Catatan Tentang Komedi Tradisional


Pembacaan Terhadap Artikel
Soepomo Poedjosoedarmo dan Soeprapto Budi Santoso
Dagelan Mataram: Apresiasi Masyarakat Yogyakarta

Sultan Hamengkubuwono VIII, raja di Keraton Yogyakarta, putranya bernama GP Hangabehi. Karena pangeran berdarah bangsawan keraton inilah Dagelan Mataram ada. Namun siapa mengira, bahwa citra Keraton yang adiluhung, kaku, tertata, dan mematutkan segala hal, justru dari sanalah lahir produk seni yang konyol, cair, dan tidak mematutkan-matutkan diri.

SEBUAH laporan penelitian yang dilakukan pada tahun 1980 oleh Soepomo Poedjosoedarmo dan Soeprapto Budi Santoso menyelip dalam sebuah buku berjudul Ketika Orang Jawa Nyeni (Penyunting: Heddy Shri Ahimsa Putra, 2000). Laporan penelitian dengan judul ‘Dagelan Mataram: Apresiasi Masyarakat Yogyakarta’ ini mengangkat Dagelan Mataram, yaitu sebuah kesenian tradisional di masyarakat Jawa Tengah, sebagai bahan kajiannya.

Dagelan Mataram termasuk dalam seni drama atau teater karena mengandung cerita, dialog, dan dipentaskan di panggung (walau seiring perkembangan teknologi, Dagelan turut disiarkan melalui radio). Ia adalah semacam sebuah drama komedi atau lawakan. Oleh Soepomo-Soeprapto, ciri-ciri dagelan dikenal sebagai berikut: (1) mengandung ceritera tertentu, (2) memakai bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar, (3) materi ceritera diangkat dari kehidupan sosial budaya masyarakat Jawa, (4) diiringi gamelan dan sinden sebagai ilustrasi, (5) kadang-kadang memakai tarian, (6) pemain kadang-kadang menyanyikan tembang, dan (7) memakai kostum pakaian Jawa gaya Surakarta atau pakaian yang berasal dari kesenian Jawa lainnya.

Dagelan Mataram pada awalnya memang berkembang dari sebuah daerah bernama Mataram, hingga akhirnya nama ini bukan lagi menunjukkan nama sebuah rombongan dari daerah tertentu, melainkan merupakan sebuah gaya dagelan. Namun jauh sebelum itu, embrio dagelan sebenarnya datang dari dalam tembok keraton. Pangeran GP Hangabehi, yang menyukai humor, memiiki abdi dalem (pegawai keraton) yang dinamakan abdi dalem oceh-ocehan. Tugas mereka adalah menghibur melalui penceritaan pengalaman pribadi atau orang lain yang lucu-lucu. Walau akhirnya, karena kehabisan perbendaharaan cerita humor, cerita yang disajikan bersifat buatan (bukan pengalaman pribadi sebenarnya).

Oleh Hangabehi pula, para abdi dalem oceh-ocehan ini diberi porsi untuk melakukan siaran di stasiun radio Belanda bernama MAVRO, sebagai selingan acara uyon­-uyon gending Jawa. Oleh seseorang bernama RM Marmadi, kelompok pendagel ini diberi nama Dagelan Mataram. Tapi di luar keraton, pada kesenian rakyat ketoprak, juga terdapat bagian untuk melawak atau mendagel. Para pemain ketoprak ini akhirnya turut menamakan bagian lelucon ini dengan nama Dagelan Mataram, meniru kelompok dagelan yang siaran di MAVRO tersebut. Ini terjadi sekitar tahun 1935.

Itulah sekelumit sejarah Dagelan Mataram yang diringkas dari laporan penelitian Soepomo-Soeprapto. Dengan amat rinci mereka menceritakan proses lahirnya kesenian ini dan juga mengenai kehidupan sosiologis para seniman dan kelompoknya. Hanya saja, mengenai tahun terjadinya ini semua tidak banyak disebutkan, sehingga pembaca kehilangan pegangan mengenai masa di mana Dagelan Mataram lahir, hidup, dan berjaya.

