Mengkritisi Laskar Pelangi


“Hidup untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya…”

 SEBARIS kalimat di atas keluar dari mulut Pak Harfan (Ikranegara), seorang kepala sekolah di SD Muhammadiyah, Belitong. Dengan berbekal cita-cita yang tanpa pamrih untuk membagi ilmu kepada anak-anak miskin, mati-matian ia pertahankan sekolah yang sebenarnya sudah layak ditutup itu. Sebuah SD yang pada satu waktu harus menimbang-nimbang antara dilanjutkan atau ditutup berdasarkan jumlah siswa yang mendaftar pada hari pertama di tahun ajaran baru.

Pak Harfan tidak sendirian. Ibu Muslimah (Cut Mini), seorang perempuan muda, anak seorang pelopor sekolah Muhammadiyah di Belitong, turut hanyut dalam kegigihan Pak Harfan mencerdaskan anak-anak Belitong yang tidak punya kesempatan masuk sekolah PN Timah yang lebih diperuntukkan bagi mereka yang berduit.

Dan, tahun ajaran baru yang bersemangat, mendadak mesti redup dan dihentikan keberlangsungannya karena jumlah siswa yang tidak mencapai sepuluh. Namun niat tersebut menjadi urung setelah seorang anak limabelas tahunan yang memiliki keterbelakangan mental menggenapi angka sepuluh sehingga sekolah bisa tetap berlangsung. Nama anak itu Harun.

Kurang lebih begitulah babak pembuka film Laskar Pelangi garapan Riri Riza yang mengadopsi nov el karya Andrea Hirata dengan judul yang sama. Tema mengenai ironi pendidikan, persahabatan, dan semangat hidup, menjadi satu benang merah yang menyulam cerita ini hingga memikat khalayak Indonesia. Kelarisan bukunya yang melebihi angka satu juta kopi, turut menggiring naluri sineas muda seperti Riri Riza untuk mengawetkannya dalam medium yang lebih komunikatif – juga lebih menjual.

Film ini berisikan aktor-aktris kawakan seperti Slamet Rahardjo, Lukman Sardi, Ikranegara, Alex Komang, Cut Mini, Mathias Muchus, Tora Sudiro, Robby Tumewu, Rieke Dyah Pitaloka, dan lainnya yang disandingkan dengan duabelas anak-anak asli pulau Belitong.

Cerita dimulai dari alur mundur. Berkisah tentang Ikal dewasa (Lukman Sardi / representatif Andrea Hirata) yang tengah berada di atas bus yang melaju. Lalu menyusul adegan-adegan berikutnya yang menggambarkan masa kanak-kanak Ikal dan kesembilan temannya yang lain: Lintang yang jenius, Mahar sang seniman, Akiong si Tionghoa, Borek alias Samson, Sahara satu-satunya prempuan, Harun yang keterbelakangan mental, Syahdan, Trapani yang rupawan, dan Kucai si kecil yang menjadi ketua kelas. Oleh Ibu Muslimah mereka disebut Laskar Pelangi.

Seperti novelnya, hanya beberapa tokoh yang kebagian peran, sedang yang lain figuran sepanjang film. Tentu saja, Ikal dapat porsi paling besar. Karena lewat Ikal-lah penuturan cerita ini bergerak. Lalu berturut-turut disusul porsi bagi Lintang dan Mahar. Akiong, Samson, Kucai, Sahara, dan Harun hanya pelengkap. Bahkan nama Trapani dan Syahdan tidak terdengar sama sekali.

Lewat pembacaan novelnya, alur yang berjalan amat lemah. Begitu datar dan antiklimaks. Hampir tidak ada tujuan ke mana muara cerita in. Hanya sekedar penggambaran keadaan masa kecil Ikal. Fokusnya pun kerap berubah-berubah, tak runut. Padahal, kalau mau mengangkat tema ironi pendidikan, harusnyalah tokoh Lintang disorot dengan lebih intim. Bukan itu saja, setidaknya ada dua data yang keliru dituliskan oleh Andrea, yakni Zubin Mehta yang komposer (padahal seorang konduktor, halaman 128) dan alat musik klarinet yang dikelompokkan dalam jenis brass instrument (padahal woodwind instrument, halaman 234). Sayangnya, kekurangan di novel tidak diantisipasi dengan baik pula di film. Riri Riza masih saja melakukan kesalahan-kesalahan Andrea Hiarata dalam novelnya, walau ada beberapa hal yang berhasil dieksekusi Riri dengan amat baik.

