Mereka Bukan Primitif!


Kalau kita merasa tidak ada masalah dengan kata “primitif” yang berkeliaran bebas, maka tulisan ini akan membuatnya tampak sangat bermasalah. Dan kalau tetap merasa tidak ada masalah, mungkin masalahnya ada pada diri Anda. Saran saya:segera temui psikiater terdekat.

PRIMITIVE RUNAWAY, sebuah tayangan televisi, yang mungkin merupakan titik kulminasi hasil pemahaman kolektif masyarakat Indonesia tentang masyarakat adat, adalah salah satu sumber masalah itu. Tayangan ini bukan saja mengandung satu, tapi tiga masalah sekaligus: (1) mendiskriminasikan masyarakat adat dengan menyematkan predikat “primitif”, (2) merekayasa realitas kehidupan masyarakat adat, dan (3) mereproduksi dan menyebarkan kesesatan berpikir mengenai masyarakat adat.

Program baru Trans TV yang diputar seminggu sekali ini menayangkan kisah perjalanan dan aktivitas pasangan selebritas di suatu komunitas masyarakat adat. Jualan kecapnya sudah seksi sejak awal, yakni memperolok eksotisme dan membenturkan modernitas dengan tradisionalitas. Ramuan ini melahirkan cerita dan konflik. Pengusaha memang selalu tahu resep tokcer.

Lantas apa masalahnya? Mari simak edisi 31 Juli 2010 dengan bintang tamu Ramon dan Ladya Cheryl yang berkunjung ke suku Sakkudai, Mentawai. Lewat sudut pandang yang diambil, pemirsa disuguhi kesesatan dan kebohongan mengenai orang Sakkudai yang ditampilkan bodoh, terbelakang, dan jauh dari santun. Ada adegan orang Sakkudai yang menjilati bingkisan yang diberikan. Ada adegan di mana kedua bintang tamu oleh orang Sakkudai dipaksa mengenakan pakaian adat, bahkan seorang perempuan tua bertelanjang dada “beraksi” dengan berusaha melepaskan paksa busana “kota” Ladya. Tak kalah seru, ditampilkan pula adegan pemaksaan melakukan tradisi kikir gigi dan tato tubuh kepada para artis.

Benarkah apa yang terlihat di layar kaca dibandingkan dengan situasi sebenarnya? Mungkinkah suatu komunitas yang selama ini dikenal arif dalam tradisinya, terlebih hanyalah kelompok minoritas, berani memaksakan tradisinya kepada mereka yang datang dengan busana berbeda sambil menenteng Blackberry dan menggotong kamera besar? Apakah saya ingin mengatakan itu semua bagian dari rekayasa yang selama ini memang menjadi mainan para pekerja industri televisi kita? Simpan dulu jawabannya.

Edisi lain pada 28 Agustus dan 4 September 2010, yang masing-masing bertempat di masyarakat adat Sasak Bayan (Lombok) dan Tuatunu (Pangkal Pinang), pun menampilkan hal yang sama, bahwa masyarakat adat adalah bodoh, terbelakang, dan tidak santun. Bahwa masyarakat adat selalu memaksa tamu dari luar untuk turut menjalankan tradisi mereka. Bahwa masyarakat adat adalah makhluk aneh yang perlu disorot handycam (dipegang oleh bintang tamu) sepanjang waktu, sekalipun telanjang.

Dan rupanya tayangan ini “berhasil” mereproduksi dan menyebarkan kesesatan berpikir mengenai masyarakat adat, karena beginilah bunyi dari para follower yang ada pada laman Twitter @primitiverunaway: (1) lo boleh komentar, episode kali ini kurang primitif nih.. but, it’s okay.. bs nambah pngtahuan adat di bali..🙂, (2) yep, episode ini kurang primitive! klo blh ksh msukan, ak prnah liat org luar k derah klimantan. ad tradisi ngeludah d rmah, (3) Di suku pedalaman papua aja.. Yg msh kanibal.., (4) You’re great! I love. Tapi edisi kali ini, kurang primitif & terlalu setting. Sorry.🙂 Maju terus ya!

