Merambah Malam di Sudut-sudut Hong Kong


Awal Maret 2009, malam hari. Belum semenit saya tongolkan diri keluar dari badan pesawat, tapi udara dingin langsung menyerbu tanpa permisi, memaksa menarik resleting jaket sampai leher.

JUSTRU kekaguman terhadap Bandara Internasional Makau ini yang merampas perhatian saya, bukan sapaan hawa dingin tadi. Makau, kota kecil yang luasnya hanya seperdualima Jakarta, pasti memikat siapapun yang pertama kali berkunjung, apalagi buat mereka yang berasal dari negara carutmarut seperti saya.

Bandara ini sungguh cantik. Sejak masih mengudara, dari jendela pesawat, warna-warni sinar yang memantul di lautan yang mengepung bandara ini sudah menggoda mata siapa saja. Predikat internasional yang tersemat memang diperlakukan dengan sungguh, bukan asal tempel. Kebersihan, desain megah, interior cantik, profesionalitas pekerja, papan informasi dalam beberapa bahasa, semuanya mengundang tanya: kenapa ini semua tidak terjadi di negara saya?

Ah, sial! Saya tak bisa terlalu lama mengagumi kota judi ini. Dengan 3 teman lain yang ikut dari Jakarta, kami harus bergegas menuju Kowloon, Hong Kong. Di sana, sebuah guesthouse yang kami pesan jauh-jauh hari sudah menunggu. Dari Makau, kami memerlukan menyeberangi perairan menggunakan feri.

Ada cerita lucu ketika kami menuju Terminal Feri Makau. Setelah menolak taksi dengan tarif mahal untuk mengantar, kami memutuskan menggunakan bis. Dari petugas informasi bagi para turis di bandara, kami diberitahu untuk mengambil bis berkode AP1. Tak lupa petugas tersebut membekali kami secarik kertas kecil dengan tulisan tangannya berhuruf Mandarin yang berarti Terminal Feri Makau. Belakangan kami ngeh, kalau mayoritas warga Makau tidak fasih berbahasa Inggris, sehingga secarik kertas tersebut akan berguna untuk bertanya. Dan benar saja, komunikasi kami yang sering tidak mulus, tergantikan dengan bahasa tubuh sambil menunjukkan kertas mungil tadi. Hanya kertas itu yang kami sodorkan setiap hendak bertanya. Sambil guyon, kami berjanji untuk menjaga baik-baik kertas tersebut. Bahkan seorang teman memotretnya, jaga-jaga kalau kertasnya hilang. Ya, di Makau memang hanya dua bahasa yang tersaji: Mandarin dan Portugis.

***

JARUM jam sudah mengarah ke angka 9 (1 jam lebih cepat dari Jakarta) ketika kami tiba di Terminal Feri Makau. Di depan loket penjualan tiket feri, kami disergap bingung. Kalau ada kamera yang merekam, mungkin kami akan menertawai diri sendiri ketika melihat ekspresi kebingungan kami. Bukan apa-apa, hanya saja kami dibuat ragu ketika hendak membeli tiket. Karena di depan loket ada pula seorang perempuan paruh baya yang juga menjual tiket, dan anehnya, malah lebih murah.

Di loket perusahaan feri First Ferry Macau itu dengan jelas terpampang tarif 175 MOP per orang, tapi sang encim tadi berteriak hanya dengan harga 160 MOP. Ternyata dia calo! Dan dasar calo, kalau bicara duit, malah lancar berbahasa Inggris. Akhirnya, dengan berlagak sok tahu, kami beli tiket dengan harga lebih murah itu. Belakangan kami tahu, calo-calo itu membeli tiket sebelum jam 6 malam dengan tarif 150 MOP. Kami tertawa geli sesudahnya ketika mengingat bahwa kami masih sempat-sempatnya menawar lebih rendah lagi.

