Berbahasa Satu, Bahasa Televisi: Hiburan


Para pedagang buku bekas itu tertawa. Mereka menertawakan saya yang keluar-masuk kios mencari buku Menghibur Diri Sampai Mati. Ditulis oleh Neil Postman, buku itu diterjemahkan ke bahasa Indonesia pada 1995 dari judul aslinya Amusing Ourselves to Death, yang terbit pada 1985. Buku yang tergolong lawas memang. Tapi pasti bukan itu alasan mereka menertawai saya.

Mungkin ini: menghibur diri sampai mati. Terasa konyol, memang. Untuk apa kita menghibur diri sampai mati, begitu mungkin pikir mereka. Bukankah kita memang suka dihibur? Bukankah kita menantikan hiburan tiap detiknya? Justru, hidup ini akan lebih baik jika semua hal yang dialami dan dikerjakan bermakna sebagai hiburan. Tapi, adakah hiburan yang bisa membikin kita mati? Adakah kita bisa dimatikan oleh sesuatu yang kita cintai? Ada. Postman mendakwakan sangkaannya ini pada televisi.

Namun isi dakwaannya ini lain dari apa yang kebanyakan orang pikirkan hari-hari ini tentang televisi. Ketika banyak dari kita memikirkan bagaimana televisi bisa digunakan untuk kepentingan pendidikan, Postman justru berpikir bagaimana pendidikan bisa digunakan untuk mengatasi televisi. Ketika kita sibuk menuntut televisi untuk menyajikan hal yang penting dan serius, ia malah menyarankan agar jangan sampai hal-hal penting dan serius itu dibicarakan oleh televisi. Ketika kita meminta televisi untuk tak menyajikan sampah, Postman malah seakan berkata sebaliknya: buanglah sampah pada televisi. Karena baginya, masalahnya bukan mengenai apa yang kita tonton, melainkan bahwa kita menonton televisi.

Postman, seperti kita hari ini, adalah seorang Amerika yang hidup di era ketika televisi memainkan peran utama sebagai gelanggang diskusi dan mesin reproduksi informasi. Ia hidup pada budaya ketika televisi telah mencapai status “meta-medium”, yakni suatu instrumen yang tidak hanya mengarahkan pengetahuan kita akan dunia, namun juga pengarahan atas cara mendapatkan pengetahuan itu sendiri (halaman 89). Televisi telah menjadi medium yang menentukan apa dan bagaimana bentuk diskursus publik yang perlu dikembangkan oleh suatu masyarakat.

Dan inilah yang ditawarkan Postman pertama-tama: membicarakan televisi sebagai medium. Berangkat dari tesis Marshall McLuhan, “Medium is the message”, Postman meyakini, bahwa untuk mengetahui apa yang terjadi dari penurunan kualitas diskursus dan keadaban publik suatu masyarakat, kita butuh melihat bentuk diskursus publik macam apa yang dipilih. Seperti McLuhan, ia sepakat bahwa cara paling jernih untuk memahami suatu peradaban adalah dengan memperhatikan cara yang dipakai untuk berkonversasi. Karena baginya, bentuk konversasi menyeleksi substansi (“konversasi” dipakai oleh Postman secara metaforis untuk tidak hanya menunjuk pada percakapan, namun juga pada segala teknik dan teknologi yang memungkinkan umat manusia untuk bertukar pesan).

Misalnya, sebagai medium komunikasi, sandi morse tentu tak mungkin atau terbatas untuk membicarakan filsafat. Sandi morse akan menyeleksi hal-hal apa saja yang sebaiknya dibicarakan lewat dirinya. Begitu pun surat, kartu pos, pamflet, buku, radio, atau Facebook. Masing-masing telah mengembangkan suatu struktur diskursif yang khas. Maka ketika suatu hal yang dulunya dibicarakan di mimbar kemudian berpindah melalui Twitter, pasti sedikit banyak ada subtansi yang hilang, bertambah, menciut, menajam, dan seterusnya.

Pada Twitter, misalnya. Dengan keterbatasan 140 karakter, maka pesannya cuma satu: jangan harapkan yang mendalam ada padaku. Diskursus ala Twitter mempunyai bahasa dan koridornya sendiri yang tak bisa diharapkan sejajar dengan buku, misalnya, dalam membahas suatu hal. Bahasa Twitter membentuk dan menyeleksi warganya sendiri. Seorang dengan devosi pada kedalaman dan keteraturan pada konteks, tentu bukanlah yang diharapkan. Sebaliknya, mereka yang cepat, responsif, terpenggal, pandai merias, dan tekun merawat citra adalah yang bakal diganjar follower dan predikat sebagai “seleb tweet”.