Tertangkap kesan kalau Riri ingin menyederhanakan alur yang dibangun Andrea tapi dalam bobot yang masih ragu-ragu. Keragu-raguan Riri amat terlihat ketika dia berusaha meringkas cerita tapi malah membuat bingung penonton yang tidak membaca novelnya. Misalnya kejadian ketika Flo, tomboy pindahan dari SD PN Timah, hilang di tengah hutan. Sepertinya Riri terkurung dalam perspektif Andrea yang masih hijau dalam meramu cerita. Riri seperti sungkan untuk merekonstruksi cerita bertolak sedikit jauh dari aslinya.

Menyaksikan film Laskar Pelangi, penonton serasa menyaksikan penuturan Riri yang ngos-ngosan dalam menerjemahkan sebuah novel. Ngos-ngosan ini terlihat dari usaha Riri yang dengan pasrah meladeni muatan novelnya yang sebenarnya banyak adegan yang sah bila dihilangkan begitu saja. (walau banyak adegan yang dihilangkan tanpa mengurangi esensi cerita, seperti mengenai ketakutan Ikal menjadi pegawai kantor pos atau mengenai kelompok mistik Societeit de Limpai). Mata dan telinga penonton dipaksa ikut ngos-ngosan pada adegan tidak tercapainya jumlah 10 siswa ketika hari pertama sekolah, pada adegan jatuh cintanya Ikal dengan Aling, serta kepergian Aling ke Jakarta, adegan Samson yang memberitahu Ikal untuk membesarkan badannya dengan bola tenis, atau adegan ketika mereka berkunjung ke Tuk Bayan Tula. Semuanya dipaksakan masuk dalam cerita oleh Riri, tapi seakan-akan dikejar durasi untuk meringkasnya. Jadi terkesan seperti, “Yah…pokoknya ada adegan itu deh”, namun tanpa melayani hasrat intimitas penonton pada tiap detil adegan.

Namun sayangnya, cerita di novel mengenai Aling yang memberikan buku Seandainya Mereka Bisa Bicara kepada Ikal yang dititipkan lewat Akiong, justru dihilangkan. Padahal pada novelnya, juga hubungan dengan seri tetraloginya Laskar Pelangi (buku ketiganya berjudul Edensor), bagian ini amat penting, karena menceritakan sebuah kota bernama Edensor yang menghibur Ikal dengan menggantikan peran Aling.

Pemindahan teks ke dalam medium film, yang berhasil dieksekusi Riri misalnya adalah kecerdasannya dalam membeberkan data/fakta dalam novel dalam alur yang tidak runut. Kronologis peristiwa diacak sedemikian rupa, namun tetap menghadirkan data dalam novel. Contohnya adegan ketika Pak Harfan menempelkan poster Rhoma Irama sebagai tambalan dinding sekolah yang jebol, adegan penunjukkan Kucai sebagai ketua kelas, adegan Lintang yang dicegat buaya dan bertemu Bodenga ketika hendak mengikuti lomba cerdas cermat, dan adegan permainan perosotan dengan menggunakan pelepah pisang. Tidak runut, memang. Tapi tetap meramaikan isi cerita.

Hal lain yang perlu dipuji dari film ini adalah ketelitiannya terhadap hal-hal yang detil seperti dialek Melayu, properti yang berdasar pada waktu terjadinya kisah (mobil kuno, sepedamotor kuno, plang di PN Timah yang berejaan lama), kostum, latar, dan pemilihan lokasi syuting. Semuanya persis merepresentasi apa yang ada dalam novel.

Dramatisasi yang berlebihan di novel pun diseret paksa oleh Riri menjadi lebih realistis, medekati kewajaran. Misalnya dalam novel dikisahkan dengan amat mengawang-ngawang, tidak realistis, mengenai kejeniusan Lintang. Di novel, pada adegan lomba cerdas cermat, dikisahkan Lintang yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak masuk akal untuk anak SD. Sedang di filmnya sangat masuk akal. Misalnya pada adegan ketika jawaban Lintang disalahkan oleh juri. Pada novel, substansi yang didebat adalah soal teori Newton yang ribet. Di film, perdebatan itu hanya menyoal hitungan fisika yang wajar.