Warisan kolonial

“Itu ucapan yang sangat kasar. Orang akan marah sekali,” dengan bahasa Indonesia cadel seorang kawan Australia menanggapi pertanyaan saya tentang “primitif”. Di negaranya, istilah “primitif” haram untuk digunakan, baik dalam komunikasi verbal maupun media massa. Bahkan pemerintah Australia sampai perlu mendirikan lembaga bernama Equal Opportunity Commission agar masyarakat dapat mengadukan perlakuan diskiminatif yang terjadi.

Istilah “primitif” datang dari bahasa Latin, primitivus, artinya “yang pertama atau terawal dalam jenisnya”. Istilah ini pertama kali dipakai oleh para penulis dan penjelajah barat dalam mendeskripsikan masyarakat di luar budayanya. Mereka melukiskan masyarakat primitif sebagai tidak beradab, biadab, ganas, dan kejam. Tujuannya jelas, dengan merendahkan, mereka bisa menjajah dengan lebih leluasa.

Pada 27 Februari 2009 di harian The Independent, direktur Survival International Stephen Corry berpendapat bahwa pemerintah mengambil keuntungan dari kekeliruan pemahaman masyarakat dalam memprimitifkan masyarakat adat. “Kebodohan” dan “keterbelakangan” menjadi alasan pemerintah untuk “mendidik” dan “memodernkan” masyarakat adat. Dan atas nama pembangunan, “keprimitifan” menjadi alat pembenar untuk merampas tanah masyarakat adat.

Memprimitifkan adalah mental penjajah. Ia adalah warisan kolonial yang kemudian malah diadopsi negara-negara yang baru merdeka pasca Perang Dunia II (Domman, 2008:4-5 dalam Rizaldi Siagian, Kompas 13 Desember 2009). Menggelikan, memprimitifkan orang lain dipakai para terjajah untuk menjajah!

Adalah sebuah kepandiran ketika kita menghakimi suatu kebudayaan dengan memakai kacamata budaya sendiri. Adalah ketidakadilan kalau kita mengukur seseorang melalui ukuran kita. Itu adalah sikap etnosentris yang sangat bertentangan dengan pendekatan kebudayaan yang relativis (Nakagawa, 2000:8-9). Karena itu John Simpsons, editor BBC, berkata, “Tidak ada yang primitif dalam masyarakat adat kecuali pandangan kita terhadap mereka.”

Masyarakat adat hanya memiliki cara hidup yang berbeda dengan kebanyakan orang, tapi mereka bukan primitif – tidakkah keteguhan cara hidup mereka yang khas itu suatu keindahan? Mereka tidak tinggal di masa lalu, karena kelompok masyarakat manapun selalu berubah dan beradaptasi seturut tuntutan jaman – dan konteks sosial-kultural mereka memang tidak membutuhkan Bvlgari dan Senayan City. Pun mereka tidak terbelakang, mengingat cara mereka dalam mengatasi hidup – seperti kembali mengutip Simpsons, “Kerumitan masyarakatnya, kemampuan yang luar biasa dalam melangsungkan eksistensi mereka dan memanfaatkan alam sekitar, membuat kita bertanya-tanya.”

Memprimitifkan suatu kelompok masyarakat adalah bentuk diskriminasi. Ini merupakan sebuah pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia. Harian terkemuka di Inggris seperti The Guardian dan The Observer, sejak 2009 sudah melarang penggunaan terminologi “primitif” untuk mendeskripsikan masyarakat adat.

Primitif adalah pelabelan yang menyakitkan. Ia oleh masyarakat kebanyakan dimaknai biadab, bodoh, terbelakang, dan “belum manusia”. Melihat situasi sekarang – seorang ibu membakar anaknya hidup-hidup, pekerja LSM memperkaya diri lewat proposal fiktif, bupati mengorupsi uang rakyat, media “membunuh” Luna-Ariel-Tari, agama menjadi pembenar untuk melakukan kekerasan, dokter menolak pasien miskin, televisi menebar kekerasan dan kebodohan – siapakah yang biadab? Siapakah yang primitif? Anda boleh jawab sekarang. (ROY THANIAGO)

Dimuat di Koran Tempo edisi 24 November 2010

52 pemikiran pada “Mereka Bukan Primitif!

