Negeri Boneka-nya Teater Kula


Apakah cinta masih diperlukan di sebuah negeri yang karutmarut?

PERTANYAAN di atas rupanya menggerayang di benak sekelompok muda yang berguyub dalam kelompok teater. Mereka sadar akan kekarutan negeri, dan karenanya merenung. Muara dari perenungan itu, mereka wujudkan dalam kesenian yang bersandarkan gerak, suara, dan teks. Biasa dinamakan teater.

Judul lakonnya Negeri Boneka. Di Sanggar Baru, Taman Ismail Marzuki, pada 27 Juni 2008 lalu, Teater Kula membawakannya. Di bawah cita-cita William Darmawan, sutradara sekaligus penulis naskah, kelompok muda tersebut bergelut dengan mimpi mereka untuk mewujudkan dunia yang lebih adab untuk ditinggali. Mereka memang tak berniat menjawab, tapi sekedar menyodorkan persoalan, lalu menggumuli lewat caranya sendiri, dan menitipkan persoalan itu pada para penafsir (baca: penonton).

Teater yang lahir dari lingkungan kampus UI sejak 2004 ini berpentas dalam program Pentas Teater Tujuan. Lakonnya bercerita tenbetang dua tokoh utama, Zama (Kartika Indriani) dan Merta (Ayu Niken) yang hidup bersahabat di negeri yang berantakan dan serba absurd. Para penduduknya berprilaku aneh dan mengaku berdosa secara berlebihan. Penduduk ini diwakilkan dalam empat peran, yakni Wani (Buday ‘Es Pocong’) yang preman, Meduni (Arie Toursino Hadi) yang waria, Jali (Zulfahmi) yang anak muda gaul, dan seorang anak kecil perempuan (Ratih Suryani).

Entah mengapa empat tokoh ini yang dimunculkan. Apa perwakilan mereka cukup representatif dalam penggambaran sebuah negeri yang dipenuhi penduduk yang aneh? Kalau mau ditelisik lebih dalam – juga lebih jujur – rasanya tidak. Empat tokoh ini belum mampu mewakili identitas warga sebuah kota yang kompleks. Wani dan Meduni jelas adalah penumpukkan peran. Mereka berdua mewakili kaum minoritas di jalanan yang berjumlah kecil namun cukup punya daya tawar terhadap hidup. Ya, preman dan waria menawar hidup dengan pilihan hidup mereka. Karena penumpukkan peran ini, terlihat bagaimana peran dari Wani tidak terlalu penting, bahkan bisa ditiadakan dan diganti peran lain. Hal ini dikarenakan dalam medium teater yang terbatas, namun harus mampu menampung kompleksitas permasalahan, sehingga mampu menyentuh persoalan yang diusung.

Sepanjang adegan, Meduni mendapat ruang lebih. Lawakan ala waria menghiasi adegan demi adegan, sehingga porsinya seringkali berlebihan dan menyebabkan pembunuhan karakter lain, terutama Wani dan Jali. Kalau mau lebih teliti lagi, sebenarnya Jali dan anak kecil pun memiliki warna yang hampir senada.

Lakon berlanjut pada dua tokoh utama, Zama dan Merta yang terbangun dari tidur mendapati diri mereka berada dalam sebuah dunia antah berantah – katakanlah begitu – yang tidak mereka ketahui sebelumnya. Mereka bertemu dengan tiga ksatria dari dunia tersebut. Ketiganya diperankan masing-masing oleh Elpino Windy, Tri Mulyono, dan Raditya Oeto. Zama dan Merta kemudian dipaksa oleh 3 ksatria untuk melayani tantangan mereka dalam sebuah permainan, karena kalau tidak, Zama dan Merta tidak bisa kembali ke negeri asalnya – itupun dengan syarat kalau bisa mengalahkan 3 ksatria.

Pada permainan itu, rupanya Zama dan Merta berhasil memenangkan dan boleh kembali ke negeri asalnya. Namun karena kemudian mereka mencintai ksatria tersebut, mereka urung kembali. Cinta mereka berlanjut dengan melakukan aktivitas seks yang dimetafor dalam gerakan saling merangkul berhadap-hadapan dan membungkuk-naik, persis seperti kedua orang Jepang yang saling memberi hormat.

Rupanya salah satu ksatria yang tidak kebagian ‘cinta’, menjadi iri dan melaporkan perbuatan mereka ke Raja (Gigih Gilang Ramadhan). Raja yang murka karena negerinya dikotori oleh perbuatan cabul memberi hukuman. Namun karena mendengar juga melihat argumen dan kesungguhan mereka dalam cinta, Raja membatalkan amarahnya, malah lantas merestui mereka.

Sepanjang pementasan, penonton yang duduk berlesehan pasti dibuat gelisah. Selain memang karena kurang nyamannya posisi menonton – bayangkan berlesehan dalam beberapa jam pementasan – alur ceritanya pun terperangkap dalam idiom-idiom usang. Bahkan, banyolan yang dibuat para tokoh, khususnya Meduni, tidak membuat penonton tertawa karena keusangan idiom tersebut.

Musik yang digawangi oleh Rizaldy Baggus, Berto Tukan, dan James pun kurang hidup dan terkesan agak memaksa. Selain kibor dengan segala macam efek suaranya, mereka juga memanfaatkan gitar nilon akustik, jembe, dan setidaknya satu alat tiup kayu – mungkin suling atau saluang. Tak terlihat satu konsep utuh akan tema musik pada lakon ini. Semua musik yang mengilustrasi hanya pendamping setia naskah, tanpa tendensi untuk berdiri pada ruh musik itu sendiri.

Dengar saja bagaimana musik antar adegan berdiri terpisah tak bertalian satu sama lain. Bila satu alat musik sedang dipakai, misalnya gitar, alat itu terus menerus dipakai tanpa mempertimbangkan kebutuhan musikal. Seakan ada kesan, nanggung nih sudah megang gitar, jadi terusin aja. Tabuhan-tabuhan perkusif milik jembe sebenarnya bisa lebih ekploratif bila mampu mengawinkan dengan efek-efek suara dari kibor seperti instrumen ensembel gesek untuk memberi kesan suram, sunyi – tentunya dengan pilihan interval atau harmoni yang tepat.

Hal lain yang perlu dievaluasi adalah latar. Sama seperti musik, tak jelas pula konsep yang mau ditawarkan. Tak ada simbol-simbol penguat kesan sebuah negeri yang karutmarut yang menamakan diri negeri boneka. Hanya bentangan kain hitam sebagai latar utama, dan dibumbui kain puith yang menggantung vertical di tengah-tengah panggung. Simbol-simbol semiotik kiranya perlu ada karena karakter naskah ini tidak terlalu kuat. Mungkin masih menyisakan tanya pada benak penonton, apa relevansi judul Negeri Boneka dengan lakonnya.

Terlepas dari kekurangan-kekurangan inilah, apresiasi yang pantas tetap layak disematkan pada kelompok yang sudah mencapai produksi ke-9 ini. Semangat muda dan sikap mau bergelut dalam pembelajaran hidup berkesenian yang diperlihatkan mereka kiranya suatu saat dalam memuntahkan evaluasi dalam catatan kecil yang tak ada artinya ini, dibanding keyakinan mereka untuk merenung soal hidup lewat seni teater.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s