Sebaliknya, beberapa bagian malah diberi aksentuasi dramatisasi. Misalnya adegan Ikal yang membeli kapur dan menemukan tangan Aling di balik papan, atau adegan ketika Mahar bernyanyi Melayu dengan diikuti koreografi teman-temannya dengan wajah datar. Namun kedua hal ini justru memberi hiburan tersendiri bagi penonton yang sepanjang film berdurasi 125 menit ini dibuat lelah karena alur cerita yang amat lemah.

Buruknya, beberapa bagian tidak tersaji baik: kegigihan Lintang (jauhnya rumah dan perjuangannya tidak terlihat sehebat di novel), kayanya pulau Belitong dan perbadingannya degan kondisi SD Muhammadiyah, adegan ketika pawai karnaval.

Peran dari musik sangat baik. Musiknya tidak terlalu kuat sehingga konsentrasi penonton tidak berpindah kepada musik. Musik benar-benar diposisikan sebagai penguat nuansa. Namun ada potongan musik yang tidak teliti digarap sang penata musik, Aksan dan Titi Sjuman. Kedua drummer suami istri ini terdengar kewalahan mengisi ilustrasi musik pada bagian karnaval. Tampaknya, gerakan tarian pada karnaval sudah melakukan syuting terlebih dahulu dibanding musiknya. Sehingga terlihat usaha musik untuk memberi nuansa lebih kuat tapi seakan berkejaran dengan tempo tarian yang tidak konstan, sehingga menimbulkan pergesaran ritmik antar keduanya yang menyebabkan tidak sinkron.

Bagaimana pun, terlepas dari kualitas novel yang biasa saja – hanya beruntung karena mengangkat sebuah tema yang aktual dan seksi – filmnya mampu mengkomunikasikan beberapa hal dengan amat baik. Tema yang diusung dengan dukungan visual dan auditif, mampu memberi efek-efek romantisasi dan melankolik kepada penonton. Laskar Pelangi menjadi sebuah memori yang merekam keprihatinan pendidikan di Indonesia. Sebuah lanskap yang mengguratkan betapa pentingnya bermimpi dengan cinta.

16 pemikiran pada “Mengkritisi Laskar Pelangi

  1. haha…boleh2, tapi klo gw bisa saran sih yah roy…klo gw akan mengkritik dengan kasi apa2 aja positifnya dari apa yang gw bahas, baru gw kritik sisi negatifnya..hehe…trus…mungkin lo lupa atau kurang ngeh, bahwa pengambilan gambar film itu bener2 ciamik! Director of Photography nya harus dapet pujian yang amat sangat tuh! hehe…hampir semua gambar yang diambilnya tuh indah, dan sesuai karakter masing2 adegan yang bersangkutan. lalu proporsional komposisi peletakkan objeknya juga gak standar, tapi tetep oke, pewarnaan gambarnya juga yahud deh, hoho.. Penonjolan musik yang berciri Melayu itu juga sangat gw salutin, bangga sama produk dalam negri, hehe…Lalu, gw sendiri gak baca novelnya sih, gw ntn bareng deja yang baca novelnya, jadi gw membandingkan impresi yang gw tangkep, yang sama sekali gak kebingungan dengan alur yang mungkin emang agak lemah itu, dengan cerita versi novelnya yang ternyata banyak berbeda. Namun gw rasa kita setuju bahwa justru itulah keunggulan media film, di mana sang pembuat film punya kebebasan untuk menginterpretasikan naskah novel dan mengembangkannya ke arah yang ia tentukan sendiri.ya gitu deh…gw sebel sama kritik di Kompas yang bilang kalo nih film biasa aja dan mencibir kebebasan Riri Riza untuk gak harus membuat film sama persis dengan novel yang disadurnya. haha..siapa sih tuh orang? makin lama makin nyebelin reviewnya…