Setibanya di Terminal Feri Kowloon– setelah berlayar dengan kecepatan tinggi dalam waktu kurang lebih 45 menit – kami mencari daerah Jordan, daerah di mana kami akan bermalam. Kertas kecil hasil cetakan dari internet yang menggambarkan posisi tempat kami akan menginap menuntun kami berjalan kaki. Setiap ada papan petunjuk jalan langsung kami satroni. Namun setelah merasa tersesat, kami putuskan untuk menggunakan kereta bawah tanah yang disebut MTR (Mass Transit Railway). Dan 4 HKD harus rela kami rogoh dari kantong.

Saya terkejut. Hong Kong pukul 10 atau 11 malam terasa seperti di Jakarta pukul 5 sore. Trotoar dipenuhi orang berlalulalang dengan amat padat. Toko-toko dan rumah makan belum berkemas. Transportasi publik masih ramai mengangkut beragam orang dengan busana kerja maupun santai. Ditambah dengan gaya berjalan warga Hong Kong yang cepat – bahkan di tengah laju eskalator yang cepat, sering saya disusul orang yang berusaha mendahului – kota ini seperti tidak menyimpan kantuk dan payah.

Bukan main! Di tengah suhu 16 derajat Celcius, banyak perempuan bergaya dengan pakaian terbuka: rok mini dan hotpants. Dan perempuan-perempuan tersebut, tanpa takut, berjalan berdua, bahkan sendiri, di trotoar pada pukul 11 malam. Hong Kong sebagai kota pusat perdagangan dan mode di Asia sudah jauh dari kesan kumuh dan bronx. Maka tak heran perempuan-perempuan tersebut – termasuk saya – berani berjalan sendirian menyusuri trotoar-trotoar yang dibuat remang dari jutaan sinar, baik dari lampu jalanan, maupun papan nama toko atau restoran. Sekalipun di trotoar-trotoar itu pula berjejer panti pijat plus-plus, klab malam, dan hotel prostitusi.

***

KELUAR dari stasiun Jordan melalui pintu C2 yang mengarah ke jalan Nathan Road, papan nama City Econo Guesthouse menyembul malu-malu di tengah kepungan belasan papan nama lain yang dibiarkan semrawut. Pemandangan khas Hong Kong.

Kami masuk lewat sebuah gedung bergang sempit dan bertangga hingga menemui sebuah lift tua yang deritnya sering mengejutkan. Pikiran ragu akan nyamannya guesthouse ini lenyap mendadak ketika suasana di lantai 6, lantai di mana City Econo Guesthouse berada, meramahi kedatangan kami. Seorang perempuan paruh baya menyambut kami dalam bahasa Indonesia pelo, ”Dari mana?”

Ibu Jenny namanya. Mantan WNI keturunan Tionghoa asal Medan ini bersama suami sudah beberapa tahun tinggal di Hong Kong mengelola usaha penginapan ini. Tidak sedikit dari tamunya adalah orang Indonesia. Kami merogoh kocek 600 HKD per malam untuk kamar berisi 4 ranjang, kamar mandi, tivi, pendingin ruangan, dan air panas. Lewat Ibu Jenny pula kami membeli tiket masuk Hong Kong Disneyland dengan harga 330 HKD, lebih murah 20 HKD dari harga resmi, 350 HKD.

***

HONG KONG adalah kota pelabuhan. Karena itu namanya dalam Mandarin adalah Xianggang. Artinya pelabuhan yang harum. Nama Hong Kong sendiri merupakan versi bahasa Inggris. Maklum, sejarah Hong Kong menunjukkan kalau Kerajaan Britania sudah mulai melakukan kontak sejak Dinasti Qing di tahun 1839. Penolakan akan impor opium Kerajaan Britania ke Hong Kong menyebabkan pertempuran yang dikenal Perang Opium. Perang ini terjadi sampai dua kali.