    1. dalam mata kuliah pengantar Antropologi primitif dijelaskan sebagai sebutan untuk orang2 asli yang mendiami wilayah tertentu yang masih hidup tradisional dan mengandalkan alam dalam kehidupannya… primitif bukanlah sebuah sebutan untuk mendeskriminasikan sekelompok masyarakat…kata primitif juga berasal dari luar(Barat) yang sarat dengan unsur politis untuk memecah2 bangsa ini…bukankah kita punya sebutan sendiri untuk komunitas masyarakat ini??? jadi jangan salah pemahaman terhadap kata primitif… primitif tidak selalu diartikan negatif/jelek konotasinya tetapi mari kita lebih bijaksana dalam memandang permasalahan ini dari berbagai sudut pandang dan kepentingan2 kita…

      Suka

      1. Bung Agon,

        Kok pernyataan Anda kontradiktif sekali ya. Pertama Anda bilang istilah “primitif” tidak bermakna negatif. Kedua Anda tulis: “Sebutan primitif adalah sebutan yang digunakan oleh bangsa asing (Barat), seperti yang kita ketahui bangsa Barat selalu mengangap kebudayaan mereka yang paling hebat oleh karena itu mereka mengunakan kata primitif untuk menunjukan adanya perbedaan yang signifikan antara kebudayaan mereka dengan kebudayaan penduduk asli yang mereka jumpai”. Kayaknya buku yang Anda baca itu buatan Trans TV deh.. Hehe..

        Anda silahkan baca ulang tulisan saya ini. Di situ saya sertakan berbagai data mengenai makna “primitif” dari asal katanya, sejarahnya, hingga penggunaannya. Trims.

        Roy

        Suka

  1. yang lebih menyakitkan ketika salah satu host primitive runway disuguhi kinang kalo gak salah, kemudian diludahin dan membalikan jempol dgn raut muka jijik didepan kepala suku>> bener2 tindakan primitive

    Suka

  2. Saya liat acara itu satu kali. Karena kebetulan, bukan karena niat. Ah lupa episode apa dan siapa nama bintang sinetronnya. Sepertinya lokasinya di Sulawesi.
    Dalam sekali tonton saja saya muak dan tidak tertarik. Acara itu menjijikkan karena nggak mutu, berkesan tidak menghormati suku yang menjadi tuan rumah bagi acara itu.
    Tapi saya rasa masih mending daripada jika si produser mendadak keidean untuk membawa orang “primitif” ke JAKARTA.

    Acara ini masih juga tayang ya?😦 Ratingnya tinggi?😦 demn.

    Suka

  3. Dear Bro Roy,

    Buraian pemikiranmu ini sungguh menyentuk, mengulik sekaligus mengkritisi secara TAJAM penggunaan kata yang kurang tepat dalam sebuah program yang terkesan “dipaksakan”.
    Saya cukup sering mengikuti program ini.

    Memang! Adegan dan sikuel syuting ini seolah direkayasa betul baik dalam pengambilan gambar dan skenario yang ditulis untuk dijual secara paksa pulak. Ini saya sebut sebagai upaya “penelanjangan” budaya asli dan jiwa-jiwa yang tulus, polos yang dinodai oleh produk-produk koloni dalam terminologi “beken”. Sungguh ironi masyarakat asli yang dikunjungi.

    Suka

  4. Halo, kebetulan saya sdg campaign ttg Responsible Travelling, dimana slh satu nya adalah ketika travelling, sebaiknya kita berinteraksi dgn benar, mengenal lbh dalaml mengambil hal positifnya dan mempromosikannya dgn benar. Saya belum pernah lihat acara ini, tp terdengar sudah tidak pas dgn konsep perjalanan yg bertanggungjawab (tidak pas dgn kemanusiaan pada umumnya) Saya usul kita bikin petisi online untuk menghentikan acara ini. Gimana? Oyal saya ijin untuk posting di blog saya boleh?

    Suka

  5. Oh dear..rasanya delapan thn di program mirip tapi tak sama rasanya menyakitkan memang ketika saya NIAT menonton salah satu episodenya. Rasanya sangat tidak adil ketika “ketelanjangan”, kesederhanaan dikategorikan sebagai sesuatu yang “eksotis” dan “menghibur” sebagai tontonan. SAya mohon izin untuk memposting linknya di akun twitter saya. Terima kasih. Riyanni

    Suka

  6. Bahkan membiarkan sebuah suku dalam kemiskinan saja sudah melanggar kebinekaan. Apalagi membiarkan ketelanjangan dengan dalih budaya yang harus dilestarikan seperti terjadi di Papua. Mereka punya hak kehidupan yang layak dan punyak pendidikan, kalau memang diakui sebagai bagian dari NKRI… Mencari keuntungan dengan memprimitifkan segolongan masyarakat itu biadab. Dan sama dengan jaman penjajahan dulu.