    Suka

  2. saya sih setuju dgn sebagian besar komentar kritis ttg laskar pelangi. film ini memang tidak bisa dibilang istimewa, setidaknya tidak seistimewa–dalam pendapat saya–misalnya, karya almarhum sjumandjaja “si mamat”, karya deddy mizwar “naga bonar” atau karya teguh karya “november 1828”. (maaf referensi ini memang dari era “jadul”, tapi dari era yang lebih kini, memang rasanya belum ada sih yang sekuat film-fil jadul itu)”kurang nendang” aja rasanya. mungkin krn novel-nya juga sebenarnya biasa-biasa saja, bahkan cenderung berjalan lamban secara tidak perlu. tapi bener banget bahwa “tema”-nya seksi, jadi mudah membuat pembaca dan penonton terhanyut. tipikal pembaca dan penonton kita kan memang demikian–melankolis.terlepas dari semua itu, rasanya memang tidak pernah mudah memindahkan novel–yang liar biasa bagus sekalipun–ke layar lebar.contoh “exodus”-nya leon uris yang gagal total sebagai film meski dibintangi paul newman.yang lebih mutakhir, “da vinci code” yang jadi “cemen” ketika dimunculkan sebagai film meski ada tom hanks.salah satu pengecualian–mungkin itu sebabnya juga terus melegenda–adalah the godfather. Novel yang bagus sekali sekaligus film yang bagus sekali. itupun dgn catatan, meski goodfather ii (yg tdk berdasarkan novelnya mario puzo) juga bagus, godfather iii really flopped!

    Suka

  3. novel ma filmnya lumayan oke kok… emang sih kalo duluan baca novelnya rada2 kecewa, banyak yang dipotong dan diganti seperti yang elo bilang… but so far, menurut gue novel dan filmnya jauh lebih bagus dibanding novel2 dan film2 yang belakangan banyak yang isinya rada2 jorok gitu… bikin eneg…:P

    Suka

  4. adaada saja boeng roy inihehehehesebenarnya seperti yg saya tulis di facebook saya boeng. LP menggunakan narasi sang pemenang. Coba kalau LP menggunakan narasi yang liyan, yang kalah, dia tak akan seindah itu.hahahaha

    Suka

  5. Pedes abis komennya hehe… Tapi jujur emang mengena koq. Setuju juga dengan ndreaz di atas bahwa disamping banyaknya kelemahan2 yang sudah disebutkan, saya kira kita musti mengacungkan 2 jempol untuk casting Riri milih 10 laskar.. Trully awesome aja ngeliat aktingnya Mahar, Lintang, dan Kucai (ikal kalah kelas dibanding mereka). Dan perihal kenapa alurnya menjadi lambat, jangan lupa ini bukan AAC yang mengedepankan romantisme (so pasti siapapun akan tersentuh) dan kalau diperhatikan konflik yang ditonjolkan itu biasaaaa banget (sinetron abis); bandingkan dengan saat Lintang dihadang buaya (salut buat Riri yang bisa nyatuin dua plot yang berbeda untuk mengempos adrenalin penonton sebelum cerdas cermat. Ada nggak sih film2 di Indonesia sekarang yang berani membahas itu?Per hari ini penontonnya udah bisa nyamain penonton Nagabonar Jadi 2 (1,1juta); meski saya sendiri pesimis ini akan melampaui AAC, tapi di kisaran 1,5jt-2jt insya alloh tercapai…btw, salam kenal😉

    Suka

  6. kritis amat komennya bang?tapi okecm ak sdkt ga stuju dg kalimat “pokoknya ada adegan itu deh”yg harus dipahami adalah media yg dipakai berbedaantara film dan bukuantara 2 jam dan ratusan halamanthats all folkstenkiu reviewny yah..jd ikutan kritis nih..hehehe

    Suka

  7. baru nonton ni hari nih. menurut gw sih biasa aja. gw sih agak-agak mls pas adegan ikal yang menyukai aling. pake acara bunga-bunga turun gitu, dan ada cahaya-cahaya. menurut gw sih ga gitu penting dibikin se-hipderbola itu.alur cerita yang tidak ada tujuan juga membuat gw kurang bisa menikmati film ini.tapi overall, lebih bagus dari film indonesia kebanyakan. soalnya film indonesia kebanyakan udah ngebosenin sih, kalo gak horror ya cinta remaja🙂

    Suka

  8. untuk ndreaz (comment yg di pas di bawah gue), salam kenal.. menurut gue, kritikan roy ini cukup tulus lho dalam arti, roy mengkritik pedas, tetapi dia tetap memberi pujian saat dia merasa pujian itu patut di ucapkan. coba lo baca baca lagi dari awal, berkali kali dia bilang hal hal yg bagus mengenai film ini dan hasil kerja sutradaranya.cuma satu hal roy, ketika lo bahas alur cerita nya. mungkin lo ga sadar (it happens), ada dua elemen yg kontradiksi dalam penulisan lo. lebih tepatnya saat lo mengungkit alur cerita. yg pertama paragraf 12, di situ elo bilang bahwa riri reza cerdas dalam mencampuradukan data/fakta ke dalam alur cerita, namun, dua paragraf setelah itu (paragraf 15), elo malah bilang alur cerita terlalu rumit (konteksnya tiba tiba negatif)…. gue jadi kurang ngerti (sebagai org yang belum nonton film ini, jadi sbg seseorg yg membaca kritik lo ini lebih ke sebagai synopsis) maksud lo sebenernya apa… -anamy-