Setelah melewati masa penjajahan – termasuk pernah diduduki Jepang – Hong Kong akhirnya dikembalikan ke RRC oleh Inggris pada tahun 1997. Karena itu, bersama dengan Makau, Hong Kong merupakan Daerah Administratif Khusus yang memiliki otonomi sendiri dalam mata uang, bea cukai, hukum, dan sebagainya. Ada juga kelompok warga yang menolak pengembalian Hong Kong ke RRC. Kebanyakan dari mereka memilih hengkang ke negara lain, misalnya Kanada.

Seperti negara-negara jajahan Inggris lainnya – misalnya Malaysia dan India – Hong Kong memiliki konsep tata kota yang amat baik. Topografi Hong Kong yang unik – terdiri dari beberapa pulau, daerah perbukitan, dan pantai, sekaligus pembangunan modern: gedung pencakar langit, sistem transportasi, dan jalan layang – menunjukkan pengelolaan kota yang baik tersebut.

Sebut saja produk-produk tata kelola yang baik tersebut, misalnya jalur pedestrian dan sistem transportasi. Untuk menyoal prestasi di bidang transportasi, Hong Kong mampu menunjukkan kemapanannya: taksi, bis tingkat, jalan layang, trem, feri, bandara udara internasional, mesin parkir, dan kereta bawah tanah. Bicara soal yang terakhir ini, kereta bawah tanah, kami amat mengandalkannya untuk menjelajahi Hong Kong.

Kereta bawah tanah atau Mass Transit Railway (MTR) benar-benar berfungsi sebagaimana mestinya: alat angkut massal. Seharinya MTR mampu beroperasi lebih dari 4 juta perjalanan! MTR yang dibangun pemerintah Hong Kong sejak tahun 1979 ini, sampai kini sudah melayani jalur sepanjang 211,6 km yang melewati 150 stasiun. Antar stasiun bisa ditempuh dalam waktu 3-4 menit. Dilengkapi pula papan penunjuk waktu tiba antar kereta di tiap stasiun dengan ketepatan yang amat presisi. Selain itu, tiap stasiun juga dilengkapi dengan pusat pelayanan penumpang, toilet, sarana bagi penyandang cacat, papan penunjuk arah, mesin penjual tiket dengan layar sentuh yang mampu memberikan uang kembalian, sampai warung kecil dan papan ramalan cuaca. Dan semuanya berfungsi!

Bila berniat untuk menjelajahi kota seharian penuh dengan MTR, Tourist Day Pass adalah pilihan yang tepat. Berbekal tiket seharga 55 HKD yang boleh dipakai sepuasnya selama 24 jam ini, kami menggunakannya untuk pergi ke banyak tempat. ”Mumpung sepuasnya!”, kira-kira begitu seru teman saya tak mau rugi.

Sebenarnya ada jenis pembayaran lain yang juga menguntungkan, yakni Octopus Card. Kartu yang mulai digunakan sejak 1997 ini menjadi alat pembayaran pengganti uang tunai yang praktis. Kini, kartu ini bisa dipakai untuk membayar MTR, bis, feri, mesin parkir, mesin minuman, mini market, restoran cepat saji, dan lain-lain. Dengan kartu ini, tiap transaksi mendapat potongan 10%. Penggunaannya mudah. Tinggal mendekatkan kartu pada mesin yang menyensor. Maka tak jarang kami saksikan banyak orang di Hongkong yang cukup menempelkan dompetnya – bahkan tas! – ketika bertransaksi – saking kuatnya sensor.

***

BEBERAPA hari di Hong Kong, saya percaya, melatih otot kaki saya yang jarang diajak olahraga. Bagaimana tidak, jalur pedestrian yang amat nyaman di Hong Kong memanjakan saya sebagai pejalan kaki – pejalan kaki yang biasa tidak dapat tempat di Jakarta. Seharian penuh saya bisa berjalan kaki tanpa berhenti – paling banter kalau dapat duduk di MTR. Tanpa disadari, tempo berjalan saya pun mengikuti irama cepat kebanyakan warga Hong Kong. Alhasil, dalam sehari saya berhasil meraih beberapa lokasi tujuan wisata, diawali dengan Wan Chai.

