Masih ‘Maha’-kah Mahasiswa?


Saya ingat sepuluh tahu lalu ketika masih kencur. Ketika masih berseragam merah putih dan ketakutan melihat keramaian. Saya tidak tahu menahu. Hanya sebuah kata yang jadi akrab di kuping setelah itu: reformasi. Kata koran-koran, kakak-kakak mahasiswalah yang melahirkannya.

BAYANGAN saya ketika itu, sungguh seru punya titel mahasiswa. Kalau ditanya orang dari mana, tinggal jawab, dari kampus. Kalau di bis uang untuk ongkos kurang, tinggal bilang, mahasiswa, Bang. Kalau diledek karena cuma bisa makan nasi plus mie instan, bisa jawab jahil, namanya juga mahasiswa.

Buat saya yang masih kencur ketika itu, menjadi mahasiswa identik dengan kebebasan. Merdeka. Tidak harus pakai baju seragam. Tidak harus ikut upacara tiap senin. Rambut boleh gondrong. Merokok pun tak ada yang jewer. Pokoknya hanya diri sendiri yang berhak menentukan sikap.

Perlahan saya mengagumi dan memimpikan untuk menjadi mahasiswa. Saat itu, saya sudah dianggap dewasa oleh orang-orang. Saat itu, orang tidak boleh mengomeli saya sembarangan lagi. Saat itu, saya bangga memakai status baru, dari siswa menjadi mahasiswa. Ternyata bukan Tuhan saja yang bisa maha, manusia juga.

Sekarang, ketika sudah memakai predikat mahasiswa, saya jadi bertanya kembali, masih ‘maha’-kah mahasiswa? Mahasiswakah saya? Apakah ‘maha’ – yang berarti sangat, ter-, paling, tak dapat dijangkau – masih pantas disematkan pada pemuda-pemudi 20-an tahun yang akrab dengan frasa penelitian, tokoh intelektual, demo, tapi juga dugem, tawuran, dan narkoba ini?

Cukup Maha-kah?

Sebelum aksi-aksi demo beberapa waktu belakangan ini, saya berpikir dengan skeptis terhadap mahasiswa. Saya berpikir, udara reformasi yang sudah berusia 10 tahun ini hanya dimaknai mahasiswa dengan anteng saja. Saya takut melihat mahasiswa sudah merasa mapan pada alam baru di era Indonesia pasca Orde Baru ini. Mahasiswa hanya menggumuli harinya dengan pesta, games, otomotif, asmara, cari duit, main-main, hingga tenggelam dalam belajar dan buta akan keadaan sosial.

Pikir saya, mahasiswa sebagai angkatan muda penerus bangsa hanyalah pion-pion yang dijalankan sistem yang sudah dirancang penyelenggara negara dan pemilik modal. Mahasiswa tak lebih dari tukang-tukang yang tengah mendapatkan pelatihan demi persiapan menghadapi dunia kerja sistematis yang mapan dan membosankan. Mahasiswa bak kumpulan anak penyu yang tengah ditangkarkan untuk siap dibebaskan di pantai lepas yang ganas. Mahasiswa hanya dicetak untuk siap bertahan hidup, bukan mengolah hidup, terlebih menentukan hidup. Tidak juga menentukan hidup sendiri, apalagi kehidupan bangsanya.

Namun, pikiran skeptis di atas menjadi keliru ketika menyaksikan mahasiswa bergiat dalam forum-forum diskusi yang membahas masalah bangsa dan mulai turun-turun ke jalan secara intuitif (saya yakin ini desakan hati nurani). Mahasiswa tidak lagi berbisik-bisik untuk menyuarakan penderitaan rakyat, tapi berteriak lantang.

Tapi ke-maha-an mahasiswa menjadi cacat ketika mereka bersuara demi diri sendiri, demi kepentingan kelompok, demi segelintir elit politik yang menyetir. Gelar itu menjadi cacat ketika mahasiswa bertindak demi melayani emosi tak terkendali mereka, memuaskan naluri hewaniah manusia yang buas.