Meskipun cukup lengkap, namun struktur tulisannya agak sulit diikuti karena banyak adegan-adegan yang melompat, tidak kronologis. Adegan lompat tidak berhasil dituliskannya dengan lembut, sehingga pembaca perlu mengulang membaca beberapa kali. Begitu pun dengan penjabaran nama kelompok dan nama orang yang sangat sporadis, dan karenanya membingungkan.

Etnografi Kontekstual

Laporan penelitian ini berupa sebuah etnografi yang kontekstual. Soepomo-Soeprapto dengan kesadaran memasukan unsur kesejarahan, turut mengangkat dan mengupas dengan baik Dagelan Mataram sebagai kajian etnografi, yang dijabarkannya sebagai sebuah “teks”. Namun tak berheni di situ, mereka juga turut menggali sisi kontekstual Dagelan Mataram. Ini terlihat dari data-data yang disajikan seperti mengenai kehidupan pribadi para senimannya, situasi perusahaan rekaman, sikap stasiun radio terhadap Dagelan Mataram, dan analisis variabel masyarakat di mana kesenian ini dihidupi.

Pada pemaparan mengenai 4 perusahaan rekaman, pembaca diberi informasi tentang sikap perusahaan tersebut yang pada dasarnya berorientasi pada keuntungan semata. Pembaca juga disuguhkan data mengenai rata-rata penjualan kaset yang berjumlah 3000, prestasi meledaknya penjualan pada angka 10.000, tergantungnya penjualan kaset karena ketokohan Basiyo, karakter konsumen kaset Dagelan Mataram, sampai wilayah geografis para pembeli kaset.

Dilihat dari tujuan penelitiannya, yakni untuk mengetahui tentang (1) kehidupan Dagelan Mataram, (2) bagaimana kesenian ini hidup di masa sekarang, serta (3) bagaimana suatu latar menopang kehidupan Dagelan Mataram, komposisi variabel atau data yang dipilih memang sudah tepat. Hanya saja pengeksekusian dari data atau variabel yang dipilih tersebut belum begitu maksimal.

Misalnya saja, dalam laporan ini, mereka menampilkan dengan amat lengkap – yang sebenarnya agak bertele-tele – kehidupan pribadi senimannya dan situasi latar yang mendukung kehidupan Dagelan Mataram seperti perusahaan rekaman, stasiun radio, dan masyarakat. Pada pemaparan mengenai kehidupan pribadi senimannya, ditampilkan 9 orang sebagai representasi. Dikisahkan dengan lengkap mengenai latarbelakang pendidikannya, kota asalnya, pengalaman masa kecilnya dengan kesenian, aktivitasnya berkesenian, sampai pandangan pribadi mengenai Dagelan Mataram. Pada kenyataannya, kekayaan data ini tidak menyumbang banyak pada warna etnografisnya. Bahan yang ada pada masing-masing orang pada dasarnya hampir sama, yang sebenarnya lebih efektif bila diurai dalam suatu kesimpulan tersendiri yang bisa disajikan dalam bentuk tabel atau deskripsi singkat.

Hal ini pun berlaku bagi pemaparan mengenai perusahaan rekaman dan stasiun radio yang menjadi latar di mana Dagelan Mataram ini hidup. Cara lebih mudah, efektif, dan efisien bisa dipakai dari pada penjabaran yang terlalu panjang dan bertele-tele. Padahal pada kenyataannya, kepanjangan dan kebertelean itu tidak menyumbang warna-warni data atau perspektif, yang seimbang dengan porsi halaman yang dihabiskan atau energi yang dikeluarkan untuk menuliskan atau membacanya.

Kekhawatiran

Sejak awal, laporan penelitian ini tercuat nuansa kekhawatiran – kalau bukan ketakutan. Yakni kekhawatiran akan tergerusnya kesenian tradisional – dalam hal ini Dagelan Mataram – akibat pengaruh kebudayaan barat. Hal ini tersurat di bagian awal tulisan, yang menyatakan bahwa pengaruh barat yang menyusup lewat media massa, merasuk dalam pikiran masyarakat yang kemudian menghamba pada modernitas. Segala sesuatu yang dianggap modern dituruti, dan secara otomatis meninggalkan segala yang berbau kuno, tradisional, atau tidak modern.

