Solo Pun Punya ‘Malam’


Tiga buah gelas itu menjadi satu-satunya sumber kehangatan di tengah terpaan angin malam. Isinya wedang jahe. Buat kami, tiga pemuda perantau yang jauh dari kehangatan kampung halaman, keluarga, dan pasangan, tiap reguk minuman hangat tersebut cukup membunuh rindu yang mendingin di dada, atau setidaknya menundanya. Bukankah kenikmatan tertinggi ketika berhasil menuntaskan suatu ketertundaan?

KAMI – aku, Akbar dari Padang, dan Sumantri dari Palembang – ada dalam situasi tersebut pada suatu malam di hari Sabtu. Waktu itu malam belum di puncaknya, tapi aku dikerubuti gelisah tak berkesudahan. Dari dalam kamar kos yang terlalu sempit untuk main futsal ini, kularikan sepeda untuk menembus gelap malam kota Solo. Dua teman tadi ikut kuseret pada pelarian kebosananku.

Wedang jahe yang jadi tokoh utama di kepala tulisan tadi, kami pesan dari sebuah angkringan di depan gedung Radio Republik Indonesia (RRI), sebuah tempat yang tak ada bedanya dari konotasi Dolly di Surabaya, Saritem di Bandung, Pasar Kembang di Yogya, atau Mangga Besar di Jakarta. Kalau pun ada beda, itu hanya sekitar kualitas produk, tarif, dan layanan purnajual.

Lapak yang biasa dipakai ”jualan” tersebut dikuasai oleh kami malam itu, dengan harapan beberapa ”penjaja” tersebut sudi berbagai ”etalase” di sana. Sialnya, mereka malah memilih lokasi yang tidak biasanya: di seberang kami dan beberapa meter dari kami. Tolong jangan berpikir macam-macam. Kami hanya melakukan observasi dalam rangka mengenal kota ini di kala malam. Sebuah alasan yang sempurna, bukan?

Bukan keberanjakan malam yang membikin kami bergerak ke pusat kota, tapi karena kekhawatiran akan terjadinya pertumpahan darah demi perebutan lahan – juga alasan kami mulai dilirik-lirik calon-calon pembeli: disangka agen baru. Alasan yang lebih jujur sebenarnya: ketidakmampuan kantong untuk membeli jajanan tambahan sebagai teman nongkrong!

Kami menyusuri malam itu hingga ke jalan utama kota ini, jalan Slamet Riyadi. Di depan Sriwedari goesan kami terhenti spontan karena sebuah pemandangan yang tidak biasa: puluhan, bahkan ratusan remaja, yang entah punk atau bukan, berjalan bergerombol dengan banyak di antaranya bertelanjang kaki. Dengan sebagian besar berbaju hitam, bercelana sempit, dan berdandan kumel, anak-anak kisaran umur terkecil 8 tahun hingga yang tebesar 17 tahun, berjalan kaki dalam berpuluh-puluh kelompok pecahannya.

Mereka merokok. Tidak ketinggalan yang masih bocah-bocah SD. Ada juga yang ngelem dari balik kaos sambil berjalan. Beberapa remaja perempuan juga terlihat menyempil di antaranya. Apakah mereka ada rumah? Ada orangtua? Melihat ada yang berponsel, tidak mungkin mereka tak berumah, tak ber-ayah-ibu (walau asumsi ini mungkin saja sepenuhnya ngaco!). Lalu apakah mereka berganti kostum sesampainya di rumah? Aku tak tahu, meski ingin sekali mengiyakan.

”Ada konser Netral tadi”, kata seseorang di pinggir jalan ketika Sumantri menanyakannya. Ini rupanya yang menjadi magnet gerombolan anak-anak tadi. Netral, sebuah grup band, buat remaja-remaja tadi, bagai petromak buat laron. Namun sebutir sangsi timbul di benak: apa benar remaja tadi bergerombol karena insting dan kehendak pribadi seperti laron, atau inikah yang dinamakan komodifikasi dan konstruksi? Atau seperti yang dikatakan Marshall McLuhan sebagai ’dusun global’? Lagi-lagi aku tak tahu.

Pemandangan fenomena sosial tadi terus mengusik dan menempati salah satu kamar di kepala. Tapi belum sempat berpikir lebih kuat, goesan sepeda melaju lagi ke arah timur. Di sepanjang jalan kami berpapasan dengan banyak orang norak: konvoi sepeda motor yang gaduh, yang merasa memiliki jalan sehingga merasa punya hak meminggirkan pengguna jalan lain. Lampu kelap-kelip berwarna merah atau lamp stick yang biasa dipakai polisi, dipakai mereka agar kelihatan lebih gagah dan lebih biker. Adakah yang lebih bodoh dari mereka?

Pada pemandangan lain, tongkat lampu ini juga yang ditancapkan mirip nisan di sepeda motor yang nongkrong bergerombol di sisi jalan. Ada banyak sekali gerombolan ini yang kelompok satu dengan lainnya dibedakan dari bendera yang dipajang atau dari jenis sepeda motornya. Sepeda motor yang dijejerkan layaknya dagangan batik ini tergabung dalam klab-klab sepeda motor. Klab yang ada karena kesamaan merk atau tipe sepeda motor. Sebuah ide paling tolol yang pernah ada, pikirku.

Melihat mereka, aku jadi ingin membentuk klub pengguna celana dalam GT Man. Aktivitasnya? Tiap malam Minggu nongkrong bareng di keramaian atau lokasi yang terlihat gaul, sambil menunggu anggota yang belum datang. Tak lupa bendera klab bergambar ’celana dalam dililit api’ dipamerkan di depan kami, sambil menemani obrolan kami yang berjudul solidaritas. Setelah itu konvoi keliling kota memakai tongkat lampu dengan berkolor GT Man. Hanya GT Man.

Di sudut Ngarsopuro, depan Pasar Windujenar, perhatian kami dirampas oleh beberapa aktivitas di sana. Ada kelompok sepeda BMX, kelompok capoiera, dan sisanya adalah mereka yang wedangan dan pacaran. Kami duduk di depan kelompok yang pertama. Melihat aksi pamer mereka, selain minder, kepincut juga untuk mencobanya. Tapi mencoba atraksi BMX di tengah malam tanpa pengalaman sebelumnya, apalagi dengan sepeda gunung bekas yang dibeli di Pasar Legi adalah sebuah ide yang tidak kalah tolol dengan klab motor tadi. Jadi lebih baik kami urungkan cita-cita itu.

Malam yang bertambah pekat mengingatkan kami untuk pulang. Tidak ada hasil apa-apa, memang. Tapi setidaknya kami menyaksikan sendiri bahwa Solo pun punya ’malam’. Termasuk sebuah ketololan jugakah? (ROY THANIAGO)

Kentingan, 6 Desember 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s