Wan Chai menjadi tempat peringatan atas kembalinya Hongkong ke Cina. Digelar juga upacara bendera tiap pagi. Namun sayang, kantuk yang lebih perkasa dari niat, membuat saya dan teman-teman bangun kesiangan. Masih beruntung kami sempat menjajal egg tart, kue lokal seharga 3,5 KHD, yang menjadi jajanan wajib bila berkunjung ke Wan Chai.

Kami juga sempat bergerak ke Causeway Bay karena tergiur promosi tempat makan yang katanya menyajkan berbagai masakan khas lokal dan interlokal – maksudnya dunia. Namun, setelah luntanglantung ke sana kemari, sempat juga tersesat dan diguyur hujan badai, yang didapat hanyalah kecewa. Pasalnya, tempat yang dimaksud adalah sebuah foodcourt yang menjual berbagai makanan khas Cina, Turki, India, Eropa, dan Jepang dengan harga selangit. Karena kendala bujet, kami urungkan nafsu untuk makan di sana. Akhirnya, sambil malu-malu kami masuki Kentucky Fried Chicken yang ada di seberang jalan!

Hollywood Road di Sheung Wan dan Kuil Che Kung di Sha Tin juga menjadi daerah jelajahan saya. Di tempat pertama terdapat banyak penjual barang-barang antik seperti di Jalan Suarabaya, Jakarta. Namun, bila di Jalan Surabaya kesemua pedagang menempati lapak kecil nan sempit, sedang di sini, lapak mereka terdiri berbagai ukuran dan gengsi: dari yang kaki lima, toko kecil, sampai toko mewah. Sedang kuil Che Kung yang merupakan peninggalan Dinasti Ming ini didirikan warga Sha Tin sebagai sarana memohon kesehatan, dan selalu ramai setiap hari ketiga tiap bulan pertama menurut kalendar lunar.

Tidak lengkap rasanya ke Hong Kong tanpa menyambangi Mongkok, sebuah daerah yang terkenal dengan Ladies Market-nya, yakni sebuah pasar malam kaki lima yang banyak menjual barang-barang keperluan perempuan – namun beberapa lapak juga menjual barang-barang untuk kaum pria. Di pasar ini, ribuan orang berjubelan dalam satu waktu. Bahkan pada jam-jam tertentu, saking ramainya, banyak orang yang berbincang-bincang di tengah jalan! Prinsip berbelanja di Mongkok, pembeli harus berani menawar harga, bahkan dengan tawaran tidak masuk akal sekalipun. Pasalnya, pedagang di sini sering memasang tarif amat tinggi, seperti yang biasa ditemui di Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Olahraga membesarkan betis hari itu ditutup dengan sebuah pengalaman menakjubkan, yakni pertunjukkan Symphony of Lights di Avenue of Stars di East Tsim Sha Tsui. Setiap jam 8 malam, di tempat ini dipertunjukkan permainan lampu-lampu sorot dari gedung pencakar langit. Musik pun diputar untuk mengiringi permainan lampu tersebut.

Dengan lanskap gedung-gedung megah dan daerah perairan sebagai pemisah, diperkuat dengan tingkah hilir-mudiknya feri-feri yang melintas, tempat ini menimbulkan aura romansa yang sangat, mencipta kehangatan yang intim bagi siapa saja. Pantas saja Hong Kong selalu memesona para pasangan bulan madu, atau setidaknya sebagai rekreasi untuk sejenak mengalihkan pandangan dari poster-poster parpol dan caleg yang menyebalkan di Tanah Air. (ROY THANIAGO)

Dimuat di Koran Tempo 17 Mei 2009

Satu pemikiran pada “Merambah Malam di Sudut-sudut Hong Kong

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s