menyita kesempatan penonton untuk sejenak menghela napas panjang.

Kesempurnaan itu sebenarnya bisa semakin lengkap bila suara instrumen tiup logam (brass) – khususnya french horn – dapat melebur lebih padu. Pasalnya, sesi tiup tersebut serasa memiliki jarak warna suara yang jauh antara instrumen lainnya, dan ini menganggu keutuhan jalinan suara orkes yang padu. Hal ini amat terdengar jelas pada bridge pendek sebelum masuk tema kedua.

Seusai jeda, karya opera yang sangat terkenal dijajal musisi-musisi NSO untuk diolah dan disajikan ke hadapan penonton. Opera yang ditulis Georges Bizet (1838 – 1875) ini diberi judul Carmen Suite. Bizet yang orang Prancis, ketika mudanya pernah hidup di Italia, negara di mana opera berkembang, selama beberapa tahun. Kemudian, opera yang berdasar pada sebuah novel milik Prosper Merimee dengan judul yang sama ini, ia selesaikan pada tahun 1874 karena permintaan direktur musik tempatnya bekerja.

Opera yang berlatar di Spanyol ini, mengkisahkan tentang seorang perempuan gipsi cantik bernama Carmen. Perempuan temperamental ini terlibat kisah asmara dengan Don Jose, seorang kopral tentara, yang sebenarnya sudah bertunangan dengan Micaela. Lalu munculah satu tokoh lagi yang memperebutkan Carmen, Escamillo. Kisah ini berakhir tragis karena Carmen akhirnya mati dibunuh oleh Don Jose.

Setelah dibuka dengan pembukaan yang bersemangat, dimulailah adegan pertama yang menampilkan Carmen. Tokoh Carmen ini dibawakan oleh mezzo-soprano, Sarah Sweeting dari Inggris. Dengan centilnya, Sarah amat fasih membawakan karakter Carmen yang menggairahkan, urakan, tapi mempesona laki-laki. Suaranya yang bertenaga menegaskan bahwa Carmen yang buruh memang tidak terbiasa dengan aturan kesopanan. Usaha Sarah untuk melakoni Carmen sangat lengkap. Ia mencoba untuk mengeksplorasi warna suaranya untuk memberi pemahaman emosi musikalis. Gestur tubuh dan raut mukanya pun turut berbicara banyak.

Sayang, penampilan yang ekspresif dan sedikit teatrikal dari Sarah tidak diimbangi dengan lawan mainnya Ndaru Darsono (tenor sebagai Don Jose), Aning Katamsi (soprano sebagai Micaela), dan Harland P. Hutabarat (baritone sebagai Escamillo). Ketiganya tampak dingin dan enggan meladeni Sarah. Tapi di sisi lain, ketiganya membuktikan, lewat suara, bahwa merekalah penyanyi terbaik di tanah air. Vokal bening Aning, walau tidak sekuat Sarah sangat santun didengungkan. Harland dan Ndaru pun berseloroh tak ketinggalan untuk meramaikan dialog demi dialog.

Yazaki yang ekspresif sepertinya juga amat tahu untuk selalu tampil beda. Ini terlihat kita sesi tiup mengambil posisi di balkon, menjauhi panggung. Mereka memainkan tema pada bagian pembukaan berulang kali dan membuat penonton tertawan untuk tetap tekun mendengar bahasa bunyi yang disampaikan. Tapi sayang, akustik Balai Sarbini yang tidak sempurna, membuat sesi ini kurang greget. Namun hal ini tidaklah mengurangi apresiasi penonton dengan tetap memberikan tepuk tangan panjang. Andai apresiasi yang sama juga hadir lewat pencantuman nama-nama musisi di buku acara, bukan hanya deretan nama-nama petinggi dan sponsor.

Di atas panggung yang dibuat tanpa dandanan itu, yang tidak melayani kebutuhan visual, Yazaki dan bala tentaranya masih membuktikan, bahwa kesenian bukanlah sebuah produk jadi. Melainkan sebuah proses yang harus terus menerus dimaknai dan dilagukan dalam keseharian. Lewat kelompok orkes sekelas NSO, kita diingatkan bahwa kesenian, khususnya musik klasik, membutuhkan apresiasi agar konteks seni dan realita yang sering didebat dapat berbenturan dan menemukan jawabnya. Semoga.

Satu pemikiran pada “Menggauli Orkes

  1. Memang berbeda kalau pemusik yang mengulas tentang konser musik, lebih menarik tentu saja🙂. Salam kenal juga ya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s