Surat Bulan Juni


: Gabriel Jefri

Setelah Emakmu, mungkin akulah orang yang paling tahu kamu – setidaknya aku tahu dosa-dosamu.

AKU melewati rentang masa dari beberapa julukanmu: Gantung, Kakek, Encek, dan Japra. Bukan saja melewati rangkaian julukan itu, tapi setidaknya aku turut mempopulerkan sebagian julukan tersebut karena ikut memakainya. Dan karena itu, makanya aku berani bilang kalau aku sangat tahu kamu, terutama dosa-dosamu – itu pun kalau dosa memang benar-benar ada, bukan karangan para agamawan tengik.

Bukan saja julukan yang kulewati, tapi juga kendaraan yang membopong tubuhmu yang tak bakat gemuk. Dari mobil antar jemput Pak Dadang, numpang mobil Sally, mikrolet 08, Vespa birumu, Yamaha Cham, sampai Yamaha Vixion. Semuanya kukenal dengan amat baik. Bukan hanya kenal, tapi aku turut ‘menggagahi’ sebagian dari mereka.

Tahun 1995 – kurasa – lelaki ceking sepertimu mulai kukenal. Kelas 4 SD ketika itu. Dalam daftar absensi kamu dipanggil Jefri B, untuk membedakannya dengan Jefri lainnya. Waktu itu, kita sama-sama masih sulit mengeja kata de-mo-kra-si, marx-is-me, ka-pi-ta-lis-me, atau pun ge-ron-to-kra-si. Tapi lucunya – mungkin lebih tepat anehnya – kita sama-sama lancar melafal nama-nama binatang atau bahasa lain untuk kata reproduksi biologis kalau sedang jengkel – ya, mungkin biar dicap sebagai jagoan cilik.

Aku pikir – mungkin kamu juga pikir ini – rasa-rasanya dulu kita tidak pernah sebangku ketika SD juga SMP. Tak ada keintiman antara kita. Kita hanya saling tahu. Saling kenal. Main bersama. Tak lebih dari itu. Memang, kita pernah beberapa kali sebagai remaja sok gaul ketika itu pergi bareng ke plasa atau tempat-tempat gaul lainnya. Kita juga terlibat dalam pertandingan-pertandingan sepak bola melawan sekolah lain – yang selalu berakhir dengan berkelahi – walau kamu lebih banyak dicadangkan. Tapi tak ada kedalaman di sana, kurasa kamu pun mengakuinya. Jarang kita terlibat dalam dialog emosional atau adegan spiritual yang serius. Karena itu, aku amat heran, mengapa kamu menjadi satu-satunya sahabatku yang paling awet. Aku berani bersumpah, bahwa ketika dulu aku tak pernah memasukkanmu ke dalam daftar teman yang hendak kuajak pergi. Namamu pun tidak ada dalam kertas kumel yang kucoreti nama teman-teman yang kususun dalam tim kesebelasan impian di sekolah. Terlebih – ya, kau boleh tersenyum lega karena aku mengakuinya sekarang – kau tidak pernah kutebak untuk menjadi sahabat dalam hidupku.

Kalau sekarang, di garis akhir masa remaja, kita tetap berkawan, kurasa bukan karena mauku, juga maumu, terlebih maunya Tuhan. Ini hanya sebuah kebetulan, bukan kesengajaan. Ya, ke-be-tu-lan. Perlu kueja sekali lagi? KE-BE-TU-LAN!

Justru karena kebetulan ini, yang tidak diskenariokan sebelumnya, masing-masing kita merasa bebas. Tak perlu merasa terikat atau terbebani. Tapi kita merasa mengikat dan membebani satu sama lain. Maksudnya, kita sama-sama tidak merasa harus patuh terhadap ‘aturan’ antara kita. Tapi kita sama-sama merasa perlu mengikatkan, mengaitkan kehidupan kita. Kita sama-sama tak merasa terbebani yang membuat saling tak enakan, tapi justru saling membebani dan merasa tidak berdosa melakukan itu – walau kuakui itu membuatku menderita, terutama ketika aku dibebani hutang olehmu.

Jef – izinkan kupanggil sesopan ini di hari ini saja, hanya di hari ini – kau ingat apa yang kusesali ketika kita sama-sama menyaksikan seorang tukang bajaj yang dipukul pengendara motor di Gambir, sepulang kita membeli barang keperluan kemping di Senen? Kau tahu apa yang kuucap dalam hati ketika kutahu cerpenku tidak menang dalam sebuah lomba? Kau berpikir apa ketika aku mati-matian melawan ketidakadilan di Paroki? Kau sadar apa yang kutentang dalam agama dan konsep tuhan mereka? Kau paham apa yang kusuarakan dalam tulisan-tulisanku. Tanpa kau jawab aku tahu jawabanmu: ya.

Aku berani bilang begitu karena kau ada di masa-masa itu. Masa di mana kita saling menanam harap, mengurai kebenaran, mengumbar air mata, merayakan masa muda, atau melawan hidup. Kita sama-sama ada dan bersemangat pada situasi macam itu. Dan kita sama-sama percaya, kita dibesarkan di dalamnya.

Kini, ketika kita tidak lagi anak kelas 4 SD, ketika tidak lagi gemar menyeruput es teh manis Si Kumis, ketika kita sudah sama-sama gelisah pada kehidupan dewasa yang baru ini, ketika kehidupan berjalan lebih cepat dari apa yang kita tahu, percayalah pada diri sendiri. Kalau belum yakin benar, tengoklah bahuku, di sana masih tersedia kekuatan untuk sekedar memberimu sandaran.

Sandaranku jelas tak akan mampu mengubah suara sengaumu menjadi sedikit berwibawa, bodi kripikmu sedikit lebih berisi, dompet kempesmu sedikit lebih tambun, atau muka culunmu menjadi sedikit lebih gahar – dan karenanya aku suka sembunyi untuk menertawakannya. Yang kuyakin satu hal, jelas sandaranku mampu mengubah air matamu menjadi sebuah narasi yang layak kita rayakan dalam fragmen-fragmen kehidupan.

Jef, kalau aku menyelipkan sedikit rasa kagum pada dirimu, itu tidaklah berlebihan. Pasalnya kau memiliki syarat yang pantas untuk dikagumi. Selain katrok, tentunya kau mampu beropini, bersikap. Kalau Pram dalam novelnya berkata, ia menyayangi seseorang karena menulis, sedang aku menyangi dirimu karena punya sikap. Kau tidak gentar ketika memilih – atau terpanggil? – untuk menjadi idealis. Ketika kita lebih sering habiskan sepotong malam dengan rangkaian diskusi super rumit dibanding dugem atau main di warnet.

Aku mengagumi dirimu. Bukan saja karena kerendahan dan kebesaran hatimu – aku ingat kamu berani datang kepadaku untuk menanyakan kenapa aku tak menyapamu lagi – tapi juga ketahananmu terhadap kehidupan. Berjuang, adalah nama tengahmu – walau itu tidak terbukti ketika kau sakit perut. Berjuang untuk tetap ada di dalam garis yang kita sepakati: tidak tunduk pada nasib!

Hari ini, 25 Juni 2008, kau mencoba mengulang sejarah – tentunya sejarah hidupmu. Kalau di hari ini, di usia barumu di duapuluhdua, kamu masih mendapat rangkaian aksara dariku, bergegaslah membangun hidup. Karena aku berharap di dua, tiga, empat, bahkan lima kali lipat usiamu yang sekarang, suratku ini masih bisa terbaca olehmu.

Selamat ulangtahun, selamat merayakan angka-angka…

Satu pemikiran pada “Surat Bulan Juni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s