Pada konteks demikianlah Postman bicara soal televisi. Dengan caranya yang nyinyir dan argumentatif, Postman mengajak kita mengenali tabiat televisi, sebelum kita membicarakan apa yang disampaikan di dalam televisi. Ia mengajak kita mempertanyakan epistemologi yang dikandung televisi, sebelum kita menuntut apa yang seharusnya televisi katakan kepada kita. Karena baginya, setiap inovasi, teknologi, atau medium tidaklah netral, seperti yang dipercayai banyak orang selama ini. Bagaimanapun, semuanya itu selalu disertai dengan suatu latar belakang paradigma pada penemuan maupun pengoperasiannya. Dan televisi membawa hiburan sebagai supra-ideologinya.

Pembelaan Atas Budaya Tulisan

Butuh waktu cukup panjang bagi Postman untuk meyakinkan kita mengenai dakwaan yang ia lemparkan kepada televisi. Ia menarik jauh ke belakang ketika masyarakat Amerika masih berada dalam budaya tulisan yang kuat. Baginya, kegiatan baca-tulis mempunyai sifat dasar yang serius dan rasional (h. 62). Dalam suatu budaya yang didominasi oleh media cetak, diskursus publik cenderung diwarnai oleh susunan fakta yang rapi dan logis (h. 63).

Postman memungut banyak contoh untuk membuktikan bagaimana bentuk konversasi yang dipakai pada era tersebut turut mempengaruhi arah, gaya, dan isi diskursus publik yang ada. Salah satu contohnya adalah perdebatan antara Abraham Lincoln dengan Stephen A. Douglas yang memakan waktu tujuh jam. Dengan pembahasan yang “berat”, penggunaan manuver retoris yang kompleks, terlebih ketika itu mereka “bukan siapa-siapa”, hadirin tetap setia mendengarkan dengan konsentrasi tinggi dan pemahaman akan topik yang dibicarakan. Ia ragu kita bisa menemukan perdebatan selama dan seseru itu (tentu dengan intensitas argumen rasional yang tetap terjaga), dengan hadirin “setangguh” itu, pada era ketika televisi menghembuskan definisi atas diskursus publik. Karena masyarakat berbudaya televisi memerlukan “bahasa yang mudah”, baik secara visual maupun aural (h. 58).

Situasi masyarakat berbudaya tulisan seperti itu belumlah berubah pada kelahiran surat kabar di Amerika pada akhir abad ke-17. Namun telegraf menjungkirbalikkan keadaan tersebut. Kecepatan telegraf dalam memindahkan informasi membuat batas-batas wilayah dan negara menjadi samar. Kejadian yang jaraknya beratus-ratus kilometer jauhnya menjadi terasa dekat karena dipangkasnya waktu oleh telegraf. Sehingga, yang jadi jualan telegraf ketika itu adalah jarak dan kecepatan. Gengsi perusahaan media kala itu adalah mereka yang berhasil memberi kabar paling cepat, paling jauh, atau paling banyak jumlah katanya.

Telegraflah, menurut Postman, yang memusnahkan definisi informasi dan memberi pengertian baru bagi diskursus publik. Ia menyerang telegraf dengan tuduhan sebagai yang menyuplai irelevansi, impotensi, dan inkoherensi pada diskursus publik di Amerika. Berbeda dengan cara kerja media pasca-telegraf, informasi yang diberikan oleh media pra-telegraf umumnya bersifat lokal dan fungsional, terikat oleh permasalahan dan keputusan yang harus diambil para pembaca dalam mengelola urusan pribadi maupun kemasyarakatan (h. 77). Sedangkan telegraf, menyemburkan berita yang tidak punya relevansinya dengan kehidupan kita sehari-hari. Pada televisi Indonesia, wujudnya mulai dari berita tentang polisi ganteng, menu makan malam seorang penyanyi, sampai berisiknya debat kusir pengacara Jakarta di televisi Jakarta yang disebar ke seluruh Indonesia.

Telegraf juga merayakan impotensi, karena sebagian besar berita bersifat tidak aktif, hanya menjadi informasi yang kita bicarakan namun tak dapat membantu mengarahkan pada suatu tindakan yang berarti (h. 79). Banjirnya informasi yang tak relevan dengan pembaca, mendorong besarnya penyusutan potensi sosial dan politis karena informasi-bebas-konteks, yaitu bahwa nilai informasi tidak perlu dikaitkan dengan fungsi apa pun yang dapat dilayaninya dalam pengambilan keputusan sosial-politis (h. 76).