    Suka

  7. Mantap tulisannya bro, mencerahkan. Meskipun belum pernah menonton siaran ini secara utuh, saya yakin sperti umumnya acara yang berhubungan dengan masyarakat adat penuh dengan “sesat pikir” dan mengunggulkan dominasi budaya kelompok tertentu yang motifnya untuk kekuasaan, penaklukkan dan mendapat keuntungan.

    Suka

  8. Susah memang kalau bicara soal tayangan TV. Ngejar keuntungan tapi mengorbankan kualitas tayangan. Tapi giliran bikin yang bagus, biasanya ga laku dan akhirnya dihentikan. Saya ijin share link artikel ini di twitter saya, Mas. Terimakasih.

    Suka

  9. salah satu acara di tv yang sama sekali nggak menghibur, sama sekali nggak mendidik dan cuma bikin muak.
    trus kenapa ratingnya masih tinggi? karena masih banyak yang nonton.
    siapa yg nonton? orang2 yg ‘primitif’ alias ketinggalan jaman pola pikirnya (maaf kalo terlalu kasar).

    Suka

  10. Mas Roy,
    Saya sangat setuju dan berterima kasih sekali kepada anda atas apa yang anda katakan dalam tulisan ini. Memang sudah saatnya kita mengingatkan pada stasiun-stasiun televisi yang menawarkan segudang tayangan yang dangkal, tidak berkualitas, serta tanpa mengedepankan unsur pembelajaran guna mendidik bangsa ini menjadi lebih baik di masa yang akan datang…

    Maju terus Mas…

    salam,
    -dar

    Suka

  11. Wah ini masuk ranah politik. Tp kurasa penting utk dshare dg teman2, krn ada kecenderungan latar belakangnya sdh banyak yg tidak tahu, atau kalaupun tahu banyak jg yg takut utk membahasnya.