    Suka

  9. Ada satu lagi kesalahan, pada waktu adegan latihan cerdas cermat, ada pertanyaan mengenai salah satu lagu karangan Bapak Kusbini yang dijawab dengan “Padamu Negeri”. Seharusnya judul lagu karangan Pak Kusbini adalah “BAGIMU NEGERI”.Kesalahan ini mungkin hal kecil untuk para penonton, namun bagi Mas Roy yang lulusan jurusan musik, kesalahan penulisan atau penyebutan judul lagu pastilah bukan hal yang bisa dianggap sepele.Salam untuk Mas Roy, saya tunggu tulisan-tulisan selanjutnya.

    Suka

  10. Jadi kepengen ikut comment, meski sudah agak terlambat. Saya ini awam sekali tentang film, jadi sepanjang pertunjukkan film itu membuat saya terhibur, saya akan mengatakan itu film bagus. Dan saya terhibur kok nonton Laskar Pelangi hehe.. Saya juga memahami apabila Salman Aristo (penulis naskah) dan Riri Riza kesulitan menerjemahkan novel ini ke dalam film. Lha ceritanya ini nggak ada alurnya. Konflik ada di setiap bab, bagi saya film ini menjadi cerdas karena dia memilih kematian ayah Lintang sebagai klimaks. Karena menurut saya ironi ‘harus putusnya pendidikan anak jenius’ itu yang menyampaikan keseluruhan pesan dari film ini. Detail-detail dalam novelnya yang boleh dihilangkan atau harus dimunculkan menurut penonton yang sebagian besar juga pembaca novelnya tentu berbeda-beda. Kenapa bukan buku karangan Heriot yang dijadikan benda kenang-kenangan, tapi justru kotak gambar menara Eiffel? Ini menurut saya kelebihan film LP dalam menghaluskan detail-detail yang terasa tidak logis di novelnya (belakangan sebuah blog menuliskan bahwa ternyata Herriot tidak pernah menulis Edensor dalam buku If Only They Could Talk – Jadi kasihan membayangkan bagaimana Andrea Hirata harus merevisi bagian penting ini di seluruh tetralogi LP :D).Hmm… setelah membandingkan… rasanya kekurangan film ini memang disebabkan oleh kekurangan novelnya. Namun….. saya ‘memaafkan’ novel yang datar tanpa alur, bahkan seperti jurnal ini, karena, ingatlah, pada awalnya Andrea tidak bermaksud menulis menerbitkan novel LP, naskah LP ditulis sebagai ekspresi cintanya kepada guru dan teman-teman sekolahnya. Jadi? Sebenarnya Andrea memang tidak bermaksud menulis novel! Ini kan jurnal saat dia masih sekolah tingkat SD dan SMP, tapi ditulis dengan cara berpikir orang dewasa, master lulusan luar negeri😀.saya juga sempat heran kenapa novel ‘biasa-biasa saja’ itu bisa laris bahkan menginspirasi. Temanya seksi? Mungkin. Saya punya pendapat yang agak sentimentil mengenai LP. Novel ini menginspirasi karena ada ‘ketulusan cinta’ di dalamnya (boleh deh muntah2 :D). Cinta Andrea pada gurunya, pada teman-temannya, dan gambaran cinta guru-guru dan teman-temannya. Kenapa saya bilang tulus? Kan Andrea tidak memaksudkan naskah LP-nya diterbitkan? ;)….

    Suka

  11. Komentar anonim yg terakhir menarik sekali. Sayang saya tidak bisa tahu siapa pemilik komentar tersebut. Tp makasih dah b=mau membubuhkan komentar dan berbagi.Salam kenal!

    Suka

  12. I think its such a nice movie of Indonesian creation. Perhaps there are several weakness on it, but we have to think that no body’s perfect and we have to try to understand about effort and achievement that they got in this movie. we still learn and try here…try to respect anyones creation.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s