Kedatangan fotografi juga turut membentuk pengertian baru tentang diskursus, kebenaran, dan tentunya konversasi publik. Foto, yang menggunakan visual sebagai bahasanya, terlanjur buru-buru disejajarkan dengan bahasa tulisan, dengan tidak memperhitungkan perbedaan mendasar pada keduanya. Kalau foto menampilkan dunia sebagai suatu objek, bahasa menampilkan dunia sebagai suatu konsep, tulis Postman mengutip Gavriel Salomon (h. 83). Foto yang bicara dalam bahasa citra tentulah berbeda dengan tulisan, sehingga keduanya mempunyai fungsi yang berbeda, bekerja pada tingkat abstraksi yang berbeda, dan menuntut jawaban yang berbeda pula (h. 84).

Tapi kemudian bahasa fotografi menyebar secara mekanistik lewat poster, iklan, hingga surat kabar. Bahayanya, pencitraan baru, dengan fotografi sebagai mata lembingnya, tidak hanya berfungsi sebagai elemen bahasa, namun juga berusaha menggantikannya sebagai cara dominan untuk mengartikan, memahami, dan menguji realitas (h. 85).

Televisi adalah medium yang diwarisi tabiat telegraf dan fotografi macam itu. Bagi Postman, peninggalan utama telegraf dan foto adalah “pseudo-konteks”, yaitu struktur yang diciptakan untuk membuat informasi yang terpecah belah dan tidak relevan menjadi kelihatan berguna (h. 86). Dan di sinilah tesis Postman: bahwa satu-satunya kegunaan dari kultur konsumsi informasi macam demikian adalah untuk menghibur. Hiburan merupakan harapan terakhir dari suatu peradaban yang dikuasai oleh irelevansi, inkoherensi, dan impotensi (h. 87).

Masalahnya bukan terletak pada hiburan, tapi ketika hiburan menjadi supra-ideologi sebuah medium dalam menerjemahkan informasi dan mendefinisikan diskursus publik. Hiburan menjadi panglima yang menuntun bagaimana setiap informasi mesti dikemas. Hiburan terlanjur menjadi cita-cita, dan cita-cita itu menjadi realitas keseharian kita. Hiburan sebagai strategi komunikasi kemudian menjadi tujuan komunikasi itu sendiri. Melalui televisi, supra-ideologi hiburan tersebut meradiasi dalam kultur masyarakat. Politikus mempraktikkannya, begitu pun rohaniwan, pengajar, siapa pun. Mereka—seperti televisi—mengolah tampilan dirinya, gaya bicaranya, sampai isi pembicaraannya, untuk menghibur. Mereka yang tak mampu menghibur, niscaya diramal akan kehilangan pendengar atau pengikut.

Bahasa televisi, tulis Postman, kemudian menjadi rujukan utama bagi masyarakat di Amerika dalam berkonversasi. Televisi, baginya, telah mentransformasikan budaya kita menjadi suatu arena besar untuk show business (h. 90). Budaya televisi, adalah budaya yang merayakan remeh-temeh, di mana kehidupan budaya didefinisikan sebagai arus hiburan tanpa henti. Dan ketika masyarakat menjadi sekelompok pemirsa dan urusan publiknya menjadi sebuah pertunjukan, maka sebuah negara akan tiba di tepi jurang kematian kebudayaan (hal. 164). Karena ketika suatu budaya bergeser dari tradisi lisan ke tulisan dan kemudian televisi, gagasan-gagasan yang dianutnya mengenai konsep kebenaran ikut bergeser.

Buku ini adalah gugatan kepada kita yang kerap secara berlebihan merayakan munculnya inovasi, kemajuan teknologi, atau penemuan medium komunikasi baru, tanpa dibarengi dengan kesadaran kritis. Efisiensi, efektivitas, dan modernitas seakan menjadi kata kunci yang menenggelamkan kita pada fase berhenti-berpikir. Lihatlah bagaimana kita menyambut dengan hangat kedatangan BlackBerry Messenger, Facebook, Whatsapp, atau Twitter. Kita terburu-buru bersepakat demi menemukan cara untuk mengoptimalisasi penggunaan medium-medium baru tersebut, tanpa meninjau lebih jauh substansi apa yang diseleksi olehnya. Pertanyaan mengenai “apa yang berubah pada budaya dan interaksi sosial kita setelah kedatangan semua itu?” adalah sesuatu yang mengusik sebuah kenyamanan, bak ajakan kerja bakti oleh Ketua RT di minggu pagi yang tenang dan damai.

Diterbitkan pertama kali di remotivi.or.id, 1 November 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s