Untuk itu mereka mencontohkan kelompok Sri Mulat yang semula memakai gaya Dagelan Mataram, namun di perkambangannya, malah menggunakan perangkat band sebagai musik pengiring mengantikan gamelan. Begitu pun dengan lakon yang dibawakan dengan judul seperti Body Sex Lady, Terkapar di Ranjang Mertua, Hostess Dracula, Oversize Gigolo, dan sebagainya.

Fakta-fakta tersebut membuat mereka memunculkan pertanyaan: sejauh manakah sebenarnya Dagelan Mataram yang dalam banyak hal masih tekun berpegang pada nilai-nilai tradisi dan tata krama Jawa, masih dapat diterima oleh masyarakat kini? Maka, untuk melihat tingkat penerimaan masyarakat terhadap Dagelan Mataram, ditampilkanlah data hasil kuisioner terhadap berbagai lapisan masyarakat di Yogyakarta.

Narasumbernya terdiri dari pekerja kasar, pedagang, mahasiswa, pegawai-ibu rumah tangga, pelajar elite, dan pelajar ekonomi lemah. Setiap kuisioner sudah berisi pertanyaan-pertanyaan berikut pilihan jawabannya, dan semua ini dijelaskan Soepomo-Soeprapto dalam sub-bab tersendiri, yakni Catatan Metodologis. Metode ini diarahkan untuk mengetahui tingkat penerimaan masyarakat atas Dagelan Matarm, nilai penerimaan mereka, hal-hal yang mempengaruhi nilai tersebut, apa yang mereka kehendaki dari Dagelan Mataram, serta tingkat popularitas Dagelan Mataram dibanding kelompok lawak lainnya.

Alhasil dari sini kita tahu – walau ini tidak disimpulkan oleh Soepomo-Soeprapto – bahwa pada masa ketika penelitian ini dilakukan, tingkat penerimaan masyarakat terhadap Dagelan Mataram masih bisa dianggap baik. Ini dilihat dari prosentase masyarakat yang tahu dan pernah menonton atau mendengarkan Dagelan Mataram, bahkan hingga di kalangan pelajar dan mahasiswa, dua golongan yang justru dikhawatirkan paling rentan meninggalkan kesenian tradisional.

Walau terang, tingkat penerimaannya berbeda ketika dihadapkan pada golongan lain, misalnya pekerja kasar dan pegawai-ibu rumah tangga. Hal ini sekaligus membuktikan, bahwa tingkat penerimaan berbanding lurus dengan lapisan sosial yang mengonsumsi produk seni tersebut.

Inilah kiranya sekelumit catatan dari Soepomo-Soperapto mengenai Dagelan Mataram yang hidup pada masyarakat Yogyakarta. Potret dan data yang ada, menjadi sumbangan berarti untuk penelitian selanjutnya yang memang perlu dilakukan untuk lebih dalam menganalisis variabel-variabel yang ada. Semoga. (ROY THANIAGO)

3 pemikiran pada “Catatan Tentang Komedi Tradisional

  1. setiap produk budaya harus bisa menyiasati perubahan dan perkembangan jaman para penontonnya deh. sesungguhnya lebih sulit untuk memberi vonis bahwa modernitas itu melulu punya pengaruh buruk, karena pada kenyataannya, budaya yang bisa berkembang bukanlah yang sekadar melestarikan tradisi, tapi juga beradaptasi terhadap perubahan.

    Suka

  2. apa yang terjadi, saya melihatnya secara positif, adalah dialog modernitas dan tradisi. Kita, yang peduli untuk ‘nguri-nguri’ warisan kultural kudu bisa mendialogkan itu. Tujuannya, agar tradisi itu tetap terpelihara dalam konteks modern. Mengingat modernitas sendiri di sisi lain bisa diartikan sebagai reartikulasi dari tradisi. memang, kadang warisan kultural tadi tenggelam oleh ingar-bingar pemujaan modernitas yang selama ini lebih sebagai pemujaan budaya Barat. Lebih parah lagi paradigma dialog antarbudaya (Nusantara-Barat) sering jatuh pada paradigma orang terjajah-penjajah. Ujungnya, inferioritas dan tidak adanya self-esteem pada warisan budaya sendiri. Padahal, seperti yang terusai dalam tulisan di atas, warisan budaya kita tak kalah dahsyat!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s