Peran Mahasiswa

“Hanya angkatan muda yang bisa menjawab”, begitu orasi Pramoedya Ananta Toer ketika ditanya bagaimana membuat bangsa Indonesia menjadi lebih baik. Almarhum Pram amat menyadari bahwa angkatan muda punya peran yang sangat sentral terhadap kehidupan suatu bangsa. Angkatan muda punya potensi untuk membenahi benang kusut bangsa, bukan malah membuatnya bertambah kusut.

Beberapa waktu belakangan ini, banyak teman-teman mahasiswa yang ‘terpanggil’ untuk turun ke jalan demi memperlihatkan sikap penolakan akan kenaikan harga BBM. Mereka yang dengan niat luhur, menunaikan kegiatan ini seperti ibadah. Maka tak heran mereka rela mengorbankan waktunya demi menyuarakan kesakitan rakyat kecil.

Pada tahap ini, tindakan mahasiswa sudah tepat. Mahasiswa hadir untuk merefleksikan keadaan rakyat yang semakin sulit dan terjepit. Mahasiwa dengan kemerdekaannya berani menyuarakan apa yang selama ini dibuat bisu. Memang itulah peran mahasiswa, untuk menjadi pengingat, untuk menjadi gerakan korektif terhadap pemerintah yang mulai main mata dengan ratu bohong.

Tapi ketika aksi mahasiswa hanya menambah kusut situasi, sudah selayaknya mahasiswa memeriksa diri, apakah kendali mereka terhadap oknum-oknum cukup kuat? Banyak oknum mahasiswa yang menjadikan momen ini sebagai ajang untuk bebas dari rutinitas kuliah, ajang untuk melampiaskan emosi, ajang untuk unjuk diri, ajang untuk menunjukkan, gue mahasiswa loh!

Sudahkah mahasiswa melengkapi kelompok dengan perhitungan matang ketika melakukan aksi demo sehingga tidak perlu melakukan kekerasan, merusak fasilitas umum, atau membuat kemacetan yang malah merugikan masyarakat luas karena menghambat laju ekonomi rakyat yang tengah mereka perjuangkan? Apakah mahasiswa berani untuk menyebut bahwa mereka memang diduduki, tapi yang menduduki adalah rakyat, bukan elit politik?

Mahasiswa harus tetap berada di jalan selama pemerintah masih mengalpakan rakyat kecil. Mahasiswa harus terus menekan pemerintah dengan menggalang gelombang kekuatan yang lebih besar dan fokus terhadap tuntutan. Mahasiwa yang menginginkan demokratisasi harus juga berlaku demokratis di tubuh mereka dengan menerima kenyataan bahwa mahasiswa yang tidak ikut demo punya alasan sendiri, bisa karena memang tak peduli, atau melakukan sesuatu dengan cara lain, atau karena terbentur struktural kampus yang tidak akomodatif.

Maka, bersatulah mahasiswa se-Indonesia! Perlakukan ‘maha’ dengan sebaik-baiknya! Yang perlu kita ingat, kita sekarang hidup di atas darah mereka yang mendirikan reformasi. Jangan kecewakan darah mereka!


*Judul diinspirasikan dari perkataan seorang teman, Gabriel Jefri.

*Dua kalimat terakhir milik Berto Tukan.

Foto diambil dari Flickr.com

3 pemikiran pada “Masih ‘Maha’-kah Mahasiswa?

  1. menilik realitas hari ini, banyak mahasiswa yang terjebak dalam nuansa romanka historis demonstrasi tempoe doeloe. Padahal mahasiswa harusnya kan punya sensitifitas terhadap perkembangan zaman. Mesti kontekstual.Mudah2n.salam

    Suka

  2. kalo gw persiden Indonesia, gw akan cabut sementara gelar “mahasiswa”. nama mahasiswa lebih baik diganti menjadi siswa sekolah tinggi……

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s