    Ada beberapa lapis persepsi yang hidup, atau dihidupkan di tengah masy. Y.i. persepsi penyelenggara negara/lembaga2 kemasyarakatan, terkait dg sikap politis.
    Statement yg pernah di luncurkan pemerintah (’65), bahwa setiap orang yg tidak beragama ‘dunia’ (y.i. suku2/ bangsa2 yg ada di Indonesia) adalah ‘kafir’ (terkait peristiwa g30s) mengandung 2 makna, y.i. agar agama2 ‘dunia’ yg bermain politik ini ‘kebanjiran’ umat (menjadi lebih kuat, lebih banyak uang masuk, bisa mengontrol setiap gerakan). (Ex) pemerintah (orde ‘baru’) lebih peduli pd urusan menjaga teritori. Inilah cara paling ampuh y.i. menggunakan ‘tangan lain’ (menggunakan agama, beserta perangkat2 sosial lain, kebijakan/PP, dll, termasuk papan tamu 2x24jam harus ijin) utk memastikan Indonesia aman (terutama ini terkait daerah2 terpencil, & perbatasan, & katanya, karena faktor keterbatasan biaya keamanan). Cara ini memang terbukti ampuh utk ‘mengamankan’ Indonesia dr infiltrasi & pemberontakan (bangsa2 minoritas), Tp juga sekaligus jd ‘ladang bertanah gembur’ bagi oknum2 berotoritas (baca: kaum kriminal) utk main kekuasaan & memperkaya/memperkuat diri (menurut aku ini core kerajaan korupsi di Indonesia).
    ‘Teror’ klaim kebenaran tentang keyakinan ini mencekam rakyat Indonesia sejak ’65 hingga kini. Cuma sejenak cair, ketika Gus Dur mengundang ‘perwakilan’ bangsa2 minoritas dari Indonesia utk unjuk diri di ISTANA NEGARA (seorang umat Parmalim Jakarta mengungkapkan kebahagiaannya, krn ia merasa di ‘manusiakan’). Yg paling bahaya dr keadaan ini adalah reaksi membisu thd isu tsb di atas, walaupun semua milik tumpas (kearifan, tradisi kehidupan, sumber2 daya lain yg menyangkut kelangsungan & hajat hidup). Masy. tercekam jg krn ‘kontrol’ yg dilakukan selama ini bertindak terlalu jauh banyak menelikung (sehingga terjadi banyak kerusakan lingkungan, kolaborasi dg pengusaha luar, hal yg terjadi di banyak negara berkembang).
    Trend dr perspektif eksekutif kita (bahkan akademisi & cendekiawan) adalah, bahwa yg kita sedang ‘kejar’ ini adalah ‘kemajuan’ (eksploitasi sda, dll), sedangkan penyimpangan2 dr (yg kalau kita pakai nalar sehat orang ‘lugu’) sifat alami pada apa yg terjadi selama ini, itu dianggap lumrah, konsekuensi pembangunan (harus ada yg dikorbankan).
    Persepsi kedua dr kacamata masyarakat yg terpapar oleh praktek politik rejim yg menahun, shg pemahaman mereka melenceng. Yg paling parah terkontaminasi dg apa yg disebut budaya ngak-ngik-ngok (oleh Bung Karno) sekarang ini ‘westerized’ life style yg ditiru oleh bangsa kita. Kalau mau pake kacamata yg kolonialis, kita ini nggak direken manusia seutuhnya (half beast?), jadi seperti hewan tertentu yg suka meniru-niru manusia (khususnya binatang sirkus, seperti beruang, lumba2, monyet), suka tak suka ya mirip (coba saja jujur sejenak utk berkaca). Di TV2 kita banyak contoh spt itu, krn kata produser2nya itu yg paling laku. Ada banyak contoh (buruk) yg bisa dibahas yg terkait itu. Jadi krn terpapar gaya hidup (yg katanya) BARAT, dikesadaran terdalam tersimpan alarm (‘suku primitf’ itu kafir, beast, dumb, & ‘awas bahaya’), jadi orang2 kota (yg katanya maju) ini tidak tahu bahwa juga harus santun, rendah hati, dan perangkat bergaul lain layaknya manusia beradab.

    Ini persoalan laten, yg akan membuat kita mencak2 tak keruan tp tidak merubah keadaan. Lebih parah lagi pada banyak (‘suku’) bangsa, mereka hanya bisa membisu (seperti anak binatang yg direbut dari induk yg mati ditembak). Tayangan Trans TV hanya setitik tuba (yg merusak susu sebelanga) diantara peristiwa2 serupa yg terjadi dalam keseharian Indonesia.

    Terusterang aku malu dan sedih menjadi anak bangsa ini, krn kemunafikan, self destructiveness, berbangga pada hal yg palsu, sifat bajing luncat (tak bertanggung jawab) sudah mengurat mengakar. Bahkan kerusakan massal yg terjadi saat ini sdh tdk terukur krn mendekati kehancuran (biasanya orang sesat yg mendekati kehancuran semakin dibutakan mata hatinya).

    Kepedihan yg paling mendalam adalah krn merasa tdk bisa melakukan sesuatu yg kongkrit. Untuk apa yg sudah Roy lakukan (kepedulian, effort utk memikirkan & berempati) terhadap masalah ini, aku akan beringsut berdiri dibelakang kamu. Sepak terjang ‘bangsa’ ini tidak bisa didiamkan, atau kita harus menyesuaikan diri bagaimana ikut hancur dengan cara yg bermartabat (seperti bangsa ‘Indian’ Arawak/Taino, dll). Krn kita bukan lagi tertidur, tp koma (menuju kematian/kehancuran).

    Terima kasih atas percikan pemikiranmu menanggapi persoalan bangsa ini ya. Selamat berjuang, semoga harapan kita bs terwujud (walaupun mungkin beberapa generasi kedepan).

    Suka

  12. klo saya sih ga masalah dengan acara tersebut, asalkan acaranya hanya menayangkan apa adanya, natural, tanpa settingan. dan cara mereka hidup itu bukanlah hal yang negatif, memang begitulah cara mereka menjalani hidup.

    Suka

  13. Saya udah tau lama ada program itu, tapi baru aja nonton..dan malu, sedih, muak liatnya..ga jelas tuh program maksudnya apa..bener2 mau belajar budaya dan masyarakat adat ato cuma eksploitasi belaka? Kalo tujuan program itu untuk mengenalkan budaya, caranya benar2 menyakitkan..😦 ijin share link di fb, twitter, dan multiply ya mas..terimakasih..

    Suka

  14. Sepakat brader Roy, maaf ikutan nimbrung. Btw saya tahu postingan ini dari artikel Roy di milis jurnalisme. Sedari awal episode acara ini, saya sudah tercekat. Sayang, penonton malah diajak tertawa dan menertawakan manusia.

    Di rumah dan hutan merekalah, oksigen menguar dan menyejukkan Tanah Air. Sangat bisa jadi, tempat tinggal mereka telah bergeser karena tergusur tambang batubara yang menggerakkan turbin PLTU, yang lantas menyalurkan setrum ke Mampang Prapatan markas TransTV🙂

    Suka

    1. setuju bang.. gara2 tulisan ini, kucari videonya di youtube, memang mengesalkan.. entah maccam mana pendidikan sejarah, adat budaya dan sosialnya..

      Suka

  15. Sore kemarin(10/12) kebetulan secara tidak sengaja chanel tv mampir ke acara itu,.. memang gak banget acaranya,.. Suku Rimba yang tenang dengan kehidupan mereka terusik hanya karena sebuah kebutuhan hiburan yang sebenarnya tidak mendidik sama sekali,.. dengan memberikan permen kepada anak suku rimba itu bukan sesuatu yang baik,.. suku rimba yang semuanya serba alami harus menerima sesuatu yang asing bagi mereka,.. hmmmm,.. kapan acara tv di kita itu bermutu,…

    Suka

  16. setuju. mas izin share.. mo sebar. klo bisa mas roy bikin grup di fb ato sosial netework lain lah. anti itu program tv, smakin byk, psti akan didengar. sy bantu deh mse sebar2 semampu saya. trims mas, bener2 tajam isinya. bravo. semangat mas !!

    Suka

    1. Bung Reza,

      Terima kasih komentar dan apresiasinya. Kebetulan saya mendirikan lembaga Remotivi yg bergerak di bidang literasi media, khususnya televisi. Dari Remotivi sudah direncanakan utk mengirimkan surat protes terhadap tayangan ini. Tunggu aja tanggal mainnya ya. Trims.

      Suka

  17. wew, baru tahu kalau di australia bahkan mengucapkannya pun dilarang. tp katroknya, media pertelevisian kita masih memakainya utk judul acara

    Suka

  18. salute buat tulisannya Mas Roy…..
    sebenarnya kalo kita lihat koment2 diatas kita bisa lihat bahwa sebenarnya kita sama2 mencintai bangsa ini… sekarang bagaimana cara kita menyadarkan orang lain yang belum sadar(GILA) tentang kepedulian….
    tapi susah juga ya kalo negaranya sendiri tidak mendukung…
    apakah kita bikin aksi bersama menolak tayangan itu? (saran aja)
    kalo memang itu yang kita mau sebaiknya kita mulai dari teman2 diatas untuk mengajak gabung aksi bersama peduli bangsa….kapan waktunya kita diskusikan bersama saja di blog ini….
    karena kalo kita lihat kasusnya ini memang bukan kasus biasa.. melainkan pelecehan hak asasi manusia..
    gimana temen2?
    ijin share ya….

    Suka

  19. bro ijin nge share ya di komunitas aku…
    makasih…
    aku jg udah muak dengan acara itu…
    najis senajis-najisnya tu acara…
    merusak kearifan dan ke-INDONESIA-an

    Suka

  20. mas ijin share utk posting di fb ya..saya bantu. kemarin jg abis memboikot beberapa tv yg udah mengekploitasi kesedihan dan penderitaan korban merapi secara lebay..dan menimbulkan keresahan.matur suwun..🙂

    Suka

  21. hmmm…realita sekarang dalam paragraf terakhir itu yg menurutku pantes utk disebut PRIMITIF !!

    *ijin share y,mas bro..

    Suka

  22. sekedar memberi informasi arti kata dari primitif adalah penduduk asli… jadi ketika orang2 menyebut kata primitif tidak berarti konotasinya negatif/jelek atau mendeskriminasikan suatu kelompok masyarakat…

    Suka

  23. dalam mata kuliah Pengantar Antropologi kata primitif adalah sebutan untuk penduduk asli yang mendiami suatu wilayah tertentu yang pola hidupnya masih sangat tradisional. Sebutan primitif adalah sebutan yang digunakan oleh bangsa asing (Barat), seperti yang kita ketahui bangsa Barat selalu mengangap kebudayaan mereka yang paling hebat oleh karena itu mereka mengunakan kata primitif untuk menunjukan adanya perbedaan yang signifikan antara kebudayaan mereka dengan kebudayaan penduduk asli yang mereka jumpai. Kata primitif tidak selamanya mengandung konotasi yang buruk hal itu tergantung kita berada dipihak yang mana???

    Suka

    1. Bung Agon,

      Kok pernyataan Anda kontradiktif sekali ya. Pertama Anda bilang istilah “primitif” tidak bermakna negatif. Kedua Anda tulis: “Sebutan primitif adalah sebutan yang digunakan oleh bangsa asing (Barat), seperti yang kita ketahui bangsa Barat selalu mengangap kebudayaan mereka yang paling hebat oleh karena itu mereka mengunakan kata primitif untuk menunjukan adanya perbedaan yang signifikan antara kebudayaan mereka dengan kebudayaan penduduk asli yang mereka jumpai”. Kayaknya buku yang Anda baca itu buatan Trans TV deh.. Hehe..

      Anda silahkan baca ulang tulisan saya ini. Di situ saya sertakan berbagai data mengenai makna “primitif” dari asal katanya, sejarahnya, hingga penggunaannya. Trims.

      Roy

      Suka

  24. klo gt ga usah ditanyangin aja ,,, hehe,,knp juga harus artis tyus yang jadi pemain nya ,, mank ga ada yang lain ….. ga suka bgt liat artis yang tingkah lakunya sok meremehkan budaya …..

    Suka

  25. benar2 televisi pembodohan… serius, sy muak liat kebanyakan acara di tivi… mesti ada gerakan melawan ini semua..

    Suka

  26. isitlah ‘indigenous people’ lebih tepat digunakan untuk menyebut suku2 di pedalaman..krn mereka bukan primitif.. *sekalian ijin share di-fb yaaa…*

    Suka

    1. Halo Matatita,

      Saya rasa istilah “suku pedalaman” yang Anda tuliskan juga tidak cukup enak di kuping. Juga: “Suku terasing”, “suku terpencil”, “suku terbelakang” , dll.

      Trims,
      Roy

      Suka

  27. Menurut saya, masyarakat adat yang beratus tahun melangsungkan dan menjaga budaya mereka tetap lestari, tidak layak disebut primitif, aduh, kata ini demikian kasar…

    Saya pernah bertemu langsung dengan orang Dayak asli dan orang Toraja atas.. mereka memang sederhana, tapi ukuran sederhana ini juga muncul hanya karena saya terbiasa hidup di kota dgn segala fasilitas modern yg bisa saya nikmati..

    Ow..ow… saya terkagum-kagum melihat budaya mereka. Orang Dayak tidak membuat sovenir dengan sengaja menebang pohon. mereka memanfaatkan batang-batang mati.
    Orang-orang Sulawesi memanen sagu dengan menebang pohon yang tepat dan memanfaatkannya semaksimal mungkin, supaya sesedikit mungkin yang tersisa.
    Orang-orang Toraja lebih hebat lagi. Mereka menguburkan jenasah pada bidang-bidang yang “tidak produktif” >> pada liang-liang gua, dan pada batu-batu besar. Sejak ratusan tahun yang lalu nenek moyang Toraja telah berpikir jauh ke depan: keturunan mereka akan berkembang biak dengan pesat, sedangkan tanah mustahil bertambah lebar. Maka mereka tidak mau mengambil tanah sebagai makam mereka, karena tanah itu akan lebih berguna untuk ditanami sumber makanan bagi keturunan2 mereka kelak. Yang mati akan tetap mati, sedangkan yang masih hidup harus tetap terus melanjutkan hidup.. (pemikiran yang brillian!)
    Sedangkan masyarakat modern malah merusak hutan, lahan produktif dibeton, SDA dieksploitasi secara ngawur.. yg modern-lah yang membunuh peradaban…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s